Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Arka berjalan maju menembus garis pembatas itu dengan raut wajah menahan amarah yang mulai memuncak.
"Ada apa ini Pak, kenapa warung saya tiba-tiba digerebek dan disegel begini?" Arka bertanya dengan suara keras menuntut keadilan.
Pak Tono menatap Arka dengan tatapan merendahkan sambil memegang sebuah map merah di tangan kanannya.
"Kami mendapat laporan dari masyarakat bahwa warungmu ini menggunakan bahan kimia berbahaya untuk membuat makanan basi terasa enak!" Jawab Pak Tono dengan suara lantang yang sengaja dikeraskan agar didengar semua orang.
"Laporan dari siapa? Itu semua murni fitnah yang tidak berdasar, Anda bisa periksa sendiri bahan makanan saya di dalam gerobak!" Arka menunjuk ke arah gerobaknya yang berisi bahan segar.
"Tidak perlu diperiksa, kami juga sudah mengecek data di sistem bahwa warung kumuh ini tidak memiliki izin usaha dan berdiri di atas trotoar secara ilegal." Pak Tono memotong ucapan Arka dengan senyum licik.
Di seberang jalan, Kevin dan Dimas berdiri di depan restoran bintang lima mereka sambil tertawa puas melihat pemandangan penggerebekan itu.
"Lihatlah si miskin itu, dia pikir dia bisa menang melawanku hanya karena masakannya sempat viral di internet." Kevin berseru kegirangan sambil melipat tangannya.
"Uang pelicin yang Tuan berikan kepada Pak Tono tadi pagi sangat sepadan dengan hasil kerja cepatnya yang mengesankan." Dimas memuji rencana busuk bosnya itu dengan menjilat.
Kembali ke depan warung Arka, beberapa petugas Satpol PP mulai maju untuk mengangkut kursi dan meja Arka secara paksa ke atas truk.
"Jangan berani sentuh barang-barangku, aku berdiri di atas tanah sisa milik keluargaku sendiri dan bukan memakan badan trotoar!" Arka mencoba menahan lengan salah satu petugas yang mau mengangkat mejanya.
Brak!
Petugas berbadan besar itu mendorong dada Arka dengan sangat kasar hingga pemuda itu terhuyung mundur beberapa langkah.
"Berani melawan petugas dinas ya? Segel gerobak baja itu dan bawa semua perabotannya ke kantor sebagai barang bukti sekarang!" Perintah Pak Tono dengan sikap sangat semena-mena.
Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menatap tajam ke arah Kevin yang sedang tersenyum mengejek di seberang jalan.
Ia sadar betul bahwa penggerebekan mendadak tanpa surat peringatan ini seratus persen adalah ulah licik musuh bebuyutannya itu.
Tepat saat para petugas hendak menyentuh gerobak baru milik Arka, sebuah suara dingin dan penuh wibawa menghentikan mereka semua.
"Hentikan tindakan sewenang-wenang kalian saat ini juga sebelum kalian menyesal."
Semua orang menoleh serentak dan melihat Clara berjalan santai melewati garis pembatas dengan wajah yang sangat mengintimidasi.
"Siapa kau wanita lancang, jangan berani ikut campur urusan dinas resmi kota!" Bentak Pak Tono yang tidak mengenali Clara karena matanya sedikit rabun dan tertutup arogansi.
Clara sama sekali tidak membalas bentakan kampungan itu, ia justru mengeluarkan ponsel mewahnya dan menekan sebuah nomor panggilan.
"Halo, Pak Wali Kota, saya Clara, saya sedang berada di depan restoran milik keluarga Kevin dan melihat anak buah Anda bertindak premanisme tanpa bukti otentik." Clara berbicara dengan nada santai namun dampaknya sangat mematikan.
Mendengar nama Pak Wali Kota disebut secara langsung, wajah Pak Tono seketika memucat dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran.
"Ya, dia mencoba menyita properti pedagang kecil tanpa surat penyitaan resmi, tolong urus parasit ini agar tidak merusak citra kota." Clara menutup teleponnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
Kurang dari satu menit kemudian, ponsel di saku celana Pak Tono berdering nyaring dengan nada dering khusus yang hanya ia atur untuk atasannya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Pak Tono menekan tombol hijau dan mengangkat telepon itu.
"H-halo Pak Wali Kota?" Suara Pak Tono bergetar hebat menahan rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Tono bodoh, apa yang sedang kau lakukan di jalan itu? Kau berani mengganggu tamu kehormatan investasi kota kita? Tarik mundur pasukanmu sekarang atau kau kupecat dengan tidak hormat hari ini juga!" Suara teriakan marah dari seberang telepon terdengar sangat jelas hingga ke telinga Arka.
"S-siap Pak, baik Pak, saya janji akan segera pergi dari sini!" Pak Tono menutup teleponnya dengan wajah sepucat mayat hidup.
Ia menatap Clara dengan pandangan horor, menyadari bahwa wanita muda di depannya ini memiliki kekuasaan ekonomi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Semuanya, hentikan kegiatan kalian dan tarik pasukan ke mobil, kita kembali ke kantor sekarang juga!" Teriak Pak Tono dengan sangat panik kepada anak buahnya yang masih memegang meja.
Belasan petugas Satpol PP itu langsung saling berpandangan dengan kebingungan namun tetap mematuhi perintah atasan mereka dengan berlari ke arah mobil.
Hanya dalam waktu dua menit, semua mobil patroli dan sirene itu menghilang meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa seolah sedang dikejar malaikat maut.
Suasana jalanan kembali hening, menyisakan Arka yang masih berdiri takjub melihat kejadian pergantian kekuasaan yang luar biasa di depannya.
Di seberang jalan, rahang Kevin seolah lepas dan jatuh ke tanah melihat rencana sempurnanya kembali gagal total secara instan.
"Sialan, siapa sebenarnya pelacur itu? Kenapa dia bisa menekan kepala pengawas semudah membalikkan telapak tangan?" Kevin memukul keras tiang lampu jalan di dekatnya dengan marah.
"Saya sama sekali tidak tahu Tuan, tapi sepertinya Arka secara tidak sengaja mendapat perlindungan dari orang besar di kota ini." Dimas menjawab sambil menelan ludahnya ketakutan.
Di depan warung, Clara berbalik menghadap Arka dan menatap pemuda itu dengan senyum tipis yang penuh makna tersembunyi.
"Sepertinya kau punya musuh berkuasa yang cukup merepotkan pergerakan bisnis kecilmu, Arka." Ucap Clara santai sambil melirik sekilas ke arah restoran Kevin.
"Terima kasih banyak Nona Clara, saya berutang budi dan nyawa yang sangat besar pada Anda hari ini." Arka menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat.
"Anggap saja itu bayaran perlindungan karena kau telah sudi membuatkan masakan terenak yang pernah kumakan seumur hidupku." Balas Clara dengan gaya elegannya yang khas.
"Tawaranku untuk menyewa kios di mal masih berlaku, pikirkanlah baik-baik jika kau ingin tempat usaha yang jauh lebih aman dari gangguan preman berdasi." Clara melambaikan tangannya dan masuk kembali ke dalam mobil mewahnya yang diiringi oleh sopirnya.
Sedan hitam itu pun melaju pergi membelah jalanan kota, meninggalkan Arka yang kini memiliki percikan tekad baru di dalam hatinya yang berkobar.
Ia sadar sepenuhnya bahwa untuk melawan kekuasaan licik dan kekayaan Kevin, ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik status pedagang kaki lima.
Ia harus segera memperbesar skala bisnis kulinernya dan membangun jaringan koneksi yang kuat agar tidak bisa diinjak-injak lagi.
Tiba-tiba, suara mekanis sistem yang familier kembali berdering nyaring di dalam pikirannya.
[Ding!]
[Misi Utama Ketiga Diberikan kepada Host!]
[Misi: Dapatkan lokasi usaha permanen bintang empat dalam waktu satu bulan dan kumpulkan total omset bersih Rp. 500.000.000,-]
Melihat layar biru transparan yang memuat tantangan besar itu, Arka hanya tersenyum penuh keyakinan menatap masa depannya yang menantang namun menjanjikan.