Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lin Liu menoleh ke arah suara itu, mendapati seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan mendekat, perutnya membuncit menonjolkan kancing kemeja mahal yang hampir tidak sanggup menahannya, cincin berlian besar melingkar di jarinya yang gemuk. Di sampingnya, seorang pria paruh baya berpakaian formal—yang tampaknya adalah ayah Huang Ruoxi—berjalan dengan wajah puas, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang menguntungkan.
"Om Liu, kenalkan, ini putriku, Ruoxi," kata ayah Huang Ruoxi, menepuk pundak pria gemuk itu dengan akrab, seolah sedang memamerkan barang dagangan terbaiknya.
Huang Ruoxi berdiri kaku, wajahnya yang tadi menunjukkan kelelahan kini berganti menjadi topeng kesopanan yang dipaksakan. "Selamat siang, Om Liu Feng," katanya datar, membungkuk sedikit meskipun matanya sama sekali tidak menunjukkan keramahan yang terucap dari mulutnya.
Liu Feng—pria gemuk itu—tersenyum lebar, matanya yang sipit menyusuri tubuh Huang Ruoxi dengan cara yang membuat Lin Liu merasa tidak nyaman hanya dengan melihatnya. "Cantik sekali calon istriku ini. Ayahmu benar-benar pandai mendidikmu, Ruoxi."
Lin Liu yang masih duduk di kursi seberang meja, merasakan dorongan aneh untuk tidak beranjak pergi, meskipun jelas dia bukan siapa-siapa dalam situasi ini. Namun kehadirannya rupanya tidak luput dari perhatian ayah Huang Ruoxi, yang menatapnya dengan alis terangkat curiga.
"Siapa ini?" tanya ayah Huang Ruoxi, suaranya tajam menuduh.
"Bukan siapa-siapa, Ayah. Kurir yang tidak sengaja duduk di sini," jawab Huang Ruoxi cepat, nada suaranya sengaja dibuat meremehkan, meskipun dia sempat melirik Lin Liu sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Liu Feng menatap Lin Liu dari ujung kepala hingga kaki, seringai merendahkan terukir jelas di wajahnya begitu melihat perpaduan pakaian norak yang masih dikenakan Lin Liu. "Kurir berpakaian seperti badut pasar malam begini duduk semeja dengan calon istriku? Astaga, benar-benar tidak tahu tempat."
Beberapa orang di sekitar food court yang mendengar komentar itu menahan tawa, membuat wajah Lin Liu memanas menahan malu dan amarah yang bercampur jadi satu. Namun dia berusaha menahan diri, menyadari posisinya yang jauh lebih lemah dibandingkan orang-orang di hadapannya.
"Saya minta maaf kalau mengganggu," Lin Liu berkata pelan, berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras, menahan diri sebisa mungkin. "Saya memang hanya kebetulan lewat."
"Bagus, cepat pergi sana," Liu Feng melambaikan tangan dengan gaya merendahkan, seolah mengusir seekor lalat yang mengganggu.
Lin Liu berbalik, melangkah pergi dengan langkah kaku menahan amarah, namun sebelum dia benar-benar menjauh, dia sempat menoleh sekilas ke arah Huang Ruoxi. Gadis itu menundukkan kepala, tangannya mengepal erat di bawah meja, menyembunyikan emosinya di balik topeng kesopanan yang dipaksakan.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Dan dalam tatapan singkat itu, Lin Liu melihat sesuatu yang tidak dia duga—bukan keangkuhan seperti yang ditunjukkan gadis itu sepanjang pertemuan mereka, melainkan permohonan diam yang tidak terucap, seolah berkata, jangan pergi dulu.
Namun Lin Liu tidak punya pilihan lain selain melangkah menjauh, menyadari bahwa dia hanyalah kurir miskin yang tidak punya hak untuk ikut campur dalam kehidupan seorang putri konglomerat.
Sesampainya di lorong sepi dekat toilet mal, jauh dari keramaian food court, Lin Liu bersandar ke dinding, menghela napas panjang yang penuh emosi tertahan. Kepalan tangannya masih gemetar menahan amarah yang tidak bisa dia luapkan.
"Berpakaian seperti badut, katanya," gumamnya getir, menatap kemeja oranye dan celana hijau army yang masih dikenakannya. Untuk pertama kalinya, dia merasa penampilannya benar-benar memalukan, bukan hanya di mata orang asing, tapi juga di matanya sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dia kenali.
"Kamar mandi wanita, lantai tiga, lima menit lagi. Jangan sampai ada yang lihat kau ke sana. – HR"
Lin Liu menatap pesan itu dengan alis berkerut bingung, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan yang jelas.