Puber kedua, menghancurkan pernikahan Tatiana Ramos dan Brandon Wirawan. Ketika sang istri sibuk mengembangkan bisnis di luar negeri, suaminya yang ditinggal selama 2 bulan justru sedang mabuk kepayang dengan gadis muda yang usianya 10 tahun lebih muda dari istrinya.
"Kamu membiarkan dia menginap di kamar kita, mas? apa kamu sudah gilaa?"
"Siska tak punya kerabat di kota ini, dia sebatang kara. Ingatkah saat aku bertemu denganmu pertama kali, kamu juga sebatang kara Tatiana!"
Dengan dalih mirip dengan istrinya 10 tahun lalu, untuk pertama kalinya selama 10 tahun, Brand mendebat Tatiana.
"Maafkan aku Nyonya, tempat tinggal ku sedang diperbaiki..."
Mata Tatiana melebar, wanita itu bahkan mengenakan gaun tidurnya. Dia tidak tahan lagi, hanya dua bulan, dan itupun demi perusahaan mereka yang sempat merugi milyaran rupiah. Tapi begitu dia kembali, suaminya malah bermain api.
'Suami pengkhianatan dan bodoh seperti ini, aku benar-benar tidak butuh' geram Tatiana dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Wah, ini apartemen yang bagus. Dari kakakmu?" tanya Yuli yang mendekati Tatiana, lalu merangkul lengan Tatiana dengan mata berkedip-kedip.
Tatiana terkekeh.
"Apa itu efek samping sulam bulu mata?" tanya Tatiana melihat Yuli seperti itu.
Yuli melepaskan tangannya dari lengan Tatiana.
"Hais, bercanda saja. Mana ada sulam bulu mata. Aku takut jarum, aku cuma minta digambar alis saja, lalu catok rambut, lalu meni pedi, lalu..."
Yuli menjeda ucapannya, ternyata banyak juga treatment yang dia lakukan di salin selama dua jam tadi.
Tapi Yuli memang begitu kagum, speechless rasanya melihat apartemen pemberian kakaknya Tatiana.
"Seumur hidup, aku baru lihat apartemen tingkat dua begini. Ini sudah seperti rumah mewah Tatiana. Kakakmu sudah punya pacar belum?" Tanya Yuli antusias.
Mendadak, Yuli jadi merasa kalau menjadi kakak ipar Tatiana itu adalah sesuatu ingin dia perjuangkan.
"Aku tidak tahu, setahuku keluarga Ramos itu menikah dengan cara kuno. Mereka menerima perjodohan dan semacamnya!"
"Oh ya ampun, pupus sudah harapanku. Baiklah, kembali ke rencana awal. Aku akan mencoba cari perhatian konglomerat dari negara F itu. Ini aku bawakan gaunnya, sesuai permintaan mu yang sederhana saja!" kata Yuli.
Yuli meletakkan gaun itu dengan sangat hati-hati. Biarpun modelnya sederhana, tapi harganya lima kali lebih mahal dari harga gaun milik Yuli.
"Terima kasih...!"
"Tatiana, aku dengar suamimu... eh mantan suamimu juga akan hadir!"
"Biarkan saja!"
"Kalau dia membawa wanita genit itu?"
Tatiana diam sebentar, tapi sepertinya di hatinya sudah tidak terasa sakit seperti sebelumnya lagi.
"Biarkan saja, seperti kataku. Sebulan lagi, dia akan jadi mantan suamiku!"
Yuli menatap punggung Tatiana yang pergi ke kamarnya. Meski sahabatnya mengatakan itu dengan ekspresi datar. Tapi, Yuli merasa kalau masih ada luka di dalam setiap perkataan Tatiana itu. Wajar saja, siapa yang bisa melupakan perasaan selama 10 tahun hanya dalam waktu singkat.
Tepat jam 7 malam, mobil yang membawa Tatiana dan Yuli berhenti perlahan di depan gedung seni yang malam itu disulap menjadi lokasi pelelangan paling bergengsi di kota.
Fasad bangunan yang megah memantulkan cahaya lampu-lampu kristal, sementara karpet merah membentang hingga ke pintu utama. Para tamu berdatangan silih berganti menggunakan mobil-mobil mewah, masing-masing disambut oleh petugas bersarung tangan putih yang membuka pintu dengan penuh hormat.
Di balik kemewahan itu, pengamanan tampak sangat ketat. Beberapa petugas keamanan bersetelan jas hitam dengan alat komunikasi di telinga berjaga di setiap titik, sedangkan kamera pengawas beresolusi tinggi mengawasi seluruh area tanpa henti.
Tatiana turun lebih dulu. Malam itu ia mengenakan gaun malam berpotongan sederhana berwarna biru tua dengan siluet yang anggun. Tidak dipenuhi payet ataupun hiasan mencolok, tetapi setiap jahitannya menunjukkan kualitas rumah mode ternama. Kain sutra premium yang membalut tubuhnya jatuh dengan sempurna, sementara sepasang anting berlian kecil dan tas tangan elegan melengkapi penampilannya. Sekilas gaun itu tampak sederhana, namun harganya mencapai puluhan juta rupiah.
Di sampingnya, Yuli tampil tak kalah anggun dengan gaun hitam klasik yang memancarkan kesan profesional, sesuai dengan profesinya sebagai seorang pengacara.
"Semoga kita tidak terlambat," gumam Yuli sembari merapikan undangan di tangannya.
Tatiana mengangguk pelan. "Acara sekelas ini pasti dimulai tepat waktu."
Mereka berjalan menyusuri karpet merah menuju pintu utama. Sebelum dapat memasuki gedung, keduanya diarahkan ke meja registrasi eksklusif yang dijaga oleh beberapa petugas.
"Selamat malam. Mohon kartu undangan dan identitas Anda," ucap seorang petugas dengan sopan.
Tatiana menyerahkan kartu undangan berlapis emboss emas beserta kartu identitasnya, sementara Yuli melakukan hal yang sama. Petugas kemudian memindai kode QR pada undangan menggunakan alat pemindai khusus. Dalam hitungan detik, layar komputer menampilkan data lengkap keduanya.
"Terima kasih, Nona Tatiana dan Nona Yuli. Data Anda telah terverifikasi."
Namun pemeriksaan belum selesai. Seorang petugas keamanan mempersilakan mereka melewati gerbang pemindai logam, sementara tas tangan mereka diperiksa menggunakan mesin pemindai sinar-X.
Pemeriksaan dilakukan dengan cepat, tetapi sangat teliti. Bahkan setiap tamu yang telah lolos verifikasi tetap diwajibkan mengenakan gelang identitas elektronik yang hanya dapat diaktifkan oleh panitia. Gelang itu menjadi akses untuk memasuki aula lelang dan ruang VIP, sekaligus memastikan tidak ada orang yang menggunakan identitas palsu.
"Maaf atas prosedurnya," kata salah seorang petugas sambil memasangkan gelang tipis berwarna hitam di pergelangan tangan Tatiana. "Seluruh koleksi yang dilelang malam ini memiliki nilai yang sangat tinggi, sehingga standar keamanan kami mengikuti protokol internasional."
"Tidak masalah," jawab Tatiana sambil tersenyum tipis.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, dua petugas membuka pintu utama yang menjulang tinggi. Cahaya hangat dari lampu gantung kristal langsung menyambut mereka. Aula megah itu dipenuhi para kolektor, pebisnis, bangsawan, hingga tokoh-tokoh berpengaruh yang berbincang dalam suara pelan sambil menikmati alunan musik orkestra. Di tengah ruangan, panggung pelelangan telah siap dengan deretan karya seni bernilai fantastis yang tersimpan di balik kotak-kotak kaca antipeluru.
Tatiana dan Yuli saling bertukar pandang sejenak sebelum melangkah masuk,
"Kira-kira dimana senior kita itu ya?" gumam Yuli.
"Tidak tahu, ayo duduk!" ajak Tatiana.
Yuli dan Tatiana duduk di barisan VIP. Tadinya Yuli memang hanya punya undangan biasa. Namun setelah menghubungi kakaknya tentang apartemen itu, kakaknya bertanya tentang apa yang akan dilakukan Tatiana hari ini. Tatiana bilang akan pergi ke acara lelang. Kakaknya segera meminta anak buahnya mengantarkan dua tiket VIP untuk Yuli dan Tatiana.
Beberapa detik kemudian, baru juga Yuli dan Tatiana duduk. Dua orang yang tadi sempat dibicarakan oleh Yuli, benar-benar masuk tanpa rasa malu bergandengan tangan di depan banyak orang.
"Astaga, wanita genit itu benar-benar tidak tahu malu. Dia merangkul lengan pria yang masih punya istri!" geram Yuli.
Tatiana menyentuh lengan Yuli.
"Sudahlah, keduanya sama saja. Jika mas Brandon tidak mau digandeng, mustahil wanita itu bisa menggandengnya. Jangan marah untuk kedua orang yang sama-sama tidak tahu malu itu. Nanti keningmu berkerut!"
"Kamu benar, percuma aku ke salon tadi!" kata Yuli kesal.
Tatiana dan Yuli sudah tidak mau memperdulikan keduanya. Bahkan pura-pura tidak lihat. Siska yang melihat Tatiana malah menarik tangan Brandon ke barisan VIP.
"Tuan, itu nyonya kan?"
Brandon segera menoleh ke arah tangga di tunjuk Siska.
"Kenapa mereka bisa duduk disana?" gumam Brandon.
"Tuan, aku tahu. Mungkin nyonya belum pernah datang ke acara seperti ini. Dia tidak tahu harus duduk dimana, jangan-jangan dia salah duduk!" kata Siska mengompori.
Brandon mendengus kesal.
"Bikin malu saja!" gerutunya sambil berjalan cepat ke arah Tatiana.
***
Bersambung...
Lagian ya Tatiana, jabatan mu di perusahaan itu sudah tidak ada lagi..
Apalagi status istri..
Walaupun baru kau & Yuli yg mengetahui..
Namun yg perlu kau sadari..
Di perusahaan itu bukan tempat mu lagi..
Dan menjauh dari orang² toxic adalah pilihan yg tepat hingga surat cerai keluar nanti..
Kau seharusnya sadar, kau bahkan tak diberikan kepercayaan mengelola keuangan darinya..
Bahkan kau tak pernah menerima nafkah dari nya..
Di mata nya kau bukan istri, Tatiana..
Kau hanya di perlakukan seperti sapi perah oleh nya..
Ternyata cinta membuat Tatiana buta..
Begitulah cinta tanpa menggunakan logika..
Di kibulin pasangan, manut² saja.. 🤭
Tapi Brandon itu LLP (Lugu² Paok) namanya Tatiana.. 🤣
Dia bukan lelaki, dia itu boti..
Ada pula suami, tapi peran nya seperti seorang istri..
Bini kerja banting tulang, dia cuma modal telur &:ongkang² kaki..
Astaghfirullah.. Kacau sekali jika dapat tipe suami seperti ini..
Lelaki, tp kelakuan nya kyk banci..😏
aq kasihan takut si buaya ke racunan ,,
Mana ada seorang Kk yg tega melihat adiknya di perlakukan kurang ajar..
Mana kelakuan suami nya sendiri yang minta di hajar..
Hanya karena rasa kasihan pada ayah mertua, maka Tatiana harus lebih sabar..
Agar ayah mertua tak terlalu terkejut saat Brandon & Tatiana bubar..
Karena jalan perpisahan mereka berdua sudah terbuka lebar..
mampooss buat Brandon
orang gila dimana nyari 4 millyar dalam berapa jam
mang sakit jiwa 🙄
yg bisanya cuman buka kaki buat para pria🙄
lagi spaneng nih k
masa ga ada kelonggaran mau nafas dulu🤣
apa pun masalahnya nangis terus siwalang sangit gak tega , gitu aja terus sampai jadi gembel 🤣🤣🤣🤣🤣