Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama asing di balik nama cincin itu
Uap hangat mengepul di kamar mandi berkeramik gelap berurat halus keemasan. Air jatuh deras dari langit-langit, membasahi tubuh tegap yang berdiri diam di sana. Ia mendongak, membiarkan air membasuh wajah, leher kokoh, dada berotot bergaris tegas, hingga menetes turun lengan kekar ke lantai licin. Perlahan membuka mata — biru pucat bening dan dingin, persis seperti bongkahan es yang tak tersentuh panas. Mengambil handuk tebal dari rak, melilitnya erat di pinggang, lalu melangkah keluar dari bilik kaca yang melengkung indah itu.
Di kamar tidur, kicauan burung pelan dari jendela membangunkanku perlahan. Kubuka mata perlahan, menatap hati-hati ke seluruh sudut ruangan — kosong. Tak ada jejak Adrian. Segera memeriksa diriku sendiri, memastikan semalam tak terjadi apa-apa yang tidak pantas atau menyakitkan. Hanya saat yakin sepenuhnya aman, aku bangkit, merapikan kasur dan melipat selimut sebaik yang kubisa — cukup rapi, tak berantakan seperti kebiasaan dulu di rumah kecilku.
Tak lama kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru selesai mandi, hanya melilit handuk di tubuh, terdengar ketukan halus namun jelas dari pintu. Jantung berdegup panik — aku belum memakai pakaian apa pun! Cepat berlari kembali ke kamar mandi, mengunci pintu rapat-rapat, berharap tak ada yang berani masuk tanpa izin.
Ternyata itu Yamal — sekretaris pribadi Adrian — berdiri tenang di luar sambil membawa tas kain polos. Adrian sudah bangun pagi sekali, dan perintahnya tegas: bawakan pakaian yang layak untukku. Tak mendapati jawaban dari dalam, Yamal membuka pintu sedikit dengan sopan. Melihat ruang yang kosong, ia berbicara dengan nada pelan namun jelas: “Maaf mengganggu istirahat Nyonya Zara. Saya dikirim Tuan Adrian untuk membawakan pakaian ini. Bolehkah saya meletakkannya di depan pintu?” Tak melangkah masuk sejengkal pun, meletakkannya dengan hati-hati di ambang pintu lalu pergi tanpa suara.
Baru saat langkah kakinya hilang sepenuhnya, aku berani keluar mengambil tas itu, lalu mengunci pintu kembali rapat. Isinya seperangkat pakaian halus, rapi, tampak mahal namun sederhana. Di meja kecil di sudut ruangan, ada kotak berisi perlengkapan rias lengkap. Aku merapikan penampilan secukupnya saja — tidak berlebihan, cukup segar, bersih, dan sopan.
Turun tangga ke lantai dasar dengan pakaian pemberian itu: kemeja putih gading yang lembut di kulit, kerah sederhana dengan lengan sampai siku, kain sedikit melebar dan tembus pandang namun tetap sopan dan tertutup rapat. Di atasnya rompi merah muda lembut yang memudar perlahan ke warna krem, dengan sulaman halus butir-butir kecil yang berkilau cantik tanpa berlebihan. Dipadukan rok lurus panjang hingga di bawah lutut bermotif bunga samar yang senada dengan rompi. Lengkap dengan anting mutiara asli yang kecil dan gelang emas tipis yang pas melingkar di pergelangan tanganku.
Masuk ke ruang tengah, melihat Adrian sudah menunggu di sana. Penampilannya pagi ini memukau dan penuh wibawa: kemeja putih bersih yang rapi, rompi bergaris hitam keabu-abuan dengan kancing klasik, membuat posturnya makin tegap dan bahunya makin lebar — memancarkan wibawa alami yang tak perlu diucapkan. Jam tangan bermutu tinggi dengan bingkai berkilau lembut terpasang di pergelangannya, melengkapi penampilan yang sempurna tanpa cela.
Melihatku datang, Adrian menatap dari ujung kepala hingga kaki, lalu bergumam pelan hanya untuk dirinya sendiri, tak menyadari betapa dalamnya makna kata-kata itu: “Benar saja… diberi pakaian yang pantas, ia jauh lebih baik dari dugaanku.” Lalu memanggil Yamal yang menunggu di luar, menyuruhnya mengambil kotak kecil yang tertinggal di mobil.
Saat kotak itu berada di tangannya, Adrian membukanya perlahan dan dengan hati-hati. Di dalamnya dua pasang cincin kawin yang tersusun rapi: satu untuknya — bentuk tegas, kokoh, sederhana namun berkelas, dihiasi deretan berlian kecil yang berkilau. Cincin wanita memiliki permata yang agak besar di tengah, berkilau terang terkena cahaya matahari, dikelilingi berlian kecil yang menari-nari memantulkan cahaya. Namun anehnya ada dua cincin wanita dengan ukuran yang sama, sementara hanya satu ukuran untuknya.
Sambil menunggu aku siap, Adrian duduk sebentar di kursi utama membaca dokumen di meja. Melihat aku tak kunjung muncul dari tangga, ia bangkit membawa kotak cincin itu, lalu berjalan menuju dapur. Di luar, Yamal berdiri tegap dekat pintu, sesekali memeriksa jadwal di ponselnya dengan wajah tetap tenang.
Masuk ke dapur, mataku terbelalak luas — terang, bersih, luar biasa. Lantai marmer putih berkilau halus, lemari kayu ukir halus berwarna krem keemasan, jendela besar membiarkan cahaya matahari pagi melimpah ruah ke setiap sudut ruangan. Di tengah ruang berdiri meja kerja besar lengkap dengan peralatan masak berkualitas tinggi yang tak pernah kulihat sebelumnya. Semalam sempat ingin mencari jalan ke sini, tapi nyaliku hilang saat listrik padam dan gelap gulita. Sekarang semuanya terang benderang. Kubuka kulkas — isinya tak banyak jenis, namun segar: brokoli, bawang bombai, buncis, udang yang masih segar dan berkilau. Cukup untuk masakan sederhana yang layak untuk kami berdua.
Segera mencuci bersih semua bahan, merebus brokoli hingga matang namun tetap renyah, menumis bawang hingga harum dan lembut. Memasukkan udang dan mengaduk perlahan hingga berubah merah cantik, menambahkan buncis dan brokoli yang sudah ditiriskan. Membumbui sedikit garam dan lada alami yang segar saja — tak berlebihan, sederhana, seperti masakan Ibu dulu. Tak lama kemudian masakan siap. Memindahkannya ke piring keramik yang indah dan halus, menatanya rapi di meja makan yang luas itu.
Belum sempat mencicipi sendiri, bayangan tinggi melintas di ambang pintu — Adrian berdiri tegak di sana. Kali ini terlihat dekat dan jelas: tubuh tinggi, padat berotot namun ramping dan proporsional. Garis wajah tegas dengan rahang yang kokoh, kulit bersih dan halus seperti porselen yang tak tersentuh debu, mata biru jernih dan tajam — namun kali ini ada kilatan lembut yang tersembunyi, sesuatu yang jarang dilihat siapa pun. Rambut pirang keemasan bergelombang lembut menutupi dahi dengan cara yang sangat alami.
Aku terpaku diam sejenak, lalu tersadar dan menurunkan sendok yang sempat terangkat ke mulut. Adrian melangkah mendekat perlahan, membuka kembali kotak cincin itu, lalu memasang cincinnya dengan rapi di jari manis tangan kanannya. Menyodorkan kotak itu kepadaku, nada bicaranya datar namun jelas: “pasang cincinmu.”
Baru teringat — kemarin saat akad kami lupa bertukar cincin. Adrian terlalu sibuk dengan urusan penting hingga hal sederhana ini terlewat. Mencoba cincin pertama — terlalu longgar, nyaris jatuh. Mencoba ukuran kedua — masih agak besar, meluncur mudah di jari. Adrian mengerutkan kening, lalu memanggil dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke luar: “Yamal! Kemari sekarang!”
Yamal datang dengan cepat namun tetap sopan, menunduk hormat: “Perintah apa, Tuan?”
“Bagaimana kau memilih dan membeli cincin ini? Tidak memeriksa ukuran jarinya dengan benar?” Nada Adrian mulai berubah — ada nada kecewa dan kesal yang perlahan muncul.
Wajah Yamal penuh dengan rasa bersalah: “Mohon maaf atas kelalaian saya, Tuan. Saya mencatat ukuran Nyonya Fara… dan mengira ukurannya sama persis dengan Nyonya Zara.”
Mendengar nama asing itu, kepalaku terasa pening — ribuan pertanyaan bermunculan sekaligus, semuanya tak terjawab. Fara? Siapa wanita itu? Berarti cincin ini dipesan untuk orang lain?