NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ketika ia memilih untuk menemani di dalam kegelapan

Aku pun menutup pintu utama itu rapat-rapat, lalu membiarkan tubuhku bersandar di belakangnya sambil menarik napas panjang berusaha sekuat tenaga menenangkan jantungku yang masih berdegup kencang. Namun tak lama kemudian, cahaya yang dipancarkan oleh layar ponsel itu mulai terlihat semakin redup dan lemah. Aku pun perlahan melangkah hingga punggungku kembali menempel pada permukaan pintu, lalu perlahan duduk bersandar di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututku erat-erat ke arah dada.

Perlahan namun pasti, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Untuk apa memiliki rumah yang begitu besar, indah, dan penuh kemewahan seperti ini, jika yang kurasakan hanyalah kesepian yang mendalam serta rasa takut yang tak henti-hentinya? Aku lebih baik berada kembali di samping tempat tidur adikku di rumah sakit, setidaknya di sana aku masih bisa merasakan kehangatan meski sederhana… Rasa rindu pun tiba-tiba menyergap seluruh hatiku tanpa peringatan. Apakah Aslan sudah mulai sadar dari tidurnya sekarang? Perasaan hampa, sedih, dan takut bercampur menjadi satu begitu kuat, hingga rasanya aku tak sanggup lagi menahan tangis agar tidak pecah menjadi isak tangis yang keras.

“Ayah… Ibu… aku takut sekali… Kalian ada di mana sekarang?” gumamku lirih, hampir tak terdengar oleh siapa pun.

Namun sebelum setetes air mata pun sempat jatuh membasahi pipiku, terdengar suara ketukan yang tegas dan teratur di permukaan pintu itu. Jantungku kembali berdegup kencang seketika — rasa takut masih menyelimutiku, namun aku segera bangkit berdiri dan berusaha sekuat tenaga membuka pintu itu perlahan. Di sana berdiri sosok yang tak kusangka akan datang kembali malam ini, masih mengenakan setelan jas yang sama rapi seperti saat berangkat tadi siang. Aku menyadari riasan wajahku sudah luntur sama sekali, dan aku masih mengenakan gaun pengantin ini sejak pagi hari tanpa sempat berganti pakaian sedikit pun.

Adrian menatapku lekat-lekat dengan tatapan tajam dan tegas yang tak berubah sedikit pun dari biasanya, lalu bertanya dengan nada suara yang tenang namun terdengar penuh ketegasan: “Mengapa kau membutuhkan waktu begitu lama untuk membukanya? Dan apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Hatiku terasa bergetar hebat mendengar suaranya, rasa takut jika ia marah membuatku hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun sebagai jawaban. Adrian pun melangkah masuk ke dalam ruangan, menutup pintu itu rapat di belakangnya, lalu berjalan melewati hadapanku seolah tak melihat keberadaanku. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ia berbalik badan kembali menghadapku. “Mengapa kau hanya diam seperti itu? Apakah kau berniat tidur duduk bersandar di lantai dingin itu hingga pagi hari nanti?”

Entah mengapa rasa lega seketika menyelimuti hatiku begitu menyadari kehadirannya ada di sini. Tanpa menunggu perintahnya untuk kedua kalinya, aku segera mengikuti langkah kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Sesampainya di depan pintu kamarku, ia kembali berhenti melangkah dan menoleh ke arahku dengan nada bicaranya yang tetap terasa dingin. “Masuklah ke dalam, dan beristirahatlah di atas tempat tidurmu sendiri.”

Saat ia hendak melanjutkan langkahnya menjauh menuju kamarnya sendiri, rasa panik kembali melanda hatiku seketika. Aku menyadari bahwa daya baterai pada ponsel yang dipinjamkan itu sudah hampir habis, sebentar lagi cahayanya akan padam sama sekali, sementara suara guntur mulai terdengar kembali bergemuruh semakin keras dan mendekat. Tepat saat itu terdengar suara ledakan yang sangat nyaring di langit: “DUAARRR!!” Suara itu begitu keras hingga membuatku terlonjak kaget tanpa sadar, dan mulutku berteriak kecil karena kaget. Tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri mendekat dan memeluk erat lengan Adrian sambil memejamkan mata rapat-rapat karena takut. Jantungku rasanya seolah hendak melompat keluar dari rongga dadaku.

Baru sepersekian detik kemudian aku tersadar sepenuhnya akan apa yang baru saja kulakukan. Dengan cepat aku melepaskan pelukanku, tubuhku masih terasa gemetar hebat karena rasa takut dan juga rasa malu yang meluap. Aku hanya mampu menunduk dalam menatap lantai marmer yang gelap itu. Bagaimana jika ia merasa tersinggung dan marah besar padaku? Mungkin ia akan mengusirku keluar dari rumah ini, atau memarahiku dengan sangat keras karena telah berani mengganggunya. Jika aku benar-benar diusir, ke mana lagi aku harus pergi mencari tempat berlindung? Berbagai pikiran buruk itu terus berputar di kepalaku, membuatku semakin menunduk dalam sementara kedua tanganku saling menggenggam erat menahan tangis yang hampir pecah.

Namun Adrian hanya berdiri diam sejenak di tempatnya, seolah sedang mengamati setiap gerak-gerik dan ekspresi wajahku dengan saksama. Ia tentu bisa melihat betapa besar rasa takut yang sedang kurasakan saat ini, dan matanya juga menangkap layar ponsel yang kini telah mati total tanpa menyisakan cahaya sedikit pun. Tanpa melontarkan satu pun kata kemarahan atau pertanyaan yang menyakitkan, ia berbalik badan kembali berdiri tepat di depan pintu kamarku, lalu membukanya lebar-lebar sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan itu bersamaku.

Aku perlahan mengangkat wajahku dengan tatapan yang penuh kebingungan, namun tetap berdiri ragu di ambang pintu tanpa berani melangkah lebih jauh. Adrian berhenti tepat di tengah ruangan itu, lalu menoleh kembali ke arahku dan berbicara — nadanya masih terdengar datar, namun tidak lagi setajam dan sedingin seperti saat pertama kali kami bertemu tadi siang. “Mengapa kau masih berdiri diam di sana? Cepatlah masuk ke dalam sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu sendirian kembali.”

Dengan langkah yang hati-hati dan masih dipenuhi rasa keraguan, aku akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan itu perlahan. Ingatlah Zara, semua ini hanyalah sebuah perjanjian yang berlaku selama satu tahun saja. Apakah mungkin ia akan melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan sebelum waktunya? Namun rasa curiga dan takut itu perlahan mereda sedikit demi sedikit saat melihat apa yang dilakukannya. Adrian menyalakan cahaya dari ponsel miliknya sendiri, lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur agar memberikan sedikit penerangan yang cukup di ruangan itu. Setelah itu ia duduk dengan tenang di salah satu kursi empuk yang ada di hadapan tempat tidurku. Ia melonggarkan ikatan dasinya, lalu menjatuhkannya perlahan ke atas permukaan lantai marmer yang dingin itu, serta membuka sedikit kancing bagian atas kemejanya, memperlihatkan sedikit garis bahu dan dada yang tampak kokoh dan tegap. Wajahku seketika terasa memerah karena malu melihat hal itu, sehingga aku segera memalingkan wajahku ke arah lain karena merasa tidak sopan jika terus memandanginya.

Adrian bersandar dengan tenang pada sandaran kursi itu, menyandarkan salah satu sikunya di pinggiran kursi, sementara tangannya menopang lembut pada dagunya. Matanya tetap menatap lurus ke arahku dengan tatapan yang tenang namun tetap menyimpan ketegasan yang tak terlukiskan.

“Naiklah ke atas tempat tidur itu dan berbaringlah untuk beristirahat,” ucapnya dengan suara yang rendah namun entah mengapa terdengar begitu meyakinkan dan menenangkan hati. “Tenangkanlah hatimu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu tanpa izin. Aku akan tetap duduk di sini sampai kau terlelap dengan tenang.”

Mendengar janji yang keluar dari mulutnya itu, rasa cemas yang sedari tadi membebani dadaku perlahan terasa semakin berkurang. Aku pun melangkah perlahan mendekati tempat tidur, lalu naik ke atasnya dan menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhku — hanya menyisakan wajahku yang terlihat, sementara mataku tetap tak henti-hentinya mengawasi setiap gerak-geriknya dari kejauhan. Namun meski begitu, rasa gelisah masih tersisa sedikit di dalam hatiku. Bagaimana jika aku terlelap begitu dalam tanpa sadar, lalu hatinya berubah dan ia melanggar janji yang baru saja diucapkannya itu?

Seolah ia memiliki kemampuan untuk membaca apa yang sedang melintas di dalam pikiranku, Adrian kembali menyuarakan kata-katanya dengan nada yang tetap tegas namun tetap menenangkan. “Tutup matamu dan cobalah untuk segera terlelap sekarang juga. Atau kau benar-benar ingin aku beranjak pergi dari sini dan membiarkanmu menghadapi ketakutanmu sendirian?”

Mendengar itu aku segera menganggukkan kepalaku perlahan sebagai jawaban. “Baiklah… aku mengerti,” jawabku dengan suara yang sangat pelan dan lemah. Setelah itu aku berusaha sekuat tenaga memejamkan mataku, serta memaksakan diriku untuk mulai mempercayai janji yang baru saja ia ucapkan. Perlahan namun pasti, ketegangan yang melanda seluruh tubuhku mulai terasa berkurang seiring dengan kehadirannya yang tetap diam dan tenang duduk tidak jauh dari tempatku berbaring.

Saat kesadaranku mulai perlahan hilang terseret ke dalam tidur yang masih terasa gelisah, Adrian tetap duduk diam di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Matanya terus tak lepas dari wajahku yang mulai terlihat tenang dalam tidur. Di dalam sanubarinya yang dalam, ia bergumam pelan tanpa suara: Awalnya aku sama sekali tidak peduli akan nasib gadis ini. Apa pun yang terjadi padanya, kupikir itu bukanlah urusan yang harus kuselesaikan. Namun saat melihatnya menjerit ketakutan dan hampir menangis seperti itu tadi, entah mengapa aku seolah melihat bayangan diriku sendiri saat masih kecil, lima tahun yang lalu… Mengapa tiba-tiba hatiku terasa bergetar hebat, dan timbul keinginan yang kuat untuk melindunginya dari segala bahaya?

Ia menghela napas panjang yang terasa berat, lalu perlahan bangkit berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekat ke sisi tempat tidurku dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak membangunkanku. Saat melihatku yang sudah terlelap dengan tenang, ia menyadari bahwa selimutku tergeser sedikit memperlihatkan bahuku yang masih terbalut kain gaun pengantin itu. Ia mengerutkan keningnya sejenak melihat hal itu. Mengapa ia masih mengenakan gaun itu sejak pagi hari tanpa sempat berganti pakaian sama sekali? Para pelayan itu benar-benar kurang teliti dalam menjalankan tugas mereka… Sudahlah, besok pagi aku akan menyiapkan uang yang cukup dan memberikan perintah agar ia pergi sendiri membeli segala keperluan pribadi serta pakaian yang pantas untuknya.

Setelah memastikan bahwa aku benar-benar tertidur dengan tenang dan selamat, Adrian kembali mengambil ponselnya dari meja kecil itu, lalu meraih kembali dasi yang tadi terjatuh di lantai. Ia pun melangkah keluar dari kamar itu dengan langkah yang sangat ringan dan hati-hati, menutup pintu kamar itu perlahan-lahan hingga tertutup rapat kembali tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Setelah itu ia berjalan kembali menuju kamarnya sendiri yang berada di lantai atas untuk beristirahat.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!