NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: tamat
Genre:Contest / Cintapertama / Badboy / Chicklit / Tamat
Popularitas:971.2k
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Annisa tidak pernah menyangka akan hidup sebatang kara di usianya yang masih remaja. Ia menjalani kehidupan baru bersama keluarga Adisurya. Sebuah keluarga kaya yang memiliki dua anak bernama Rayhan dan Raydita.
Suatu hari ada yang mengenali Annisa sebagai Nyonya Adisurya di masa remaja. Satu pernyataan yang mulai mengungkap cerita masa lalu yang ditutupi keluarga itu.


Siapa sebenarnya Annisa?

Simak kisah selengkapnya ya...
Selamat membaca.

-----------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

orang tua Raka

Happy reading...

🌿

Ayah ... batin Nisa, saat tatapannya langsung tertuju pada sosok pria yang menghampiri kemah mereka.

"Papa!" pekik Dita bahagia. Adisurya langsung merangkul putrinya tersebut.

"Pa ...."

"Om," ujar Raka dan Agas hampir bersamaan.

"Kalian sedang apa?" tanya Adisurya dan terlihat mengerutkan kening melihat Annisa dengan wadah berisi ikan yang baru saja selesai dibersihkan.

"Sini, Nak. Dekat dengan api unggun, biar hangat," ujarnya.

Nisa hanya mengagguk pelan, menjaga jarak dari Ayah Adi karena merasa tak enak pada Dita.

"Ini diapain lagi, Kak?" tanya Nisa pada Agas.

"Taruh saja. Biar nanti aku yang lanjutkan. Lupa, nggak bawa garam." Sahut Agas pelan.

"Gagal deh," bisik Raka pada Agas.

Agas menatap penuh tanya pada sahabatnya tersebut.

"Kalau ada Om Adi, kita nggak bisa ngisengin si Nisa," bisiknya lagi. Agas menyeringai mendengar hal tersebut. Entah pemuda itu merasa senang atau justru sebaliknya.

Waktu terus berlalu, tawa riang terdengar saling bersahutan. Anak-anak itu bernyanyi serta bersenda gurau. Mereka juga menikmati ikan bakar dan daging yang sudah disusun rapi pada bilah bambu yang tadi dibawa Adisurya.

Nisa merasa senang, malam ini lebih baik dari malam sebelumnya. Selain merasa kenyang, tubuhnya juga merasa cukup hangat.

"Kamu sudah mengantuk?" tanya Papa Adi pada Raydita yang sudah menguap berkali-kali.

"Iya, Pa." Sahut Dita yang bergelayut manja di lengan papanya.

"Ya sudah, sana tidur."

"Nanti Papa tidur di tenda Dita ya. Papa kan nggak bawa sleeping bag."

"Bagaimana nanti saja. Anak-anak cowok biasanya suka begadang. Masa Papa kalah sama anak muda." Gurau Papa Adi.

"Mereka nggak begadang kok, Pa."

"Malam ini begadang, Dit. Kan malam terakhir. Kapan lagi kita bisa begini. Ya nggak, Ray?" ujar Raka yang mendapat anggukan Rayhan.

"Terserah deh. Aku ngantuk. Dita tidur ya, Pa." Raydita mengecup pipi Papa Adi dan beranjak dari duduknya.

"Dita, ajak Nisa dong. Kalian kan satu tenda. Nisa juga sudah mengantuk kan?"

Annisa merasa bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia tidak diizinkan masuk ke tenda. Nanti malah dikira pengadu.

"Nisa belum mengantuk, Yah." Sahut Nisa pelan.

"Benar? Sini, duduknya dekat ayah."

Mau tak mau Nisa beringsut mendekati Ayah Adi. Walau sebenarnya ia merasa risih dengan tatapan anak lainnya, Nisa juga tidak mungkin menolak keinginan ayah angkatnya tersebut.

***

Ayah rindu, Nak ....

Cicitan burung yang saling bersahutunan, seakan memecah sunyi dan dinginnya alam di pagi hari. Nisa mengerjap, dan terhenyak menyadari dirinya melewatkan salat subuh karena terlalu lelap dalam tidurnya.

Ternyata hanya mimpi, batin Nisa mengingat suara pria yang menggema dan terdengar seakan sangat nyata. Sesaat ia tertegun menyadari dirinya terlelap dalam dekapan Ayah Adi.

Pria paruh baya itu membiarkan kepala Nisa berada dalam pangkuannya, sementara tubuh Nisa dalam sleeping bag milik Agas yang dikenakannya kemarin malam.

Aku tidak ingat semalam memakai ini, batin Nisa lagi dengan tatapan bingung terarah pada sleeping bag.

"Kamu sudah bangun?" tanya Adisurya pelan dengan suara yang parau. Rupanya tidur pria itu terganggu karena pergerakan Nisa.

"Maaf, Yah."

"Tidak apa-apa, Sayang. Mau tidur lagi?"

"Tidak. Ini jam berapa ya? Nisa belum salat subuh," ujarnya pelan.

"Setengah enam." Sahut Adisurya yang melihat sekilas pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Alhamdulillah, masih sempat." Gumam Nisa.

"Sama ayah yuk salatnya." Adisurya beranjak dan meregangkan otot-otot yang dirasanya sangat pegal.

"Ayah jadi imam ya," ujar Nisa riang.

"Boleh. Tapi jangan ditertawakan, bacaan Ayah belum terlalu fasih."

"Enggak dong."

Keduanya berjalan menuju kamar mandi dengan Ayah Adi yang merangkul pundak Nisa. Tanpa mereka sadari, tatapan heran mengikuti langkah keduanya dari wajah Ghaisan yang sengaja disembunyikan diantara lipatan tangan.

"Om Adi terlihat sangat menyayangi Nisa. Aneh, walaupun aku tahu Om Adi orang yang sangat baik, tapi apa itu tidak berlebihan?" Gumam Agas.

***

Tak lama berselang, Mang Asep datang dengan membawa sarapan dalam box yang dijinjingnya. Setelah menikmati sarapan, anak-anak itu bersiap untuk pulang.

Hamparan pohon teh yang dilewati, lagi-lagi jadi saksi kebersamaan mereka. Diam-diam, Adisurya membidikkan kamera ponselnya pada Annisa.

Cantik. Benar-benar mirip, batinnya.

Raydita dan Annisa, pulang bersama Adisurya. Sementara Rayhan dan kedua temannya, pulang dengan Mang Asep.

"Gimana Den, seneng nggak?" tanya Mang Asep.

"Lumayan. Ya nggak guys?"

"Yo-i. Kapan-kapan gini lagi yuk." Ujar Raka.

"Siap." Sahut Rayhan dengan ibu jari terangat ke atas.

***

Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah megah yang terlihat sangat indah. Seorang pria berbadan tegap sedang menikmati kopi yang disuguhkan ART-nya. Dari arah tangga, istrinya yang baru saja bangun datang berjalan ke arahnya.

"Bi, buatkan saya jus," titahnya.

"Kapan Raka pulang?" tanya pria itu.

"Nggak tahu," sahut wanuta itu malas.

"Fany, kamu itu ibunya atau bukan sih? Setiap kali aku tanya tantang Raka selalu nggak tahu."

"Aka sudah besar, Mas. Memangnya kalau bukan Mama, siapa ibunya Aka?" delik Fany, mama Raka.

"Dia dalam masa yang labil. Kalau dia salah bergaul, bisa rusak anak itu."

"Teman-temannya anak yang baik kok. Kalau tidak salah, Agas anak dokter. Siapa namanya ya, lupa lagi. Satu lagi, Rayhan. Dia anak pengusaha terkenal, Adisurya. Aka bisa memilih teman kok, Mas. Tenang saja," sahutnya.

"Apa, Adisurya? Raka berteman dengan anak Adisurya?" terlihat jelas rasa tidak suka dari raut wajah Sandy, ayah Raka. Dalam bisnis yang tengah digelutinya, Adisurya merupakan pesaing yang sulit ia singkirkan.

"Iya. Memangnya kenapa? Jangan sangkut pautkan Aka dalam bisnismu, Mas. Anak itu nyaman berteman dengan mereka. Sejak pertama masuk ke sekolah itu, Aka jadi berubah. Dia jadi periang, tidak sependiam dulu."

Terdengar dengusan kasar dari pria yang terduduk di hadapan Fany. Bukan Fany tidak tahu perihal Sandy dan Adisurya, namun ia memilih untuk menutup telinga. Baginya, kesenangan yang dirasakan putra semata wayangnya jauh lebih penting dari bisnis pria yang bahkan tidak mencintainya.

"Minta Raka menjauhi mereka."

"Tidak. Aka akan tetap berteman dengan mereka."

"Aku akan ambil lagi motor itu."

"Ambil saja. Mas pikir aku tidak bisa membelikannya? Heh, pers*tan dengan uangmu yang tidak seberapa itu."

Dengan kesal Fany menyambar jus yang dibawa ART-nya. Wanita yang terlihat cantik diusianya yang terbilang masih muda itu melenggang meninggalkan Sandy menuju ke taman samping dari rumahnya.

Sandy tentu kesal dengan sikap arogan yang diperlihatkan Fany. Meski ia sudah terbiasa, namun tetap sikap Fany itu membuatnya geram. Suara deringan ponsel mengalihkan perhatian Sandy. Wajahnya terlihat datar saat melihat siapa yang meneleponnya.

"Bagaimana? Sudah kau temukan dia?" tanya Sandy pelan namun tegas.

"Sudah, Bos."

"Di mana?" tanya Sandy tidak sabar.

"Wanita yang Anda cari tinggal di Bougenvile Residence, cluster X."

Bukankah itu perumahan elit? Dengan siapa Rida tinggal di sana. Apa sekarang dia jadi simpanan pengusaha kaya? batin Sandy.

"Bos? Anda masih mendengarkan saya?"

"Iya. Teruskan."

"Pemilik rumah itu pasangan Dokter dan seorang anak laki-laki. Namun kepala keluarga sudah meninggal. Jadi sekarang yang tinggal di sana dokter wanita itu dan putranya, juga Nona Rida."

"Dokter wanita? Kau yakin?"

"Yakin, Bos."

"Siapa namanya?"

"Dokter Rika, yang tidak lain merupakan kakak dari Nona Rida."

"Baiklah. Kerja bagus."

Sandy menyeringai senang dengan apa yang sudah didengarnya. Dirinya yang pernah melihat Rida bersama seorang pengusaha jadi menggila dan menyuruh orang untuk menyelidiki tentang wanita di masa lalunya itu.

Heh. Kita akan secepatnya bertemu lagi, Sayang. Batinnya.

_bersambung_

1
machiato
bagusssssss
Dwi Handayani
amit², kaynya si Dita emang sekeluarga orangnya begitu semua ya, gak tau diri. si Rikok juga ngapain pake natap Annisa jengah, tlol banget, udh bagus Annisa bisa nerima si ditot itu.
Dwi Handayani
15 tahun Annisa emang hdup dlm kesulitan ekonomi, tapi dia berlimpah kasih sayang dan didikan yg tepat. kesuliatn slm 15 tahun tuh gak ada apa²nya rianti, dibanding dengan perlakuan burukmu yg hanya bbrapa hari itu.
Dwi Handayani
beraaaakkkk
Dwi Handayani
di bab berapa gitu, penulis bilang ini kisah nyata, bjir, ternyta beneran ada ya ibu segila ini. pantes gak punya ikatan batin, orang gak punya hati ternyata.
Dwi Handayani
owalah, jdi Nisa belum tau ya, dia cuma dengar bagian "anak Adisurya" aja. pantesannnn. mataku keblinger gini bacanya 🤭
Dwi Handayani
walahhh trnyta Adisurya juga g*blok
Dwi Handayani
anak polos, yg kurang kasih sayang, emang pasti akan snang saat tau ortunya masih hidup. jdi dia gak ada dendam²an
Dwi Handayani
seri ceritanya, kasian banget Nisa, dia dperlakukan scara gak adil sama ortunya. bahkan mnertku, Adisurya juga beneran ayah yg brngsek. dia tidak bisa menjamin ketenangan dn kenyamanan ank kandungnya sndiri.
Rahmaniar
suka banget ceritanya,ada sedih,gembira,perjuangan dan ada hikmah di setiap kejadian nya, terima kasih thor atas karya yang bagus ini,semangat selalu untuk berkarya.
Shan
udah dibaca berulang🤭, ini sdh ke tiga kali. makasih kak semua novel kakak bagus, enak dibaca 😍
Shan
suka sekali😍
Shan
kak,come back
akhirnya ceritanya tamat jga,,sya nungguin sampe gak berani buka cerita ini takut kecewa akhirnya happyending jga. makasih kak
Endang Sulistia
betul Raka..gercep juga si raka
Endang Sulistia
gak usah pacaran pacaran ya nis...
Endang Sulistia
sukurin
Rezqhi Amalia: permisi kak, siapa tahu kakak minat mampir dikaryaku yang berjudul 'Dipaksa Menikahi Suami Sahabatku'

terimakasih sebelumnya 🤗💐
total 1 replies
Sri Ariyanti
terima kasih kak el upnya. ceritanya bagus. ditunggu karyamu selanjutnya. sukses selalu
Sri Ariyanti
tq kak el upnya
Sri Ariyanti
up nya jangan kelamaan ya kak el. biar gak lupa jln ceritanya dan juga biar dapet feel nya. sukses dan selalu semangat
Sri Ariyanti
tq thor atas karyamu. suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!