NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengagum Baru: Mirah Sang Anak Nelayan

Langkah kaki Erlang dan Sekar Arum yang baru saja hendak meninggalkan batas luar desa nelayan Parangtritis mendadak tertahan. Dari arah salah satu pondok panggung bambu yang jaring-jaring ikannya rusak, terdengar suara tangisan bersahut-sahutan dari sepasang suami istri tua. Suasana pagi yang harusnya dipenuhi rasa syukur pasca-perginya bajak laut, kini kembali diselimuti mendung kecemasan di sudut desa itu.

"Gusti... tolong anak kami, Pak. Kulitnya makin membiru, napasnya juga sudah berat," ratap seorang ibu tua sembari bersimpuh di depan pintu pondoknya.

Erlang menghentikan langkahnya, menurunkan kembali pikulan bambunya ke atas pasir dengan gerakan santai namun cekatan. "Nimas Sekar, sepertinya di pondok itu ada yang sedang kesusahan. Kita tengok sebentar, yuk?"

Sekar Arum menghela napas panjang, merapikan letak jubahnya yang tertiup angin pantai. "Apalagi sekarang, Erlang? Urusan bajak laut kemarin kan sudah beres semua. Jangan bilang kau mau jadi pahlawan kesiangan lagi?"

"Ah, bukan begitu, Nimas. Kan tidak ada salahnya menolong kalau memang ada yang sakit," sahut Erlang polos sembari melangkah lebar menghampiri pondok tersebut.

Saat Erlang dan Sekar mendekat, mereka melihat seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun terbaring lemah di atas balai-balai bambu luar pondok. Gadis itu bernama Mirah, anak perempuan tunggal dari keluarga nelayan miskin tersebut. Wajah Mirah yang manis khas gadis pesisir kini tampak sangat pucat, matanya terpejam rapat menahan sakit, dan di bagian lengan kanan atasnya terdapat bekas luka gigitan kecil yang mengeluarkan cairan kehitaman. Kulit di sekitar lengan hingga ke lehernya perlahan mulai berubah warna menjadi biru keunguan.

"Nyuwun sewu, Ibu, Bapak," sapa Erlang ramah sembari berlutut di dekat balai-balai. "Anak gadisnya kenapa ini? Kok warna kulitnya bisa jadi biru begini?"

Sang ayah, seorang nelayan tua dengan wajah keriput penuh kesedihan, menoleh menatap Erlang. "Eh, Mas Pendekar yang kemarin menghajar perompak... Ini si Mirah, Mas. Tadi subuh setelah bajak laut pergi, dia berniat membantu saya merapikan sisa jaring ikan yang robek di tepi karang. Tidak tahunya, di dalam tumpukan jaring itu ada gurita batu beracun yang bersembunyi. Tangannya digigit, dan racunnya cepat sekali menyebar. Tabib desa bilang racun gurita laut selatan tidak ada obatnya, Mas... Kami cuma bisa pasrah."

Erlang mengamati lengan Mirah dengan saksama. Aliran hawa murni di dalam dadanya langsung bergetar halus secara otomatis, memindai kondisi batin di balik kulit gadis itu.

“Hmm... sesuai dugaan. Ini racun dingin yang menyumbat aliran darah merah, membuat jantungnya kesusahan memompa napas. Tapi untungnya racunnya belum sampai merembes ke jantungnya, masih tertahan di urat nadi lengan bawah,” batin Erlang menganalisis dengan sangat masuk akal dan cepat berdasarkan pemahaman yang ia dapatkan dari kitab.

"Bapak, Ibu, tenang dulu ya. Tolong jangan menangis terus, nanti Nimas Mirah malah makin panik," kata Erlang memberi pengertian dengan senyuman menenangkan. "Kalau boleh, biar saya coba bersihkan sisa racun guritanya. Kebetulan saya sedikit tahu cara mendorong keluar kotoran dari dalam darah."

Sekar Arum yang berdiri di belakang Erlang langsung melipat tangannya di depan dada, memperhatikan dengan tatapan mata yang sangat lekat. "Erlang, kau beneran bisa mengobati racunnya? Kalau salah sedikit, nyawa gadis ini bisa melayang."

"Tenang saja, Nimas Sekar. Saya pernah membersihkan gumpalan darah di dada seorang kepala desa kemarin. Intinya seperti mengalirkan air jernih untuk menghanyutkan kotoran," sahut Erlang santai penuh percaya diri.

Erlang memegang pergelangan tangan kanan Mirah yang terasa sangat dingin dan kaku. Ia menarik napas dalam-dalam, mengikuti pola empat hitungan jantung yang teratur. Dalam sekejap, pusaran hawa hangat tak terbatas meledak di ujung jari-jemarinya, merembes masuk ke dalam pori-pori kulit Mirah tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun.

“Ayo, hawa murni... dorong warna birunya keluar lewat bekas gigitan tadi,” perintah Erlang di dalam hatinya.

Hawa hangat yang sangat lembut merayap memasuki urat-urat darah Mirah. Begitu hawa hangat itu bertubrukan dengan racun dingin si gurita batu, warna biru keunguan di kulit lengan Mirah perlahan-lahan mulai memudar, terdesak naik kembali ke arah lubang luka gigitan.

Tess... Tess...

Cairan hitam kental berbau amis mendadak menetes keluar dari bekas luka di lengan Mirah, jatuh menembus sela-sela bambu balai-balai ke atas tanah pasir bawah pondok. Seiring dengan keluarnya cairan hitam itu, warna kulit Mirah berangsur-angsur kembali menjadi putih bersih dan kemerahan khas orang sehat. Napasnya yang tadinya tersengal-sengal kini kembali menjadi teratur, panjang, dan tenang.

Mirah perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan matanya yang masih agak buram adalah wajah seorang pemuda asing yang luar biasa rupawan, dengan sepasang mata jernih yang memancarkan keteduhan, sedang tersenyum sangat manis di depan wajahnya sembari memegangi tangannya dengan kehangatan yang menjalar sampai ke lubuk hatinya.

"Eh... aku... aku ada di mana? Apakah aku sudah di surga?" bisik Mirah dengan suara yang masih sangat lemah, matanya sama sekali tidak berkedip menatap wajah Erlang.

Erlang tertawa renyah, melepaskan genggaman tangannya dengan sopan setelah memastikan seluruh racun sudah bersih total. "Hahaha, belum di surga kok, Nimas Mirah. Nimas masih di pondok bersama Bapak dan Ibu. Tadi cuma tertidur sebentar karena digigit gurita nakal. Sekarang coba digerakkan tangannya, rasanya masih linu tidak?"

Mirah mengangkat lengan kanannya, memutar pergelangan tangannya dengan rasa takjub. "Lho... kok... rasa dingin dan linu di dadaku sudah hilang sama sekali? Malah rasanya tubuhku sekarang hangat dan sangat segar, Mas."

"Gusti Allah... beneran sembuh! Keajaiban batur kidul!" teriak sang ibu langsung memeluk erat tubuh Mirah sembari menangis histeris, kali ini tangisan kebahagiaan. Sang ayah pun langsung berlutut di depan Erlang, berniat menyembah kaki pemuda itu.

"Waduh, Bapak! Jangan begitu toh! Ayo berdiri, jangan menyembah saya, saya bukan arca atau danyang desa," cegah Erlang panik, buru-buru memapah tubuh nelayan tua itu agar kembali berdiri tegak. "Saya cuma pengembara biasa yang kebetulan punya sedikit jamu penghangat badan saja kok. Yang penting Nimas Mirah sekarang sudah sehat walafiat."

Mirah yang duduk di atas balai-balai terus memandangi setiap gerak-gerik Erlang dengan tatapan mata yang mendadak dipenuhi oleh binar yang sangat berbeda. Pipinya yang semula pucat kini mendadak merona merah jambu yang sangat pekat. Kepolosan Erlang, keramahannya, ditambah wajah rupawan dan kesaktiannya yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari maut, seketika meruntuhkan seluruh pertahanan hati gadis desa itu. Mirah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sang pengembara lusuh tersebut.

"Mas... Mas Erlang..." panggil Mirah dengan nada suara yang mendadak menjadi sangat lembut, jemarinya meremas ujung kain kembennya dengan gugup. "Terima kasih banyak ya, Mas. Kalau tidak ada Mas Erlang, mungkin saya sudah mati hari ini. Saya... saya tidak tahu bagaimana cara membalas budi baik Mas yang sebesar gunung ini."

"Ah, tidak usah dipikirkan masalah balas budi, Nimas Mirah," jawab Erlang santai sembari melambaikan tangannya dengan cuek. "Melihat Nimas bisa tersenyum dan sehat kembali saja sudah menjadi bayaran yang sangat lebih dari cukup untuk saya. Malah kalau boleh, saya justru mau minta tolong ditunjukkan jalan pintas menuju pusat kota Mataram lewat jalur darat yang paling aman."

Mirah langsung turun dari balai-balai dengan gerakan cepat, mengabaikan larangan ibunya. Ia berdiri sangat dekat di depan Erlang, matanya menatap lurus ke dalam mata Erlang dengan tatapan penuh kekaguman dan harapan yang mendalam. "Kalau Mas Erlang mau ke Mataram, jalurnya sangat membingungkan kalau lewat hutan jati barat, Mas. Bagaimana... bagaimana kalau saya saja yang mengantar Mas Erlang dan Mbak berbaju biru ini? Saya tahu seluruh seluk-beluk jalur tikus di daerah daratan selatan ini."

Sekar Arum yang sejak tadi hanya menonton di sudut pondok mendadak mendengus cukup keras. Ia melangkah maju dengan keanggunan seorang putri yang terusik, berdiri tepat di antara Erlang dan Mirah dengan tatapan mata yang sangat dingin.

"Tidak perlu merepotkan dirimu, Anak Nelayan," potong Sekar Arum dengan nada suara yang ketus dan kaku. "Kami berdua punya peta daratan yang cukup jelas, dan lagipula perjalanan kami ini penuh dengan bahaya dari musuh-musuh persilatan. Gadis lemah yang baru sembuh dari racun seperti kamu hanya akan menjadi beban tambahan di sepanjang jalan."

Mirah agak tersentak mendengar ucapan ketus Sekar, namun matanya beralih menatap jubah sutra biru milik Sekar dengan tatapan cemburu yang samar. "Tapi... tapi jalur darat sekarang sedang banyak penyamun pasca-terbakarnya rumah Mbah Wiro, Mbak. Saya cuma ingin memastikan Mas Erlang selamat..."

"Pelindungku ini sudah lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri dan aku," ujar Sekar egois sembari melirik Erlang dengan tatapan memberi perintah. "Erlang, tunggu apa lagi? Matahari sudah makin tinggi. Ayo ambil pikulanmu, kita berangkat sekarang juga!"

Erlang yang tidak peka dengan perang urat syaraf halus antara kedua gadis di depannya hanya bisa menggaruk kepala dengan senyuman canggung. "Eh... nggih, Nimas Sekar. Bapak, Ibu, Nimas Mirah... kami pamit melanjutkan perjalanan dulu ya. Ingat, jaring ikannya diperiksa pakai tongkat dulu lain kali sebelum dipegang, takut ada gurita yang bersembunyi lagi. Mari, nggih!"

"Mas Erlang... hati-hati di jalan ya, Mas!" teriak Mirah dengan mata berkaca-kaca, melambaikan tangannya dengan penuh rasa berat hati melepas kepergian sang pujaan hati barunya. "Semoga Gusti Allah mempertemukan kita kembali di lain waktu!"

Erlang memikul kembali bambu tuanya, berjalan santai mengikuti langkah kaki Sekar Arum yang mendadak melangkah dengan sangat cepat dan terkesan gusar menembus gumuk pasir Parangtritis menuju ke arah utara-daratan.

"Nimas Sekar, jalannya pelan-pelan toh. Kenapa mendadak jalannya jadi cepat sekali seperti dikejar tawon?" tanya Erlang heran dari arah belakang.

"Diam kamu, Erlang! Habiskan saja sisa tahu bacemmu itu dan jangan banyak tanya!" sahut Sekar tanpa menoleh, membuat Erlang hanya bisa tersenyum tipis menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh teman perjalanannya itu, sembari hatinya tetap fokus menatap bentangan jalan panjang di depan mereka demi menuntaskan misteri yang belum terpecahkan.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!