Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 PERANG HARGA DI PASAR IBU KOTA
Dua minggu setelah penandatanganan perjanjian dengan Kekaisaran Wei, Asosiasi Dagang Naga Hitam mulai melancarkan serangan ekonomi mereka secara terbuka. Dengan menggunakan jaringan toko-toko besar mereka di seluruh ibu kota, mereka secara serentak menaikkan harga beras, gandum, dan minyak hingga dua kali lipat, sambil menimbun pasokan kain sutra mentah yang seharusnya dikirim ke gudang-gudang logistik kekaisaran untuk diekspor ke barat. Akibatnya, keresahan mulai menyebar di kalangan rakyat jelata, dan beberapa pejabat luar yang merupakan sekutu tersembunyi dari asosiasi tersebut mulai menyuarakan kritik di dewan menteri, menuduh kebijakan ekonomi baru Permaisuri Xian sebagai penyebab kekacauan pasar.
Anya duduk di paviliun utama Istana Phoenix, mendengarkan laporan dari Kasim Wang mengenai lonjakan harga kebutuhan pokok di pasar luar dengan ketenangan yang luar biasa. Di depannya, terdapat semangkuk bubur sarang burung walet yang masih mengepulkan uap hangat, kontras dengan atmosfer dingin yang dibawa oleh berita kekacauan ekonomi tersebut.
"Yang Mulia Permaisuri, rakyat di distrik selatan mulai melakukan protes karena harga gandum sangat mahal," kata Kasim Wang dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan. "Para menteri di dewan luar juga mulai mendesak Baginda Kaisar Liang untuk mencabut hak pengelolaan bea cukai Anda dan mengembalikannya ke sistem lama agar Asosiasi Naga Hitam mau menurunkan harga kembali. Apa yang harus kita lakukan? Jika ini terus berlanjut, reputasi Anda di mata rakyat akan hancur."
Anya menyendok buburnya perlahan, menikmati kehangatan makanan tersebut sebelum meletakkan sendoknya dengan suara ketukan yang sangat pelan. "Wang, kau terlalu mudah panik. Apa yang sedang dilakukan oleh Asosiasi Naga Hitam saat ini hanyalah taktik price gouging dan monopoli semu. Mereka berpikir bahwa karena mereka mengendalikan gudang-gudang penyimpanan di sekitar ibu kota, mereka bisa mendikte jalannya pemerintahan. Mereka lupa bahwa dengan ditandatanganinya kontrak Joint Venture bersama Wei kemarin, aku kini memegang kendali atas jalur pasokan alternatif terbesar di daratan ini."
Anya bangkit berdiri, jubah katun hitamnya yang berhias sulaman phoenix ungu melambai anggun saat dia berjalan menuju meja petanya. "Gudang-gudang mereka penuh dengan barang timbunan, yang berarti modal kerja mereka saat ini tertanam mati di dalam gudang tersebut. Mereka mengandalkan kepanikan rakyat agar pemerintah menyerah dan membeli barang mereka dengan harga tinggi. Namun, apa yang akan terjadi jika tiba-tiba pasar domestik dibanjiri oleh barang yang sama dengan harga setengah dari harga normal?"
Mata Kasim Wang seketika melebar saat menyadari arah pemikiran Permaisurinya. "Yang Mulia... maksud Anda...?"
"Gunakan otoritas bea cukai barat kita," perintah Anya, matanya berkilat penuh dengan insting predator seorang CEO yang siap menghancurkan kompetitornya. "Perintahkan karavan dagang resmi kekaisaran untuk mendatangkan gandum, beras, dan kain sutra dalam jumlah masif dari wilayah perbatasan barat Wei. Melalui jalur sutra yang sekarang bebas pajak bagi kita, biaya logistik kita jauh lebih murah daripada biaya distribusi mereka. Begitu barang-barang itu tiba di ibu kota besok malam, buka ratusan 'Toko Sembako Murah Kekaisaran' tepat di depan toko-toko milik Asosiasi Naga Hitam. Jual semua komoditas tersebut dengan harga tiga puluh persen di bawah harga pasar normal sebelum krisis terjadi."
Anya tersenyum sangat menawan namun mematikan. “Ini adalah strategi dumping finansial modern,” batinnya. “Ketika pasar dibanjiri oleh produk bersubsidi negara dengan kualitas yang sama, rakyat jelata tentu saja akan berbondong-bondong membeli produk kita. Toko-toko milik Asosiasi Naga Hitam tidak akan mendapatkan satu pun pembeli, sementara modal mereka tetap tertimbun di dalam gudang yang pembayarannya terus berjalan. Dalam waktu kurang dari satu minggu, mereka akan mengalami krisis likuiditas parah dan terpaksa menjual rugi seluruh aset mereka jika tidak ingin hancur total akibat kebangkrutan.”