NovelToon NovelToon
Headline 29

Headline 29

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lindra Ifana

"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."

Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.

Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.

Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Tom Jerry

Seorang pria berjas putih masuk dan berjalan santun ke arah mereka, Ratna memanggil dokter keluarga karena sedikit khawatir dengan keadaan putranya. Hanya memastikan semua baik baik saja.

"Assalamualaikum...."

"Walaikumsalam, makasih lho Ren nyempetin datang buat anak nakal itu," ujar Ratna. Dokter Rendy adalah teman kuliahnya dulu, sekaligus adik iparnya karena pria itu menikahi adik suaminya.

"Om," sapa Adrian. Menurut ketika Dokter Rendy memapahnya ke kamar. Karena tak mungkin ia meminta Adrian membuka baju di depan tamu cantik yang duduk bersama kakak iparnya.

"Nggak bisa disini aja Om?" bisik Adrian enggan meninggalkan wajah cantik yang khawatir melihatnya.

"Bukan muhrim, Om mau liat semua lukanya. Horor kalau tamu cantiknya harus liat kamu topless."

Selama tiga puluh menit Rendy memeriksa keponakannya. Setelah selesai ia segera keluar dan mengatakan semua baik baik saja. Tadi ia terpaksa membebat tangan kanan Adrian dengan medicrepe atau elastis bandage karena tangan keponakannya itu terkilir.

"Rel lbu boleh minta tolong? "

"Tentu saja Bu," jawab Aurel.

"Tolong kasih supnya ke Adrian, dari pagi belum makan dia. Udah excited duluan tadi ngarep kamu datang. Ibu mau bicara sama Om Rendy dulu...." Ratna mengambil mangkuk sup dan memberikannya pada Aurel.

"Dia jinak kok, lagian ada tongkat bisbol di kamarnya. Kalau macem macem gebuk aja."

Mau tidak mau Aurel menerima mangkuknya, dengan ragu melangkah ke kamar yang pintunya masih terbuka lebar. Dia tahu jika Ratna sedang memberikan waktu untuk dia dan Adrian. Bicara empat mata, itu yang mereka perlukan sekarang.

Aurel berdiri kaku dengan jarak dua meter dari kasur. Blazer hitamnya dia sampirkan ke sofa.

"Kenapa tidak di lawan? Kamu mikir nggak sih akibatnya?" tanya Aurel, masih membawa mangkuk sup ditangannya.

Adrian selonjoran di kasur, tangan dibalut bersandarkan bantal. "Enggak mikir. Ngelakuin aja."

"Enggak mikir?!" Aurel maju selangkah.

"Kamu punya tanggung jawab sama perusahaan, banyak orang tergantung sama kamu. Terus kalau kamu kenapa kenapa apa jadinya mereka?Terus kamu pikir aku cewek yang luluh liat cowok berantem terus bonyok?!"

"Kamu luluh nggak kuat aku bonyok?" tanya balik Adrian malah tersenyum. Bibirnya pecah, tapi senyumnya nakal. Entah, tapi dia senang mendengar semua perkataan beruntun dari bibir kemerahan itu.

"Enggak."

"Nggak ngerasa salah karena mantan kamu udah bikin aku kayak gini?"

Aurel mendelik. "Yang salah itu kamu!" Tangannya menyendok sup dan menyuapi pria tengil yang terus menggodanya itu.

"Marah marah tapi sayang..."

"Siapa yang sayang? Kamu mau aku sumpel mulut kamu sama kembang kol hahh!" Aurel refleks nepuk tangan Adrian. Tapi menepuk pelan.

Adrian malah nangkep pergelangan tangan Aurel dengan lembut. "Kamu cantik banget pas marah gini tau nggak? Seribu kali lipat dari Aurel di parkiran kemarin dulu."

Aurel narik tangannya. Gagal. "Lepasin. ibu dan Om di luar."

"Biarin mereka denger," Adrian narik Aurel selangkah lebih deket. "Sekarang dengerin aku dulu. Tiga puluh detik."

"Tiga puluh detik apaan?" Aurel berusaha menjauh tapi sia sia, tenaganya kalah kuat.

"Ya tiga puluh detik buat denger kamu ngaku kalau kamu kasihan liat aku bonyok berkorban demi kamu."

Aurel ngamuk. "Itu kan akal-akalan kamu! Kamu sengaja adu jotos! Kamu sengaja ngalah, nggak lucu tau!"

"Iya aku akalin," Adrian mengaku dengan enteng. "Soalnya dari seminggu yang lalu aku udah kena penyakit bucin, bucin sama kamu."

Aurel diam. Ingin sekali tangannya mencubit lengan pria di depannya sekeras kerasnya. Tapi matanya berkaca. "Licik banget kamu..."

"Everything l do," Adrian berbisik. Dia mendekat hingga dahinya hanya berjarak lima centi dari dahi Aurel. "See...kamu nggak pergi kan? Kamu milih marah-marah di sini daripada pergi. You care about me."

Aurel ingin mendorong dada pria menyebalkan didepannya, tapi urung melihat tangan yang terbalut. "Aku benci kamu."

"Benci tapi tangannya nggak jadi mukul," Adrian tertawa pelan. Sakit tapi puas. "Udah?Marah lagi dong. Suara kamu pas ngamuk itu obat, Rel."

"Gila. Kamu gila." Aurel ingin sekali keluar dari kamar, tapi matanya kemudian tertuju pada mangkuk sup yang baru satu sendok ia suapkan.

"Lima belas menit, habiskan supnya. Habis itu aku pulang," gumam Aurel.

"Deal," Adrian tersenyum lebar. "Lima belas menit disuapin kamu. Worth it bonyok tiga minggu."

"Makan sendiri!"

Satu menit berlalu. Dua menit. Adrian diam dengan raut menahan perih.

Aurel akhirnya bangkit mengambil mangkuk sup dan duduk di pinggir kasur.

"Buka mulut," perintahnya ketus.

Adrian buka mata. "Hah?"

"Buka mulut, kataku! Daripada supnya keburu dingin, mubazir!" Aurel menyendok sup, kemudian menyodorkan ke bibir Adrian.

Adrian malah senyum lebar. "Nyuapin? Nggak sekalian disuapin cinta?"

"Diem!" Sendoknya hampir mampir ke hidung Adrian. "Makan! Nggak usah banyak ngomong!"

Adrian menurut. Dia membuka mulutnya, sambil mengunyah dia berbisik, "Rasanya kayak disuapin bidadari marah marah. Enak."

Aurel menyendok supnya lagi. Tangannya sedikit gemetar, pria tengil itu membuat hatinya kacau. "Diem. Kunyah. Telan. Jangan banyak ngomong."

"Marah marah tapi cinta, kamu kalah," ujar Adrian memprovokasi, dia suka mendengar suara Aurel. Dan benar saja...

Sendok ketiga berhenti di depan mulutnya. Aurel natap matanya tajam. "Aku nggak kalah. Aku... aku cuma kasihan. Titik."

"Alasan," Adrian menyeruput sup dari sendok Aurel. "Tapi aku suka alasan kamu."

Aurel reflek menarik sendok. Kuahnya hampir tumpah. "Dasar! Kalau tumpah gimana?!"

"Ya kamu yang lapin," Adrian malah tertawa kecil. "Kan kamu yang salah nyuapin orang bonyok."

Aurel langsung menaruh sendok ke mangkok. "Cukup! Aku nggak jadi nyuapin! Makan sendiri sana pake tangan satunya!"

"Jangan dong," Adrian nangkep ujung keneja Aurel. "Udah tanggung. Satu suap lagi. Terakhir. Sumpah."

Aurel mendesah panjang. Mengambil sendoknya lagi, tetap menyuapi tapi sambil mengomel: "Ini terakhir ya. Terakhir banget. Bonyoknya salah sendiri, udah ngerepotin orang, terus masih sempet sempetnya ngerayu. Basi banget...."

Mata Adrian tak bisa lepas dari 'bidadarinya' , seharian mungkin dia akan betah mendengar omelan dari bibir kemerahan itu. "Basi, tapi kamu tetep di sini nyuapin aku."

"Selesai..." Aurel menaruh mangkok kosong di atas nampan. "Lima belas menit sudah habis. Aku pulang."

Dia berdiri. Tapi ujung kemejanya tertahan lagi.

" Lima menit lagi please," Adrian memohon. Kali ini suaranya tidak lagi 'nakal'. "Lima menit kamu diem di sini aja. Nggak usah ngomong. Nggak usah ngapa ngapain. Diem aja. Boleh?"

Aurel ingin menolak. Tapi melihat mata lebam Adrian akhirnya dia duduk lagi di pinggir kasur. Diam. Memeluk Blazer hitam yang tadi disampirkan di sofa kamar.

Dari luar, Ratna dan Rendy tersenyum lebar.

"Bentar lagi punya mantu kayanya Mbak."

"Doain saja, biar jalannya mulus."

1
Nur Ahmad
ceritanya ringan, CEO tapi merakyat
Mida
lanjut kak 💪
Nur Ahmad
uhuy jadian
Nur Ahmad
cemburu sama dengan cinta
lia juliati
🤭😄
Mida
lanjut kak jadi penasaran 🤭
Lindra: dukung terus yaaa🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiiirrr😍
Lindra: tengkiuuhhh sayangkuhh🙏🙏
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Lindra: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
🤣🤣🤣
Nur Ahmad
Adrian 😍😍😍
Nur Ahmad
co cuiittt
Nur Ahmad
uhuy kencan nih double A
Nur Ahmad
menunggu memang tak enak
Nur Ahmad
ceritanya lebih ringan dari novel emak kmrn yg aku baca
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
/Applaud/
T.N
sempurna .... semangat kaka suka sekali sama karya-karyanya
Lindra: Terimakasih sudah ikut meramaikan karya emak🙏🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
start disinii
Zul Denayu
Lanjut kak 💪💪🌹🌹🌹
lia juliati
itulah bila hati berkehendak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!