"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Julian memegangi kepalanya merasa frustrasi. Bisa-bisanya Kak Vito nggak ngenalin adiknya sendiri.
Julian mendekati Yisla, cowok itu membungkuk sedikit demi membisikkan sesuatu di telinganya. "Yisla... please, dengerin aku dulu."
Yisla menatapnya tajam, bersedekap dada. "Apa lagi, Julian? Kamu lihat sendiri, kan? Kakakku sampai salah orang gara-gara kamu bawa perempuan asing ini!"
"Iya, iya, aku tahu aku salah! Tapi tolonglah... kali ini aja, demi keselamatan kita," bisik Julian memelas. "Kamu mau ya, berbagi kamar dengan Putri Jenny malam ini?"
Yisla memelotot. "APA?!"
"Sssshhh!" Julian panik, membekap mulut Yisla sebelum gadis itu membangunkan Vito.
"Yisla, kecilin suaramu! Logikanya begini: kalau dia sekamar sama aku, kamu pasti bakalan gergaji leherku, kan?"
Yisla terdiam, lalu mendengus. "Pasti."
"Nah, itu dia! Terus kalau dia tidur di kamar Kak Vito, besok pagi dia sudah diserahkan ke markas militer Kerajaan Northern. Jadi... tolong ya? Kamu sekamar sama Jenny malam ini?"
Yisla menepis tangan Julian, lalu melirik sinis ke arah Jenny yang masih berdiri canggung di ambang pintu sembari mengusap-usap kepalanya yang habis ditepuk acak-acakan oleh Vito.
"Kenapa harus aku yang berkorban?" ketus Yisla, merapatkan mantelnya dengan kesal. "Aku tidak sudi berbagi kasur dengan putri manja yang sedari tadi terus-terusan menempel padamu seperti lem!"
"Cuma satu malam, Yisla. Please..." Julian menangkupkan kedua tangannya, sembari memasang wajah paling memelas yang ia bisa.
"Besok kita cari solusi lain. Anggap saja ini misi penyelamatan nyawa."
Yisla mendengus kasar, namun bahunya sedikit merosot. "Aku tidak janji tidak akan mencekiknya saat dia tidur."
"Itu... sudah cukup bagus buat aku!" Julian tersenyum lebar.
Julian mendorong Jenny masuk ke dalam kamar Yisla. "Anggap saja ini sedang berkemah bertema kearifan lokal, Putri! Selamat malam!"
Yisla mengekor di belakang, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat dengan bunyi yang cukup keras.
Bam!
Yisla langsung merebahkan diri di sisi ranjang bagian dalam. "Kasurnya cuma satu. Kalau tidak mau berbagi, silakan tidur di lantai," ketusnya, langsung membelakangi Jenny.
Jenny mendengus kesal. Namun karena kelelahan, sang putri akhirnya terpaksa merebahkan diri di sisi luar kasur dengan sangat canggung.
Keesokan paginya, Yisla sudah terbangun sejak fajar. Ia melirik Jenny yang masih tertidur pulas dengan posisi yang jauh dari kata anggun. Yisla mendengus geli, lalu perlahan bangkit menuju dapur.
Di sana, Julian sudah duduk di dekat perapian yang baru dia dinyalakan. "Eh, Yisla? Sudah bangun?"
"Hmm," gumam Yisla singkat, mulai mengambil beberapa kentang dan roti gandum untuk sarapan.
Julian bergegas bangkit. "Sini, biar aku bantu potong kentangnya."
Yisla melirik ragu, lalu menyerahkan pisau dapur. "Jangan memotongnya terlalu tebal, Julian."
"Siap, Bos!" sahut Julian dengan cengiran khasnya.
Keduanya sibuk bekerja sama dalam keheningan yang jauh lebih damai dan hangat dibanding kemarin malam. Aroma sup kentang mulai menguar ke seluruh rumah.
Kriet.
Pintu kamar Yisla akhirnya terbuka. Jenny melangkah keluar dengan rambut agak acak-acakan.
"Selamat pagi..." ucapnya manja khas orang baru bangun tidur.
Di saat yang bersamaan, pintu kamar Vito ikut terbuka. Vito meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku sambil menguap.
"Pagi, Yisla..." gumamnya santai.
Satu detik kemudian, Vito tersadar. Suara manja barusan jelas bukan milik adiknya.
Vito menghentikan gerakannya. Ia berbalik perlahan, lalu matanya langsung melebar saat menangkap sosok perempuan asing berpakaian mewah sedang berdiri di depan kamar Yisla.
Vito mematung dengan rahang nyaris jatuh. Ia menunjuk Jenny dengan jari gemetar, lalu melotot ke arah Julian.
"Loh... SIAPA DIA?!" teriak Vito histeris, seketika nyawanya terkumpul seratus persen.