Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sejak Aurel mengajukan gugatan cerai, kehidupan Mahesa berubah drastis. Hampir setiap hari pikirannya dipenuhi banyak hal. Aurel. Proses perceraian. Kayla yang terus mendesak untuk dinikahi.
Belum lagi tekanan dari kedua orang tuanya yang hingga kini masih belum mau menerimanya.
Semua itu membuat konsentrasi Mahesa terpecah. Dan tanpa disadari. Yang paling merasakan dampaknya adalah bengkel yang selama ini menjadi sumber penghasilan Mahesa.
Pagi itu, suasana bengkel sudah ramai. Beberapa mobil mengantre untuk diservis. Namun salah seorang mekanik tampak kebingungan.
"Pak."
Mahesa yang sedang duduk di ruang kantor mengangkat kepala. "Iya?"
"Spare part untuk mobil ini habis."
Mahesa mengernyit. "Habis?"
"Iya, Pak. Padahal minggu lalu sudah saya kasih daftar untuk dipesan."
Mahesa terdiam beberapa saat. Baru kemudian ia teringat. Apa yang dikatakan pegawainya benar.
Daftar pemesanan itu masih terselip di dalam map di meja kerja Mahesa. Ia sampai lupa menghubungi pemasok.
"Maaf. Nanti saya pesan."
Mekanik itu mengangguk. "Baik, Pak."
Namun belum lima menit berlalu, mekanik lain kembali masuk.
"Pak."
"Iya?"
"Filter oli juga tinggal dua. Kalau hari ini banyak pelanggan, pasti habis."
Mahesa mengusap wajahnya. "Baik."
"Saya urus."
Belum selesai dengan masalah itu, kasir bengkel kembali mengetuk pintu.
"Pak Mahesa."
"Ada pelanggan komplain."
"Kenapa lagi?" tanya Mahesa.
"Mobilnya belum bisa dikerjakan karena kampas rem yang dipesan belum datang."
Mahesa menundukkan kepala. Dadanya mulai terasa sesak. Semua pekerjaan yang biasanya berjalan lancar kini mulai berantakan.
Di luar ruang kantor, beberapa karyawan saling berpandangan.
"Pak Mahesa akhir-akhir ini kenapa, ya?"
"Nggak seperti biasanya."
"Iya."
"Dulu beliau paling teliti."
"Stok spare part hampir nggak pernah kosong."
"Sekarang malah sering telat pesan."
Salah seorang mekanik senior menghela napas. "Beliau lagi ada masalah keluarga."
"Tapi kalau begini terus..."
"...pelanggan bisa pindah ke bengkel lain."
Semua hanya bisa mengangguk. Mereka memahami bahwa bos mereka sedang menghadapi masalah pribadi. Namun bengkel tetap harus berjalan.
Menjelang siang, seorang pelanggan datang dengan wajah kesal.
"Mas."
"Kemarin saya sudah booking."
"Kenapa sekarang katanya barangnya kosong?"
Kasir mencoba menjelaskan dengan sopan.
"Maaf, Pak."
"Barangnya sedang dalam proses pengiriman."
Pelanggan itu menggeleng kecewa. "Kalau begini saya pindah bengkel saja."
"Saya butuh mobil ini secepatnya."
Mahesa yang mendengar percakapan itu segera menghampiri.
"Maaf, Pak."
"Kami benar-benar minta maaf."
Namun pelanggan itu hanya menghela napas.
"Saya sudah langganan di sini bertahun-tahun."
"Tapi baru kali ini pelayanannya seperti ini."
Setelah mengatakan itu, pelanggan tersebut pergi.
Mahesa hanya mampu menatap kepergian pria itu. Hatinya terasa semakin berat.
Sore harinya, mekanik senior kembali menemui Mahesa.
"Pak."
Mahesa menoleh. "Ada apa?"
"Maaf kalau saya lancang."
"Tapi Bapak harus segera fokus lagi."
Mahesa terdiam.
"Bengkel ini bergantung pada keputusan Bapak."
"Kalau stok terus kosong..."
"...pelanggan akan kecewa."
"Kalau pelanggan kecewa..."
"...nama baik bengkel juga ikut turun."
Mahesa menundukkan kepala. Ia tahu semua ucapan itu benar. Namun pikirannya benar-benar tidak tenang. Setiap kali mencoba fokus bekerja. Wajah Aurel selalu terlintas. Setiap kali mengingat Aurel. Kayla kembali menghubunginya. Belum lagi jadwal sidang yang terus menghantuinya.
Mekanik senior itu menepuk pelan bahu Mahesa.
"Kami semua ingin membantu."
"Tapi kami juga butuh keputusan dari Bapak."
Mahesa mengangguk pelan. "Terima kasih."
"Aku akan berusaha memperbaikinya."
Namun setelah karyawan itu pergi, Mahesa justru memejamkan mata. Ia menyadari satu hal. Selama ini ia begitu sibuk mengejar Aurel agar membatalkan perceraian. Begitu sibuk menghadapi tuntutan Kayla. Sampai lupa bahwa masih ada puluhan karyawan yang menggantungkan hidup dari bengkel itu. Dan kini. Kesalahan yang ia buat di dalam rumah tangga perlahan mulai merembet ke dunia usahanya. Harga dari sebuah pengkhianatan ternyata jauh lebih mahal daripada yang pernah ia bayangkan.
♡♡♡
Beberapa hari setelah mediasi pertama dinyatakan gagal, Aurel kembali datang ke kantor Arya Aditia. Kali ini bukan untuk membahas harta bersama ataupun hak asuh Raka. Melainkan membahas langkah hukum berikutnya.
Arya sudah menunggu di ruangannya dengan beberapa berkas di atas meja.
"Silakan duduk, Bu Aurel."
"Terima kasih, Pak." Aurel duduk sambil mengembuskan napas pelan.
Arya membuka map berwarna biru. "Setelah mediasi pertama tidak berhasil, ada kemungkinan pihak Mahesa masih akan mencoba mengupayakan perdamaian di persidangan."
Aurel langsung menggeleng. "Kalau memang ada kesempatan mediasi lagi..."
"...saya ingin menolaknya."
Arya mengangkat pandangannya. "Boleh saya tahu alasannya?"
Aurel tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir beberapa saat.
"Buat saya..."
"...itu hanya membuang waktu."
Arya tetap mendengarkan.
"Saya sudah memberi kesempatan kepada Mahesa untuk menjelaskan."
"Bahkan sebelum gugatan diajukan."
"Saya juga sudah mengikuti mediasi pertama dengan itikad baik."
"Hasilnya tidak ada."
"Mahesa tetap meminta saya bertahan."
Aurel menghela napas. "Padahal keputusan saya sudah tidak mungkin berubah."
Arya mengangguk pelan. "Masuk akal."
Namun Aurel ternyata belum selesai.
"Ada alasan lain." kata Aurel.
"Apa itu?" tanya Arya.
Aurel tersenyum tipis, meski terlihat pahit. "Saya juga harus memikirkan biaya."
Arya sedikit terdiam.
"Semakin lama proses ini berjalan..."
"...semakin banyak pengeluaran yang harus saya siapkan."
"Saya memang menggunakan jasa pengacara."
"Tapi saya juga punya tanggung jawab sebagai ibu."
"Masih ada biaya sekolah Raka."
"Kebutuhan sehari-hari."
"Dan saya juga harus menyiapkan masa depan anak saya."
"Saya tidak ingin proses yang berlarut-larut membuat semuanya di luar rencana anggaran yang sudah saya susun."
Arya memahami kekhawatiran itu. Ia menutup map di hadapannya.
"Saya mengerti."
"Setiap proses hukum memang memiliki konsekuensi waktu dan biaya."
Aurel mengangguk. "Karena itu saya ingin perkara ini berjalan seefisien mungkin."
"Bukan karena saya terburu-buru."
"Tapi karena saya sudah tidak melihat ada lagi yang perlu diperdebatkan."
Arya kemudian bertanya pelan, "Kalau Mahesa nanti kembali meminta kesempatan?"
Aurel menjawab tanpa ragu. "Jawaban saya tetap sama."
"Tidak."
Ruangan kembali hening.
Beberapa detik kemudian Arya berkata, "Baik."
"Kalau memang itu keputusan Ibu, tugas saya adalah membantu memperjuangkannya sesuai prosedur hukum."
Aurel mengangguk. "Terima kasih."
Arya kembali membuka berkas perkara.
"Untuk bukti-bukti yang sudah kita kumpulkan, sejauh ini sudah cukup kuat."
"Kita memiliki percakapan, pengakuan dari pihak terkait, serta beberapa bukti pendukung lain yang relevan."
"Semua itu akan kita susun dengan rapi sesuai kebutuhan persidangan."
Aurel merasa sedikit lega. "Jadi menurut Bapak..."
"...tidak perlu lagi memperpanjang proses yang tidak akan mengubah keputusan saya?"
Arya menggeleng pelan. "Kalau dari sisi hukum, fokus kita sekarang adalah menyelesaikan perkara dengan tertib dan berdasarkan bukti."
"Bukan memaksa salah satu pihak mengubah perasaan atau keputusannya."
Kalimat Arya membuat Aurel tersenyum untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan.
"Itu yang saya harapkan." kata Aurel.
Arya membalas senyum tipis. "Kalau begitu, kita lanjutkan proses sesuai tahapan berikutnya."
Aurel berdiri sambil merapikan tasnya. "Semoga semuanya segera selesai."
Arya mengangguk. "Saya juga berharap demikian."
Bagi Aurel, perceraian bukan lagi soal menang atau kalah. Ia hanya ingin menutup lembaran yang telah lama dipenuhi kebohongan. Dan menurutnya, bukti perselingkuhan Mahesa sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan alasan mengapa rumah tangga itu tidak lagi bisa dipertahankan.