"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Jaga napas Anda tetap teratur, Mademoiselle Emma. Tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan," ucap Dr. Chantal dengan suara lembut yang menenangkan.
Dokter spesialis kandungan paruh baya itu mengoleskan gel transparan yang dingin di atas perut Emma yang mulai menyembul bulat di balik gaun medisnya.
Emma memejamkan mata dan mencengkeram pinggiran ranjang periksa dengan jemari yang memutih. Setiap kali berada di ruang medis, kilasan malam terkutuk ketika tubuhnya diseret dan dihempaskan ke aspal jalan selalu kembali menghantuinya. Jantungnya berdegup kencang dan memicu rasa ngilu yang samar di ulu hatinya.
Xavier yang berdiri di sudut ruangan, bersedekap sembari mengamati layar monitor USG dengan tatapan tajam.
"Bagaimana kondisinya, Dokter? Apakah sisa trauma dari benturan malam itu masih memengaruhi plasenta?"
Dr. Chantal menggeser transduser di atas perut Emma dan matanya fokus meneliti grafik dan visual hitam-putih di layar.
"Secara keajaiban medis, struktur plasenta kedua bayi kembar ini sangat kokoh. Mereka berkembang dengan sangat baik di usia empat bulan menuju lima bulan ini. Detak jantung mereka berdua terdengar sangat kuat."
Suara ketukan ritmis yang cepat dan konstan menggema dari pengeras suara mesin USG yang memenuhi ruangan periksa yang sunyi.
Setitik air mata hangat lolos dari sudut mata Emma yang mengalir lambat melewati pelipisnya. Itu adalah suara kehidupan yang berhasil dia pertahankan di tengah cengkeraman maut.
"Namun," Dr. Chantal menjeda kalimatnya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius sembari menatap Emma.
"Trauma fisik masih menyisakan trauma jaringan yang cukup serius. Rahim Anda jauh lebih sensitif dan rentan dibandingkan ibu hamil normal lainnya. Kuncinya hanya satu, Mademoiselle Emma, Anda harus menjaga kestabilan emosi Anda secara ekstrem."
"Apa risikonya jika emosinya tidak stabil?" tanya Xavier.
"Kontraksi dini yang bisa memicu keguguran spontan," jawab Dr. Chantal lugas tanpa bermaksud menakut-nakuti.
"Setiap kali Anda merasa tertekan, marah, atau ketakutan, tubuh Anda melepaskan hormon stres dalam jumlah besar. Bagi rahim yang pernah mengalami trauma fisik berat, itu bisa menjadi pemicu yang fatal. Anda harus melupakan semua beban pikiran Anda jika ingin kedua anak ini lahir dengan selamat."
Emma menyeka air matanya dengan cepat,
dan tatapannya seketika mengeras mendengarkan peringatan sang dokter.
"Saya mengerti, Dokter. Saya akan memastikan diri saya tetap tenang. Tidak akan ada satu hal pun dari masa lalu yang boleh mengusik saya lagi."
Dr. Chantal tersenumlah lega, lalu mencetak beberapa lembar foto hasil USG dari mesin dan menyerahkannya kepada Emma.
"Bagus. Lihatlah mereka! Yang di sebelah kiri adalah putra kecilmu yang tampan dan yang di sebelah kanan adalah putri kecilmu yang cantik. Mereka berdua adalah pejuang yang hebat di dalam sana."
Xavier melangkah mendekat setelah Dr. Chantal keluar dari ruangan untuk memberikan waktu pribadi bagi mereka. Ia menatap Emma yang masih terpaku memandangi kertas foto hitam-putih di tangannya.
"Kamu mendengar kata dokter tadi, Emma," ucap Xavier datar.
Ia menyodorkan selembar tisu untuk mengeringkan sisa gel di perut wanita itu.
"Tekan semua kemarahanmu terhadap Kincaid Group untuk beberapa bulan ke depan. Balas dendam terbaik kita membutuhkan persiapan yang dingin bukan emosi yang meledak-ledak hingga membahayakan dirimu sendiri."
Emma perlahan bangkit dari posisi berbaring dan membetulkan pakaian rajutnya yang longgar dengan gerakan anggun.
"Aku tidak sedang marah, Xavier. Aku sedang membangun dinding pelindung. Rasa sakit yang diberikan keluarga Kincaid tidak akan membuatku goyah lagi. Justru rasa sakit itu telah berubah menjadi obat bius yang mematikan rasa takutku."
Xavier menaikkan sebelah alisnya dan menatap perubahan psikologis wanita di depannya dengan kepuasan yang tertahan.
"Termasuk fakta bahwa Alfie Kincaid sekarang tahu bahwa akulah yang menyelamatkanmu malam itu? Detektifnya baru saja berhasil menyentuh perbatasan aset terluar Ellis Corporation di London."
Emma tertegun sejenak, namun sedetik kemudian senyuman getir nan dingin terukir di bibirnya yang pucat.
"Biarkan saja dia tahu. Biarkan dia mencari tahu sampai otaknya pecah karena frustrasi. Semakin dia mencari tahu, semakin dia akan menyadari betapa tidak berdayanya dia. Itu adalah hukuman yang bagus untuk permulaan."
Emma mengalihkan pandangannya kembali pada foto USG di tangannya. Di sana, dua siluet janin kecil terlihat meringkuk dengan aman di dalam rahimnya.
Jemarinya yang kurus bergerak mengusap foto kedua anaknya dengan penuh kelembutan, namun pancaran matanya berubah menjadi sedingin es yang tidak tertembus.
Setiap guratan bentuk tubuh anaknya di dalam foto itu seolah mempertegas batas suci yang memisahkan dirinya dengan masa lalu yang penuh fitnah.
Di dalam keheningan ruang medis yang steril itu, Emma menarik napas dalam-dalam dan mengunci seluruh tekad dan dendamnya ke dalam satu sumpah mati yang tidak akan pernah dia langgar seumur hidupnya.
"Kalian adalah anak-anakku hanya anak-anakku. Aku bersumpah demi sisa napas yang kumiliki tidak akan kubiarkan satu tetes pun nama belakang Kincaid mengalir di nama kalian. Darah pria kejam itu tidak pantas diakui di dunia ini. Mulai hari ini, kalian adalah Ellis dan ayah kalian telah mati," bisik Emma.