Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KE MAKAM AYAH
Pagi ini Mario mengantarkan Bulan ke rumah ibunya. Arum sudah pindah dari kontrakannya. Dilla membelikan Arum sebuah rumah kecil dipinggiran kota.
"Ibu." Bulan langsung memeluk ibunya yang berdiri diteras menunggunya. Mario sudah memberitahu jika hari ini Bulan akan datang.
"Sayang, ibu sangat merindukanmu." Arum membelai kepala Bulan lalu menciumi pipi gadis itu. "Apa Tuan Bhara tidak ikut?"
"Tuan Bhara sibuk Bu." Bulan melihat raut kecewa diwajah ibunya.
"Ayo masuk, ibu sudah masak makanan kesukaanmu."
Bulan memperhatikan rumah kecil itu. Semua perabotannya baru. Rumah itu sangat bersih dan terasa amat nyaman. Bahkan lebih nyaman dari rumah mewah yang sekarang ditempati Bulan.
Bulan mencium aroma makanan kesukaannya. Gurame asam manis, ibunya sengaja memasak spesial untuk Bulan.
"Bulan langsung lapar mencium bau masakan ibu." Kata Bulan sambil memegangi perutnya.
"Ayo kita makan, panggil pak Mario dulu, kita makan bersama."
Bulan keluar untuk memanggil Mario dan mengajaknya makan bersama. Mario sempat menolak, tapi Bulan bersikeras memaksa.
Mereka bertiga makan dengan lahap. Masakan Arum memang sangat lezat, karena itulah Dilla sangat menyukai masakan Arum.
Mario melihat kebahagiaan di wajah Bulan. Sebenarnya dia sangat kasihan dengan nasib gadis itu. Bagaimanapun dia yang sudah menjebaknya demi mendapat hadiah apartemen.
"Apa kau tidak punya ponsel, kau tidak pernah menghubungi ibu?"
"Bulan belum beli lagi Bu."
Arum menatap Bulan dengan heran. Sudah hampir sebulan Bulan menikah dengan Bhara. Tetapi ponsel saja dia tidak punya. Padahal sebelum menikah Bulan tidak pernah lepas dari ponsel. Arum ingin bertanya, tapi karena ada Mario dia sedikit Sungkan.
"Apa kita akan langsung ke makam ayah setelah ini Bu?"
"Apa kau tidak lelah, jarak dari rumahmu kesini jauh, istirahatlah dulu. Nanti sore saja kita kesana."
"Baiklah." jawab Bulan sambil tersenyum. "Tuan Mario, kalau anda sibuk, anda bisa kembali bekerja lagi. Kami bisa naik ojek nanti ke makam. Nanti saya hubungi jika saya sudah mau pulang," kata Bulan.
"Saya tunggu disini saja Nona. Tuan Bharata menyuruh saya menjaga nona seharian ini."
Bulan pikir hari ini dia bisa bebas, tapi sepertinya tidak. Bhara tetap menyuruh Mario mengawasinya. Padahal hari ini Bulan berniat untuk keluar membeli ponsel.
Setelah selesai makan, Arum mengajak Bulan beristirahat dikamar.
"Apa ibu betah tinggal disini?" tanya Bulan yang sedang duduk ditepi ranjang bersama Arum.
"Betah, tapi ibu kesepian." Jawab Arum sambil membelai rambut Bulan.
"Maafkan Bulan Bu, seharusnya Bulan tidak meninggalkan ibu sendirian."
"Jangan bilang begitu. Seorang istri memang sudah seharusnya tinggal bersama suaminya. Lagi pula tetangga disini baik baik. Kau tidak usah khawatir."
"Apa ibu ada uang? nanti sepulang dari makam kita ke atm. Bulan akan mengambil uang untuk ibu." Bulan masih ingat kalau ada uang 300 juta di rekeningnya.
"Tidak perlu, Nyonya Dilla sudah memberi ibu uang. Jangan pikirkan masalah uang lagi."
Bulan merasa lega jika Dilla memperlakukan ibunya dengan baik. Setidaknya walaupun Bhara tidak memberinya nafkah, Dilla tetap memberikan uang pada ibunya.
"Apa kau bahagia nak?" Arum takut jika anaknya tidak bahagia karena menjadi istri ketiga. Apalagi Bulan menikah bukan karena cinta, tapi kerena terpaksa oleh keadaan.
"Maaf karena ibu kau terpaksa menikah dengan Tuan Bhara."
"Sudahlah Bu, mungkin Tuan Bhara memang jodohnya Bulan. Oh iya Bu, apa sebelum ibu pindah kesini, ada orang yang mencari Bulan?"
"Tidak ada nak."
Entah kenapa Bulan merasa kecewa mendengarnya. Dihati kecilnya di masih berharap jika Satria mencarinya. Tapi sepertinya tidak demikian.
"Om Satria tidak mencariku. Ya, aku memang tidak penting baginya. Aku hanyalah sugar baby. Dan saat aku menghilang, dia bisa mendapatkan yang baru. Kenapa aku jadi ingin menangis." Gumam Bulan dalam hati. Matanya sudah mulai berkaca kaca.
"Kau kenapa nak?"
"Tidak Bu, Bulan hanya rindu ayah."
"Ibu juga merindukannya. Tidurlah dulu, nanti sore kita ke makam ayahmu."
Bulan merebahkan tubuhnya diranjang. Siang ini dia ingin tidur bersama ibunya. Dia rindu pelukan hangat ibunya.
Sore harinya Bulan dan ibunya ke makam diantar Mario. Mereka mengaji disana. Mario terus memperhatikan mereka dari jauh.
"Anakmu sudah menikah sekarang Pak. Dia sangat beruntung mendapat suami yang kaya dan sangat baik. Sepertinya ibu bisa tenang menjalani masa tua. Ibu tidak lagi memikirkan masa depan anak kita karena masa depannya sudah terjamin."
Dada Bulan serasa sesak mendegar kata kata ibunya. Kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan itu.
Setelah dari makam, Mario mengantar Arum pulang ke rumahnya. Setelah itu membawa Bulan ke rumah Dilla, karena Dilla memintanya untuk mampir.
"Tuan, Bisakah kita mampir untuk membeli ponsel sebentar?" Tanya Bulan pada Mario.
"Maaf Nona, sepertinya tidak bisa. Saya tidak berani jika Tuan Bhara tidak memberi ijin. Dan satu lagi, jangan panggil saya tuan, panggil saja Mario."
"Baiklah." Dengan berat hati Bulan mengubur keinginannya untuk membeli ponsel.
Dilla Menyambut Bulan dengan senang hati. Dia sudah menyuruh pembantu untuk
menyiapkan banyak makanan untuk Bulan.
Dilla menyuruh Bulan mandi dulu setelah itu turun untuk makan malam. Dilla juga sudah menyiapkan baju ganti untuk Bulan.
"Hei sayang, kau cantik sekali." Puji Dilla saat melihat Bulan turun ke lantai bawah. Dilla sengaja menyiapakan gaun yang sangat cantik untuk Bulan.
"Bukan Bulan yang cantik, tapi gaun ini yang sangat cantik."
"Ish kau ini, kau memang cantik sayang."
"Bulan ingin berterimakasih pada Mbak, Mbak Dilla sudah sangat baik pada ibu."
"Sudahlah jangan pikirkan itu. Lebih baik bantu mbak menyiapkan makan malam, sebenar lagi Mas Bhara pulang."
Bulan dan Dilla menyiapkan makan malam sambil mengobrol ringan. Bulan tidak menyangka jika Dilla memperalakukannya dengan sangat baik. Padahal Bulan adalah madunya.
Tak lama kemudian Bhara datang. Dia langsung menghampiri Dilla yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Hai sayang, kau masak apa, baunya sangat wangi." ucap Bhara sambil memeluk Dilla dari belakang.
Bulan yang baru keluar dari dapur tak sengaja melihat kemesraan mereka.
"Lepasin Mas, ada Bulan." Ucap Dilla lirih. Dilla merasa tak enak karena Bulan melihatnya.
"Memangnya kenapa? kau ini istriku." Bhara makin mengetatkan pelukannya pada Dilla. Bahkan dia mulai menciumi telinga dan leher Dilla.
Bulan menundukkan pandangannya. Dia merasa malu melihat kemesraan mereka. Bulan berbalik arah dan kembali lagi ke dapur.
Melihat Bulan sudah tidak ada, Bhara baru melepaskan pelukannya.
"Kau keterlaluan Mas, Bulan pasti cemburu. Mandilah dulu, setelah itu kita makan malam bersama."
Setelah Bhara mandi mereka makan malam bertiga. Dilla dengan telaten melayani semua kebutuhan Bhara. Dan Bhara terlihat sangat hangat kepada Dilla. Beda sekali dengan perlakuannya pada Bulan.
Bulan merasa seperti orang asing disana. Keberadaannya bahkan tidak dianggap sama sekali oleh Bhara.
"Bulan, kenapa kau diam saja? apa kau tidak suka makanannya?" tanya Dilla.
"Suka kok mbak." Bulan berusaha tetap tersenyum didepan Dilla.
Bhara melirik Bulan sekilas, gadis itu tampak sangat cantik malam ini.
"Kau menginap saja disini malam ini."
"Tidak perlu mbak, biar aku diantar Mario saja."
"Jangan menolak, Mas Bhara pasti senang jika kau menginap disini."
"uhuk uhuk uhuk." Bhara tersedak mendengar kata kata Dilla.