NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

luka itu masih ada

"Loh, Ara...? Kamu dari mana? Dan kenapa dengan sepedanya?" seru Nyi Asih dari teras rumah.

Maara memarkirkan sepeda disisi rumah dan berjalan menghampiri Nyi Asih serta dua rekan lainnya yakni Maya dan Diana.

Mungkin mereka sedang bercengkrama sore pikir Maara.

"Rantainya tiba-tiba macet dan susah di kayuh, makanya aku tuntun saja" ucap Maara lemah bercampur lelah.

Keringat mengucur didahinya.

"Minum dulu... Pasti kamu lelah menuntun sepeda hingga sampai kesini" Nyi Asih menyodorkan segelas air putih pada Maara.

"Terima kasih Nyi...." sahut Maara dan langsung meneguknya hingga tandas.

"Sepedanya ditinggal saja... Nanti ada anggota saya yang akan bawa ke bengkel... Maklum saja, ini sepeda tua dan jarang digunakan...." terang Nyi Asih.

"Oh ya... Tadi kamu lewat di jalan depan grosiran itu?" tanya Diana tiba-tiba.

"Iya, kenapa memangnya?" tanya Maara pura-pura tak tahu maksud Diana.

"Katanya di klinik itu ada dokter baru, datang dari Bandung... Dan wajahnya tampan serta masih muda lagi.... Kamu ketemu nggak? Tadi pagi aku lewat sana, kata yang jaga belum datang makanya aku nggak ketemu " des*h Diana menahan kecewa.

"Kamu ini Dee... Pantang lihat laki-laki tampan... Pasti langsung mau digaet..." geleng Nyi Asih seperti sudah khatam sifat Diana yang centil.

Sedangkan yang disindir hanya terkekeh kecil. "kan lagi usaha Nyi... Siapa tahu dia juga suka..." sahutnya.

Perhatian Diana kembali kepada Maara.

"Lihat tidak Ra?" tanya Diana ulang.

"Lihat tapi ya, gitu, cuma sekilas...." sahut Maara acuh.

"Ganteng nggak?" Diana semakin penasaran.

"Jangan dengarin Diana, Ra... Ngomong-ngomong, kamu udah punya pasangan Ra? Pacar atau tunangan barangkali" tanya Nyi Asih yang membuat Maara membeku.

Sejujurnya, inilah yang di hindari oleh Maara ketika kenal dengan orang baru.

Maara sangat menghindari pertanyaan yang bersifat pribadi apalagi setelah memiliki status janda Revan.

"Nyi... Bahan dapur sudah sampai... Mau dicek sekarang?" sela salah seorang penjaga rumah yang merupakan pekerja asrama.

"Oh iya... Sebentar, saya kesana" Nyi Asih langsung pergi ke halaman belakang guna mengecek beberapa bahan pokok untuk para penghuni asrama.

Di asrama ini, semua penghuni hanya benar-benar membawa badan dan pakaian mereka saja. Tak perlu masak atau beli. Semuanya ditanggung oleh yayasan.

Jadinya, para tenaga pengajar hanya perlu mempersiapkan materi untuk murid-muridnya.

Huft....

Maara menghela nafas pelan karena kali ini dia terselamatkan dari pertanyaan tersebut.

Maara segera pamit karena lelah dan juga badannya yang lengket.

...*******^**^*******...

Hari-hari berlalu, dan Maara makin sering berpapasan dengan dokter Denis. Entah saat di jalan setapak, atau saat ia sedang berjalan-jalan didaerah sekitar.

Hal yang paling gong adalah, Denis tinggal diujung jalan tak jauh dari asrama Maara. Sesuatu diluar prediksinya.

Sebenarnya kehadiran Denis tak terlalu dipermasalahkan oleh Maara karena mereka hanya saling menyapa sekedarnya saja. Entah karena Denis ingat ucapan Maara tempo hari atau sebab lain, Maara tak terlalu ambil pusing.

Baginya, seperti ini saja sudah jauh lebih baik daripada laki-laki itu harus terlalu sering menyapanya.

Maara tak ingin menimbulkan gosip diantara rekan-rekan lainnya. Apalagi Diana yang terus menampakan ketertarikan dirinya terhadap dokter tampan itu.

Bisa riweh urusan jika Diana tahu hal yang sebenarnya.

Tidak!

Maara belum siap menceritakan masalah pribadinya terutama pada orang asing.

Baginya cukup Lisa dan Rio saja yang tahu kehidupannya tidak dengan orang lain.

****

Sore itu, langit Lembang mulai kelabu, seolah ikut merasakan beratnya hati Maara. Ia berdiri menghadap jendela kamarnya, memandang ke arah jalanan yang dipenuhi oleh warga yang beraktivitas.

Tanpa disangka, Denis berdiri disisi dekat pohon asam jawa di tepi jalan dan menatap lurus kearah Maara.

Maara tertegun sejenak.

Dengan gerakan tangan seperti meneguk minum, Denis mencoba peruntungan ingin mengajak Maara keluar meski hanya sekedar minum kopi di kedai pinggir jalan.

Maara sempat ragu antara menolak atau menyetujui. Dan beberapa menit setelahnya dia mengangguk setuju.

...****************...

Di sebuah kedai kopi...

Maara menerima cangkir teh yang disodorkan oleh Denis. Kehangatannya menjalar ke telapak tangan.

"Terima kasih sudah mau menerima ajakanku..." ucap Denis membuka pembicaraan.

"Aku hanya tidak ingin kehadiran mas Denis didepan asrama mengundang perhatian teman-teman lainnya..." sahut Maara dingin.

Denis menangguk kecil tanda setuju.

"Ra..." panggil Denis lembut, selembut semilir angin yang memainkan ujung hijab Maara.

Maara masih mengusap sisi cangkir tehnya yang hangat.

Kepalanya masih tertunduk.

"Mas... Tolong berhentilah bersikap kita adalah teman.... Kita tak seakrab itu untuk saling tegur sapa... " ucap Maara tanpa memandang kearah Denis.

Kalimat Maara barusan bagai jarum yang menusuk jantung Denis tanpa obat bius.

Sakit sekaligus menyayat.

"Apa karena Revan dan keluarganya sehingga kamu juga menghukum ku?" tutur Denis.

"Mas sudah tahu jawabannya...." Maara menarik nafas dalam " Luka yang mas Revan dan keluarganya torehkan sangat sulit diobati... Mereka meninggalkan bekas yang teramat sangat sakit dihatiku... Ibuku...." Maara terdiam sejenak. Suaranya terasa tercekat ditenggorokan.

"Aku tahu ini takdir dan jalan dari Allah... Tapi aku tidak menyangka jika orang-orang yang awalnya aku kira adalah penolong ku ternyata merupakan penyebab utama aku kehilangan ibu dan melukai rahimku... Ini jauh lebih sakit mas... Bagaimana nanti aku akan melanjutkan hidup? Seandainya ada laki-laki yang hendak meminangku dan dia mengetahui jika aku tidak akan pernah bisa memberikannya keturunan, apa aku harus mengulang kisah itu lagi? Ditinggalkan dan dibuang?" ungkap Maara yang membuat Denis tertegun diam. Suaranya terdengar bergetar.

Dan percayalah, airmata Maara sudah menggenang dan hanya dalam sekali kedipan, maka bisa dipastikan pipinya akan basah karena lelehan airmata.

Denis mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibir Maara. Apa yang diucapkannya benar.

Hal yang dilakukan oleh tante Mira dan Revan sungguh sangat keterlaluan dan sulit diterima akal sehat manusia normal.

"Aku Ra... Aku bisa menerimamu apapun keadaaan mu...." tutur Denis seketika hingga membuat Maara menatapnya tanpa bergeming.

"Ra... Menikahlah denganku dan aku akan membahagiakan mu tanpa melihat semua kurangmu... Hiduplah denganku.... Kamu mau kan Ra...?" ucap Denis mencoba meyakinkan Maara.

Maara tersenyum kecil.

"Mas sadar apa yang barusan mas Denis katakan?"

"Aku tak pernah seyakin ini sebelumnya" tegas Denis.

"Tapi sayangnya aku yang nggak yakin"

"Tapi setidaknya kasih aku waktu untuk membuktikan kesungguhan ku... Aku mohon Maara..." ucap Denis menghiba dan terdengar putus asa.

"Maaf mas... Aku nggak bisa... Strata kita berbeda dan aku tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya... Terima kasih teh-nya... Aku pamit, assalammualaikum...." tutur Maara bergegas meninggalkan Denis yang masih diam terpaku menatap punggung Maara yang menjauh.

...****************...

Angin sore berhembus lebih kencang, membawa aroma pinus dan tanah basah.

Setelah beberapa hari dari pembicaraan singkat antara Maara dan Denis tempo hari, hingga hari ini si dokter tampan itu tak terlihat lagi wujudnya disetiap sudut tempat yang biasa Maara lalui.

Maara hanya mendengar dari celotehan Diana jika Denis kembali ke rumah sakit di Bandung karena tenaganya begitu dibutuhkan disana.

Entah apapun alasannya, Maara tak peduli.

Setidaknya untuk sementara waktu, dia tak lagi harus berjalan memutar hanya untuk menghindari agar tak berpapasan dengan Denis.

Sore itu, di tengah kabut Lembang yang perlahan turun, luka di hati Maara terasa sedikit lebih ringan. Namun ia juga tahu, bayang keluarga Adiyasa belum selesai.

Maara tahu jika menyimpan dendam itu tidak baik tapi dia hanya benci.

Benci kepada dirinya sendiri yang lemah dan tak berdaya waktu itu sehingga mau menerima uluran tangan keluarga Adiyasa padahal merekalah penyebab utamanya.

Maara benci ketika hati kecilnya terus merindukan Revan.

Maara benci ketidakberdayaan dirinya karena masih mengingat mantan suami sirinya itu meski dengan susah payah dia terus menekan perasaannya.

Bersambung....

1
Yeni Astriani
Author selamatkan Kenan dari jebakan syifa dan pacar nya syifa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!