Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 JIWA YANG BARU
Rasa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang adalah sensasi pertama yang menyengat kesadaran Anya ketika matanya mendadak terbuka. Paru-parunya terasa seolah terbakar hebat oleh api tak kasat mata, berteriak meminta pasokan oksigen yang mendesak. Cairan dingin dan pekat menyumbat tenggorokannya, menghalangi setiap usaha kerasnya untuk sekadar menarik napas. Secara refleks, insting bertahan hidup yang telah terlatih selama bertahun-tahun di dunia bisnis yang kejam langsung mengambil alih kendali tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, kedua tangannya yang terasa asing dan lemas mulai menggapai-gapai ke atas, mencengkeram apa saja yang bisa digapai, lalu mendorong tubuhnya ke permukaan dengan kepanikan yang luar biasa.
Gebyar!
Anya menyembur keluar dari permukaan air yang sedingin es. Dia terbatuk-batuk hebat di tepi kolam yang berbatu, memuntahkan air yang sempat tertelan sambil meraup udara musim gugur yang menusuk dada dengan rakus. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena suhu dingin yang ekstrem yang langsung menusuk pori-pori kulitnya, tetapi juga karena syok mental yang luar biasa.
Matanya yang perih dan merah akibat air kolam mencoba menyapu sekeliling dengan pandangan yang masih samar dan berkabut. Anya mencoba mengerjapkan matanya berulang kali, namun dia segera menyadari ada sesuatu yang sangat salah di sini. Ini jelas bukan ruang ICU rumah sakit yang serba putih dan steril. Ini bukan tempat seharusnya dia berada setelah mobil sedan mewah miliknya disabotase oleh rekan bisnisnya sendiri hingga berguling-guling masuk ke dalam jurang sedalam puluhan meter di pinggir kota Jakarta. Di mana peralatan medis modern yang seharusnya berbunyi bip? Di mana bau obat-obatan yang menyengat hidung?
Alih-alih ruang rumah sakit modern yang canggih, Anya mendapati dirinya berada di sebuah kolam teratai yang sangat luas, indah, namun terasa mencekam. Di sekeliling kolam itu berdiri kokoh bangunan-bangunan kayu megah dengan arsitektur oriental kuno yang sangat rumit dan detail. Pilar-pilar merah besar yang terbuat dari kayu gelondongan utuh dan atap melengkung khas dinasti kekaisaran Tiongkok kuno tampak berjejer di sepanjang sejauh mata memandang. Angin musim gugur yang bertiup kencang membuat daun-daun kering berguguran di atas permukaan air kolam, menciptakan riak kecil yang sunyi.
"Astaga! Dia ternyata masih hidup? Sungguh wanita sialan yang berumur panjang," sebuah suara melengking penuh dengan nada sinis dan kebencian tiba-tiba memecah kesunyian taman tersebut.
Anya tersedak ludahnya sendiri, lalu menoleh dengan kaku ke arah sumber suara yang mengganggu itu. Di tepi kolam yang berjarak hanya dua meter dari posisinya yang sedang merangkak, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian kain sutra berlapis-lapis yang rumit dan gaya rambut yang disanggul tinggi ke atas, dihiasi oleh beberapa tusuk konde perak murahan. Di belakang wanita paruh baya itu, ada tiga gadis muda yang mengenakan pakaian seragam serupa yang lebih polos, menatap Anya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa meremehkan, kepuasan yang tertunda, sekaligus jijik.
Sebelum Anya sempat melontarkan satu pun pertanyaan tentang siapa mereka dan di mana tempat gila ini, kepalanya mendadak dihantam oleh rasa sakit yang luar biasa hebat. Seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk langsung ke pusat saraf dan otaknya tanpa ampun. Potongan-potongan memori asing yang bukan miliknya berputar cepat seperti rol film yang rusak dan terbakar, memaksa masuk dan menyatu secara paksa dengan kesadarannya yang baru. Rasa sakit itu begitu hebat hingga Anya harus mencengkeram kepalanya sendiri di atas tanah yang basah, mengerang tertahan sementara keringat dingin mulai bercampur dengan air kolam di wajahnya.
Hanya dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Anya akhirnya memahami segalanya. Dia tidak mati di dunia modern, melainkan jiwanya telah bertransmigrasi melintasi dimensi waktu. Jiwa Anya, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang sukses memimpin perusahaan logistik dan investasi raksasa di Asia, kini terperangkap di dalam tubuh seorang wanita bernama Permaisuri Xian.
Dari memori yang baru saja diterimanya secara paksa, Permaisuri Xian adalah sosok wanita berusia 20 tahun yang memiliki nasib yang sangat malang dan menyedihkan. Meskipun menyandang gelar tertinggi sebagai istri sah dari Kaisar Liang yang agung, kedudukannya di istana belakang Kekaisaran Han justru lebih rendah dan lebih hina daripada pelayan tingkat rendah sekalipun. Xian memiliki sifat yang sangat penakut, lemah lembut cenderung bodoh, dan tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat lagi setelah seluruh klannya digulingkan dan dieksekusi dalam politik istana yang berdarah setahun yang lalu. Dia diasingkan di Istana Phoenix yang terpencil, miskin, dan tidak pernah sekalipun disentuh atau dikunjungi oleh sang Kaisar sejak hari pernikahan mereka yang dingin.
Wanita paruh baya yang berdiri di tepi kolam dengan wajah sinis itu adalah Pelayan Senior Lin. Dia merupakan orang kepercayaan dari Selir Agung Cui—selir kesayangan Kaisar yang saat ini memegang kendali penuh atas urusan istana belakang. Memori ingatan Xian menunjukkan dengan sangat jelas bahwa beberapa menit yang lalu, Pelayan Lin sengaja menjebak Xian untuk berjalan ke tepi kolam yang licin ini dan mendorong punggungnya hingga tenggelam. Tujuannya sangat keji dan terencana: membuat Xian yang dirumorkan tengah mengandung palsu itu mati tenggelam atau setidaknya menderita cacat permanen agar posisi Selir Agung Cui di istana ini semakin tidak tergoyahkan oleh siapa pun.
“Jadi, aku bertransmigrasi ke tubuh wanita selemah, sebodoh, dan semalang ini?” batin Anya sambil perlahan mengatur napasnya yang mulai stabil, mengabaikan rasa perih di tenggorokannya. Sudut bibirnya yang pucat dan membiru akibat kedinginan perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan menakutkan. “Sial sekali nasibmu hari ini, Pelayan Lin. Pengkhianat di duniaku yang lama sudah mati bersama jasadku di dalam jurang, dan sekarang, akulah yang akan menjadi malaikat maut pribadimu di dunia kuno ini.”
Anya bukan lagi Xian yang pasrah dan akan menangis meratapi takdir buruknya. Sebagai seorang CEO wanita yang merangkak dari bawah di dunia bisnis yang kejam, penuh dengan tikaman dari belakang dan intrik korporasi, Anya tahu persis bagaimana cara menghadapi musuh yang mencoba menginjak-injak harga dirinya. Tubuh fisik Xian memang terasa sangat lemas, kaku, dan kedinginan, tetapi tekad batin Anya yang sekeras baja mampu menggerakkan otot-otot tubuh yang lemah itu untuk bangkit berdiri tegak.
Dengan perjuangan yang tidak mudah, Anya menyeret tubuhnya yang terasa sangat berat karena gaun sutra berlapis-lapis yang basah kuyup untuk naik ke tepian kolam yang berbatu tajam. Pelayan Lin yang melihat Permaisuri berhasil naik dari kolam sama sekali tidak bergerak setapak pun untuk membantu. Dia justru melangkah maju dengan langkah kaki yang angkuh, melipat kedua tangannya di depan dada sambil mendengus meremehkan ke arah Anya yang sedang berlutut memeras ujung gaunnya.
"Permaisuri Xian, Anda sungguh tidak tahu malu dan hanya merepotkan kami semua," Pelayan Lin berucap dengan suara yang sengaja dikeraskan, memprovokasi suasana taman yang sepi agar pelayan lain bisa mendengar. "Berjalan-jalan sendirian di tepi kolam teratai lalu terpeleset masuk ke dalamnya seperti orang bodoh yang tidak punya mata. Jika berita memalukan ini sampai ke telinga Baginda Kaisar Liang, Anda hanya akan membuat malu seluruh keluarga kekaisaran dan semakin mencoreng nama baik Istana Phoenix yang memang sejak awal sudah tidak memiliki harga itu!"
Anya menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh fokusnya dan menstabilkan pijakan kedua kakinya di atas tanah berbatu. Air kolam yang dingin terus menetes deras dari ujung gaun sutra dan rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan menutupi sebagian wajahnya. Namun, ada sesuatu yang sangat berbeda dari atmosfer dirinya yang membuat suasana di sekitar taman itu mendadak mendingin secara drastis. Anya tidak menangis histeris, tidak gemetar ketakutan, dan tidak memohon ampun atau pembelaan seperti yang biasa dilakukan oleh Permaisuri Xian yang asli setiap kali diintimidasi.
Anya berdiri tegak dengan punggung lurus sempurna, memancarkan aura seorang pemimpin besar yang biasa mengatur dan memecat ribuan karyawan dalam satu jentikan jari. Tatapan matanya yang tajam, pekat, dan penuh dengan intimidasi yang mematikan langsung menghujam lurus ke arah sepasang mata Pelayan Lin. Rasa ngeri yang tak dapat dijelaskan mendadak menjalar di sepanjang tengkuk pelayan tua itu, membuat kata-kata makian berikutnya yang sudah berada di ujung lidahnya tertahan begitu saja secara magis.
"Siapa... siapa yang memberikan izin tertulis atau lisan kepada seekor budak tingkat rendah sepertimu untuk berbicara denganku sambil menatap langsung ke arah sepasang mataku?" suara Anya terdengar sangat rendah, parau, namun setiap suku katanya memiliki penekanan yang begitu dingin hingga mampu membekukan atmosfer di sekitar mereka.
Pelayan Lin tersentak di tempatnya berdiri, wajahnya sempat menegang mendengar nada bicara yang belum pernah dia dengar keluar dari mulut sang Permaisuri yang terkenal penakut itu. Namun, mengingat bahwa selama bertahun-tahun ini Permaisuri Xian selalu tunduk, menangis, dan bisa diinjak-injak olehnya, pelayan tua itu segera membusungkan dadanya kembali dengan angkuh, mencoba menutupi rasa ngeri sesaatnya.
"A-apa? Apa maksud Anda berkata seperti itu kepada saya? Saya adalah kepala pelayan dari Istana Anggrek milik Selir Agung Cui yang terhormat! Permaisuri tidak memiliki hak politik apa pun untuk memarahi atau mendisiplinkan saya atas sebuah kebenaran yang nyata—"
PLAK!!!
Sebuah suara tamparan yang sangat keras, bertenaga, dan penuh amarah yang terukur memotong kalimat Pelayan Lin, menggema dengan sangat nyaring di taman istana yang sunyi itu. Kekuatan tamparan dari tangan Anya yang basah begitu besar hingga tubuh gemuk Pelayan Lin terputar di tempat dan langsung tersungkur dengan posisi yang sangat tidak anggun ke atas tanah berbatu yang kotor. Sudut bibir keriputnya pecah, mengeluarkan darah segar yang langsung menetes ke atas tanah seketika itu juga.
"Ah!"
Tiga pelayan muda yang berdiri di belakang Pelayan Lin memekik horor secara serentak sambil melompat mundur. Mereka semua menutup mulut dengan kedua tangan yang gemetar hebat, menatap pemandangan di depan mereka dengan mata yang nyaris melompat keluar dari kelopaknya karena tidak percaya. Mereka tidak salah lihat dan ini bukan mimpi siang bolong. Permaisuri Xian yang terkenal penakut, yang bahkan selama hidupnya tidak berani membunuh atau menyakiti seekor semut pun, baru saja melayangkan sebuah tamparan keras yang meremukkan harga diri kepala pelayan kesayangan Selir Agung Cui!
"Aku adalah Permaisuri Kekaisaran Han, ibu dari negara ini. Status dan gelarku diakui sah oleh hukum kekaisaran, dewan menteri, dan roh para leluhur yang agung. Dan kau? Kau tidak lebih dari sekadar seekor anjing peliharaan yang menggonggong di halaman rumahku," Anya melangkah mendekat, sepatu sutranya yang basah kuyup melangkah dengan ritme yang sangat anggun namun terasa menekan dada siapa pun yang melihatnya. Tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya, Anya menginjak jari-jari tangan kanan Pelayan Lin yang sedang bertumpu di atas tanah dengan sangat kuat, memutarnya perlahan dengan tumit sepatunya.
"Ahkkk! Sakit! Lepaskan! Tangan hamba hancur! Tolong!" Pelayan Lin menjerit kesakitan yang luar biasa, wajahnya yang tadi dipenuhi keangkuhan kini memerah keunguan menahan perih akibat jari-jarinya yang diinjak tanpa ampun oleh sang Permaisuri.
Anya sama sekali tidak memedulikan jeritan histeris dan tangisan pelayan tua itu. Dia membungkukkan tubuh fisiknya sedikit ke bawah, mendekatkan wajahnya yang pucat tanpa riasan namun memancarkan aura iblis yang sangat memikat tepat di samping telinga Pelayan Lin yang kini tubuhnya sudah gemetar hebat di bawah kakinya.
"Dengar baik-baik kalimatku ini, tua bangka," Anya berbisik dengan nada sedingin es yang sanggup menusuk tulang belakang. "Kematian Xian yang lemah, bodoh, dan penakut sudah terjadi dan jasad mentalnya telah tenggelam di dasar kolam teratai itu beberapa menit yang lalu. Mulai hari ini, jika kau, majikan selirmu itu, atau siapa pun dari istana belakang berani menyentuh, mengusik, atau mengotori ketenangan istanaku lagi... aku bersumpah demi langit dan bumi, aku tidak akan ragu untuk memenggal kepala kalian semua dengan tanganku sendiri dan mengirimkannya sebagai menu hidangan utama di atas meja makan Kaisar Liang. Apakah kau memahaminya?"
Anya melepaskan injakan kakinya dengan satu sentakan kasar yang membuat Pelayan Lin mengerang kesakitan sambil menarik tangannya yang kini memar kebiruan. Anya membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban atau permohonan maaf, membiarkan gaun sutra basah dan beratnya menyapu tanah saat dia berjalan pergi dengan langkah kaki yang teratur, tegap, dan sangat anggun menuju ke arah Istana Phoenix yang terasing. Dia meninggalkan empat pelayan istana belakang yang masih membeku di tempat karena ketakutan dan syok yang luar biasa.
Namun, Anya yang saat ini sedang fokus pada rencana bertahan hidupnya tidak menyadari satu hal yang krusial. Di balik paviliun tinggi berlantai tiga yang terletak tidak jauh dari area kolam teratai tersebut, sepasang mata elang yang sangat tajam, pekat, dan dingin telah menyaksikan seluruh rentetan kejadian dramatis itu sejak awal mula. Pria tinggi yang berdiri di dalam kegelapan paviliun itu mengenakan sebuah jubah naga hitam pekat yang bersulam benang emas murni. Pria itu—Kaisar Liang—menatap punggung Anya yang berjalan menjauh dengan kilatan minat yang mendalam, rasa penasaran, dan ketertarikan yang belum pernah ada sebelumnya di dalam hidupnya yang penuh dengan kepalsuan istana.