NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu

Keesokan harinya, dengan memakai kereta kuda milik pedagang yang sudah tewas, keduanya melanjutkan perjalananan. Namun sebelumnya, dia membagikan seluruh barang dagangan yang ada di kereta kuda itu kepada penduduk desa tersebut.

Rasa takut yang sudah menghilang dari pikiran Sinta, berganti dengan kebahagiaan yang tiada tara. Untuk pertama kalinya dalam hidup, selain ayah dan kakeknya, ada seorang pemuda yang mengecup keningnya.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Wira heran sambil menyentuh dahi gadis tersebut.

"Tidak apa-apa, kok. Lalu mengapa kau menyentuh dahiku?" tanya Sinta balik.

"Ah, tidak... aku hanya takut kau kesambet jin yang ada di penginapan tadi." Wira menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

Sinta melotot ke arah Wira yang terkekeh pelan. Tangannya memegang tali kuda dengan cukup kuat karena belum terbiasa. Baru kali ini dia mengendalikan kereta kuda, itupun dia baru sekali belajar dari pedagang yang sudah dibunuhnya.

Tanpa terasa perjalanan mereka sudah 3 hari sejak dari penginapan. Selepas keluar dari hutan yang cukup luas, Wira dan Sinta memutuskan berhenti di sebuah desa, untuk mengisi perut di sebuah tempat makan yang besar dan juga ramai.

Mereka tidak sadar jika desa yang mereka singgahi itu sudah dekat dengan Kotaraja. Selain karena tidak pernah bepergian jauh, mereka berdua melakukan perjalanan hanya berdasar petunjuk dari Ki Anom saja.

Tempat makan itu sendiri terdiri dari dua lantai yang memiliki fasilitas berbeda. Lantai pertama untuk kalangan umum seperti petani dan penduduk setempat. Lantai atas khusus untuk pedagang, pendekar dan bangsawan.

Begitu memasuki lantai 1 tempat makan tersebut, puluhan pasang mata pengunjung yang didominasi laki-laki tua dan muda, seperti terbius oleh kecantikan Sinta. Mereka seperti melihat bidadari yang baru saja turun dari khayangan.

Wira dan Sinta tidak menghiraukan tatapan mata yang seperti hendak menelanjangi mereka. Keduanya terus berjalan hingga di sebuah meja yang berada di samping anak tangga menuju lantai ke dua.

Setelah pelayan mencatat makanan yang mereka pesan, keduanya lalu berbincang.

"Sinta, saat kakek Anom memintaku untuk menjagamu, aku terbersit sebuah pertanyaan yang hingga sekarang aku baru ingat untuk menanyakannya."

"Kau mau bertanya apa?"

"Sebenarnya di mana kedua orang tuamu? Bahkan saat aku menginap di rumahmu, aku tidak melihat ayah dan ibumu."

Raut muka sedih langsung muncul di wajah Sinta. Paras cantik gadis tersebut yang awalnya terlihat ceria, berubah menjadi seperti mendung tebal.

"Kedua orang tuaku sudah meninggal, Wira. Menurut cerita kakek, ayahku meninggal terjatuh ke jurang saat mengambil sarang madu liar. Sedangkan ibuku meninggal setelah melahirkanku. Jadi aku tidak pernah tahu wajah mereka seperti apa," jawab Sinta lirih.

"Oh...aku turut prihatin, Sinta. Sepertinya kita mempunyai kesamaan nasib. Sama-sama ditinggalkan kedua orang tua saat kita masih kecil."

Sinta memaksa tersenyum kecil untuk menahan kesedihannya.

"Kalau boleh aku menebak, wajah kedua orang tuamu pasti tampan dan cantik," sambung pemuda itu.

"Kok bisa? Apa alasanmu hingga menebak seperti itu?"

"Itu sudah pasti! Alasannya adalah, karena mereka berdua memiliki putri yang cantiknya seperti bidadari khayangan."

Pujian yang dilontarkan Wira membuat rasa sedih gadis cantik itu langsung menghilang dan berganti bahagia. Dia merasa jiwanya seperti melayang-layang di angkasa yang luas.

"Kenapa pipimu memerah seperti kepiting rebus?" goda Wira. Dia tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum melihat perubahan wajah gadis tersebut.

"Kau sangat berbakat untuk menggoda para gadis, Wira. Ucapanmu itu bagaikan panah yang bisa membius pikiran setiap gadis yang kau goda nantinya. Aku takut kau akan melupakan janjimu kepada kakek, setelah melihat gadis yang lebih cantik dariku," jawab Sinta.

Belum sempat Wira membalas ucapan Sinta, tempat makan yang awalnya riuh langsung berubah menjadi hening. Wira melihat semua orang yang berada di lantai satu itu menundukkan kepalanya. Rasa heran segera timbul di pikirannya.

Bersamaan dengan itu, seorang gadis cantik berpakaian mewah yang kecantikannya setara dengan Sinta, terlihat memasuki tempat makan tersebut. Di belakangnya, 3 orang bertubuh tinggi besar dan memakai seragam prajurit, terlihat seperti mengawal gadis cantik yang baru saja masuk tersebut.

Gadis cantik dan tiga pengawalnya itu berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Sesampainya di samping meja Wira, salah satu dari prajurit itu langsung memberi bentakan yang begitu keras kepada Wira.

"Jaga pandanganmu jika tidak ingin matamu kucongkel keluar dari tempatnya!"

Wira tertegun mendengar bentakan itu. Tapi dia tidak menyadari jika ancaman itu ditujukan padanya. Dia masih mengangkat wajahnya meski tak lagi memandang gadis cantik yang baru datang itu.

Brak!

"Apa kau sudah tuli?" kembali prajurit tadi membentak sambil menggebrak meja yang ditempati Wira dan Sinta.

Wira menatap prajurit tersebut dengan tajam untuk sesaat. Namun berikutnya dia menunduk karena tidak ingin timbul kekacauan di tempat makan itu.

Gadis cantik berpakaian mewah seperti bangsawan itu melirik sebentar ke arah Wira. Meski mengagumi ketampanan Wira, namun karena pemuda itu memakai pakaian kumal, kekaguman itupun tidak bertahan lama. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.

"Ini peringatan pertama dan terakhir. Jika kau berani memandang tuan putri Cempaka sekali lagi, akan kubuat kau buta selamanya!"

Prajurit itupun akhirnya berjalan mengikuti gadis cantik bernama Cempaka tersebut, setelah memberi peringatan sekaligus ancaman kepada Wira.

"Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Wira.

"Kau tidak peka, Wira!" Sinta mendengus kesal.

"Aku tidak paham apa maksudmu?"

"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi." sahut gadis cantik tersebut. Dia merasa cemburu dengan pandangan mata Wira yang tak henti menatap Cempaka, sejak gadis cantik yang dikawal 3 prajurit itu memasuki tempat makan.

Wira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih bingung dengan sikap yang ditunjukkan Sinta baru saja.

Tak berapa lama pesanan makanan mereka pun sudah terhidang di atas meja. Gadis pelayan yang mengantarkan pesanan makanan itu melirik ke arah Wira cukup lama, dan itu terlihat oleh Sinta tanpa sengaja. Rasa cemburunya pun semakin menjadi, namun dia masih bisa menahannya.

"Silahkan dinikmati, Tuan." ujar gadis pelayan itu dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin untuk menarik perhatian Wira.

"Terima kasih," jawab Wira datar tanpa memandang. Dia masih memikirkan tentang sikap yang ditunjukkan Sinta tadi.

Gadis pelayan itu melengos kesal karena senyumannya tidak mendapat tanggapan dari pemuda tampan tersebut.

Sesaat berikutnya, seorang lelaki muda yang cukup tampan dan berpakaian seperti bangsawan, memasuki tempat makan itu dengan kawalan 4 orang prajurit.

Wira dan Sinta tidak menghiraukan kedatangan mereka. Mereka berdua sibuk menikmati makanan yang terhidang di depannya.

Braaak!

Kembali meja yang ditempati Wira dan Sinta mendapat gebrakan. Kali ini dari prajurit yang mengawal lelaki muda itu.

Wira dibuat terkejut dengan gebrakan tersebut. Bahkan makanan yang sudah hendak ditelannya, sampai terlontar keluar karena saking kagetnya.

Pemuda tampan itu langsung berdiri untuk membuat perhitungan dengan para prajurit tersebut. Matanya menatap tajam kelima orang yang berdiri di samping mejanya.

"Kenapa kau menggebrak mejaku!?" tanya Wira geram.

Sinta yang tidak ingin Wira terlibat keributan di tempat makan itu, langsung meraih tangan pemuda tersebut untuk menenangkannya.

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!