NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Astra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan segenap keberaniannya yang tersisa. Ia memosisikan satu ekor kelinci salju yang telah mati di atas talenan kayu.

Demi menutupi rasa takutnya, Astra mengangkat pisau daging besar itu tinggi-tinggi ke atas kepalanya sendiri.

"HIYAAAAKKKKKK!!"

BRRAAAKKK! DUG! DUG! DUG!

Sambil berteriak layaknya atlet karate amatiran, Astra mengayunkan pisau itu berkali-kali secara brutal. Suara hantaman besi gila-gilaan itu sampai membuat debu di langit-langit dapur berjatuhan. Yisla bahkan sampai menutup kedua telinganya sambil meringis ngeri.

Astra menurunkan pisaunya sambil terengah-engah. Di atas talenan, kelinci malang itu kini sukses terbagi menjadi empat bagian... dengan bentuk yang benar-benar acak-adul. Ada yang hancur, miring, dan tulangnya mencuat tidak karuan.

Vito langsung meletakkan pisaunya sendiri, lalu berjalan cepat menghampiri meja Astra dengan dahi berkerut dalam.

"Kenapa kamu berisik sekali? Kamu mau menghancurkan dapurku, hah?!" omel Vito ketus.

Namun, begitu matanya turun menatap talenan, kata-kata Vito langsung tertahan di tenggorokan. Pria berbadan tegap itu tiba-tiba saja mematung, menatap nanar hasil 'maha karya' perdana Astra.

Vito mengerjap beberapa kali. Ekspresi sangarnya seketika luntur, digantikan rasa syok yang luar biasa. Ia menunjuk ke arah potongan daging kelinci itu dengan telunjuk yang agak gemetar.

"Kau... kau menyebut ini potongan daging?!" suara Vito naik satu oktav. "Ini bukan dipotong, Julian! Ini namanya kamu mutilasi secara brutal! Bagaimana bisa bentuknya jadi sehancur ini, hah?!"

Astra hanya bisa meringis kaku, keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya. Tamatlah aku.

"Ma-maaf, Kak... aku gak biasa pake pisau segede ini," ujar Astra, beralasan sambil memandangi pisau Yisla yang memang kebesaran di tangannya.

Vito menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar seolah-olah sedang menguji tingkat kesabarannya sendiri menghadapi manusia ajaib di depannya ini.

"Sini pisaunya," ketus Vito, merebut pisau besar itu dari tangan Astra.

Astra sudah pasrah, mengira dia bakalan diusir detik itu juga. Namun, alih-alih melempar pisau atau menyuruhnya keluar, Vito justru bergeser dan berdiri tepat di samping Astra. Ia mengambil satu ekor kelinci salju yang baru, lalu meletakkannya di atas talenan.

"Lihat baik-baik. Jangan asal tebas kayak orang kesurupan," gerutu Vito, suaranya melunak walau nadanya masih terdengar galak.

"Cari sela sendinya di sini. Tekan pisaunya, lalu dorong perlahan. Gak perlu pakai teriak segala."

Sret. Jleb.

Dengan satu gerakan mulus dan tanpa suara berisik, Vito memotong paha kelinci itu dengan sangat rapi dan presisi.

Vito melirik Astra yang tengah melongo. Ia menyodorkan kembali gagang pisau itu ke arah Astra.

"Sekarang giliranmu. Coba lakukan seperti yang sudah aku contohkan barusan. Jangan bikin rusak dagingnya."

Astra mengerjap, menatap pisau di tangannya lalu beralih menatap Vito yang sudah kembali ke mejanya sendiri untuk melanjutkan pekerjaannya.

Diam-diam, sudut bibir Astra terangkat tipis.

Ternyata... karakter yang satu ini nggak sekejam penampilannya, batin Astra.

...***...

Astra menerima kembali gagang pisau itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menatap lekat-lekat seekor kelinci salju baru di atas talenan.

Ia memeras otaknya sekuat-kuatnya. Tapi dasar otak pelupa, memori tentang gerakan mulus Vito barusan mendadak menguap begitu saja!

Tunggu... tadi sela sendi yang mana, ya? Sendi lutut? Siku? Atau sela-sela kehidupan? Duh, gimana ini?! batin Astra stres sendiri, membolak-balik kelinci mati itu dengan ujung pisau yang sedang dia pegang.

Wush.... Suhu di sekeliling Astra tiba-tiba mendadak drop drastis.

Puk!

"Aduh!" Astra mengaduh spontan, mengusap bagian belakang kepalanya yang baru saja dipukul oleh gulungan kertas tebal.

Ia menoleh cepat. Ternyata Animus sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar tanpa dosa.

"Kau ini benar-benar bodoh ya, Author?" cibir Animus ketus.

"Ih, jangan kencang-kencang dong mukulnya," tegur Anima yang tiba-tiba bergelayut manja di bahu Astra.

"Sendi yang harus kamu potong itu bagian antar selangka paha atas, Sayang... Jangan sampai merusak narasi, ya? Jangan bikin kepercayaan Vito hilang secepat ini padamu..."

"Betul," timpal Animus dingin. "Kalau potongan kedua ini sampai gagal, kau bakal langsung dicap sebagai karakter beban. Dan kau tahu apa yang terjadi pada karakter beban di bab awal sebuah cerita?" Animus berbisik tepat di telinga Astra.

"Mereka biasanya mati cepat cuma buat memicu character development bagi tokoh utama, walaupun kini kau yang menjadi tokoh utamanya, bisa saja alur berbelok dan ternyata Vito atau Yisla yang akan menjadi tokoh utamanya..."

Glek.

Astra menelan ludah dengan susah payah dengan bulu kuduk meremang sempurna.

"Paham, kan? Selamat mencoba kembali, Sayangku~" Anima mengecup pipi Astra sekilas sebelum wujudnya memudar.

Namun, Animus tidak langsung lenyap. Pria berambut putih itu membuka gulungan kertas tebalnya yang kosong. Sebuah pena bulu ayam mendadak muncul di jemarinya. Dengan gerakan anggun, Animus mulai menuliskan baris kalimat baru di atas kertas tersebut, seolah sedang mencatat adegan yang sedang berlangsung.

Astra menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir sisa rasa ngeri melihat adegannya mulai ditulis secara nyata di hadapannya. Matanya kini fokus menatap tajam ke arah selangka paha atas si kelinci.

"Oke. Selangka paha atas. Tekan, lalu dorong perlahan. Gak usah pakai teriak segala."

Astra memosisikan mata pisau di titik yang tepat. Ia menahan napas, lalu menekan pisau itu dengan bobot tubuhnya.

Sret... jleb.

Mata Astra seketika berbinar. Pisau itu kini menembus daging dan sendi si kelinci dengan begitu mulus, memisahkan bagian pahanya dengan potongan yang jauh lebih rapi dari sebelumnya.

Astra akhirnya bisa mengembuskan napas dengan lega. Dari sudut mata, ia bisa melihat Vito sempat melirik sekilas ke arah talenannya, memastikan apakah "si manusia ajaib" ini akan menghancurkan dapurnya lagi atau tidak.

Melihat hasilnya yang lumayan, Vito tidak berkomentar apa-apa dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Keheningan Vito kali ini terasa seperti sebuah kemenangan besar bagi Astra.

Sementara Animus yang berada di belakang Astra, menyeringai tipis, sembari terus menggoreskan kata terakhir di kertasnya sebelum benar-benar menghilang seutuhnya.

Yes! Aman! Taruhan nyawa di bab ini aku masih selamat! batin Astra girang, siap mengeksekusi potongan berikutnya dengan lebih percaya diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!