Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 29.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Zahira masih berdiri beberapa saat sambil memandangi arah kepergian Revan. Entah kenapa, kalimat terakhir pria itu terus terngiang di kepalanya.
"Aku hanya menjaga... apa yang menurutku berharga."
Ia mengembuskan napas pelan, lalu menggelengkan kepala kecil. "Kenapa jadi kepikiran begini?"
Zahira segera membersihkan tubuhnya dan merapikan diri. Ia memilih mengenakan blazer krem dipadukan blus putih dan celana panjang hitam yang sederhana, tetapi tetap elegan. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi dengan riasan tipis yang mempertegas wajahnya.
Tepat tiga puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar. Begitu pintu kamar tertutup, Revan yang memang sudah menunggu di dekat lift langsung menoleh.
"Kamu sudah siap."
"Iya, maaf membuatmu menunggu."
"Aku juga baru sampai." Jawab Revan cuek.
Sekretaris Revan mencoba menahan geli, padahal dia tahu betul, atasannya itu sudah berada di lobi hampir sepuluh menit lebih awal. Namun pria itu memang sengaja tidak ingin Zahira merasa terburu-buru.
"Kita turun?" tanya Revan.
"Ayo."
Lobi hotel malam itu jauh lebih ramai dibanding saat mereka datang.
Para peserta Business Leadership Summit dari berbagai negara mulai berdatangan dengan pakaian formal terbaik mereka. Percakapan dalam berbagai bahasa terdengar saling bersahutan, menciptakan suasana internasional yang begitu hidup.
Tak lama kemudian, panitia mempersilakan seluruh tamu menuju ballroom utama.
Ruangan itu dipenuhi lampu kristal yang memancarkan cahaya hangat. Di salah satu sisi, berbagai hidangan internasional telah tersaji, sementara di sisi lain beberapa CEO dan investor tampak saling bertukar kartu nama.
"Welcome Gathering akan dimulai dalam lima menit."
Suara pembawa acara terdengar melalui pengeras suara.
Revan berjalan berdampingan dengan Zahira. Beberapa pengusaha Indonesia yang mengenalnya langsung menghampiri.
"Selamat malam, Pak Revan."
"Selamat malam."
"Lama tidak bertemu."
Mereka berjabat tangan satu per satu, tak sedikit yang kemudian mengalihkan pandangan kepada Zahira.
"Perkenalkan," ujar Revan dengan tenang. "Ini General Manager Operasional Wiranata Corp, Zahira Narapati."
Zahira membungkukkan badan dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda."
Beberapa orang tampak mengangguk kagum.
"Kami sudah mendengar strategi efisiensi yang diterapkan Wiranata Corp beberapa waktu lalu, dan hasilnya luar biasa."
"Terima kasih." Zahira menjawab dengan rendah hati. "Semua itu merupakan hasil kerja tim."
Jawaban tersebut justru membuat beberapa pengusaha semakin menghargainya. Dari kejauhan, Deris memperhatikan semuanya tanpa mampu mengalihkan pandangan. Kini ia benar-benar melihat sesuatu yang dulu tak pernah ia sadari... Zahira memang selalu bersinar. Hanya saja, selama ini dirinya terlalu sibuk melihat kekurangan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Di sisi lain ballroom, Kayla dan Almira juga baru memasuki ruangan. Tatapan Kayla langsung mengarah kepada Zahira yang sedang berbincang dengan beberapa investor.
"Dia kelihatan menikmati semuanya."
Almira hanya tersenyum tipis. "Biarkan saja."
"Kamu tidak kesal?"
"Buat apa? Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin sakit ketika jatuh."
Kayla ikut tersenyum. "Besok... pertunjukan sebenarnya dimulai."
Di sudut ruangan, dua orang anggota keamanan internal Wiranata Corp sudah lebih dulu mengamati setiap gerakan mereka.
Salah seorang di antaranya menekan tombol kecil pada earphone. "Target sudah berada di ballroom."
"Jangan dekati mereka, awasi saja." Suara Revan terdengar pelan melalui alat komunikasi.
"Baik, Pak."
Malam di Singapura baru saja dimulai. Di balik suasana hangat penyambutan para pebisnis dunia, masing-masing orang datang dengan tujuan yang berbeda.
...*****...
Keesokan paginya.
Sinar matahari menembus dinding kaca hotel, memantulkan cahaya ke gedung-gedung tinggi yang memenuhi kawasan Marina Bay.
Sejak pukul delapan pagi, para peserta Business Leadership Summit mulai berdatangan ke pusat konvensi yang terhubung langsung dengan hotel. Semua mengenakan setelan formal terbaik mereka.
Di ruang makan hotel, rombongan Wiranata Corp berkumpul untuk sarapan sebelum menuju lokasi acara.
Revan datang paling akhir. "Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak Revan."
Ia mengangguk singkat, lalu duduk di kursi yang berada di samping Zahira. "Sudah siap untuk hari pertama?"
Zahira mengangguk.
"Pukul sepuluh ada sesi panel internasional. Setelah itu, makan siang bersama para investor."
"Aku sudah mempelajari jadwalnya." Jawab Zahira.
Revan tersenyum tipis, lalu berbisik pelan, “Aku tahu kamu sudah mempersiapkan segalanya, Ra. Aku cuma ingin punya lebih banyak waktu untuk mengobrol denganmu.”
Zahira menatap pria itu sejenak, lalu hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis menanggapi rayuan halus pria itu.
Tak lama kemudian seluruh rombongan berjalan menuju pusat konvensi. Gedung konferensi Business Leadership Summit tampak megah.
Di depan pintu masuk, bendera puluhan negara berkibar berdampingan. Media internasional telah memenuhi area registrasi. Kamera terus menyorot para CEO, pemilik perusahaan, hingga investor besar yang hadir dari berbagai belahan dunia.
"Selamat datang."
Panitia memindai kartu identitas setiap peserta, tak lama kemudian mereka memasuki ballroom utama. Ruangan itu mampu menampung lebih dari seribu peserta. Di bagian depan berdiri panggung besar dengan layar LED raksasa bertuliskan:
Business Leadership Summit 2026, Leading Innovation Beyond Borders
"Silakan mengambil tempat."
Panitia mengarahkan seluruh peserta.
Revan dan Zahira duduk di barisan depan khusus delegasi utama. Tak jauh dari mereka, Deris juga telah menempati kursinya bersama delegasi Adikara Group.
Pandangan mereka sempat bertemu sesaat. Namun kali ini Deris hanya menganggukkan kepala kecil sebagai bentuk salam profesional.
Zahira membalas dengan anggukan yang sama, tak lebih.
Acara pembukaan dimulai tepat pukul sembilan, seorang pembawa acara naik ke atas panggung.
"Selamat datang kepada seluruh pemimpin perusahaan, investor, dan pelaku bisnis dari berbagai negara."
Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Setelah sambutan singkat, beberapa tokoh bisnis dunia bergantian memberikan pidato mengenai transformasi industri global, kecerdasan buatan, serta tantangan ekonomi internasional.
Seluruh peserta mendengarkan dengan saksama, dan Zahira sesekali mencatat beberapa poin penting di tabletnya.
Melihat itu, Revan tersenyum kecil. "Kebiasaanmu ternyata belum berubah."
"Hm?"
"Kalau mendengar sesuatu yang menarik, kamu pasti langsung mencatat."
Zahira ikut tersenyum. "Nanti takut lupa."
"Itulah yang membuatmu selalu berkembang."
Percakapan mereka terhenti ketika moderator kembali naik ke atas panggung.
"Selanjutnya kami akan mengadakan sesi diskusi bersama beberapa delegasi perusahaan."
Layar besar mulai menampilkan daftar nama perusahaan yang dipilih secara acak untuk menyampaikan pandangan mereka.
Nama pertama muncul, perusahaan dari Jepang. Disusul Korea Selatan, kemudian Australia. Seluruh peserta menunggu nama berikutnya. Beberapa detik kemudian, tulisan baru muncul di layar. Wiranata Corp–Indonesia.
Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan, Moderator tersenyum. "Kami mengundang perwakilan Wiranata Corp untuk berbagi mengenai strategi peningkatan efisiensi operasional yang menjadi salah satu perhatian para investor tahun ini."
Beberapa kamera langsung mengarah ke meja delegasi Wiranata Corp.
Zahira menoleh kepada Revan. "Apa... kamu yang akan maju?"
Revan justru berdiri dari kursinya. Lalu, di hadapan ratusan peserta dari berbagai negara, ia mengucapkan kalimat yang membuat Zahira tertegun.
"Perusahaan kami akan diwakili oleh General Manager Operasional, Ibu Zahira Narapati."
Seketika sorot kamera beralih kepada Zahira.
Di sudut ruangan, senyum Almira perlahan menghilang. Ia tidak menyangka Revan akan memberikan panggung sebesar itu kepada Zahira pada hari pertama.
"Kenapa justru dia yang dipilih?" Kayla mulai mengepalkan kedua tangannya.
Almira menatap panggung dengan sorot mata tajam. "Kalau begitu... semakin tinggi dia berdiri hari ini, semakin besar kejatuhannya nanti."
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭