Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suara mesin mobil Aurel menghilang di ujung jalan. Mahesa masih berdiri di depan pintu rumah. Tatapannya kosong.
Biasanya, setiap pagi Aurel selalu melambaikan tangan sebelum berangkat bekerja. Sekecil apa pun pertengkaran mereka, kebiasaan itu tak pernah hilang.
Namun pagi ini, Aurel bahkan tidak menoleh.
Mahesa meremas ponselnya. Satu nama langsung memenuhi layar. Yaitu Kayla.
Tanpa berpikir panjang, Mahesa menekan tombol panggil. Tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi. Tetap tidak diangkat. Rahang Mahesa mengeras.
Beberapa menit kemudian, mobil Mahesa melaju menuju apartemen tempat Kayla tinggal.
Ketukan pintu terdengar lebih keras dari biasanya. Kayla yang baru selesai membuat secangkir kopi berjalan santai menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, Mahesa langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar.
"Mahesa?"
Belum sempat Kayla berbicara, Mahesa sudah lebih dulu meluapkan emosinya.
"Apa yang kamu lakukan semalam?" Nada suara Mahesa meninggi.
"Kamu bilang sendiri kalau kita harus hati-hati!"
"Kamu janji nggak akan bilang apa-apa ke Aurel!"
Kayla menatap Mahesa tanpa gentar. "Terus?" hanya kata itu yang keluar dari bibir Kayla.
Mahesa semakin geram. "Terus katamu?"
"Kamu sadar nggak sih? Rumah tanggaku hancur gara-gara keputusanmu!"
Kayla tertawa sinis. Rumah tangga. Lagi-lagi hanya itu yang dipikirkan Mahesa.
"Jadi yang kamu pikirin cuma rumah tanggamu?" Kayla menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Aku gimana?" tanya Kayla.
Mahesa mengusap wajahnya kasar. "Kita udah sepakat...."
"Nggak!" Kayla memotong.
"Kamu yang selalu minta aku nunggu."
"Sebentar lagi."
"Nanti aku jelasin ke Aurel."
"Tunggu waktu yang tepat."
"Kamu tahu udah berapa lama aku dengar kalimat itu?"
Mahesa terdiam. Mencoba menjernihkan pikiran.
"Tujuh tahun, Mahesa." Suara Kayla mulai bergetar.
"Tujuh tahun aku hidup sembunyi-sembunyi."
"Tujuh tahun aku pura-pura nggak kenal sama laki-laki yang aku cintai kalau lagi di depan orang."
"Tujuh tahun aku lihat kalian datang ke acara keluarga sebagai suami istri."
Kayla menarik napas panjang. "Capek."
Mahesa mencoba mendekat. "Kay...."
Namun Kayla mundur. "Jangan." Mata Kayla mulai memerah.
"Kamu tahu keluargaku sekarang lagi ngapain?"
Mahesa diam. Karena Mahesa tahu.
"Mereka maksa aku nikah sama Ardi."
"Setiap hari."
"Setiap hari mereka nanya kapan akad."
"Kapan undangan dicetak."
"Kapan fitting baju."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kayla. "Aku harus gimana?"
"Aku nggak cinta sama Ardi."
"Aku nggak mau nikah sama dia." kata Kayla.
Mahesa menatap Kayla lekat-lekat. "Lalu menurutmu, dengan bilang semuanya ke Aurel, semua masalah selesai?"
"Setidaknya sekarang semuanya jelas." Kayla menjawab tanpa ragu.
"Aku nggak mau lagi jadi perempuan yang disembunyikan."
Mahesa menggeleng pelan. "Kamu egois."
Kalimat Mahesa membuat Kayla tersenyum pahit. "Aku egois?"
"Iya."
"Kamu menghancurkan semuanya." jawab Mahesa.
Kayla terkekeh pelan. "Lalu kamu?" Kayla menatap Mahesa tepat di matanya.
"Selama tujuh tahun kamu hidup dengan dua perempuan."
"Pagi pulang ke istri."
"Malam datang ke aku."
"Yang egois sebenarnya siapa?" kata Kayla dengan emosi yang terus naik.
Mahesa kehilangan kata-kata. Karena untuk pertama kalinya, Ia sadar bahwa ucapan Kayla tidak sepenuhnya salah.
"Aku mencintaimu." Suara Mahesa lirih. "Tapi aku juga mencintai Aurel." lanjut Mahesa.
Kalimat Mahesa membuat wajah Kayla berubah.
Kayla tertawa pelan. Tawa yang dipenuhi rasa kecewa.
"Itu dia masalahnya."
"Kamu selalu ingin memiliki semuanya."
"Aku. Dan Aurel."
"Padahal cepat atau lambat..." Kayla menghapus air matanya, "kamu harus memilih."
Ruangan kembali sunyi. Mahesa berdiri mematung. Sedangkan Kayla menatap Mahesa tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, hubungan yang selama ini mereka sembunyikan tidak lagi dibangun oleh rahasia. Kini, yang tersisa hanyalah tuntutan.
###
Mobil Aurel berhenti di halaman rumah kedua orang tuanya. Mesin dimatikan. Namun Aurel tidak segera turun.
Kedua tangannya masih menggenggam kemudi erat, sementara pandangannya kosong menembus kaca depan.
Pagi itu, setelah keluar dari rumah, Aurel tidak benar-benar pergi ke kantor. Di tengah perjalanan, ia menghubungi atasannya dan meminta izin untuk tidak masuk bekerja. Ia tahu dirinya tidak akan sanggup berpura-pura baik-baik saja di hadapan rekan-rekan kerjanya.
Hari ini, Aurel hanya ingin pulang. Bukan ke rumah yang kini terasa asing. Melainkan ke rumah yang selalu menjadi tempatnya kembali. Rumah orang tuanya.
Aurel mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya turun dari mobil. Belum sempat mengetuk pintu, terdengar suara langkah kaki kecil berlari dari dalam.
"Mama!" Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun langsung memeluk kedua kakinya.
Raka. Putra semata wayang Aurel. Aurel spontan berlutut dan memeluk putranya erat. Pelukan itu terasa lebih lama dari biasanya.
"Eh, Mama kok pagi-pagi ke sini?" tanya Raka polos.
Aurel tersenyum, meski matanya kembali berkaca-kaca. "Mama kangen sama Raka."
"Aku juga kangen, Ma." Raka mencium pipi ibunya tanpa mengetahui bahwa hati perempuan itu sedang hancur berkeping-keping. Beruntung, sejak dua hari lalu Raka memang menginap di rumah kakek dan neneknya karena libur sekolah. Kalau semalam Raka berada di rumah, Aurel tidak tahu bagaimana harus menyembunyikan semua yang terjadi.
"Siapa itu, Raka?" terdengar suara dari dalam rumah. Ibunya Aurel muncul dari ruang tengah.
Begitu melihat Aurel datang di jam kerja, wajahnya langsung berubah heran.
"Lho, kamu nggak kerja?"
Belum sempat Aurel menjawab, ayahnya ikut keluar dari ruang tamu. "Kamu sakit?"
Aurel hanya menggeleng pelan. "Pak... Bu..." Suara Aurel bergetar.
"Aku boleh ngomong sesuatu?"
Melihat wajah putrinya yang pucat dan mata yang sembab, kedua orang tuanya langsung saling berpandangan.
"Ada apa, Nak?"
Raka sedang bermain di halaman belakang ketika Aurel mulai menceritakan semuanya. Tidak ada yang disembunyikan. Tentang kedatangan Kayla semalam. Tentang pengakuannya. Tentang hubungan yang telah berlangsung selama tujuh tahun. Hingga pertanyaan yang dijawab Mahesa dengan kebungkaman.
Ruangan itu mendadak sunyi. Ibunya menutup mulut dengan kedua tangan. Sedangkan ayahnya hanya terdiam menatap lantai.
"Tujuh... tahun?" Suara sang ibu terdengar lirih.
Aurel mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Selama tujuh tahun." ibunya langsung memeluk Aurel erat.
"Ya Allah..." Tangis perempuan paruh baya itu pecah.
"Ibu nggak nyangka..."
Aurel ikut menangis dalam pelukan ibunya. Sedangkan ayahnya masih duduk membeku. Rahangnya mengeras. Tatapannya kosong. Beberapa kali ia menggeleng pelan, seolah masih sulit menerima kenyataan.
"Kayla?" Ayahnya akhirnya bersuara.
"Kayla yang selama ini sering ke rumah kita itu?"
Aurel mengangguk.
"Kayla yang kamu anggap adik sendiri?"
Aurel kembali mengangguk. Ayahnya mengepalkan tangan.
"Bapak bahkan..." Kalimatnya terhenti.
"bahkan sudah menganggap dia seperti anak sendiri." Suara lelaki itu mulai bergetar.
"Dia makan di rumah ini."
"Dia ikut Lebaran sama kita."
"Dia panggil Bapak dan Ibu seperti orang tuanya sendiri."
Ibunya Aurel mengusap air mata.
"Kalau dia bilang orang tuanya sibuk, dia selalu ke sini."
"Ibu masakin makanan kesukaannya."
"Ibu beliin dia baju waktu ulang tahunnya."
Semakin diingat, semakin sesak dada mereka. Tidak pernah terlintas sedikit pun bahwa perempuan yang mereka sayangi seperti anak sendiri justru menjadi penyebab hancurnya rumah tangga putri mereka.
"Apa Mahesa mengaku?" tanya ayahnya Aurel dengan nada berat.
Aurel menggeleng. "Dia nggak bilang apa-apa."
"Tapi dia juga nggak membantah." lanjut Aurel
Keheningan kembali memenuhi ruang keluarga. Ayah Aurel menatap putrinya dengan sorot mata yang penuh iba.
"Kalau keputusanmu adalah bercerai..." Beliau menarik napas panjang. ".Bapak tidak akan menghalangimu."
Aurel menunduk.
"Bapak hanya ingin satu hal."
Aurel mengangkat wajahnya.
"Jangan pernah merasa kamu sendirian." Ayahnya menggenggam tangan Aurel erat.
"Kamu masih punya kami."
"Ibumu."
"Bapak."
"Dan Raka."
"Rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian."
Mendengar kalimat itu, Aurel kembali menangis. Bukan karena sedih. Melainkan karena di tengah dunianya yang runtuh, ia masih memiliki tempat untuk pulang.