"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 8. Siapa?
KEESOKAN HARINYA.
Kara bangun, dan dia menyadari dirinya tertidur masih di tempat yang sama, di bawah jendela.. Saat Kara bangun dia seperti orang yang terkejut dan buru - buru siaga, tapi dia baru sadar dirinya ketiduran semalaman di sana. Menyadari itu, Kara kemudian meraup wajah nya degan penuh frustasi..
"Huuftt.. Aku ketiduran ternyata." Gumam nya, dia lalu melihat ke luar jendela nya dan mengawasi sekitar.. dia tidak melihat siapapun di sana, akhirnya Kara pun keluar kamar.
Kara bahkan masih siaga dan mengendap - endap untuk memastikan tidak ada siapapun di rumah itu, dia turun ke bawah dengan pelan - pelan dan memeriksa rumah nya, tapi tidak ada tanda - tanda masuk paksa yang artinya orang yang menggunakan pakaian hitam itu tidak masuk kedalam rumah itu.
"Masih ke kunci semuanya.." Gumam Kara, sambil dia membuka jendela untuk membiarkan udara masuk ke dalam.
Kara lega melihat itu, akhir nya dia berjalan kembali naik ke atas untuk membuka pintu balkon yang menghadap ke depan agar ada cahaya yang masuk ke dalam.. Kara mengamati sekitaran rumah nya itu dari atas balkon rumah, pemandangan nya sangat indah padahal tapi Kara tidak mengerti mengapa warga nya tidak ada yang ramah.
Kara kemudian mengeluarkan hp nya dan mencoba menghubungi ayah nya, tapi lagi dan lagi nomor ayah nya tidak aktif. Dia juga menghubungi nomor kakak dan ibunya.. hasil nya juga sama, nihil.. Tidak ada satupun dari keluarga nya yang bisa di hubungi.
"Ayah kemana, sih.. kalo aku tau bakal di tinggal gini kan mendingan aku nginep aja di rumah temen." Gumam Kara.
Lalu kemudian Kara kembali menatap ke bangunan yang berada di samping nya, bangunan yang semalam di masuki oleh orang berpakaian hitam, mengingat itu Kara pun langsung bergegas turun. Kara pergi ke sebelah dan melihat pintu bangunan itu yang ternyata kembali tergembok.
"Di gembok." Guam Kara, dia kemudian mengintip ke dalam ruangan itu dari jendela yang ada di sana.
Ternyata di dalam nya pun hanya berisi barang - barang yang sudah di tutupi kain putih, dan juga.. jika di lihat dari lantai nya yang penuh dengan debu, seharus nya ruangan itu tidak pernah di bersihkan.. melihat itu, Kara pun mejadi semakin kebingungan karena dia jelas melihat ad ayang masuk ke dalam sana.
Kara memutar badan nya, dia mengamati sekitar rumah nya lagi, kali ini insting melindungi diri nya pun muncul. Karena bagaimanapun dia hanya tinggal sendiri di sana, jika bukan dia yang berjaga untuk melindungi dirinya sendiri.. siapa lagi pikir nya.
Kara memutar mengelilingi bagian belakang rumah itu, dia sangat penasaran dari mana datang nya suara teriakan perempuan yang begitu keras semalam itu. Dia mengamati baik - baik sekitaran rumah kakek nya, yang ternyata di bagian belakang rumah kakek nya yang belum sempat Kara datangi itu ada sebuah pintu besi yang juga dalam keadaan tergembok.
"Ini pintu apa lagi." Gumam Kara, dia sangat penasaran.
Lalu kemudian Kara mengedarkan pandangan nya dan melihat ke sekitaran kebun - kebun buah milik kakek nya yang berbuah sangat lebat, Kara tersenyum melihat itu.
"AKan aku hadapi dunia, tapi metik buah dulu." Gumam nya, dia pun berjala menuju ke arah phon - pohon buah yang tertanam dengan sangat rapi di sana.
Ada berbagai jenis pohon yang tertanam dengan rapi di sana, ada jeruk bali, mangga, jambu biji, jambu air, belimbing, srikaya, apel hijau dan juga ada sirsak. Di mata Kara yang pencinta buah - buahan itu tentu itu adalah surganya, dia kemudian memetik srikaya yang paling besar dan sudah matang, dan tersenyum puas.
Saat sedang memetik buah, secara otomatis Kara mendongak ke atas.. saat sedang mendongak ke atas itulah dia secara tidak sengaja melihat ada seseorang yang mengintip dari jendela kamar yang seharus nya di tempati oleh ayah nya, tapi saat Kara menatap dengan benar - benar orang yang semula mengintip nya itu kemudian menghilang.
"Eh! Ada orang, apa ayah pulang!?" Kara pun langsung buru - buru pergi dan kembali ke rumah.
"Ayah!" Panggil Kara, dia pikir ayah nya sudah pulang.
"Ayah, ayah udah pulang!?" Teriak Kara lagi, tapi tidak ada yang menyahut.
Saat Kara melihat kembali keluar rumah juga tidak ada sepatu ayah nya di sana, yang artinya ayah nya memang belum pulang. Jadi.. 'Siapa yang aku lihat tadi?' Batin Kara.
Kara kemudian berjalan pelan - pelan mengambil pisau yang dia letakan di meja tadi pagi dan menuju ke atas, dia menatap pintu kamar ayah nya yang tertutup itu dengan tatapan was - was.. jika tidak ada ayah nya maka berarti yang dia lihat itu tadi adalah maling pikir Kara.
"CKREK! BRAK!!" Kara membuka pintu nya dengan paksa dan menghempas pintu nya dengan kuat - kuat sambil menodongkan pisai nya.
"Siapa kamu!" Teriak nya.
Tapi, lagi dan lagi.. dia tidak menemui siapapun di sana, tidak ada orang sama sekali di kamar ayah nya. Tapi Kara tidak diam begitu saja, dia takut benar - benar ada maling jadi dia memeriksa keseluruhan kamar ayah nya untuk memastikan lagi, tapi memang tidak ada siapapun di sana.
"Nggak ada.." Gumam Kara lemas. Dan tiba - tiba pandangan Kara menjadi kabur..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"TAK! TAK! TAK!"
Kara membuka mata nya ketika dia mendengar ada suara orang yang sedang memotong sesuatu, saat dia mengedarkan pandangan nya.. ternyata Kara berada di kamar nya sendiri dan juga.. hari sudah berubah menjadi sore karen cahaya matahari yang berwarna jingga ke emasan itu sudah menembus kedalam kamar nya.
"Sore?" Gumam Kara, dia lalu bangun tapi merasakan badan nya lemas.
"Tak! Tak! Tak!"
"Srreeng!!"
Kara mendengar ada suara orang yang sedang memasak di dapur, dia lega.. karena itu pasti adalah Nurma.. anak mang Jupri yang kemarin datang. Kara kemudian turun dengan langkah lemas nya, dan saat dia melihat ke arah dapur.. ia mengernyitkan kening nya.
"Kamu siapa?" Tanya kara, karena ternyata yang sedang memasak itu bukan Nurma.
"Eh, teteh sudah bangun? Teteh maaf ya, kemarin saya teh nggak jadi kesini karena ban motor nya teh pecah, aduh saya minta maaf banget teteh." Ucap perempuan itu, Kara mengernyit tapi dia sangat lemas untuk sekedar bertanya.
"Teteh makan dulu ya, maaf ya teh.. teteh jadi pingsan kelaparan." Ucap nya lagi, dan Kara hanya bisa mengangguk sambil berjalan menuju ke meja makan.
"Saya Nurmala Putri, anak nya pak Jupri yang kerja di sini. Seharus nya teh saya kesini kemarin.. maaf ya teteh." Ucap nya lagi, seperti dia benar - benar merasa bersalah pada Kara.
Kara yang mendengar nama perempuan itu ternyata sama dengan nama Nurma yang kemarin datang ke rumah nya pun berpikir bahwa perempuan yang ada di depan nya itu adalah adik nya Nurma yang kemarin, dan Nurma yang ini lah yang sepertinya seumuran dengan nya.
"Makan dulu teteh, saya buatkan sup." Ucap nya, Kara yang memang lapar pun mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih ya, aku panggil kamu siapa?" Tanya Kara, dengan ramah dan tersenyum manis, gadis itu menjawab..
"Panggil saja saya Putri, teh."
BERSAMBUNG!