Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBELAS
Mereka menempuh perjalanan hanya kurang dari dua puluh menit. Normalnya jarak yang harus mereka tempuh seharusnya sekitar empat puluh lima menit. Tia seperti orang yang sangat ketakutan terlihat jelas dari ekspresi wajah nya.
Tia menghentikan laju motor Arun, tapi bukan di depan rumah Arun melainkan di depan gangnya.
Arun turun sambil melepas helmnya, "Kalo lo gak mau nganterin gue bilang dari awal Ti, biar gue yang bawa sendiri!!" ucap Arun dengan tegas.
"Run, lo harus pulang"
"Enggak!"
Arun menggelengkan kepala, "Gue gak ngerti ya Ti, lo kenapa sih?!! Gue itu mau liat nenek di rumah sakit bukan pulang. Ngerti gak sih lo?!!" ujar Arun dengan teriak.
"Gue ngerti, ngerti banget. Sekarang lo naik lagi ke motor kita pulang ke rumah lo!" balas Tia.
"GUE GAK MAU TIA!!" bentak Arun.
Tia membuka kaca helm miliknya, menampilkan mata yang sudah memerah serta pipi yang basah karna air mata.
"Ti .." lirih Arun saat melihat keadaan Tia.
"Liat itu Run" ucap Tia sambil menunjuk sebuah bendera kuning yang tertempel di atas tiang nama gang tersebut.
Arun yang masih terpaku dengan keadaan Tia mengikuti arah jari Tia yang menujukan sesuatu tepat di belakangnya.
Helm yang Arun pegang dengan erat, seketika terlepas dari tangannya. Air mata kemarahan dan kekesalan Arun berubah menjadi air mata kepiluan. Saat ini terasa awan gelap berada di atas kepala nya. Takut, kata itu yang sekarang tertanam dalam hatinya.
"E--enggak mungkin. Gak Ti" ucap Arun sambil menggelengkan kepala.
"Run" panggil Tia setelah turun dari motor Arun.
Hiks hiks hiks
"Itu pasti punya orang lain Ti, nenek gak mungkin ninggalin gue Ti !! Hiks hiks" jelas Arun.
Tia hanya bisa menangis melihat Arun saat ini. Tia tahu pasti apa yang sedang Arun rasakan. Kehilangan pondasi dalam hidup. Salah satu orang yang sangat Arun sayangi bahkan melebihi sayang pada dirinya sendiri, sekarang harus pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Ayok Ti, gue tunjukin sama lo kalo nenek baik-baik aja" ucap Arun sambil menghapus jejak air mata yang ada di pipinya. Arun mencoba menyangkal ketakutan dan kecemasan dalam dirinya.
Arun berlari lebih dulu meninggalkan Tia. Tia yang melihat itu segera mengikuti Arun.
Kaki Arun yang semula berjalan dengan semangat untuk melihat sang nenek yang menyambutnya kini hanya bisa diam berdiri menatap keramaian yang ada di depannya saat ini.
Lantunan surah yasin terdengar jelas di telinga Arun, bayangan sang nenek sejak pertama kali Arun datang ke sini terlihat begitu nyata. Semuanya terlintas jelas didepan bayangan wajahnya, memori sang nenek yang selalu merawat dan menyayangi nya. Semua terlihat jelas namun perlahan memudar dan hilang.
"NENEK!" teriak Arun.
Semua orang menatap ke arah sumber suara. Arun sudah tidak bisa hanya berdiam diri, dia berlari masuk kedalam rumah.
"Arun" ucap Akbar lirih saat melihat seseorang menangis tersedu-sedu disamping nya.
Lebih tepat nya di samping jenazah nenek Salma.
"Arun, kamu yang sabar ya nak" ucap sang mama sambil mengelus punggung anaknya.
Arun menguatkan diri untuk membuka kain yang membungkus tubuh nenek Salma. Arun hanya bisa memegang unung kain tersebut dengan erat, seolah menyalurkan perasaannya saat ini.
"Nenek, nenek kenapa tinggalin Arun sendirian. Nenek bangun nek, Arun janji gak akan ninggalin nenek lama lagi. Tadi itu Arun nyari alamat makanya Arun lama. Hiks hiks"
"Nenek sekarang bangun ya, Arun udah pulang hiks hiks. Nenek gak boleh ninggalin Arun sendirian, nenek kan tau Arun cuma punya nenek hiks hiks hikss" keluh Arun lagi.
"Permisi, jenazah akan di sholatkan lalu di makamkan" ujar seorang laki-laki paruh baya. Dia adalah pak Iman salah satu ustadz yang ada di desa tersebut.
Arun menghapus air mata menggunakan tangannya, "Pak, pak? Arun boleh gak sebentar aja, ngobrol sama nenek. Nenek pasti masih denger Arun cerita pak. Arun mohon" pinta Arun.
Seketika semua orang yang sedang melantunkan ayat suci terdiam.
"Kasian ya"
"Arun teh dari dulu sama nenek Salma"
"Pasti dia teh ngerasa sendiri sekarang"
Bisik-bisik para tetangga yang sedang datang melayat terdengar.
"Udah neng, kalo ditunda lebih lama lagi kasian neneknya" ucap seorang ibu paruh baya.
Melihat itu semua, Linda memegang bahu Arun. "Udah ya Run, kasian neneknya" ucap sang ibu.
Tidak ada yang bisa Arun perbuat saat ini. Tubuhnya lemas seolah tidak punya sedikit pun tenaga untuk menggerakan kakinya. Seluruh anggota badannya merasakan sakit yang luar biasa, tidak ada luka memang tapi terasa sangat perih seperti luka yang baru saja terbuka lebar di tubuhnya.
Perlahan Arun bangkit dari duduknya dibantu sang mama, Linda. Dan tiba-tiba semua gelap.
Brukk
"Arun!"
"Run? Bangun Run"
"Arun bangun sayang"
Sayup-sayup suara panggilan terdengar di telinga Arun. Namun sampai semua terdengar sepi dan sunyi.
Sedangkan di salah satu ruangan cafe, terdengar keributan yang lumayan membuat beberapa orang memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya.
"Papah duluan aja, Bio masih ada yang dikerjain" ucap Bio.
"Papah ngajak kamu melayat Bio." Ucap Broto tegas.
"Iya pah, Bio tau. Emang yang bilang papah ngajak Bio party siapa?" balas Bio.
"CUKUP YA Bi! papah gak bercanda. Papah tunggu kamu di mobil" ujar Broto sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Bio menghadang langkah Broto, "Pah, Bio gak bisa" ujar Bio dengan nada memohon.
Broto menggaruk alisnya, "Kenapa sih kamu gak mau ikut hah?" tanya Broto.
"Bio bukan gak mau pah, tapi Bio gak bisa. Bio ..." jawab Bio.
"Oke-oke! Papah cabut investasi papah disini. Biar kamu sibuk dan gak bisa istirahat sekalian" ujar Broto sambil pergi, benar-benar pergi.
"PAHH??? ISHH!!" umpat Bio lalu berlari mengejar Broto.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Bio dan Broto sampai di kediaman nenek Salma.
Broto keluar dari mobil sambil merapihkan jas hitam kebasaran miliknya.
"Ngapain kamu? Urus aja cafe yang mau bangkrut itu!" ucap Broto saat Bio tepat berada di sampingnya.
"Pah! Udah lah. Inikan lagi suasana duka" ucap Bio sambil melangkah pergi meninggalkan sang papa.
Sedangkan Broto hanya bisa memberikan senyum smirknya.
Pemandangan yang pertama kali dilihat Bio adalah seorang gadis yang sedang menangis tersedu sambil mencoba mengajak bicara jenazah yang ada di depannya.
Melihat itu semua, kaki Bio dibuat kaku. Tangisan itu sangat mengiris hati. Ketika kita hanya bisa mengajak bicara tanpa ada balasannya.
"Jangan sampe kamu nanti begitu Bi sama papah, karna saat itu udah gak ada yang bisa papah lakuin" ucap Broto sambil menepuk bahu Bio.
Bio semakin dibuat terdiam.
Sampai sebuah keributan membuat Bio tergerak untuk melangkah maju.
Tbc.
Next gak?