NovelToon NovelToon
Berpijak Di Antara Batu Karang

Berpijak Di Antara Batu Karang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Baru di Atas Kayu Tua

Tuju bulan telah berlalu sejak "Ruang Pulang" resmi dibuka. Respons warga Semarang ternyata melampaui ekspektasi Meylani. Tempat itu tidak hanya menjadi destinasi wisata kuliner atau co-working space, tetapi telah bertransformasi menjadi pusat komunitas yang hidup. Setiap akhir pekan, teras joglo dipenuhi oleh diskusi buku, kelas menulis kreatif untuk remaja, hingga sesi konseling gratis yang diadakan bekerja sama dengan psikolog lokal.

Meylani menemukan ritme baru dalam hidupnya. Pagi harinya ia menghabiskan waktu untuk mengurus operasional tempat, siang hari ia menerima tamu-tamu khusus investor sosial, penulis, atau sekadar teman lama yang ingin bercerita dan sore hingga malam ia gunakan untuk menulis draf bukunya. Ia merasa produktif tanpa merasa tertekan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia tidak mengecek email kerja setiap lima menit. Ia belajar menikmati "ketidaktersambungan" sebagai bentuk kemewahan.

Namun, kedamaian itu diuji pada suatu Selasa pagi yang hujan.

Sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti tepat di depan pagar "Ruang Pulang". Bukan mobil dinas pemerintah, bukan juga mobil teman. Mobil itu tampak asing, mahal, dan mengintimidasi. Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya mengenakan jas Italia yang rapi, didampingi oleh dua asisten yang membawa tas dokumen tebal.

Meylani, yang sedang menyapu daun-daun kering di teras, menghentikan gerakannya. Ia mengenali pria itu. Itu adalah Tuan Wijaya, salah satu pemegang saham mayoritas di perusahaan lamanya di Jakarta. Pria yang dulu selalu duduk di barisan paling depan saat presentasi Meylani, namun jarang sekali berbicara.

"Mbak Meylani," sapa Tuan Wijaya dengan senyuman tipis yang sulit dibaca. Ia tidak menunggu undangan, langsung berjalan masuk ke area teras. "Tempat ini... sangat menarik. Sangat 'autentik'."

Meylani meletakkan sapunya, membersihkan tangannya dengan kain lap, lalu menyambut tamu itu dengan sopan namun waspada. "Selamat pagi, Pak Wijaya. Apa yang membawa Bapak jauh-jauh dari Jakarta ke sini?"

Tuan Wijaya duduk di kursi rotan utama, mengabaikan tawaran teh dari staf Meylani. "Saya datang untuk menawarkan sesuatu, Mbak. Sesuatu yang mungkin bisa mengubah skala dampak sosial yang ingin Anda ciptakan."

Ia memberi isyarat pada asistennya, yang membuka tas dokumen dan mengeluarkan sebuah proposal tebal. Sampulnya bertuliskan "Proyek Revitalisasi Kota Lama Semarang Kemitraan Strategis PT Graha Properti & Yayasan Ruang Pulang".

Meylani mengerutkan kening. Ia mengambil proposal itu, namun belum membukanya. "Jelaskan, Pak. Saya agak bingung. Perusahaan saya sudah tidak mempekerjakan saya lagi secara aktif. Saya sekarang independen."

"Tepat sekali," kata Tuan Wijaya, matanya berbinar licik. "Anda independen. Dan merek 'Meylani Nur Haliza' serta konsep 'Ruang Pulang' memiliki nilai emosional yang sangat tinggi di mata publik. Kami ingin mengakuisisi 51% saham operasional tempat ini, dan menjadikannya flagship store untuk kampanye CSR nasional kami yang baru. Bayarannya? Lima miliar rupiah tunai di muka, plus royalti tahunan."

Angka itu membuat napas Meylani tercekat sesaat. Lima miliar. Jumlah yang bisa digunakan untuk merenovasi seluruh bangunan, menggaji puluhan karyawan, dan mendanai program sosial selama bertahun-tahun.

"Tapi ada syaratnya," lanjut Tuan Wijaya, suaranya merendah. "Anda harus kembali menjadi wajah perusahaan. Anda harus menghadiri acara-acara gala, memberikan wawancara, dan mengaitkan nama Anda dengan proyek-proyek properti komersial kami di seluruh Jawa Tengah. Termasuk proyek di kawasan rawan penggusuran yang sedang kami garap."

Meylani merasakan dingin merambat di punggungnya. Ia akhirnya membuka proposal itu, membaca pasal-pasal kecil di dalamnya. Ia melihat rencana pembangunan apartemen mewah yang akan menggantikan permukiman padat penduduk di dekat Stasiun Tawang. Dan nama "Ruang Pulang" akan dijadikan tameng moralitas untuk proyek tersebut.

"Ini bukan kemitraan, Pak Wijaya," kata Meylani dingin, menutup proposal itu dan mengembalikannya. "Ini adalah pencucian citra (greenwashing). Anda ingin menggunakan kepercayaan masyarakat terhadap saya dan tempat ini untuk melegitimasi proyek yang justru merusak akar komunitas."

Tuan Wijaya tertawa kecil, seolah mengharapkan penolakan itu. "Jangan terlalu idealis, Mbak Meylani. Dunia bisnis itu tentang kompromi. Dengan uang ini, Anda bisa membantu lebih banyak orang. Bukankah itu tujuan awal Anda? Atau apakah ego Anda lebih penting daripada manfaat nyata bagi ribuan orang?"

Kalimat itu menampar. Ego vs Manfaat. Dilema klasik yang pernah menghantui Meylani di masa lalu. Dulu, ia mungkin akan tergoda. Dulu, ia mungkin akan berpikir bahwa ujung menghalalkan cara.

Tapi Meylani kini berbeda. Ia menatap Tuan Wijaya dengan tatapan tajam.

"Manfaat yang dibangun di atas kebohongan adalah racun, Pak. Jika saya menerima tawaran ini, saya kehilangan satu-satunya hal yang membuat 'Ruang Pulang' berharga: kejujurannya. Orang-orang datang ke sini karena mereka tahu tempat ini murni. Tidak ada agenda tersembunyi. Tidak ada kepentingan korporat. Jika saya menjual jiwa tempat ini, saya sama saja mengusir mereka."

Tuan Wijaya berdiri, merapikan jasnya. Wajahnya berubah dingin. "Anda membuat kesalahan besar, Mbak. Kompetitor kami sudah mengincar lokasi ini. Jika Anda menolak kami, kami akan memastikan izin operasional tempat ini dipersulit. Zonasi wilayah ini sebenarnya masih abu-abu, Mbak. Kami punya koneksi di dinas tata kota."

Ancaman terselubung itu jelas. Meylani merasa amarah mendidih di dadanya, namun ia menahannya. Ia ingat pelajaran dari Andrian: hadapi tekanan dengan kepala dingin dan bukti hukum.

"Silakan coba, Pak Wijaya," jawab Meylani tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Saya sudah memeriksa semua perizinan tempat ini dengan teliti. Semuanya legal. Dan jika Bapak mencoba menggunakan intimidasi, saya tidak akan diam. Saya punya jaringan media, saya punya dukungan komunitas, dan saya punya teman-teman di instansi penegak hukum yang sangat peduli pada penyalahgunaan wewenang."

Penyebutan "teman di penegak hukum" membuat alis Tuan Wijaya terangkat sedikit. Ia tahu siapa yang dimaksud Meylani. Nama Andrian Alexander cukup ditakuti di kalangan pengusaha nakal karena ketegasannya.

"Kita lihat saja," geram Tuan Wijaya. Ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Asisten-asistennya mengikuti dengan langkah cepat.

Saat mobil itu pergi, Meylani merasa kakinya lemas. Ia duduk kembali di kursi rotan, tangannya gemetar. Ancaman itu nyata. Bisnis properti di Indonesia seringkali melibatkan permainan kotor di balik layar. Dan ia baru saja menyatakan perang terhadap raksasa.

Ponselnya bergetar. Rina menelepon.

"Mey! Aku baru dengar dari temanku di dinas tata kota. Ada inspeksi mendadak dijadwalkan besok pagi ke 'Ruang Pulang'. Katanya ada laporan soal struktur bangunan yang tidak aman. Ini ulah mereka, kan?"

Meylani menghela napas panjang. "Ya, Rin. Mereka main kotor. Tapi aku tidak akan menyerah."

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Rina serius.

"Aku butuh arsitek independen yang bisa membuktikan keamanan struktur joglo ini secara hukum. Dan aku butuh kamu untuk mengumpulkan testimoni warga sekitar tentang dampak positif tempat ini. Kita akan lawan mereka dengan data dan suara rakyat."

"Siap, Laksamana!" jawab Rina semangat.

Meylani menutup teleponnya. Ia menatap langit yang masih mendung. Hujan mulai turun lagi, deras dan deras. Tapi kali ini, ia tidak merasa sedih. Ia merasa siap.

Perjuangan barunya telah dimulai. Bukan untuk karir, bukan untuk cinta, tapi untuk mempertahankan integritas ruang yang ia cintai. Dan Meylani tahu, ia tidak sendirian. Komunitasnya, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya akan berdiri bersamanya.

Ia bangkit, mengambil payung, dan berjalan masuk ke dalam joglo. Di sana, di meja resepsionis, ada sebuah surat tulisan tangan dari seorang pengunjung kemarin:

"Terima kasih, Mbak Meylani. Tempat ini menyelamatkan saya dari depresi. Jangan biarkan siapa pun mengambil cahaya ini."

Meylani tersenyum, melipat surat itu, dan menyimpannya di saku. Cahaya itu tidak akan padam. Ia akan menjaganya, sekalipun badai datang menerjang.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!