NovelToon NovelToon
Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:713.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Nugraha

Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.

Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.

Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Belajar Hidup, Bukan Bertahan

Lin Feng terbangun di atas kasur empuk untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Kamar yang disediakan Kuil Cahaya Suci untuknya memang sederhana, namun terasa jauh lebih nyaman dibandingkan gua lembap atau tanah keras di tengah hutan. Sebuah kasur dengan seprai bersih, meja kecil di sudut ruangan, lemari pakaian sederhana, serta sebuah jendela yang menghadap langsung ke jalan kota.

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui jendela, membuat Lin Feng menyipitkan mata. Ia bangkit perlahan, duduk di tepi kasur, lalu meregangkan tubuhnya yang masih terasa sedikit kaku.

Jauh lebih baik, pikirnya sambil memeriksa luka-luka di lengannya. Hampir semuanya telah menutup sempurna. Yang tersisa hanyalah bekas kemerahan tipis. Mungkin dua atau tiga hari lagi sebelum benar-benar pulih.

Ia berdiri dan melangkah ke arah jendela.

Di bawah sana, kota Qingshui sudah hidup meski masih pagi hari.

Para pedagang membuka kios mereka. Para kultivator berjalan cepat dengan tujuan masing-masing. Sementara anak-anak kecil berlarian, sebagian dari mereka membantu orang tua mereka di toko.

Kehidupan yang normal. Kehidupan yang nyaris ia lupakan rasanya. Sepuluh tahun di akademi, ia hidup di bawah bayang-bayang. Sepuluh tahun tanpa benar-benar hidup, hanya bertahan dari hari ke hari.

Namun sekarang…

Sekarang aku punya kekuatan, pikir Lin Feng sambil menatap kedua tangannya. Kekuatan untuk tidak sekadar bertahan, melainkan benar-benar hidup. Untuk mencari kebenaran dan menuntut balas.

Tapi sebelum semua itu, ia harus memahami dunia ini terlebih dahulu, klan-klan, politik, siapa yang bisa dipercaya, dan siapa yang harus diwaspadai.

Dan tempat terbaik untuk memulai semua ini adalah... pasar di kota.

Setelah mandi dan berganti pakaian yang sudah disediakan kuil tanpa ada lambang apapun, Lin Feng akhirnya turun ke lobi.

Yue Lian sudah menunggunya di sana, duduk santai di salah satu kursi sambil membaca gulungan kecil. Begitu melihat Lin Feng, ia tersenyum dan melambaikan tangan.

“Pagi! Tidurnya nyenyak?”

“Sangat,” jawab Lin Feng dengan jujur. “Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali tidur seperti itu.”

“Bagus. Kau kelihatan lebih segar.” Yue Lian menutup gulungannya lalu berdiri. “Ada rencana hari ini?”

“Aku ingin berkeliling kota,” kata Lin Feng. “Melihat-lihat, mencari informasi dan mungkin membeli beberapa perlengkapan.”

“Mau aku temani?” tanya Yue Lian dengan antusias. “Aku cukup mengenal kota ini. Bisa jadi pemandu untukmu.”

Lin Feng ragu sejenak. Bepergian sendirian memang lebih aman, tak ada yang bertanya atau memperhatikan hal-hal mencurigakan. Namun di sisi lain, pemandu lokasi jelas sangat membantu.

“Baik,” akhirnya ia mengangguk. “Asal kau tidak keberatan berjalan cukup lama.”

“Tidak masalah!” Yue Lian sudah lebih dulu melangkah ke arah pintu. “Ayo. Kita mulai dari pasar pagi. Tempat terbaik untuk sarapan dan mencari barang murah.”

Pasar Pagi Kota Qingshui adalah lautan keramaian yang penuh warna. Ratusan pedagang memajang dagangan mereka di kios-kios kayu atau di atas tikar yang dibentangkan di tanah. Sayuran segar, buah-buahan, daging, ikan dari danau, roti, kue-kue, hingga barang kultivasi tingkat rendah seperti ramuan sederhana dan artefak dasar.

Beragam aroma bercampur di udara, daging panggang, rempah-rempah, bunga segar, dan samar bau ikan.

Lin Feng mengikuti Yue Lian yang bergerak lincah menembus kerumunan, sesekali berhenti di kios tertentu untuk melihat barang atau menanyakan harga.

“Ini,” kata Yue Lian sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil. “Roti isi daging. Sarapan favoritku setiap kali ke kota ini.”

Lin Feng menerimanya dan menggigit pelan. Hangat, lembut, dengan isian daging yang berair dan berbumbu pas.

“Enak,” katanya jujur, sedikit berbicara dengan mulut penuh.

Yue Lian tertawa kecil. “Betul Kan? Aku tidak bohong.”

Mereka berjalan sambil makan, sementara Yue Lian menjelaskan berbagai hal tentang kota, wilayah mana yang aman, mana yang sebaiknya dihindari, toko mana yang jujur dan mana yang terkenal suka menipu.

“Itu,” Yue Lian menunjuk sebuah bangunan besar di sudut pasar, “Gedung Serikat Kultivator. Tempat para kultivator bebas mengambil misi untuk mendapatkan uang. Atau menjual barang seperti ramuan, inti binatang, atau artefak yang mereka temukan.”

“Serikat Kultivator?” Lin Feng mengerutkan kening. Ia belum pernah mendengarnya.

“Organisasi netral,” jelas Yue Lian. “Tidak berafiliasi dengan klan atau sekte mana pun. Sangat berguna untuk kultivator bebas sepertimu.”

Lin Feng menatap gedung itu dengan minat. Tempat yang bagus untuk mencari informasi dan juga penghasilan.

“Mari masuk,” ajak Yue Lian. “Aku tunjukkan cara kerjanya.”

Bagian dalam Gedung Serikat Kultivator dipenuhi suara riuh. Puluhan kultivator kebanyakan berada di tingkat rendah, Ranah Pengumpulan Qi atau Ranah awal Pembentukan Fondasi, mereka berkumpul di depan papan besar yang dipenuhi lembaran misi.

“Lihat,” Yue Lian menunjuk papan tersebut. “Misi dibagi berdasarkan tingkat kesulitan. Tingkat F paling mudah, lalu naik hingga tingkat S yang paling berbahaya. Setiap kultivator bisa memilih sesuai kemampuannya.”

Lin Feng mendekat dan membaca beberapa misi:

[Tingkat F] Mengumpulkan 10 Teratai Hijau dari Danau Giok

Pembayaran: 5 batu roh

Syarat: Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Kesatu sampai Kelima.

[Tingkat E] Membunuh 5 Serigala Besi di Hutan Timur

Pembayaran: 20 batu roh

Syarat: Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Ketujuh ke atas.

[Tingkat D] Mengawal pedagang dari Kota Qingshui ke Kota Yanshan

Pembayaran: 50 batu roh

Syarat: Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Kesatu sampai Kedua.

[Tingkat C] Menyelidiki hilangnya kafilah di Jalur Gunung Hitam

Pembayaran: 100 batu roh

Syarat: Ranah Pembentukan Fondasi Lapisan Ketiga ke atas, disarankan berkelompok.

Di bagian atas papan, tertera misi tingkat B dan A dengan bayaran ratusan hingga ribuan batu roh, namun syaratnya juga sangat tinggi.

“Kau tertarik mengambil misi?” tanya Yue Lian.

“Mungkin,” jawab Lin Feng. “Aku butuh batu roh. Tidak bisa selamanya bergantung pada kebaikan kuil.”

“Kau tidak bergantung,” bantah Yue Lian. “Kau menyelamatkan nyawa kami. Itu jauh lebih berharga dari beberapa hari menginap.”

“Meski begitu, aku lebih nyaman mandiri.” Lin Feng menggeleng kepalanya pelan

Yue Lian menatapnya sejenak, ekspresinya sulit dibaca. “Lin Feng, menerima bantuan sesekali itu tidak salah. Tidak semua orang berniat memanfaatkanmu.”

“Aku tahu,” jawabnya lirih. “Hanya… kebiasaan lama.”

Belum sempat Yue Lian menanggapi, sebuah dorongan keras menghantam bahu Lin Feng dari belakang, jelas itu disengaja.

“Hei, minggir,” bentak sebuah suara kasar. “Kau menghalangi jalanku.”

Lin Feng berbalik. Tiga kultivator muda berdiri di sana, aura mereka menunjukkan Ranah Pengumpulan Qi yang tinggi. Yang di tengah, seorang pemuda bertubuh tinggi, ia tersenyum mengejek.

“Oh? Maaf,” katanya sinis. “Kupikir kau tuli.”

“Aku mendengarmu,” jawab Lin Feng tenang. “Koridor ini cukup lebar untuk kau lewat tanpa menyenggol.”

“Berani juga mulutmu,” pemuda itu melangkah mendekat mencoba menekan dengan postur tubuhnya. “Kau tahu siapa aku?”

“Tidak,” jawab Lin Feng datar. “Dan aku tidak peduli.”

Wajah pemuda itu memerah. Dua rekannya tertawa, tawa yang terdengar seperti lolongan serigala.

“Namaku Wang Hu,” katanya sombong. “Putra ketiga Keluarga Wang, salah satu keluarga terkaya di kota ini. Kau seharusnya tahu cara menghormati.”

“Rasa hormat harus diperoleh,” kata Lin Feng. “Bukan diminta.”

Wang Hu tampak hampir marah, Namun Yue Lian melangkah maju, berdiri di antara mereka dengan senyum manis.

“Wang Hu” ucapnya sopan namun tegas. “Ini wilayah serikat. Pertarungan dilarang dan mungkin kau juga tahu aturannya.”

Pandangan Wang Hu bergeser ke jubah Yue Lian. Saat melihat lambang Kuil Cahaya Suci, matanya sedikit membesar.

“Kuil Cahaya Suci…” gumamnya. Ia kembali menatap Lin Feng dengan tajam. “Kau beruntung punya pelindung. Lain kali, tidak akan semudah ini.”

Ia berbalik pergi, namun sebelum benar-benar menjauh, ia sengaja menyenggol bahu Lin Feng sekali lagi.

Setelah mereka pergi, Yue Lian menghela napas panjang. “Maaf. Wang Hu memang terkenal sebagai preman di kota Qingshui. Keluarganya kaya, jadi dia merasa bisa berbuat apa saja.”

“Tidak apa-apa,” jawab Lin Feng. “Aku sudah terbiasa menghadapi orang seperti itu.”

Terlalu terbiasa, batinnya pahit, ia teringat Zhao Ming dan para murid dalam lain di akademi yang selalu menindasnya.

“Ayo keluar,” kata Yue Lian akhirnya. “Masih banyak tempat yang ingin kutunjukkan.”

1
om jun
agak laen ceritanya dia yg dpt warisan trus punya guru knp orang lain yg menguji ...
om jun
dia punya guru dan punya tempat kenapa masih tinggal di kuil cahaya jadi terkesan tidak serius dalam belajar ilmu apa karena mulai jatuh cinta
Visitor5838
lanjut bosss
septian arista
Kalau ini sih pemulihannya Nggak cukup hanya dibilang lambat akan tetapi teramat sangat lambat atau bisa dikatakan kayak jalan di tempat
septian arista
Tidak adakah Alchemist yang jenius yang bisa meracik pil pemulihan untuk memulihkan dan Tian dan juga jalur Meridian yang rusak
Visitor5838
lajut trusss
om jun
apakah gak ada rasa curiga klo ini jebakan
om jun
yuhuuuuu
om jun
murd Lin Tian kmn n ngapain aja
septian arista
Lalu kapan bisa meraih kemenangan mutlak tanpa harus mengalami cedera yang terlalu parah
nanonano
udah pergi aja, jadi kultivator mandiri
Anwar Ul Qolby
4bulan cuma 45%..alangkah tidak masuk akal..selama ni hanya jalan di tempat..terus bagaimana menghadapi ancaman di dramalistir lagi Thor..keajaiban lagi..bukan harmoni
🤭🤭
Bougenvil Andalusia
Darah naga emang liarrr tk cukup satu wanita wkkwk
Arie Chaniago70
goooooood mantul Bangettt semangat up Thor hehehehe
Arie Chaniago70
goooooood mantul Bangettt semangat up Thor
Arie Chaniago70
goooooood mantul Bangettt semangat up Thor hancurkan mereka semua😃😃😃
Arie Chaniago70
👍👍👍👍💪💪💪💪💪🙂🙂🙂
Arie Chaniago70
jgn jatuh cinta dulu gapao harapan dan cita cita mu dulu kalau udah tinggi kekuatan mu tidak masalah cinta cintaan
Arie Chaniago70
banyak pepesan kosongnya seharus dia berlatih untuk meningkatkan kekuatan menjadi kekuatan yg lebih tinggi
Arie Chaniago70
kapan dia mau meningkatkan kekuatan nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!