Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 11 Drama Sebelum Ke Kampus|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Pagi itu, kediaman Soryu menjadi saksi bisu bagi sebuah pemandangan yang langka. Di depan cermin full body di kamarnya, Bara Soryu berdiri tegak. Ia tidak sedang mengagumi ketampanannya dalam arti narsis, melainkan sedang menilai apakah topeng yang ia kenakan untuk hari ini sudah cukup meyakinkan.
Konyolnya ia justru mengenakan kemeja putih custom made dari bahan katun terbaik. Bukan menggunakan setelan santai ala mahasiswa.
Saat sedang bercermin, ponselnya tiba-tiba bergetar di atas nakas. Sebuah pesan WhatsApp beruntun masuk dari Davian:
"Saya sudah di depan, Wakadanna. Mobil sudah siap."
"Saya juga membawa onigiri salmon loh! Anda harus makan."
"Atau jika sudah makan, anggap saja ini cadangan energi untuk menghadapi mahasiswa yang mungkin mengganggu Anda nanti hehehe..."
Bara menatap layar ponselnya sejenak, lalu meletakkannya kembali tanpa membalas pesan dari Davian.
Ia mengambil tas selempang kulit berwarna hitam yang dibelikan oleh Davian dua hari sebelumnya tanpa sepengetahuannya. Tas itu kini tergantung canggung di bahu kanannya.
Bara mengenakan tas itu, lalu merapikan kerah kemejanya untuk terakhir kali dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku terlihat seperti pegawai bank yang sedang diaudit," gumamnya datar. "Bukan seperti mahasiswa baru."
Namun, ia tidak memiliki waktu lagi untuk memikirkannya lebih jauh. Ia pun melangkah keluar dari kamarnya.
...***...
Di luar mansion, sebuah mobil hitam bermerek BMW seri 7 telah terparkir di depan pagar. Davian berdiri di samping pintu belakang, dengan tablet kesayangannya di tangan kiri, kacamata bulat bertengger di hidung, serta wajah seseorang yang sudah terjaga sejak pukul lima pagi karena tidak mampu tidur akibat terlalu banyak memikirkan skenario bencana yang mungkin akan terjadi setelah ini.
"Wakadanna," sapa Davian sambil membukakan pintu dengan gerakan yang telah menjadi refleksnya setelah bertahun-tahun.
Bara masuk tanpa berkata apa-apa.
Setelah Bara masuk, Davian buru-buru duduk di kursi depan. Sopir pribadi keluarga bernama Pak Gunawan mulai melajukan mobil itu menuju ke kampus tujuan.
Keheningan mengisi mobil selama kurang lebih tiga menit.
Davian masih asyik mengetuk-ngetuk layar tabletnya. Ia membuka daftar periksa, lalu menutupnya, membukanya kembali, dan menutupnya lagi. Kemudian, ia menoleh pelan ke arah kursi belakang.
"Wakadanna."
"Hmm."
"Wakadanna memakai kemeja putih lengan panjang pagi ini?"
"Iya."
"Kemeja yang biasa Wakadanna kenakan di rapat direksi?"
Bara tidak menjawab, yang dalam bahasa Bara berarti "iya."
Davian menarik napas. "Wakadanna... boleh saya sampaikan sesuatu?"
"Tidak."
"Saya akan tetap sampaikan."
"Davian."
"Kemeja itu," kata Davian dengan nada hati-hati, "Jika saya boleh jujur... penampilan Anda seperti akan mewawancarai calon sekretaris baru, bukan seperti akan pergi kuliah."
"Apa bedanya?" tanya Bara.
Davian mengerjap. "Mahasiswa biasanya tidak mengenakan kemeja seperti itu, Wakadanna. Mereka memakai kaus, jaket, atau kemeja kasual dengan satu atau dua kancing terbuka. Sesuatu yang—"
"Aku tidak punya kaus." potong Bara.
Davian berhenti. "Maaf?"
"Aku tidak punya kaus. Apa kau dengar?"
Hening lebih panjang kali ini.
"Wakadanna," kata Davian pelan, seolah sedang memproses informasi yang tidak masuk akal itu. "Tidak punya... kaus. Sama sekali?"
"Tidak."
"Sepanjang hidup Wakadanna?"
"Aku lebih suka kemeja atau jas. Keduanya jauh lebih mudah diatur, menurutku."
Davian menutup matanya sejenak. Tangannya terangkat ke pangkal hidung, lalu memijat bagian di balik bingkai kacamatanya—sebuah gestur yang telah lama dikenali oleh Bara sebagai tanda bahwa asistennya itu sedang berusaha mengumpulkan kembali sisa kesabaran yang hampir habis.
"Baik," kata Davian akhirnya dengan suara yang terlalu tenang. "Pak Gun, saya minta tolong mampir ke Plaza Senayan terlebih dahulu."
Pak Gunawan melirik spion dengan ekspresi netral. "Siap, Mas Davian."
"Untuk apa?" tanya Bara.
"Membeli Wakadanna kaus."
"Aku tidak perlu—"
"Dan celana yang tidak hitam pekat."
"Aku menyukai hitam."
"Wakadanna selalu serba hitam! Mulai dari jas, celana, kemeja, hingga dasi. Kalau boleh saya menebak, underwear Wakadanna pun pasti berwarna hitam."
"Itu bukan urusanmu, Davian." desis Bara.
"Saya tidak bertanya untuk tahu, Wakadanna. Saya bertanya untuk menegaskan poin saya." Davian memutar sedikit tubuhnya.
"Mahasiswa tidak berpakaian seperti agen dalam film thriller. Mereka justru berpakaian seperti layaknya manusia biasa yang sedang menjalani hari biasa."
"Aku bisa berpakaian seperti apapun!"
"Celana chino sepertinya cocok untuk Anda. Bahannya ringan, dengan warna cokelat muda atau abu-abu yang netral—tidak terlalu mencolok. Lalu bisa juga dipadukan dengan kaus polo yang juga sederhana." Davian mulai mengetik di tabletnya.
"Saya sudah mengetahui ukuran Wakadanna. Ini tidak akan memakan waktu lama, saya janji."
Bara menatap bagian belakang kepala Davian dengan ekspresi yang sulit dibaca oleh orang lain. Namun, bagi Pak Gunawan yang telah lima tahun bekerja untuk keluarga Soryu tahu ekpresi itu adalah ekspresi yang memiliki arti: ia tidak setuju, tetapi tidak memiliki argumen yang lebih kuat untuk saat ini.
"Tas selempang ini sudah cukup menyebalkan! Jangan tambah beban lagi," geram Bara.
"Tas selempang itu fungsional, Wakadanna. Laptop, buku catatan, charger. Semua bisa masuk."
"Aku tidak punya buku catatan."
"Saya sudah menyiapkan." Davian mengetuk layar tabletnya tanpa menoleh. "Dua buku tulis, pulpen hitam dan biru, stabilo tiga warna, serta satu pack permen karet."
Bara terdiam sejenak. "Permen karet?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Untuk menghilangkan bau rokok sebelum Wakadanna berbicara dengan seseorang yang tidak perlu tahu Wakadanna merokok."
Selama dua detik penuh, yang terdengar hanyalah suara mesin mobil serta deru samar lalu lintas pagi di Jakarta.
"Aku belum merokok pagi ini," kata Bara.
"Wakadanna merokok tadi malam dan bau asapnya kadang bertahan di rambut Anda."
"Kau terlalu tahu tentang kehidupanku, bahkan melebihi diriku sendiri tampaknya."
"Itu pekerjaan saya, Wakadanna." Davian menoleh sebentar.
Bara memandang ke luar jendela. Jakarta bergerak di luar sana—gedung-gedung yang saling berdesakan, serta pepohonan yang bertahan di antara aspal dan beton.
"Satu jam setengah," kata Bara akhirnya. "Kita punya satu jam setengah sebelum kelas dimulai."
"Dua puluh menit cukup, Wakadanna. Saya sudah survei tokonya kemarin."
Bara menatap Davian heran. "Kau memang aneh, Davian."
Davian menoleh lagi. "Yups Anda benar, Wakadanna."
...-Mall Toko Pakaian-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Masalahnya bukan tidak menemukan tokonya. Masalahnya adalah Bara Soryu berdiri di tengah-tengah toko uniqlo dengan sikap yang membuat para pramuniaga merasa seolah-olah berada dalam satu ruangan dengan harimau yang baru saja turun dari gunung.
Dari cara ia memegang kaus yang disodorkan oleh Davian dengan hanya menggunakan dua jarinya, seolah-olah ia takut terkontaminasi kemiskinan, kelakuan aneh Bara membuat seorang pramuniaga muda mendekati Davian dan berbisik.
"Mas, bapaknya... baik-baik aja?"
"Beliau baik-baik saja," bisik Davian balik. "Beliau hanya belum pernah masuk toko seperti ini."
"Oh." Pramuniaga itu menoleh ke Bara yang sedang menatap rak kaus polo dengan ekspresi seperti seseorang yang sedang membaca laporan keuangan yang meragukan. "Beneran?"
"Beneran."
"Terus biasanya beliau beli baju di mana?"
"Personal shopper. Dikirim langsung ke rumah."
Pramuniaga itu mengangguk pelan. "Ooh. Oke."
Sementara itu, di depan cermin: "Ini merah marun?" tanya Bara, menahan kaus polo ke depan dadanya.
"Iya, Wakadanna, warna merah marun. Cukup netral dan cocok buat aura kejam Anda."
Bara meliriknya sekilas, Davian buru-buru menutup mulutnya.
"Kelihatan terlalu... biasa."
"Itu tujuannya, Wakadanna. Biasa saja. Itu yang kita cari hari ini."
Bara menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan kaus polo berwarna merah marun yang dipadukan dengan celana chino berwarna krem yang telah dipilihkan oleh Davian sebelumnya, serta sepatu kasual berwarna gelap yang entah bagaimana tetap tampak lebih mahal dari rata-rata-karena memang berbahan mahal.
"Aku masih kelihatan seperti orang kaya."
"Ya," akui Davian. "Tapi sekarang Wakadanna kelihatan seperti orang kaya yang sedang mencoba tidak terlihat seperti orang kaya. Itu sudah kemajuan kok."
"Itu tidak ada bedanya."
"Ada, Wakadanna, bedanya tipis, tetapi tetap ada." Davian memiringkan kepalanya ke kanan, lalu ke kiri, seperti seorang seniman yang menilai hasil karyanya.
"Ini jauh lebih natural. Wakadanna tidak akan langsung membuat semua orang di kampus mencari tahu siapa Wakadanna yang sebenarnya."
"Mereka akan tetap bertanya."
"Iya, mereka akan tetap bertanya," setuju Davian, "tapi setidaknya mereka tidak akan langsung tahu siapa Anda. Ada perbedaan antara 'siapa cowok ganteng itu' dengan 'siapa bos besar itu yang nyasar di kampus kita'."
Bara menatap Davian. "Kau bilang aku ganteng?"
Davian membuka mulut, lalu menutupnya. "Itu bukan! Maksud saya tidak bermaksud—"
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu panik?"
"Itu bukan poin utama kalimat saya, Wakadanna."
"Tapi kau bilang itu."
Davian menyesuaikan kacamatanya dengan gerakan yang sangat tidak perlu. "Mari kita pergi sebelum kita membahas hal-hal yang tidak relevan dengan misi kita hari ini."
Bara mengambil tas selempangnya dari kursi tunggu di toko itu, lalu menyunggingkan senyum tipis.
Davian melihatnya, tetapi berpura-pura tidak menyadarinya.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉