Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Batalyon.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya sampai rumah"
"Siap Danki. Ijin Danki, Ibu..Saya pamit dulu"
Rival mengangguk. Setelah Gandhi pergi Rival membawa Shila masuk ke dalam kamar dan merebahkan Shila di tempat tidur lalu keluar mengambil Abrian yang sudah tidur dan memindahkannya ke dalam kamarnya sendiri.
Rival mengunci semua pintu rumah lalu kembali lagi ke kamarnya.
"Kenapa Abang tutup semua pintu. Ini masih pagi bang"
"Abang mau mengontrol kondisi lapangan"
_____
_____
***
"Kemana Danki kalian??" tanya Danyon.
"Siap tidak tau"
--------
Rival berlari kencang sampai ke tempat Danyon setelah di hubungi Oka. Peluh membasahi dahi dinya, nafasnya tersengal masuk ke dalam ruangan bersama perwira lain.
"Darimana???" tanya Danyon.
"Ijin.. menemani istri yang sedang sakit" alasan Rival.
"Push up tiga set" titah Danyon.
"Siap!!!!" Rival segera mengambil tempat dan melakukan push up sesuai perintah.
"Yang sakit, istrimu apa kamu Kapten? tanya Danyon setelah Rival selesai push up.
"Istri bang" jawab Rival.
"Ya..ya..ya kancing baju miring, resleting tidak naik.. Sebenarnya istri sakit apa?" ledek Danyon. Seisi ruangan terkikik geli melihat penampilan Rival yang acak acakan.
"Cckk.. Abang" Rival segera membenahi penampilannya.
"Sekarang kita mulai rapatnya. Anggota kita ada yang terindikasi bertransaksi obat-obatan terlarang. Saya akan mengirim beberapa anggota untuk turun menyelesaikan tugas itu"
Rival terdiam.. wajahnya berubah sendu mengingat Yara dulu saat ia pernah terperangkap masalah dalam jaringan mafia. Rival mengusap wajahnya kasar. perasaannya tidak tenang. Dalam duduk pun ia merasa gelisah.
"Tugas ini saya serahkan pada Lettu Juan dan Lettu Wahyudi. Silahkan dikondisikan untuk membawa anak buah!"
Rival bersandar pada kursinya, tangannya dingin. Semua ingatannya membuatnya sangat hati-hati dan ketakutan. Ia tidak ingin mengulang kesalahan hingga membuat Shila menderita.
Rapat hari ini usai. Rival masih termenung di kursinya.
"Kamu fokus di Batalyon. Saya tau posisimu karena saya pernah mengalaminya" kata Danyon.
"Terima kasih bang" senyum Rival.
***
Bulan berikutnya ada acara pertemuan anggota sekalian arisan gabungan. Shila pun pasti perkenalan secara resmi disana. Ia merasa siap tidak siap dengan keadaan ini mengingat kejadian awal dia datang saja sudah buruk. Bisa dibilang semua tentang Yara menghantui nya.
--------
"Selamat datang dan selamat bergabung Nyonya Rivaldi Alfario" ucap ibu Danyon.
Shila bergabung dengan yang lain sambil menggendong Abrian.
"Waahh.. memang benar-benar menurut sekali ya anak Bu Yara ini" sapa Bu Salim.
"Iya Bu, Abrian lebih tenang dari kakaknya" jawab Shila.
"Dulu ya, pak Danki itu sering memanjakan Ibu, bercanda dengan ibu, pokoknya sangat sayang dengan ibu"
Bu Salim memang terkenal bermulut usil. Ibu-ibu disana merasa kasihan dengan ibu Danki yang kalem dan lembut itu. Banyak orang yang mengkode agar Bu Salim diam, tapi mulutnya malah semakin menjadi jadi.
"Ijin ibu, belum ada tanda hamil ya?"
"Maaf Bu, saya mau mengajak anak saya berkeliling dulu" pamit Shila.
Setelah Shila pergi, ibu-ibu baru menegur keras semua ucapan Bu Salim.
-------
Shila duduk di bawah pohon asem yang besar di dekat aula. Shila bergurau dengan Abrian tapi air matanya mengalir.
Dari balik jendela, Rival bisa merasakan kesedihan istrinya. Ia tau pastilah ini tentang Yara. Dulu Yara pun juga sempat terpuruk tentang kisahnya dengan Larasati dan itu juga bukan perkara yang mudah untuk diselesaikan, banyak air mata Yara disana. kini Rival tidak ingin Shila sama terpuruknya seperti Yara. Cukup sekali saja kehancuran dalam hidupnya. Rival menemui Shila.
"Kenapa istri Abang ini?" Rival mengusap kepala Shila.
"Nggak apa-apa bang. Abang nggak ada pekerjaan?" tanya Shila memaksakan senyum. Kesedihan Shila bisa terlihat dari matanya yang memerah dan suaranya yang berat.
"Tidak perlu pikiran pekerjaan Abang" jawab Rival.
"Kerjakan saja pekerjaan Abang. Disini tanggung jawab Abang sangat besar, jangan melalaikan tugas bang" kata Shila.
"Seperti katamu dek, tanggung jawab Abang sama kamu juga besar. Abang pun nggak mau lalai dalam hal itu. Sekarang kamu kenapa? Cerita sama Abang. Abang khan suamimu, Abang nggak mau istri Abang menyimpan beban sendirian" Rival menyandarkan punggung Shila di dadanya, lalu Rival mengusap dada Shila.
"Apapun yang mereka katakan, jangan di masukan dalam hati. Biarlah dulu menjadi masa lalu Abang. Sekarang berdirilah dengan tegak, Abang titip kehormatan dan nama baik Abang di pundakmu. Kamu istri Abang, tunjukan dirimu sebagai Nyonya Rival!"
Berat sekali menyandang nama Abang di balik bayang-bayang mbak Yara.
Rival menghapus air mata Shila. Hatinya pun ikut pedih tidak bisa mengendalikan situasi ini. Ternyata air mata Shila membuat perasaannya sebagai seorang suami, teriris nyeri.
***
Hujan deras mengguyur asrama dan Batalyon. Angin kencang begitu dingin terasa menusuk kulit. HT Rival berbunyi mengabarkan banyak pepohonan yang roboh.
"Abang ada pekerjaan. Hati-hati di rumah jaga anak ya!" pesan Rival.
"Iya, Abang juga hati-hati"
"Pasti sayang" Rival mengecup kening Shila lalu berangkat dengan terburu-buru menerjang hujan deras.
-------
"Kalian tolong bantu saya angkat dahan ini ke tepi, Rafael tolong juga ambil sekalian gergaji mesin biar saya potong sekarang" perintah Rival.
"Ijin Dan.. sekarang??" tanya Rafael.
"Iya sekarang, jalanan bisa macet kalau dahan ini tetap disini" Rival menyeka air hujan di wajahnya, ia hanya menggunakan topi rimba dan tidak memakai jas hujan seperti lainnya, baginya panas hujan sudah biasa ia rasakan.
"Abang nggak pakai jas hujan dulu?" tegur Zein yang sudah pulang dari penugasan.
"Nggak masalah begini saja" jawabnya. Zein mendesah karena tau watak Rival.
---------
Shila membuatkan susu untuk Abrian, ia tidak mendengar suara Arben seperti biasanya. Suara petir begitu keras terdengar. Abrian menangis dalam gendongannya. Shila mencari Arben ke setiap sudut rumah, tapi Arben tidak terlihat juga.
Shila semakin cemas, ia membawa payung lalu menitipkan Abrian di rumah Zein.
"Mbak Mutia, saya titip Abrian. Arben pasti kedinginan dan takut mbak" paniknya.
"Tapi Shila, hujan lebat begini kamu mau cari Arben dimana?" tanya Mutia yang tau kecemasan Shila karena dia juga sangat menyayangi Arben.
"Kemana saja mbak. Saya titip dulu mbak" kata Shila lalu berlari keluar.
Angin kencang membuat payung Shila terbang tapi ia terus berjalan cepat mencari Arben.
Truk rombongan Rival sudah datang sampai Batalyon.
"Ijin Dan.. ada apa ibu berlarian di hujan lebat begini?" tanya Adi.
Rival melihat ke arah yang di tunjuk Adi, memang benar ada Shila disana. Rival segera melompat dari atas truk yang baru berhenti.
"Ada apa hujan begini kamu disini dek?"
"Arben hilang bang" tangis Shila
"Kok bisa? Kamu kemana tadi?" Rival terkejut karena putranya itu memang nakal.
"Maaf bang, Shila nggak sengaja"
"Gimana sih dek kamu jaga anak!!!" bentak Rival tanpa sadar sama seperti saat ia membentak Yara saat Arben hilang dulu.
Shila menutup wajahnya sesaat lalu berlari mencari Arben lagi, tidak ingin berdebat dengan Rival.
"Ya Allah.. aku sampai membentak istriku" sesal Rival.
"Tunggu dek, sama Abang carinya" Ia pun mengejar Shila.
.
.