NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaEnam—Membiarkanmu Di Atas Angin

Mereka akhirnya tiba di aula depan, bersamaan dengan pelayan yang datang mengantarkan teko teh hangat beserta beberapa camilan. Gu Mingyue mengambil duduk, berhadapan langsung dengan Bibi Wang yang memasang wajah angkuh, sementara Bibi Liu setia mengekor berdiri di belakang majikannya. Di sisi lain, Paman Wang memilih langsung memisahkan diri untuk mencari keberadaan Shen Mufeng.

"Bibi, kita bisa membicarakan segalanya di sini," ujar Mingyue dengan nada tenang.

"Tentu," sahut Bibi Wang ketus.

Pelayan baru saja selesai menuangkan teh dari teko porselen ketika Bibi Wang mulai melepaskan intonasi bicara yang mencekik udara di sekitar Mingyue. "Kurasa, sebagai Nyonya Baru di kediaman ini, Anda sudah bertindak terlalu lancang."

Mingyue yang masih menyesap teh hangatnya mendongak lembut, lalu menurunkan cangkir porselen tersebut ke atas meja kayu dengan ketukan yang teramat halus. "Lancang bagaimana yang Bibi maksud?"

"Memaksa seorang kepala pelayan senior yang sudah mengurus rumah tangga ini sejak lama untuk menyerahkan semua buku besar dan kunci sebelum urusannya beres," cecar Bibi Wang, matanya menyipit tajam menatap Mingyue. "Tindakan cerobohmu itu hanya akan membuat kesusahan dan kekacauan di kemudian hari!"

"Tapi Bibi, aku menemukan banyak kejanggalan dalam laporan keuangan tersebut," potong Gu Mingyue, suaranya tetap tenang namun terselip penekanan yang jelas.

Bibi Wang mendengus kasar, mengibaskan tangannya dengan gerakan meremehkan. "Kesalahan mencatat adalah hal yang biasa dalam rumah tangga besar! Setidaknya biarkan Bibi Liu menyelesaikan tugasnya sampai akhir musim semi. Apakah kau memang begitu tidak sabar untuk merampas seluruh harta Kediaman Shen?"

Gu Mingyue menghela napas pendek, menatap Bibi Wang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Begitukah menurutmu, Bibi?"

"Tentu saja!" sahut Bibi Wang dengan kepala mendongak angkuh. "Dulu, aku baru dipercaya memegang kunci gudang setelah setahun penuh menikah. Kau seharusnya tahu diri dan bersyukur karena hanya diminta menunggu sampai akhir musim semi!"

Gu Mingyue melirik ke arah Bibi Liu yang sedari tadi menyunggingkan senyuman penuh kemenangan di belakang nyonyanya. Alih-alih mendebat, Mingyue justru menoleh ke arah pelayan pribadinya.

"Li'er, ambilkan seikat kunci gudang utama di kamarku sekarang," perintah Mingyue lembut.

Fan Li'er sempat tertegun kaget, namun segera menunduk patuh saat sang Nyonya Besar kembali bersuara.

"Kita harus mengembalikannya untuk..." Suara Gu Mingyue sengaja menggantung sesaat. Ia menjatuhkan tatapan lurus yang teramat dingin dan tajam tepat ke arah manik mata Bibi Liu. "...sementara waktu kepada Bibi Liu."

Bibi Wang tersenyum penuh kemenangan, dagunya terangkat lebih tinggi dengan tatapan sinis pada Mingyue. Lirikannya jatuh pada Bibi Liu yang berdiri di sebelahnya, alisnya sedikit terangkat. Pelayan tua itu menganggukkan kepalanya samar. Bagi mereka, Gu Mingyue cukup mudah ditekan hanya dengan gertakan sambal khas Wangsa Wang.

Tidak butuh waktu lama, Fan Li'er masuk membawa seikat kunci yang telah disimpannya di dalam kamar. Ia menatap Nyonyanya dengan lekat, seolah mempertanyakan keseriusan keputusan sang Nyonya Besar. Namun, Mingyue hanya membalas dengan sebuah anggukan tenang. Dengan gerakan sedikit ragu, Fan Li'er akhirnya menyerahkan gerendelan kunci itu, yang langsung disambut dan direbut dengan sedikit kasar oleh Bibi Liu.

"Hamba berterima kasih atas kebijaksanaan Nyonya Besar," ucap Bibi Liu dengan senyum picik yang menghiasi wajah tuanya.

"Seorang Nyonya Besar memang seharusnya bertindak bijaksana, terutama mereka yang baru saja beralih dari masa gadisnya," timpal Bibi Wang dengan nada bicara yang tak kalah culas.

"Bibi memang pandai mengajari saya," sahut Gu Mingyue lembut, seraya menyunggingkan senyuman puas yang sarat makna tersembunyi.

Atmosfer di dalam ruangan seketika menegang saat tatapan tajam di antara kedua wanita berbeda generasi itu saling menyerang di udara. Tak berselang lama, pintu aula depan terbuka lebar, menampilkan sosok Jenderal Shen Mufeng yang berjalan masuk bersama Paman Wang di sisinya.

Pria itu melangkah tegap, lalu memilih untuk langsung mengambil posisi duduk di sebelah istrinya. Tatapan elangnya yang sedingin es menyapu orang-orang di ruangan sebelum akhirnya bersuara, "Bibi terburu-buru datang ke kediamanku hari ini, tentu ada alasan penting, bukan?"

"Oh, Mufeng. Istrimu ini kurang bijaksana," keluh Bibi Wang dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu seolah dialah pihak yang dirugikan.

Shen Mufeng melirik sekilas ke arah istrinya, mendapati raut wajah Gu Mingyue yang masih begitu tenang tanpa riak kepanikan. Pria itu kembali menatap bibinya, lalu bertanya dengan suara berat yang datar, "Mengapa Bibi bisa berkata seperti itu?"

"Karena istrimu ini terlalu dini untuk mencampuri urusan rumah tangga utama. Harusnya ia tahu diri dan belajar lebih dulu dari yang lebih berpengalaman," ujar Bibi Wang dengan nada sinis yang kental.

Gu Mingyue menyunggingkan senyuman manis. "Bibi, aku sudah menyadari kekeliruanku dan baru saja menyerahkan kembali gerendelan kuncinya kepada Bibi Liu." Gadis itu kemudian menoleh ke arah suaminya dengan raut wajah patuh yang dibuat-buat. "Suamiku, aku sudah menyadari kesalahanku. Aku minta maaf."

"Istriku memang bijaksana," sahut Shen Mufeng, suaranya terdengar begitu tenang. Pria itu beralih menatap bibinya tanpa riak emosi. "Terima kasih atas bimbingannya, Bibi Wang. Karena aku sendiri pun tidak terlalu paham mengenai seluk-beluk urusan domestik rumah tangga."

Pria itu kemudian merebahkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kayu, bersikap santai namun aura intimasinya justru semakin menguar hebat. "Lagipula... segala sesuatu pasti akan kembali ke tempatnya semula sebelum fajar menyingsing."

Mendengar kalimat ambigu yang meluncur dingin dari bibir sang Jenderal, kedua orang tua dari Wangsa Wang itu seketika saling tatap dengan dahi berkerut cemas. Di belakang mereka, Bibi Liu refleks menggenggam seikat kunci perak di tangannya dengan amat erat. Rasa panik mendadak menyergap tengkuk pelayan tua itu; instingnya berteriak bahwa ia memang harus bergerak dan menuntaskan tujuannya malam ini juga, sebelum semuanya terlambat.

Shen Mufeng mengalihkan pandangannya ke arah Paman Wang. "Hari mungkin akan terlanjur gelap ketika Paman dan Bibi sampai di rumah nanti. Bagaimana jika aku menjamu Paman dan Bibi makan malam di sini? Kalian sudah bersusah payah datang kemari."

Paman Wang tertawa ringan, merasa tersanjung dengan keramahan keponakannya. "Oh, Mufeng, itu ide yang sangat bagus. Mungkin kita bisa sekalian meminum arak terbaik yang kau bawa dari perbatasan utara."

"Tentu saja, Paman. Aku pasti akan menyajikan yang terbaik untuk tamuku."

Shen Mufeng kemudian mengulurkan tangan, menyentuh lembut lengan Gu Mingyue. Sembari melirik sang istri yang kembali memberikan kedipan halus tanda mengerti siasatnya, ia bertanya, "Bagaimana menurutmu, Istriku?"

"Tentu saja, mereka pasti sudah kelelahan setelah menempuh perjalanan," sahut Gu Mingyue manis. Gadis itu kemudian menoleh ke arah Bibi Liu yang masih berdiri kaku. "Bibi Liu, segera siapkan kamar tamu terbaik dan hidangan paling lezat di aula depan untuk menjamu tamu kita."

...----------------...

1
**Maulina**
lanjut semangat thor 💪
Ana Dww: Siap Kak 🦭 Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!