Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Fondasi
Hujan deras kembali mengguyur Semarang sore itu, seolah alam sedang mourni sebuah rahasia yang akhirnya terungkap. Zidan memarkir mobilnya di garasi bawah tanah rumah Ardhana dengan tangan yang masih gemetar sisa ketegangan pertemuan dengan Paman Hendra. Ia duduk diam selama beberapa menit, mencoba menata napas dan pikirannya sebelum menghadapi Viona dan ayahnya.
Map cokelat tua itu terasa berat di pangkuannya. Isinya bukan sekadar kertas, melainkan bom waktu yang bisa meledakkan seluruh kehidupan mereka. Korban jiwa. Kebakaran disengaja. Penyuapan. Semua dosa masa lalu keluarga Ardhana tersimpan rapi di sana.
Zidan menghela napas panjang, lalu keluar dari mobil. Ia berjalan menuju lift pribadi yang membawanya langsung ke lantai utama rumah. Saat pintu lift terbuka, ia disambut oleh aroma masakan hangat, namun atmosfer di dalam rumah terasa berbeda. Lebih hening. Lebih tegang.
Viona sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya pucat, matanya bengkak seolah baru saja menangis. Di tangannya, ia memegang tablet dengan layar yang menyala terang.
"Kak..." suara Viona bergetar saat melihat Zidan masuk. "Ada berita baru."
Zidan mendekat, jantungnya berdegup kencang. "Apa maksudmu?"
Viona membalikkan tablet itu ke arah Zidan. Di layar tersebut, sebuah akun media sosial anonim dengan nama @TruthSeeker_Jateng baru saja memposting sebuah utas panjang. Judul utamanya membuat darah Zidan membeku:
"SKANDAL ARDHANA GROUP: DARAH DI ATAS TANAH KENDAL. SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEMATIAN PENJAGA MALAM TAHUN 2010?"
Di bawah judul itu, terdapat foto buram sebuah dokumen lama—salinan surat perjanjian yang sama dengan yang ada di tangan Zidan—dan sebuah foto hitam putih seorang pria muda yang tersenyum, dengan keterangan: "Almarhum Pak Sutrisno, korban kebakaran gudang logistik Ardhan Group, 12 Oktober 2010."
Komentar di bawah postingan itu meledak dalam hitungan menit. Ribuan warganet mulai bertanya-tanya. Beberapa akun besar mulai membagikan ulang. Narasi "cinta terlarang" yang kemarin masih hangat, kini tiba-tiba bergeser menjadi "skandal kriminal korporasi".
"Bagaimana ini bisa bocor?" tanya Zidan, suaranya rendah namun penuh amarah tertahan. Matanya menyipit, mencari celah kebocoran. "Hanya aku, Paman Hendra, dan Ayah yang tahu detail lengkapnya hari ini. Dan Paman Hendra jelas tidak akan membocorkannya karena itu akan menjebaknya sendiri."
Viona menggeleng, air mata mulai mengalir lagi. "Aku tidak tahu, Kak. Tapi lihat komentar ini. Ada yang menyebutkan nama Budi Santoso. Ada yang mengatakan bahwa PT Bayu Hitam memiliki bukti video CCTV asli. Mereka menuntut agar polisi turun tangan."
Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Pak Wahyu muncul, mengenakan kemeja lengan panjang yang sedikit kusut, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari pagi tadi. Ia menatap Zidan, lalu menatap tablet di tangan Viona. Ekspresinya datar, namun matanya menyala dengan kemarahan yang dingin.
"Jadi, itu yang kau lakukan seharian ini, Zidan?" tanya Pak Wahyu pelan, namun setiap kata terasa seperti tamparan.
Zidan menegakkan posturnya, meski dadanya sesak. "Aku menemui Paman Hendra, Yah. Dia mengaku semuanya. Tentang kebakaran, tentang kematian Pak Sutrisno, tentang peran Budi Santoso. Dia bilang Wijaya memegang buktinya dan akan merilisnya untuk menghancurkan kita."
Pak Wahyu tertawa kecil, tawa yang pahit dan menyakitkan. "Menghancurkan kita? Zidan, nak, kamu tidak mengerti. Wijaya tidak perlu menghancurkan kita. Kita sudah menghancurkan diri kita sendiri dengan keserakahan dan kebohongan selama bertahun-tahun. Aku tahu tentang kejadian tahun 2010. Aku tahu tentang 'kecelakaan' itu. Tapi aku memilih untuk diam karena saat itu perusahaan sedang sekarat. Aku memilih menyelamatkan ribuan karyawan daripada mengakui satu kesalahan fatal."
Suara Pak Wahyu pecah di akhir kalimat. Untuk pertama kalinya, Viona dan Zidan melihat sisi rapuh dari ayah mereka yang selalu terlihat tak terkalahkan.
"Tapi sekarang," lanjut Pak Wahyu, suaranya kembali keras, "kesalahan itu datang menagih hutang. Dan kau, Zidan, dengan sikap sok heroikmu menyelidiki masa lalu, justru memicu Wijaya untuk bertindak lebih cepat. Jika kau diam, mungkin dia akan menunggu momen lain. Tapi karena kau menekan Paman Hendra, dia merasa terancam. Dia menyerang balik."
Zidan menelan ludah. Rasa bersalah mencengkeram tenggorokannya. "Maafkan aku, Yah. Aku hanya ingin membersihkan nama keluarga. Aku ingin kita hidup dalam kebenaran."
"Kebenaran?" potong Pak Wahyu tajam. "Kebenaran itu mahal, Zidan! Harganya adalah reputasi, kepercayaan investor, dan mungkin kebebasan kita jika polisi terlibat! Sekarang, apa rencanamu? Apakah kau akan menyerah pada pemerasan Wijaya? Atau kau akan mengajak kita semua terjun ke neraka hukum bersama-sama?"
Ruangan hening mencekam. Viona memandang kedua pria itu dengan hati yang hancur. Ia melihat konflik antara idealisme Zidan dan pragmatisme Pak Wahyu. Keduanya benar, namun keduanya juga salah.
"Aku tidak akan menyerah pada pemerasan," ucap Zidan tegas, meski suaranya bergetar. "Dan aku tidak akan membiarkan Ayah menanggung beban ini sendirian lagi. Aku sudah menghubungi tim investigasi swasta. Kita akan mengumpulkan bukti kejahatan Wijaya: pencucian uang, penyuapan pejabat, dan manipulasi pasar. Jika dia punya kartu as, kita juga punya senjata. Kita tidak akan bertarung di lapangan moral, tapi di lapangan hukum dan data."
Pak Wahyu menatap putranya lama. Ada keraguan di matanya, namun juga ada kilatan harapan kecil. Ia lelah. Ia sudah terlalu lama membawa topeng kekuatan. Mungkin, hanya mungkin, ia butuh bantuan Zidan untuk melepaskan beban itu.
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Pak Wahyu.
"Aku yakin, Yah. Asalkan kita bersatu. Tidak ada lagi rahasia di antara kita. Tidak ada lagi Paman Hendra yang beraksi sendiri. Kita hadapi Wijaya sebagai satu keluarga Ardhana yang utuh."
Pak Wahyu menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku akan menghubungi pengacara terbaik kita. Tapi ingat, Zidan... jika kau gagal, kita semua habis."
Malam itu, rumah Ardhana berubah menjadi markas perang. Lampu-lampu dinyalakan terang benderang. Laptop dibuka di mana-mana. Tim hukum, tim humas, dan tim investigasi Zidan bekerja tanpa henti. Viona membantu menyusun strategi komunikasi krisis, memastikan narasi publik tetap terkontrol sambil menunggu bukti balasan dari Zidan.
Di tengah kesibukan itu, Zidan menerima pesan encrypted dari kontak rahasianya di Kejaksaan Agung.
"Kami menemukan anomali dalam laporan pajak PT Bayu Hitam tahun 2015-2020. Ada aliran dana mencurigakan ke rekening offshore atas nama Budi Santoso. Ini bisa menjadi pintu masuk untuk mendakwa mereka atas pencucian uang. Tapi kami butuh bukti fisik transaksi. Bisakah kalian mendapatkannya?"
Zidan menunjukkan pesan itu kepada Viona. Mata Viona berbinar. "Rekening offshore? Itu berarti ada jejak digital. Jika kita bisa meretas atau mendapatkan akses ke server internal Budi saat dia masih bekerja dulu... atau mungkin dari mantan rekan kerjanya yang tidak puas?"
Zidan tersenyum tipis. Ide Viona brilian. "Kita butuh orang dalam. Seseorang yang pernah bekerja dekat dengan Budi dan punya dendam padanya."
Viona berpikir sejenak, lalu matanya melebar. "Tunggu... Ingatkah kau pada Pak Joko? Mantan sopir pribadi Paman Hendra yang dipecat bersamaan dengan Budi? Dia sering mengeluh bahwa Budi yang menjebak Paman Hendra agar memecatnya. Dia tinggal di daerah Tembalang. Aku punya nomor kontaknya dari arsip lama yayasan."
Zidan memeluk Viona erat. "Kamu penyelamatku, Vion. Besok pagi, kita temui Pak Joko. Kita butuh sekutu di dalam kubu musuh."
Di luar, hujan masih turun deras, namun di dalam rumah Ardhana, api perlawanan mulai menyala. Mereka mungkin terluka, mereka mungkin takut, tetapi mereka tidak akan kalah tanpa perlawanan. Badai kebenaran telah datang, dan mereka siap menari di tengah pusarannya.
Namun, di kejauhan, Tuan Wijaya sedang menikmati segelas wine mahal di kantornya yang megah. Ia membaca laporan dari anak buahnya tentang aktivitas aneh di rumah Ardhana. Ia tersenyum sinis.
"Bermainlah, anak muda," gumamnya. "Semakin keras kalian berjuang, semakin manis rasanya ketika kalian jatuh."
Ia mengangkat gelasnya, bersulang untuk kehancuran yang ia yakini sudah di ambang pintu.