Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tiga
Arsaka tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang El tanpa berkedip. Tatapan pria paruh baya itu begitu tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin menyesakkan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lalu, dengan suara rendah namun penuh penekanan, Arsaka berkata, "Kamu bicara dengan siapa?"
Pertanyaan itu membuat El mengernyit. "Tentu saja dengan Daddy."
"Kalau begitu," sahut Arsaka dingin, "Belajarlah bagaimana cara berbicara kepada ayahmu."
El menarik napas panjang. Rahangnya mengeras. Ia tahu pembicaraan ini tidak akan berjalan baik, tetapi ia sudah terlalu marah untuk mundur.
Ia menatap lurus ke arah Arsaka. "Dad ... kenapa ruang kerjaku dikunci?"
Arsaka menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya tetap datar. "Karena kamu sudah tidak dibutuhkan di sini."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi El, rasanya seperti palu besar yang menghantam dadanya. "Apa?"
"Aku ulangi kalau perlu." Arsaka menatapnya tanpa sedikit pun ragu. "Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di perusahaan ini."
El menggeleng pelan. "Aku masih pimpinan di sini, Dad."
"Tidak lagi."
"Aku masih menjabat sebagai direktur."
Arsaka tersenyum tipis. "Sekarang dengarkan baik-baik."
Ia membuka salah satu map di atas meja, lalu mendorong beberapa lembar dokumen ke arah El. "Perusahaan ini milikku." Suara Arsaka terdengar semakin tegas. "Aku yang membangunnya dari nol."
"Aku yang mempertaruhkan seluruh hidupku untuk membesarkannya."
"Dan aku juga berhak memecat siapa pun yang menurutku sudah tidak layak berada di perusahaan ini."
Tatapan El berubah. Tangannya perlahan mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jadi ...," ucap El dengan suaranya yang terdengar berat. "Daddy benar-benar tidak menginginkan aku lagi."
Arsaka tetap diam.
El tertawa hambar. "Ini sama saja Daddy mengusirku juga dari perusahaan."
"Kamu salah." Arsaka menggeleng pelan.
"Aku sudah mengatakan sejak awal, kalau kamu memilih keluar dari rumah, itu berarti kamu juga harus siap meninggalkan semua fasilitas yang selama ini kamu dapatkan."
Setiap kata yang keluar dari mulut Arsaka terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hati El. Selama ini ia selalu berpikir ayahnya hanya sedang marah.
Bahwa semua ini hanyalah hukuman sementara. Namun hari ini, ia sadarbkalau Arsaka benar-benar serius.
El menarik napas panjang. Matanya mulai memerah. "Baiklah.".Kalimat itu keluar begitu pelan.
"Kalau memang itu keputusan Daddy, aku pergi."
Ia mengangguk pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Aku tidak akan mengharapkan apa pun lagi dari Daddy."
Arsaka mengangkat dagunya sedikit. "Kalau begitu tinggalkan semua yang Daddy berikan."
Ruangan kembali sunyi. El menatap ayahnya beberapa detik. Lalu ia tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.
"Itu juga ada hasil kerja kerasku, Dad." Suaranya mulai meninggi. "Selama ini aku bekerja mati-matian demi perusahaan."
"Aku hampir tidak punya waktu istirahat. Aku mengurus proyek."
"Aku tidak pernah melupakan kerja kerasmu."
"Baguslah kalau Daddy mengerti."
"Semua ini memang kewajibanmu."
El terdiam.
"Tapi ...," lanjut Arsaka. "Kamu juga sudah banyak menikmati uang perusahaan."
El langsung menatap tajam. "Maksud Daddy apa. Jika memang benar, apa contohnya?"
Arsaka mengembuskan napas pelan. "Kamu pikir aku ini bodoh?"
El tidak menjawab. "Aku tahu selama ini kamu banyak mengeluarkan uang untuk kekasihmu."
Kalimat itu membuat wajah El berubah. Matanya membelalak. Beberapa detik ia hanya mampu memandang ayahnya. "Daddy menyelidikiku?"
"Bukan! Aku hanya memastikan ke mana uang perusahaan digunakan."
El langsung menggeleng. "Itu uangku."
Arsaka menggeleng pelan. "Hakmu memang ada. Tapi jangan pernah lupa. Semua itu berasal dari perusahaan."
Arsaka menatap El dengan sorot mata tajam. "Lagi pula, wanita seperti kekasihmu itu seperti lintah."
El langsung mengepalkan tangannya.
"Dia akan menghisap darahmu perlahan."
El mengebrak meja. Suara meja yang dipukul keras menggema memenuhi ruangan.
Beberapa karyawan yang berada di luar langsung saling menoleh kaget.
El bernapas memburu. "Daddy tidak berhak menghina dia!"
Suara El menggema penuh emosi. "Dia bukan wanita seperti yang Daddy pikir!"
"Dia satu-satunya orang yang mau menerimaku sekarang! Saat semua keluarga sudah tidak menginginkan aku lagi! Dia tetap ada di sampingku!"
Arsaka hanya menatap putranya tanpa gentar. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Yang ada hanyalah rasa kecewa yang begitu dalam.
Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang justru membuat El semakin kesal.
"Kita lihat saja nanti."
"Apa maksud Daddy?"
"Kita lihat, apakah dia masih mau bertahan, saat kamu sudah tidak memiliki apa-apa."
Ucapan itu membuat dada El naik turun menahan emosi. "Zoya bukan seperti itu!"
Ia hampir berteriak. "Dia tidak pernah melihat hartaku! Dia tulus!"
Arsaka menganggukkan kepala pelan. "Benarkah?"
"Iya!"
"Kalau begitu ....".Arsaka menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kita buktikan saja."
El menggeleng keras. "Daddy selalu berpikir semua orang mengejar uang! Bukan begitu kenyataannya! Tidak semua wanita seperti yang Daddy bayangkan!"
Arsaka tersenyum tipis.."Semoga saja."
El menggertakkan giginya. Ia sadar, apa pun yang ia katakan hari ini tidak akan mengubah pikiran ayahnya.
Begitu pula sebaliknya. Mereka sama-sama keras kepala. Sama-sama yakin bahwa merekalah yang benar.
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Beberapa detik berlalu..El akhirnya mengembuskan napas panjang.
Nada bicaranya mulai terdengar lelah. "Sudahlah, Dad. Aku capek."
"Kalau memang Daddy membenci aku, cukup aku saja. Jangan bawa-bawa Zoya. Dia tidak bersalah."
Arsaka tetap tidak menjawab. Tatapannya masih sama.
El tersenyum hambar, lalu berkata, Aku rasa, tidak ada gunanya aku berada di sini lagi."
Ia menatap ruangan itu untuk terakhir kalinya. Ruangan yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bekerja. Tempat ia belajar menjadi pemimpin.
Namun sebelum keluar, langkahnya sempat berhenti. Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata lirih,
"Terima kasih ... untuk semua yang pernah Daddy ajarkan. Tapi mulai hari ini, aku akan membuktikan kalau aku juga bisa hidup tanpa semua yang Daddy berikan."
Setelah mengatakan itu, El membuka pintu. Terdengar suara pintu tertutup pelan di belakangnya.
Lorong kantor yang tadi ramai kini mendadak sunyi. Beberapa karyawan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan segera menundukkan kepala saat El berjalan melewati mereka.
Tak seorang pun berani menyapa. Mereka bisa melihat sendiri wajah El yang dipenuhi amarah sekaligus kekecewaan.
Langkah pria itu tetap tegap. Namun sorot matanya jauh berbeda dibanding biasanya. Ia tidak lagi berjalan sebagai seorang direktur perusahaan.
Hari ini, ia berjalan sebagai seseorang yang baru saja kehilangan rumah keduanya.
Begitu pintu lift terbuka, El masuk tanpa menoleh sedikit pun. Pintu lift kembali menutup perlahan.
Di dalam ruang kerja, Arsaka masih duduk di kursinya. Tatapannya tertuju ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan putranya.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak. Tangannya perlahan mengepal di atas meja. Ada rasa sesak yang berusaha ia sembunyikan.
Keputusan itu bukan keputusan yang mudah, tidak ada orang tua yang ingin mengusir anaknya sendiri. Namun bagi Arsaka, mempertahankan prinsip jauh lebih penting daripada membiarkan El terus hidup dalam keyakinan yang menurutnya keliru.
Dan ditempat berbeda, tanpa ragu sedikit pun, El masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, lalu meninggalkan halaman perusahaan.
Perlahan mobil itu menghilang di balik padatnya jalan raya, membawa seorang pria yang baru saja kehilangan jabatan, keluarga, dan tempat yang selama ini ia sebut sebagai rumah.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka