Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Mode Darurat
Teh hangat yang baru saja dihidangkan mengepulkan uap tipis. Aroma rotinya yang masih hangat membuat perut Faris semakin keroncongan. Sejak semalam mereka belum sempat makan apa pun. Tenaga mereka benar-benar terkuras saat berlari menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami. Begitu roti dan teh diletakkan di atas meja, Faris mempersilakan ibunya makan lebih dulu.
"Silakan, Bu."
Siti mengangguk pelan. "Kamu juga makan."
Tanpa banyak bicara, keduanya mulai menyantap makanan di hadapan mereka. Roti sederhana itu terasa jauh lebih nikmat daripada makanan mewah apa pun yang pernah dibayangkan Faris. Setiap suapan seolah mengembalikan sedikit demi sedikit tenaga yang tadi hampir habis.
Pemilik warung yang melihat mereka makan dengan lahap ikut tersenyum.
"Kelihatannya lapar sekali, ya."
Faris tersenyum malu. "Iya, Bu. Sejak tadi malam belum sempat makan."
"Kasihan."
Wanita itu kemudian menambahkan beberapa gorengan hangat ke meja mereka.
"Ini dimakan saja."
Faris langsung menggeleng. "Jangan, Bu. Nanti kami bayar."
"Ah, tidak usah."
"Tetap kami bayar."
Melihat sikap Faris yang bersungguh-sungguh, wanita itu akhirnya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah."
Tak lama kemudian semangkuk mi rebus juga datang. Aroma kuahnya langsung memenuhi warung.
Faris sempat menoleh bingung. "Bu, kami tidak pesan mi."
Pemilik warung terkekeh. "Itu saya yang traktir."
"Kalian kelihatan kelelahan sekali."
Faris sempat ingin menolak. Namun melihat wajah ibunya yang tampak begitu lapar, ia akhirnya mengangguk penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak, Bu."
"Semoga Tuhan membalas kebaikan Ibu."
Wanita itu tersenyum hangat.
Beberapa menit kemudian meja mereka hampir kosong. Perut Faris akhirnya terasa penuh. Begitu pula Siti yang sejak tadi menikmati kuah mi hangat hingga tetes terakhir.
Untuk pertama kalinya sejak bencana terjadi, wajah Siti terlihat sedikit lebih segar.
Faris ikut mengangguk. "Rasanya seperti hidup lagi."
Namun senyum di wajah Siti perlahan menghilang. Ia tiba-tiba memegang ujung bajunya.
"Ris..."
"Iya, Bu?"
"Dompet Ibu..."
Faris ikut terdiam. Baru saat itu mereka sama-sama sadar. Mereka keluar rumah hanya membawa dokumen penting. Dompet, pakaian, uang, semuanya tertinggal.
Siti langsung terlihat cemas.
"Ya ampun... Kita tidak membawa uang."
Faris ikut berpura-pura berpikir sejenak, meski sebenarnya dua sudah lebih dulu menyadarinya.
"Ibu tenang saja."
Siti mengernyit. "Memangnya kamu bawa uang?"
Faris tersenyum kecil. "Ada sedikit di kantong."
Siti tampak lega. "Syukurlah."
Padahal Faris sendiri sama sekali tidak yakin. Ia jelas tidak sempat mengambil dompet ketika melarikan diri dari rumah. Dalam hati ia segera memanggil sistem.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Aku tidak punya uang tunai."
[Benar.]
"Ada solusi?"
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi notifikasi.
DING!
[Mode Darurat aktif.]
[Host dapat memperoleh kebutuhan dasar dalam kondisi bencana.]
Mata Faris sedikit berbinar. "Bisa kasih uang tunai?"
[Bisa.]
"Bagaimana caranya?"
[Silakan merogoh kantong celana kanan.]
Faris berkedip. "Cuma begitu?"
[Benar.]
Dengan tetap berusaha terlihat santai agar ibunya tidak curiga, Faris memasukkan tangan ke dalam kantong celananya.
Sesaat kemudian ujung jarinya menyentuh sesuatu. Ia perlahan menarik tangannya keluar. Beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu kini berada di genggamannya.
Faris hampir melongo. "Serius ada..."
[Mode Darurat berhasil dijalankan.]
"Ini... dari mana?"
[Dari tabungan Host.]
Faris hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis. "Jawabanmu memang tidak pernah berubah."
Ia kemudian berdiri menghampiri meja kasir. "Bu, berapa semuanya?"
Pemilik warung menghitung sebentar. "Tiga puluh delapan ribu saja."
Faris menyerahkan selembar uang seratus ribu.
Wanita itu tampak sedikit terkejut. "Kembaliannya banyak."
"Tidak apa-apa."
Setelah menerima kembalian, Faris kembali duduk di samping ibunya.
Siti tersenyum lega. "Untung kamu masih membawa uang."
"Iya."
"Kalau tidak..."
Faris hanya mengangguk sambil menyimpan uang itu kembali ke kantong. Namun saat itu sistem kembali berbunyi.
[Host diingatkan.]
"Apa lagi?"
[Poin Host saat ini: 18.640.]
Faris langsung mengernyit. "Memangnya kenapa?"
[Terjadi penurunan sangat signifikan.]
Faris langsung teringat. Seratus ribu poin habis untuk membeli Skill Perpindahan Instan Darurat. Ditambah beberapa fitur darurat lainnya. Ia mengusap dahinya pelan.
"Benar juga..."
[Dengan jumlah poin saat ini, Host tidak lagi dapat membeli skill tingkat tinggi.]
"Kalau habis bagaimana?"
[Beberapa fungsi sistem akan terkunci.]
Faris langsung menarik napas panjang. "Berarti aku harus mulai mengumpulkan poin lagi."
[Benar.]
"Caranya tetap sama?"
[Menyelesaikan misi, meningkatkan reputasi profesional, membantu masyarakat, dan menyelesaikan pencapaian baru.]
Faris mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Kini ia semakin sadar bahwa poin sistem bukan sesuatu yang bisa dihamburkan begitu saja. Walaupun sistem telah menyelamatkan nyawanya dan ibunya, harga yang harus dibayar ternyata tidak sedikit.
Setelah beristirahat beberapa menit, Faris berdiri sambil membantu Siti.
"Ayo, Bu. Kita cari tempat istirahat dulu."
Siti mengangguk.
"Iya."
Mereka keluar dari warung dan berdiri di tepi jalan desa. Beberapa kendaraan bak terbuka sesekali melintas membawa hasil panen teh. Faris mencoba menghentikan salah satunya.
"Permisi, Pak."
Seorang pria paruh baya menghentikan mobilnya.
"Iya?"
"Apakah ada tempat pengungsian atau penginapan terdekat?"
Pria itu berpikir sejenak.
"Kalau pengungsian korban gempa, ada balai kecamatan sekitar lima kilometer dari sini. Kalau kalian mau, saya memang lewat sana."
Wajah Faris langsung berbinar. "Benarkah, Pak?"
"Iya."
"Kalau begitu kami ikut."
"Silakan naik."
Faris membantu ibunya naik ke bak belakang yang sudah dialasi karung-karung kosong. Mobil itu kemudian kembali melaju menyusuri jalan perbukitan.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.