Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Amukan Massa
Sore itu, setelah kondisi di lokasi kembali tenang, pekerjaan dilanjutkan seperti biasa. Namun insiden yang hampir menimpa Vanessa masih menjadi bahan pembicaraan para pekerja. Mandor segera mengumpulkan seluruh tim untuk melakukan evaluasi keselamatan, sementara beberapa petugas memeriksa kembali seluruh alat angkat agar kejadian serupa tidak terulang.
Faris sedang membantu beberapa pekerja memindahkan gambar teknik ke ruang rapat. Sesekali ia tertawa kecil ketika salah seorang tukang melontarkan candaan. Tidak ada sedikit pun sikap ingin dipuji karena baru saja menyelamatkan seseorang.
Vanessa menggigit bibir pelan. "Kenapa dia malah seperti tidak menganggap kejadian itu penting?" gumamnya.
Selama ini, hampir semua pria yang dikenalnya selalu berusaha tampil hebat di hadapannya. Ada yang sengaja mencari perhatian, ada pula yang membanggakan diri setiap kali berhasil melakukan sesuatu.
Namun Faris berbeda. Dia bahkan tidak sekali pun mengungkit bahwa dirinya baru saja menyelamatkan nyawa Vanessa. Hal itu justru membuat Vanessa semakin penasaran.
Menjelang sore, Pak Bandi mengumpulkan seluruh tim inti di kantor lapangan.
"Besok kita akan mulai tahap persiapan pekerjaan pondasi sisi barat."
Semua mengangguk.
"Tapi sebelum itu ada satu masalah yang harus kita selesaikan."
Ekspresi Pak Bandi berubah serius. "Sebenarnya masalah ini sudah muncul sejak beberapa bulan lalu."
Faris langsung memperhatikan. "Apa masalahnya, Pak?"
Pak Bandi membuka sebuah peta lokasi.
Di bawah rencana bentang utama jembatan tampak deretan rumah semi permanen yang berdiri rapat di bantaran sungai.
"Itu permukiman warga."
Faris mengangguk. "Lalu?"
"Sebagian besar berada tepat di area yang akan menjadi akses pembangunan."
Vanessa ikut menyela. "Tim pembebasan lahan sudah beberapa kali datang."
"Bagaimana hasilnya?"
Pak Bandi menghela napas.
"Buntu."
Pak Bandi melanjutkan. "Sebagian warga sudah menerima ganti rugi."
"Tapi?"
"Masih ada sekitar tiga puluh kepala keluarga yang menolak pindah."
Faris mengernyit. "Kenapa?"
"Mereka menganggap tanah itu milik leluhur mereka."
"Padahal?"
"Itu sempadan sungai milik negara."
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Bandi kembali berkata, "Selama mereka belum pindah, pekerjaan tidak bisa dimulai."
***
Keesokan paginya, rombongan proyek mendatangi kawasan tersebut. Rumah-rumah kayu berdiri di bawah tepian sungai. Beberapa bahkan dibangun menggunakan tiang-tiang yang menjorok ke air.
Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki.Ibu-ibu sedang mencuci pakaian. Suasananya tampak sederhana. Namun begitu mobil proyek berhenti, ekspresi warga langsung berubah.
Seorang pria paruh baya melangkah maju.
"Kalian datang lagi?"
Petugas humas mencoba tersenyum.
"Kami hanya ingin berdiskusi, Pak."
"Tidak ada yang perlu didiskusikan."
Pria itu menunjuk rumah-rumah di belakangnya. "Kami tidak akan pindah."
Beberapa warga lain mulai berkumpul. Suasana perlahan memanas.
Pak Bandi turun dari mobil. "Kami memahami keberatan Bapak."
"Tidak!"
Pria itu memotong.
"Kalian tidak paham!"
Suara-suara mulai bermunculan.
"Iya!"
"Kami sudah puluhan tahun tinggal di sini!"
"Mau tinggal di mana lagi?"
Faris mengamati semuanya dalam diam. Ia bisa melihat ketakutan di wajah sebagian warga. Bukan sekadar marah. Mereka benar-benar takut kehilangan tempat tinggal.
Namun di sisi lain, proyek ini juga sangat penting bagi ribuan orang. Ia merasa situasinya jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung struktur jembatan.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang kerumunan.
"Jangan percaya mereka!"
Semua menoleh. Seorang pria bertubuh besar berjalan maju. Usianya sekitar empat puluh tahun. Tatapannya tajam. Namanya Jaya, tokoh yang cukup disegani di permukiman itu.
"Mereka cuma manis di mulut!"
Beberapa warga langsung bersorak mendukung.
Jaya menunjuk rombongan proyek. "Hari ini mereka datang membawa janji. Besok? Kita diusir!"
Sorakan warga semakin keras.
Pak Bandi berbisik pelan. "Itu dia provokatornya."
Faris mengernyit. "Provokator?"
"Iya."
"Katanya dia yang selalu menghasut warga."
Petugas humas kembali mencoba berbicara.
"Bapak-Ibu, mohon tenang..."
Namun sebuah botol plastik tiba-tiba melayang.
Brak!
Botol itu menghantam kap mobil proyek. Suasana langsung berubah. Beberapa warga mulai ikut melempar batu kecil.
"Pergi!"
"Kami tidak mau!"
"Keluar!"
Mandor segera berteriak.
"Semua mundur!"
Faris spontan melindungi Pak Bandi yang usianya sudah cukup lanjut.
Vanessa sendiri tampak terkejut. Ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
Sebuah batu melayang ke arahnya. Faris kembali menarik Vanessa menjauh.
"Tunduk!"
Buk!
Batu itu menghantam pagar besi di belakang mereka.
Vanessa menatap Faris dengan wajah pucat. "Kok... jadi begini?"
Belum sempat Faris menjawab, suara kaca pecah terdengar.
PRANG!
Jendela salah satu mobil proyek hancur terkena lemparan batu. Beberapa orang mulai membawa bambu. Suasana berubah semakin mencekam.
Pak Bandi langsung berteriak. "Semua kembali ke mobil!"
Namun jalan menuju kendaraan sudah dipenuhi massa.
Jaya berdiri paling depan. "Kami sudah bilang! Jangan ganggu kampung kami!"
Ia mengangkat tangan.
"Warga!"
Sorakan menggema.
"Usir mereka!"
Puluhan orang mulai bergerak maju. Debu beterbangan. Suara teriakan memenuhi udara. Beberapa pekerja proyek mulai panik.
"Pak!"
"Mereka banyak sekali!"
Pak Bandii mencoba menenangkan semuanya. "Jangan melawan! Kita mundur!"
Namun keadaan sudah tidak terkendali. Seseorang melempar kayu. Yang lain memukul pagar seng hingga berbunyi nyaring.
Vanessa refleks memegang lengan Faris. "Faris..." Nada suaranya untuk pertama kalinya terdengar cemas. "Apa yang harus kita lakukan?"
Faris menatap kerumunan. Kalau mereka melawan, situasinya bisa berubah menjadi bentrokan besar. Kalau mereka kabur begitu saja, massa bisa semakin beringas. Ia mengepalkan tangan. Dalam hati dia memanggil sistem.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Ada solusi?"
[Menganalisis...]