Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investigasi Valkyrie Capital
Ketenangan di lantai 42 KALUMPERRI CORP pasca-prahara Tiffany Mahardika tidak bertahan lama.
Di dunia bisnis yang bergerak secepat putaran algoritme bursa efek, kemenangan kemarin hanyalah jeda napas yang sangat singkat. Badai yang sesungguhnya, agresi finansial dari Aji Naim dan Valkyrie Capital masih menggantung rendah di atas cakrawala menara kembar Kalumperri.
Hari Jumat pagi itu, Aulia Putri tidak lagi memikirkan perihal foto-foto ancaman. Fokusnya telah kembali seratus persen ke dalam mode manajer risiko yang sangat dingin dan analitis.
Ia berdiri di hadapan papan tulis kaca di ruang kerja Khatyr, memandangi rangkaian garis waktu, struktur kepemilikan modal, dan logo-logo perusahaan asing yang saling terhubung dalam sebuah diagram gurita finansial yang rumit.
Rambut cokelatnya terikat rapi dalam sanggulan formal, kacamata bacanya terpasang kokoh, dan di tangannya terdapat sebuah spidol biru yang siap menggoreskan analisis baru.
"Pembekuan sementara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya berlaku selama 3x24 jam bursa, Khatyr," ujar Aulia, suaranya terdengar sangat tegas dan presisi.
"Hari Senin depan pukul sembilan pagi, jika kita tidak menyerahkan bukti konkrit mengenai manipulasi pasar semu yang dilakukan oleh Valkyrie Capital, pembekuan itu akan dicabut secara otomatis demi hukum pasar modal."
Khatyr Ali Fatih, yang pagi itu sedang duduk setengah bersandar di tepi meja jatinya yang mewah, mengangguk pelan. Ia menyeruput teh chamomile hangat buatan Aulia dengan gerakan lambat, sepasang netra gelapnya menatap diagram gurita di papan tulis dengan ketajaman yang tidak bisa disembunyikan.
"Aji Naim adalah rubah tua yang sangat berpengalaman, Aulia," sahut Khatyr, suara baritonnya terdengar tenang namun sarat akan kewaspadaan.
"Dia tahu bahwa margin call dari Bank Zurich adalah ancaman mematikan. Oleh karena itu, dia tidak akan tinggal diam selama akhir pekan ini. Dia pasti sedang mencoba menyuap beberapa oknum di komite kepatuhan bursa atau mencari celah hukum untuk membatalkan pembekuan sahamnya."
Khatyr meletakkan gelas tehnya, lalu berjalan mendekati papan tulis kaca.
Ia mengambil spidol merah dari tangan Aulia, dan saat melakukannya, jemarinya sengaja menyentuh kulit tangan Aulia dengan usapan lembut yang sangat singkat, kebiasaan manis baru di luar jam formal kantor yang selalu berhasil membuat dada Aulia bergetar kecil.
"Mari kita lihat struktur aliran dana masuknya," ujar Khatyr, melingkari salah satu perusahaan cangkang di Cayman Islands yang bernama Valkyrie Oceanic Ltd.
"Lima perusahaan cangkang ini mengirimkan dana ke pialang lokal kita di Jakarta dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu adalah teknik layering klasik untuk menyamarkan asal-usul uang. Tapi, jika kita melacaknya lebih dalam..."
Khatyr mengetuk layar laptop hitam terenkripsinya yang berada di meja kerja.
"Aku berhasil menembus enkripsi transfer bank internasional milik mereka tadi subuh. Aliran dana dari Swiss tidak dikirimkan secara langsung, melainkan transit terlebih dahulu di sebuah bank swasta di Singapura, sebelum akhirnya dicairkan oleh sebuah entitas lokal fiktif di Jakarta yang bergerak di bidang ekspor-impor tekstil fiktif: PT Sinar Sumatra Abadi."
Aulia seketika membelalakkan matanya di balik kacamata bacanya. "PT Sinar Sumatra Abadi? Nama itu... sangat familier."
Aulia dengan cepat mengetikkan nama perusahaan tersebut di tablet eksekutifnya, membolak-balik direktori kepemilikan bisnis grup Kalumperri. Hanya dalam hitungan detik, napas Aulia mendadak tertahan saat membaca daftar pemegang saham mayoritas dari perusahaan tekstil lokal tersebut.
"Khatyr..." bisik Aulia dengan suara bergetar karena terkejut. "PT Sinar Sumatra Abadi adalah anak perusahaan dari Fatih Development, grup properti privat milik keluarga besar Fatih yang selama ini dikelola secara independen oleh... Andra Ali Fatih."
Keheningan yang sangat dingin seketika menyelimuti ruang kerja CEO.
Diagram gurita di papan tulis kini telah menemukan kepalanya. Konspirasi ini ternyata jauh lebih mengerikan dan personal daripada yang mereka duga sebelumnya.
Aji Naim tidak bekerja sendirian dari Swiss. Ia memiliki sekutu di dalam selimut yang tidak lain adalah Andra Ali Fatih, sepupu Khatyr yang kemarin baru saja dinonaktifkan akibat sabotase proyek PLTB Sumatra.
Andra rupanya menggunakan perusahaan tekstil fiktifnya untuk menjadi jembatan pencucian uang bagi dana-dana leverage milik Valkyrie Capital agar bisa memborong saham publik Kalumperri di Jakarta tanpa terdeteksi oleh radar intelijen finansial bursa.
"Jadi, Andra sengaja membantu Aji Naim untuk merebut kepemilikan Kalumperri dari tanganmu?" tanya Aulia, menatap Khatyr dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa khawatir dan marah yang membuncah.
"Dia rela menghancurkan imperium bisnis keluarganya sendiri hanya demi ambisi pribadinya untuk membalas dendam padamu?"
Khatyr tidak menunjukkan kepanikan atau keterkejutan yang berlebihan. Sebaliknya, rahang tegasnya mengencang kuat, dan seulas senyuman sinis yang sangat dingin terukir di wajah tampannya, senyuman dari seorang pemimpin yang telah siap untuk memusnahkan setiap pengkhianat di dalam wilayah kekuasaannya.
"Andra selalu merasa bahwa dia adalah orang yang paling berhak menduduki kursi CEO ini," ujar Khatyr lirih, nadanya terdengar begitu datar namun sarat akan kekuatan dominan yang mengintimidasi.
"Dia mengira dengan membantu Aji Naim memenangkan 33% saham pembekuan itu, Julian... maksudku, Aji Naim akan mendudukkannya sebagai CEO boneka setelah aku disingkirkan. Dia sangat bodoh karena tidak menyadari bahwa Aji Naim hanya memanfaatkannya sebagai alat habis pakai."
Khatyr berjalan mendekati Aulia, lalu meletakkan kedua tangan hangatnya di atas bahu mungil sekretarisnya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata bulat Aulia dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh tekad mutlak yang menenangkan.
"Pertarungan ini tidak lagi sekadar tentang bursa efek, Aulia," bisik Khatyr lembut namun sangat tegas. "Ini adalah perang pembersihan total. Kita harus mendapatkan seluruh dokumen transaksi keuangan asli antara PT Sinar Sumatra Abadi dan Valkyrie Capital sebelum hari Senin pagi.
Dokumen itu akan menjadi bukti fisik yang tidak terbantahkan untuk memenjarakan Andra atas tindakan pengkhianatan korporat dan pencucian uang, sekaligus membekukan saham Valkyrie secara permanen oleh OJK."
"Tapi dokumen-dokumen itu pasti disimpan di server privat milik Andra di kantor operasional Fatih Development di kawasan Jakarta Barat," analisis Aulia taktis, otaknya yang cerdas segera bekerja memetakan risiko fisik.
"Tempat itu dijaga ketat oleh tim keamanan pribadinya, dan kita tidak memiliki otoritas hukum untuk menggeledahnya tanpa surat perintah pengadilan yang proses pembuatannya membutuhkan waktu berminggu-minggu."
Khatyr terkekeh renyah, tawa penuh kelicikan jenius yang sangat khas. Ia mengusap rambut cokelat Aulia dengan gerakan sangat lembut yang memabukkan.
"Kita tidak membutuhkan surat perintah pengadilan jika kita bisa masuk ke sana secara langsung sebagai pihak keluarga, Partner," bisik Khatyr dengan binar mata penuh kemenangan yang berbahaya.
"Besok malam, hari Sabtu, keluarga besar Fatih akan mengadakan acara makan malam reuni keluarga tahunan di kediaman utama ibuku di Bogor. Andra dipastikan akan hadir di sana untuk mencari dukungan dari para tetua keluarga."
Khatyr mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, memotong jarak di antara wajah mereka hingga Aulia bisa merasakan kehangatan embusan napasnya yang menenangkan.
"Selama acara makan malam keluarga itu berlangsung, semua orang akan terfokus di ruang perjamuan utama. Dan di saat itulah, kamu dan aku... akan menyelinap ke ruang kerja pribadi Andra di paviliun barat kediaman ibuku untuk mengunduh seluruh basis data transaksi keuangan ilegalnya langsung dari komputer pribadinya menggunakan perangkat enkripsi Project Slacker milikku."
Aulia merasakan jantungnya seketika berdegup sangat kencang, seolah-olah baru saja melompat dari tebing tinggi. Rencana Khatyr bukan sekadar berani, itu adalah sebuah misi infiltrasi tingkat tinggi yang sangat berbahaya yang bisa menghancurkan reputasi mereka jika tertangkap basah oleh Ibu Besar atau anggota keluarga Fatih lainnya.
Namun, menatap sepasang mata hangat Khatyr yang memancarkan rasa percaya dan komitmen yang begitu murni, seluruh keraguan di dalam dada Aulia Putri seketika menguap tanpa bekas.
"Misi infiltrasi di tengah makan malam keluarga besar..." gumam Aulia dengan seulas senyuman manis yang dipenuhi oleh binar keberanian taktis yang menawan.
"Anda benar-benar tidak pernah kehabisan ide gila ya, Pak CEO?"
"Itu karena aku memiliki perancang strategi dan gembala terbaik di dunia yang selalu berdiri setia di sisiku, Aulia," jawab Khatyr dengan tawa kecilnya yang merdu, sebelum perlahan menarik tubuh mungil Aulia ke dalam dekapannya yang sangat erat dan hangat, memberikan rasa aman yang luar biasa murni yang menyelimuti hati mereka berdua menjelang badai pertempuran besok malam.
Hari Sabtu malam yang dinantikan akhirnya tiba dengan atmosfer ketegangan yang sunyi.
Sebuah mobil sedan mewah Maybach hitam berkilau meluncur tenang membelah rintik hujan gerimis di jalan tol menuju kawasan puncak Bogor.
Di kursi belakang, Khatyr Ali Fatih duduk berdampingan dengan Aulia Putri. Hari ini, Khatyr mengenakan setelan jas formal berwarna biru gelap dengan kemeja hitam di dalamnya tanpa dasi, memancarkan ketampanan kasual namun sangat berwibawa.
Di sebelahnya, Aulia Putri tampak luar biasa anggun dengan mengenakan kebaya modern berbahan brokat halus berwarna merah maroon yang dipadukan dengan kain batik tulis sutra bermotif klasik yang sangat elegan.
Rambut cokelat panjangnya ditata dengan gaya sanggul jawa modern yang menyisakan beberapa helai jatuh di sisi wajah cantiknya, mempertegas leher jenjangnya yang putih bersih.
Khatyr menatap wajah cantik Aulia di balik temaram lampu mobil dengan binar mata yang dipenuhi oleh cinta dan kekaguman yang teramat mendalam.
"Kamu kelihatan sangat cantik malam ini, Aulia," bisik Khatyr lembut, menggenggam jemari tangan Aulia yang terasa sedikit dingin karena gugup.
"Ibuku pasti akan sangat senang melihat menantu idaman... maksudku, sekretaris terbaikku hadir di acara keluarga ini."
Aulia merasakan seluruh wajahnya seketika memanas mendengar godaan manis Khatyr. Ia meremas genggaman tangan hangat bosnya dengan erat.
"Fokus pada misi kita, Khatyr. Kita hanya memiliki waktu kurang dari tiga puluh menit saat acara sambutan ibumu dimulai untuk mengunduh data di paviliun barat. Satu kesalahan kecil saja... dan kita akan menghadapi kemarahan Ibu Besar."
"Tenang saja, Partner. Semuanya akan berjalan dengan sangat sempurna," jawab Khatyr dengan senyum percaya dirinya yang menawan saat mobil mereka perlahan memasuki gerbang besi berukir raksasa menuju halaman kediaman utama keluarga Fatih yang sangat megah dan diterangi ratusan lampu taman yang indah.