Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Rencana Licik Heru
Heru terkekeh sinis, dingin yang menusuk. “Kamu bilang kamu tidak ingat? Kamu pikir alasan mabuk bisa membebaskanmu dari tanggung jawab?”
“Tapi aku memang tidak ingat, Ayah!” selak Bagas histeris. Ia melangkah mendekati ayahnya dengan raut memohon. “Aku terbangun di kamar hotel itu sendirian. Aku cuma melihat ada noda darah di sprei ranjang hotel. Mawar bilang aku sudah merenggut keperawanannya dan dia mengancam akan membongkarnya ke media kalau aku tidak memberinya uang! Aku takut nama baik keluarga kita hancur, makanya aku turuti kemauannya!”
“Lalu sekarang dia hamil?” potong Heru tegas. “Noda darah itu, fakta bahwa kamu terbangun di kamar yang sama dengannya, dan sekarang dia membawa bukti kehamilan dari dokter! Mau kamu ingat atau tidak, bukti-bukti itu menunjuk ke satu arah: kamu pelakunya!”
“Tapi, Yah, bagaimana kalau janin itu bukan anakku?” bisik Bagas, mencoba mencari celah untuk menyelamatkan diri dari takdir menderanya. “Bagaimana kalau dia cuma mau menjebakku demi uang?”
“Aku mendengar … dia mengatakan kalau Dokter bilang rahimnya tipis. Dan dia tidak bisa melakukan aborsi. Berarti dia ada rencana mau aborsi kan? Dia sama sepertimu … tak mau anak itu. Apa menurutmu kalau hanya karena uang … Mawar mau modal nekat begitu? Kalau itu bukan anakmu … kenapa dia seperti yakin begitu?”
Heru memaksa Bagas menatap lurus ke dalam matanya. “Ingat posisi, Bagas! Keluarga Utama memiliki nama baik di publik! Jika perempuan itu nekat datang ke wartawan dan membuat skandal bahwa calon pewaris Utama Group menghamilinya lalu kabur, habislah kita!”
“Lalu aku harus bagaimana, Yah?” tangis Bagas akhirnya pecah. Pria muda yang biasa tampil penuh percaya diri itu kini tersungkur, merosot duduk di sofa dengan bahu berguncang. “Aku harus bagaimana? Aku tidak mencintai Mawar! Aku bahkan jijik membayangkan, bercinta dengan gadis miskin.”
“Mau bagaimana lagi, kamu tetap harus tanggung-jawab!” putus Heru tanpa ragu. “Kamu harus menikahi Mawar. Ayah tidak akan membiarkan ada anak haram keluarga Utama berkeliaran di luar sana, apalagi sampai menjadi santapan media. Ingat Bagas, Ayah sudah pernah melakukan kesalahan. Ayah nggak mau, anak Ayah, melakukan kesalahan yang sama. Membuang cinta, hanya karena wanita itu tidak sepadan.”
“Tapi aku benar-benar tidak mencintainya, Yah!” Bagas mendongak, matanya melebar penuh horor. “Yah, tolong! Jangan paksa aku menikahi dia! Dari pada dengan Mawar. Bagas lebih menyukai sepupunya. Melati, pacar Bram. Walau dia buta.”
“Astaga, kau ini bodoh dan tolol. Mawar yang tidak cacat, tak mau kau nikahi. Padahal jelas dia mengandung dan mengaku itu anakmu. Kau malah memilih si buta, yang jelas sudah milik Bram. Dasar! Ayah nggak setuju itu, bukan hanya karena miskin. Tapi juga karena gadis itu cacat!”
Bagas diam sejenak. Memikirkan kebenaran ucapan ayahnya. Tak lama ia kembali bercicit, “Mama,” suaranya rapuh. “Bagaimana dengan Mama?”
Heru terdiam sejenak. Raut wajahnya yang keras sedikit berubah tegang mendengar istrinya disebut. Risma adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi kesetaraan.
“Mama tidak akan pernah menerima ini, Yah,” lanjut Bagas dengan napas memburu, menatap Heru penuh kepanikan yang teramat sangat. “Ayah tahu sendiri kan, bagaimana sifat Mama! Mama sangat membenci orang miskin, apalagi kalau tahu calon menantunya adalah bekas staf salah satu perusahaan kita. Mama bisa membenciku seumur hidup!”
Heru mendesah berat, mengusap wajahnya yang kian menua. Ia berjalan membelakangi Bagas, mengaburkan pandangannya ke luar jendela ruang kerja. “Mamamu memang keras. Dia sudah menyiapkan kriteria tinggi untuk calon istrimu sejak kamu masih kecil.”
“Makanya, Yah! Tolong aku!” Bagas bangkit dari sofa, berlutut di dekat ayahnya, menanggalkan seluruh harga dirinya. “Aku tahu aku salah, aku tahu aku bodoh! Tapi aku mohon, bantu aku menghadapi Mama. Kalau aku sendiri yang bicara pada Mama, Mama pasti langsung menolak dan mengusirku!”
“Ayah tidak bisa menghapus dosamu, Bagas,” ucap Heru dengan nada yang mulai melunak.
“Lalu kita harus bilang apa, Yah?” desak Bagas cepat.
“Kita harus mengemas cerita ini seolah-olah kamu dan Mawar memang berhubungan diam-diam,” jelas Heru, matanya memicing menyusun taktik licik. “Kita katakan bahwa Mawar adalah wanita dari keluarga kaya.”
Bagas menelan ludah pahit. “Apakah Mama akan langsung percaya? Apa Mama tidak akan menguliti latar belakang Mawar?"
“Aku mendengar … Mawar baru saja membeli rumah di Cluster Permata dan akan membuka bisnis.” Heru mengingat laporan singkat dari orang-orangnya. “Kita manfaatkan itu. Kita poles citra keluarga Mawar seolah mereka adalah pengusaha yang sedang naik daun, bukan keluarga miskin kampung. Dengan begitu, gengsi Mamamu tidak akan terlalu terinjak-injak di hadapan teman-teman sosialitanya.”
“Tapi bagaimana kalau Mama tidak mendapati nama Mawar dan ibunya, di lingkup sosialitanya?” tanya Bagas, hatinya masih dipenuhi kecemasan yang mencekik.
“Mamamu, tidak pernah tahu urusan perusahaan. Apalagi sampai tahu nama karyawan. Sementara kita atur pernikahan dulu. Setelah bayi itu lahir, kalau kau masih tidak mencintai Mawar. Tinggal ceraikan saja. That’s simple!” Heru mengibaskan tangan, santai.
“Terima kasih, Yah.” Bagas menyeringai licik. Mendengar keputusan final sang ayah.
----
“Jadi ini rumah baru Mawar?” Bagas menunjuk ke arah bangunan dua lantai di kawasan Cluster Permata.
Heru mematikan mesin mobil mewahnya dengan tenang, menyapu pandangan ke sekeliling halaman rumah yang tampak baru.
“Tenangkan dirimu, Gas. Kita ke sini untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menyulut api baru.”
Keduanya turun dari mobil dan melangkah menuju teras. Sebelum Heru sempat menekan bel pagar. Mawar sudah lebih dulu membukanya.
Gadis itu berdiri dengan gaun santai yang mewah. Menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme.
“Wah, tamu agung akhirnya datang juga,” sapanya, dengan nada yang terdengar manis meski menusuk. “Silakan masuk, mantan atasan dan … Bagas.”
“Cih.” Bagas mencebik, mengepalkan tangan hampir emosi. Meski demikian, ia tetap berjalan. Mengikuti langkah kaki sang ayah. Masuk ke ruang lebih dalam.
Mawar mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu, yang masih beraroma cat baru. Bagas bersedekap, menatap Mawar dengan pancaran kebencian yang tak lagi ditutupi.
“Langsung ke intinya saja,” sergah Bagas, suaranya terdengar dingin dan tajam. “Kami ke sini untuk membicarakan satu hal. Tentang skenario dari Ayah sebelum, aku mempertemukanmu dengan Mama.”
Heru memajukan badan sedikit, berusaha menjaga intonasi suaranya tetap tenang dan terkontrol. “Mawar, saya dan Bagas sepakat bahwa kehamilan ini harus dipertanggung-jawabkan demi nama baik keluarga. Tapi kamu tahu sendiri, istri saya, Risma. Bukan orang yang mudah menerima orang dari golongan bawah.”
Mawar tersenyum getir. Menahan diri untuk tidak mengumpat. “Lalu? Apa rencana Bapak?” tanyanya, “seperti yang Bapak lihat?” Ia merentangkan tangan. Seakan menunjukkan isi rumahnya. “Mawar bukan lagi staff rendah! Mawar sudah jadi kaya raya!"
Heru menghela napas panjang. “Ya aku tahu kamu sudah jadi kaya, karena hasil memeras. Tapi … tetap saja. Kalau Risma tahu kau aslinya miskin. Dia tidak akan setuju Bagas menikahimu.”
Kalimat bernada sindiran itu, membuat Mawar mengatupkan rahang. Namun memilih diam, demi mendapat orang yang dia inginkan.
“Kita akan bilang pada Risma kalau kamu dan Bagas sudah berhubungan serius secara diam-diam,” lanjut Heru runtut. “Kami akan mengenalkan keluargamu sebagai pengusaha yang sedang berkembang, bukan orang miskin. Dengan begitu, Risma tidak akan terlalu menolak keberadaanmu.”