Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Ling Cun
Di Kota Jiang, para kultivator dan rakyat biasa hidup berdampingan dengan damai. Hal ini tidak terjadi begitu saja, melainkan karena peraturan ketat yang ditetapkan oleh penguasa kota. Pemimpin Kota Jiang melarang keras setiap orang menyakiti atau menindas rakyat biasa tanpa alasan yang jelas. Siapa pun yang melanggar peraturan ini, tidak peduli seberapa tinggi kedudukan atau kekuatannya, akan dihukum seberat-beratnya.
Pemimpin kota itu bernama Ling Cun, berasal dari sebuah klan kelas dua yang cukup disegani di wilayah ini. Sebagai pejabat yang memegang kendali penuh atas Kota Jiang, ia mendapatkan penghormatan yang sangat tinggi dari seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya karena tingkat kultivasinya yang sudah mencapai tingkatan Panglima—salah satu tingkatan yang sangat sulit dicapai oleh kebanyakan orang—tetapi lebih karena sikapnya yang adil, bijaksana, dan selalu melindungi hak-hak rakyat biasa.
Di dunia ini, tingkatan kekuatan diakui secara berurutan: Pemula, Prajurit, Perwira, Jenderal, hingga puncaknya di tingkat Panglima. Sejak Ling Cun menjabat sebagai pemimpin, keamanan dan ketertiban kota terjaga sempurna, sehingga ia diidolakan oleh rakyat biasa maupun para kultivator yang menghargai keadilan.
Sementara itu, Riu Han dan Lin Yin berjalan beriringan menikmati keramaian kota. Mereka berhenti di berbagai tempat, melihat-lihat barang dagangan, dan sesekali membeli makanan ringan. Sebagai seorang gadis kecil, Lin Yin tentu saja paling tertarik pada benda-benda yang berwarna-warni, berkilau, dan terlihat indah, sehingga ia sering menarik lengan Riu Han untuk menunjukkan barang yang menarik perhatiannya.
Setelah cukup lama berkeliling, mereka tiba di kantor tempat ayah Riu Han bekerja. Namun, setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada kegiatan yang bisa diikuti, Riu Han mulai merasa bosan. Ia pun memberanikan diri meminta izin kepada ayahnya untuk berjalan-jalan sendirian melihat lebih banyak sudut kota.
Awalnya, Riu Zheng ingin melarangnya. Ia khawatir keamanan putranya, apalagi mengingat kondisi Riu Han yang selama ini dianggap lemah. Namun saat ia secara tidak sengaja mengamati aliran energi dalam tubuh anaknya, matanya terbelalak lebar seolah tidak percaya pada apa yang dirasakannya.
“Riu Han… ka… kamu…” suara Riu Zheng tercekat, matanya melotot tak mampu berkata-kata.
Riu Han hanya tersenyum tenang, mengerti betul keterkejutan yang dirasakan ayahnya.
“Hahaha… hahaha!” Tiba-tiba Riu Zheng tertawa terbahak-bahak, begitu keras hingga air matanya menetes membasahi pipinya. Ia menepuk pundak putranya dengan penuh rasa bangga. “Lihatlah! Siapa bilang anakku ini sampah? Siapa yang berani meremehkanmu selama ini?”
Ia menatap Riu Han dengan pandangan yang penuh kekaguman. “Riu Han, kamu benar-benar hebat!”
“Iya, Ayah. Aku tidak akan berhenti berusaha sampai bisa melindungi diriku sendiri dan orang-orang yang aku sayangi,” jawab Riu Han dengan nada tegas.
“Ayah tahu itu. Bagaimana mungkin putraku adalah orang yang tidak berguna?” kata Riu Zheng sambil mengangguk mantap. “Baiklah, ayah izinkan kamu berjalan sendirian. Tapi ingat, tetaplah berhati-hati dan jangan mencari masalah dengan siapa pun.”
“Siap, Ayah!” jawab Riu Han dengan senyum lebar.
Setelah berpamitan, Riu Han melangkah keluar dan mulai menyusuri jalan-jalan lain yang belum sempat ia kunjungi. Suasana kota terasa semakin ramai, dan matanya terus mengamati segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan rasa ingin tahu yang besar.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia melewati sebuah gang yang agak sepi, tiba-tiba tiga orang anak laki-laki berusia sekitar delapan hingga sembilan tahun menghadang jalannya. Salah satu dari mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan lebih baik dan terlihat sombong.
“Hei! Bukankah itu anak dari keluarga Riu yang dianggap cacat itu?” seru salah satu dari mereka sambil menyeringai.
“Benar sekali! Itu dia ‘Tuan Muda’ yang tidak bisa berkultivasi sama sekali,” sahut temannya dengan nada mengejek.
Riu Han berhenti melangkah, menatap ketiga anak itu dengan tatapan datar. Tanpa menampakkan emosi berlebih, ia berkata singkat: “Menyingkir.”
Mendengar perintah itu, ketiga anak itu tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang terdengar menghina.
“Apa?! Dasar anak sampah, berani-beraninya kau mengusirku?” bentak anak yang terlihat sebagai pemimpin kelompok itu.
“Hahaha… hahaha!” Tiga anak itu tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia.
Anak yang paling depan itu adalah Mu Jun, putra dari salah satu cabang Klan Mu—satu dari empat klan besar yang memiliki pengaruh paling kuat di seluruh wilayah Kota Jiang dan sekitarnya. Karena latar belakang keluarganya yang kuat, ia selalu merasa dirinya lebih tinggi dan berhak meremehkan siapa pun yang dianggapnya lemah.
Mu Jun melangkah mendekat, menatap Riu Han dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. “Kau dengar baik-baik, bocah. Di kota ini, nama Klan Mu adalah yang paling dihormati. Sedangkan kau? Hanya anak yang tidak berguna, bahkan tidak pantas berdiri sejajar dengan kami. Menyingkir dan jangan menghalangi jalan kami!”
Riu Han sebenarnya malas meladeni omongan kosong dan ejekan mereka. Namun, hatinya tidak bisa menerima terus dihina seperti itu. Selama kondisinya masih dianggap tidak memiliki kemampuan kultivasi, ia sudah terbiasa mendengar kata-kata merendahkan. Meskipun saat itu ia tidak takut untuk berkelahi secara fisik, kini kondisinya jauh berbeda. Berada di Tingkat Sembilan Pemula, ia memiliki keyakinan penuh atas kekuatannya sendiri.
“Menyingkirlah!” ucap Riu Han dengan nada tegas dan dingin, tanpa sedikit pun rasa takut.
“Mu Jun, aku tidak ingin mencari keributan. Tapi jika kau memaksaku, aku tidak akan segan-segan bertindak,” tambahnya lagi.
Mendengar ancaman itu, Mu Jun malah tertawa terbahak-bahak seolah mendengar lelucon paling konyol.
“Hahaha! Aku ingin melihat apa yang bisa kau lakukan!” serunya sambil menyeringai. “Kultivasimu paling tinggi pun hanya tingkat awal pemula, bukan? Inilah yang membuat semuanya terasa lucu!”
Ia pun melangkah maju semakin dekat, dadanya dibusungkan dengan angkuh. “Ayo, tunjukkan kemampuanmu! Apa yang bisa kau lakukan jika aku tidak mau menyingkir?”
Riu Han hanya menatapnya dengan pandangan datar. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia melangkah cepat dan melontarkan satu kepalan tangan yang sederhana namun terarah tepat ke wajah Mu Jun.
BUK! DUAR!
Suara benturan itu terdengar jelas. Tanpa sempat berteriak atau menghindar, tubuh Mu Jun terpental mundur beberapa meter, lalu terjatuh ke tanah dan langsung pingsan seketika, dengan hidung yang segera mengeluarkan darah dan wajah yang mulai memar.
Kedua temannya tertegun membeku, wajah mereka memucat ketakutan.
“Ka… kau… kau berani memukul Tuan Muda Mu Jun?” teriak salah satu dari mereka dengan suara bergetar.
“Tidak,” jawab Riu Han singkat dan tenang.
“Apa?! Jelas-jelas kau yang memukulnya!” bantah anak itu dengan nada tidak percaya.
“Maksudku, bukan hanya memukul Mu Jun saja,” lanjut Riu Han perlahan, sorot matanya menjadi lebih tajam. “Tapi aku juga akan memukul kalian berdua jika masih berdiri menghalangi jalanku.”
Belum sempat mereka berteriak meminta tolong, Riu Han melangkah maju dengan gerakan yang terasa sangat ringan namun cepat. Dua kali ayunan tangan ringan terayun—BUK! PAK!—dan kedua anak itu langsung terjatuh ke tanah, mengerang kesakitan tanpa mampu bangkit kembali.
Setelah memastikan jalan sudah kosong, Riu Han berbalik dan melanjutkan perjalanannya dengan tenang. Sambil berjalan, pikirannya terus merenung.
“Mu Jun itu berada di Tingkat Satu Pemula, dan kedua temannya juga berada di tingkat yang sama. Tapi mengapa aku bisa menjatuhkan mereka hanya dengan satu kali pukulan saja? Apakah ini manfaat dari kepadatan energi yang aku miliki? Atau justru karena tubuhku sudah ditempa oleh Sumber Air Inti Bumi sehingga jauh lebih kuat dibandingkan orang lain di tingkat yang sama?”
Ia menggelengkan kepala, memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam untuk saat ini. Ia terus berjalan sambil menatap ke kiri dan kanan, berharap menemukan barang atau benda yang menarik perhatiannya di tengah keramaian kota.
Namun, suasana damai itu tidak bertahan lama. Di tempat lain, di kediaman cabang Klan Mu, terdengar suara benturan keras yang mengguncang ruangan.
BUK! DUAR!
Sebuah meja kayu yang kokoh hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan tangan yang penuh amarah. Sosok yang melakukannya adalah Mu Jing, ayah dari Mu Jun. Wajahnya memerah menahan marah setelah mendengar kabar bahwa putra kesayangannya dipukuli hingga pingsan di jalanan kota.
Sebagai anggota dari salah satu klan terbesar di wilayah ini, meskipun ia bukan calon penerus utama klan, tetap saja kehormatan dan nama baik keluarga tidak bisa dianggap remeh oleh siapa pun.
“Siapa yang berani melukai putraku?” bentak Mu Jing dengan suara menggelegar yang membuat seluruh pelayan di ruangan itu gemetar ketakutan.
“Ti… tidak tahu, Tuan… anak itu pergi begitu saja setelah kejadian itu,” jawab salah satu penjaga dengan suara terbata-bata.
“Bawa dia ke sini! Segera!” perintah Mu Jing dengan nada dingin dan penuh ancaman.
Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan membawa masuk tubuh Mu Jun yang masih terbaring lemas, matanya terpejam rapat, hidungnya masih berdarah, dan bagian wajahnya sudah terlihat bengkak serta memar yang jelas terlihat. Melihat kondisi putranya yang mengenaskan itu, amarah di hati Mu Jing semakin meluap tanpa bisa dibendung lagi.
Lanjut Up Thor 💪💪