Jodoh itu rahasia Allah. Takdir juga Allah yang menentukan. Tidak ada siapapun makhluk di dunia ini yang tau selain Dia.
Alea Widya Laksono (35 tahun) dinyatakan telah sembuh usai tiga tahun menjadi pasien di rumah sakit jiwa. Di usianya yang semakin bertambah, kedua orang tuanya cemas karena jodoh tak kunjung datang untuk putri mereka.
Suatu hari Alea akhirnya pasrah untuk menerima perjodohan yang disodorkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang berasal dari kalangan militer. Lelaki itu bernama Mayor Prabu Rasyid Wicaksono (38 tahun) yang berstatus duda tanpa anak.
Konon kabarnya, pernikahan Mayor Prabu sebelumnya harus kandas karena masalah ranjang. Desas-desus beredar bahwa sang suami yang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) tersebut menderita impo_ten.
Apakah benar faktanya seperti itu? Benang merah seperti apa yang pada akhirnya mengikat takdir antara Mayor Prabu dengan Alea.
Simak kisah mereka.💋
Bagian dari Novel : Permata Hatiku🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Sore Itu
"Dia tanya tentang kebenaran pernikahanmu dengan Alea," ungkap Bunda Citra.
Prabu mendengarnya dengan seksama.
"Bunda ingin kamu menaruh waspada atas perubahan sikap Kinan tadi yang udah lama gak bersua dengan kita. Semoga kepulangan Kinan ke Indo tak ada hubungannya dengan pernikahanmu bersama Alea saat ini,"
Prabu hanya mampu terdiam. Dalam hatinya, Prabu berdoa semoga Kinan segera menemukan jodoh yang sesungguhnya. Prabu juga ingin mantan istrinya itu bisa bahagia dengan pasangan barunya karena ia memahami betul kekecewaan Kinan di masa lalu terhadapnya.
Setelah berbincang banyak hal dengan Bunda Citra, Prabu pun berpamitan karena hendak berdinas.
Seharian ini pikiran Prabu sedikit terusik. Ia tetap bekerja secara profesional sebagai komandan batalyon. Namun, kepingan masa lalu mendadak mencubit hatinya kala mengingat teriakan Alea semalam.
Menjelang sore, Prabu telah selesai berdinas. Ia memutuskan untuk pulang.
Hari ini Pak Cahyo, sopir pribadinya, tak mengantar dia pulang karena mendadak istri Pak Cahyo mengeluh sakit. Prabu mengizinkan Pak Cahyo pulang dan izin beberapa hari jika memang perlu untuk merawat istrinya tersebut.
Tadi siang Alea sempat mengirim pesan ke ponselnya agar Prabu tak lupa untuk makan. Alea juga meminta maaf karena hari ini terlambat bangun pagi. Prabu membalasnya dengan singkat bahwa intinya 'it's oke'.
Saat perjalanan pulang, tiba-tiba pandangan kedua matanya menatap plang nama berukuran cukup besar yakni area pemakaman Tanah Kusir-Jakarta.
Prabu seketika menghentikan laju mobilnya. Ia menarik nafasnya sejenak dan memejamkan kedua matanya.
Tak lama, ia membuka kedua matanya kembali dan memutuskan untuk menepikan mobilnya di area parkiran pemakaman tersebut.
Prabu keluar dari mobil mengenakan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dan jaket yang menutupi seragam dinasnya. Prabu berjalan dengan penuh keyakinan untuk masuk ke area pemakaman.
Lalu, ekor matanya melihat penjual bunga di dekat pintu masuk. Prabu pun akhirnya membeli seikat bunga mawar merah yang dijadikan buket cantik dan sebotol air.
Kini, langkah kaki Prabu telah berdiri di dekat sebuah makam dengan nama yang tertera di batu nisan tersebut yakni Amelia.
Perlahan Prabu berjong_kok. Lalu, ia menyiram makam Amelia dengan sebotol air yang dibelinya tadi dan meletakkan bunga mawar tersebut.
"Maaf, aku lama tak mengunjungimu. Semoga kamu gak marah. Aku juga ingin minta maaf. Sepertinya ini terakhir kali aku datang ke sini. Aku sekarang sudah menikah," ucap Prabu.
Hening tercipta beberapa saat. Bila diingat kembali, Prabu terakhir kali mengunjungi makam Amelia tersebut yakni sekitar setahun yang lalu.
Dulu, ia sering bertandang minimal sebulan sekali bila ia masih dinas di Jawa. Akan tetapi bila ia berdinas berbulan-bulan di luar Jawa, Prabu akan datang ke makam Amelia bersamaan dengan kunjungan dirinya ke rumah orang tuanya di Jakarta.
"Nama istriku huruf depannya sama denganmu. Kamu Amelia, dia-Alea. Nama kalian berdua hampir serupa," ucap Prabu seraya tersenyum tipis. "Tapi anehnya, perasaan itu kenapa bisa sama?" sambungnya.
Hari itu Prabu yang dikenal banyak orang di luaran sana sebagai komandan yang tegas, dingin, irit bicara, jarang senyum dengan julukan kulkas dua belas pintu, tetapi sore itu di depan sebuah makam wanita bernama Amelia, sosok Prabu tampak berbeda. Ia banyak bicara di depan makam tersebut. Bahkan ekor matanya sempat meneteskan air mata. Walaupun dengan cepat ia menyekanya.
"Semoga kali ini kamu bisa memaafkanku atas dosaku di masa lalu," ucap Prabu sejenak menjeda kalimatnya.
"Aku ingin membahagiakan istriku-Alea. Aku tak ingin pernikahanku yang sekarang ini kembali gagal. Aku mohon ikhlasmu. Aku akan selalu mendoakan agar kamu juga bahagia dan tenang di atas sana," imbuhnya.
Sore itu bukan hanya sekadar sore yang biasa untuk Mayor Prabu Rasyid Wicaksono. Selama beberapa tahun, ia hidup dalam kubangan rasa bersalah mendalam hingga penyesalan. Semua terpendam rapat dan rapi.
Bahkan Kinan pun tak pernah tau kegiatan rutinnya tersebut ke makam wanita yang batu nisannya tertulis Amelia tadi.
☘️☘️
Pukul tujuh malam, Prabu masih belum tampak batang hidungnya. Alea dengan sabar menanti di depan teras.
Sejak tadi kedua matanya menatap jalanan depan rumahnya. Seakan berusaha mencari langkah Prabu yang pulang, siapa tau suaminya itu sudah dekat.
Bahkan ekor mata Alea sempat melirik ke parkiran mobil yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Biasanya mobil pribadi maupun kedinasan akan diparkir di sana agar tidak mengganggu lalu-lalang depan rumah. Kalau sepeda atau sepeda motor akan diparkir di lahan rumah dinas masing-masing.
Saat menunggu Prabu pulang, justru Alea harus bertemu Bu Ratu (si bendahara) yang berjalan bersama anaknya yang masih duduk di bangku TK.
"Malam Bu Ratu," sapa Alea ramah.
"Malam juga Bu komandan,"
"Habis belanja ya Bu?" tanya Alea sekadar basa-basi layaknya bertemu teman.
Walaupun tanpa bertanya, Alea sebenarnya sudah tau jika Bu Ratu dan anaknya tersebut selesai belanja karena terlihat membawa beberapa tentengan tas ramah lingkungan yang berlogo minimarket IndoApril.
"Iya, Bu Komandan. Anakku minta jajan bulanan. Ya sudah namanya juga nyenengin anak. Sok lah belanja ke IndoApril depan komplek,"
"Anaknya namanya siapa Bu?" tanya Alea seraya mengelus lembut lengan bocah laki-laki tersebut.
"Namanya-Marvel,"
"Nama yang bagus seperti anaknya tampan, Bu."
"Iya dong, Bu. Bibit be_bet bobot papa-mama nya jelas jadi keturunannya dijamin oke," balas Bu Ratu sengaja mencibir Alea.
Alea yang mendengar kalimat dari Bu Ratu seketika mengerti. Alea tersenyum menatap Marvel yang mulutnya bele_potan karena sedang makan es krim.
Alea mengambil selembar tisu yang tersedia di meja teras rumahnya. Lalu ia membantu membersihkan area mulut bocah bernama Marvel tersebut. Kebetulan Alea menyukai anak kecil, karena ia punya keponakan yang lucu-lucu dari pernikahan Langit dan Nanda.
"Bu komandan buruan isi biar bisa punya anak sendiri. Minta sama Tuhan anak yang tampan dan lucu seperti anak saya ini," ucap Bu Ratu dengan ciri khas dagu terangkat dan nada suara yang jelas terdengar kepongahan nya.
Alea hanya mendengar tanpa mengambil hati ucapan Bu Ratu tersebut.
Tiba-tiba tanpa disadari keduanya, ada langkah perlahan yang begitu senyap datang mendekati.
"Ehem..."
Alea dan Bu Ratu seketika menoleh ke arah sumber suara.
Prabu pulang.
Alea cukup terkejut. Namun detik selanjutnya, ia tersenyum bahagia karena melihat suaminya yang sejak tadi ditunggu akhirnya pulang.
Sedangkan Bu Ratu mendadak berkeringat dingin karena tatapan Prabu terlihat tajam seakan-akan hendak mero_bek mulutnya.
Marvel masih asyik dengan es krimnya.
"Komandan tadi denger gak ya omonganku ke istrinya?" batin Bu Ratu mendadak cemas.
"Mas," sapa Alea seraya melangkah ke arah Prabu berdiri.
Pandangan Prabu kini beralih menatap lembut wajah Alea. Bahkan di wajah Prabu terlihat senyum manis yang hanya ditujukan untuk Alea. Prabu mengulurkan telapak tangannya yang disambut manis oleh Alea untuk dicium penuh takzim di depan Bu Ratu.
"Ada Bu Yoyok di sini," sapa Prabu datar dan dingin. Namun anehnya, ia tak lagi menatap Bu Ratu. Prabu bicara pada Bu Ratu tapi yang ditatap dan dipandang yakni wajah lembut Alea.
Hal ini membuat Bu Ratu-istri dari Lettu Yoyok tersebut sedikit dong_kol. Adegan tersebut menyiratkan gambaran sebuah perhatian dan rasa cinta mendalam seorang suami pada istrinya.
"Eh, i_ya komandan. Maaf, tadi istri komandan nyapa saya duluan. Gak enak kalau saya gak mampir sebentar ke bu komandan," jawab Bu Ratu sedikit terbata, namun ia berhasil tersenyum manis sambil mengusir kegugupan di dalam dirinya sendiri saat berbicara dengan Prabu.
"Apa Bu Yoyok masih ada urusan lain dengan istriku?" tanya Prabu dengan nada suara terdengar dingin dan penuh inti_midasi.
"Kalau tidak ada urusan lagi, silahkan pulang. Karena saya mau ada urusan mendesak di dalam kamar dengan Bu komandan," sambungnya.
SKAKMAT !!
Bersambung...
🍁🍁🍁