Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Habiskan ya, Nak. Mbok masaknya sengaja agak banyak, padahal yang makan cuma Mbok sendiri di rumah ini.”
Suara itu terdengar hangat, pelan, seperti menenangkan tanpa perlu banyak kata. Mbok itu tersenyum tipis sambil merapikan piring di depannya.
Hangat. Enak. Namun di balik itu ada sesuatu yang seperti mengganjal di tenggorokannya.
Setiap suapan terasa berat, seolah bukan hanya nasi yang masuk, tapi juga beban yang ikut turun perlahan. Padahal tubuhnya jelas butuh tenaga, perutnya sudah lama kosong.
Alya tetap tersenyum kecil, tapi senyum itu samar tidak benar-benar sampai ke matanya.
Dalam diam, pikirannya mulai kembali berisik, seperti ombak yang tak mau tenang.
Apa aku harus cerita ke Mbok Lia?
Pertanyaan itu muncul pelan, lalu menetap lebih lama dari yang ia inginkan.
Apa aku harus bilang apa yang terjadi semalam?
Alya menatap wajah tua itu sekilas. Ada kehangatan di sana kasih sayang yang tulus, yang selama ini ia rasakan seperti rumah. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang membuat dadanya sesak keraguan yang tak bisa ia lepaskan begitu saja.
Bagaimana kalau Mbok Lia merasa aku menjijikkan?
Bagaimana kalau beliau marah? Atau justru menyalahkanku?
Pikiran itu berputar tanpa henti, menekan hatinya perlahan.
Alya akhirnya menunduk. Tangannya kembali bergerak, menyendok nasi dan membawanya ke mulut tanpa suara. Ia makan, tapi pikirannya jauh terjebak di tempat yang tak bisa ia ceritakan dengan mudah.
Mbok Lia memperhatikannya sekilas, lalu menghadiahkan senyum kecil tanpa melontarkan satu pertanyaan pun. Seolah wanita tua itu mengerti bahwa tidak semua kesedihan bisa langsung diungkapkan. Ada luka-luka yang membutuhkan waktu sebelum sanggup diterjemahkan menjadi kata-kata.
Keheningan menyelimuti ruangan sederhana itu. Yang terdengar hanyalah bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring, menciptakan irama pelan yang menenangkan.
Namun, berbeda dengan suasana di sekelilingnya, hati Alya masih bergolak. Di dalam dadanya, kegelisahan itu terus berputar diam-diam, seperti badai kecil yang bersembunyi di balik langit cerah, menunggu saat yang tepat untuk pecah dan meluap.
Di tengah aroma nasi hangat dan sayur bening yang masih mengepul, Mbok Lia akhirnya membuka percakapan. Suaranya lembut, nyaris menyatu dengan suasana tenang di ruangan itu.
“Setelah ini kamu tetap mau berangkat kerja, Nduk?” tanyanya hati-hati, tanpa nada menghakimi ataupun memaksa. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang lahir dari rasa peduli.
Alya menelan suapan yang ada di mulutnya lebih dulu sebelum menjawab. Ia mengangkat pandangan sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Iya, Mbok,” jawabnya lirih. “Kalau aku cuma diam di rumah, terus dapat uang dari mana? Kebutuhan tetap jalan setiap hari.”
Mbok Lia mengembuskan napas perlahan. Pandangannya kemudian jatuh pada gadis yang duduk di hadapannya. Sorot matanya lembut, dipenuhi rasa sayang sekaligus keprihatinan yang sulit disembunyikan.
Sesaat ia hanya diam, memperhatikan wajah Alya yang tampak lelah. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya.
Kerutan halus di wajah tuanya seakan menyimpan kegelisahan. Hatinya terasa berat melihat gadis itu terus berjuang sendirian, memikul beban yang seharusnya tidak perlu ditanggung seorang diri. Namun Mbok Lia tahu, terkadang kepedulian tidak selalu harus diungkapkan lewat nasihat panjang. Kadang cukup dengan menemani dan memberi ruang bagi seseorang untuk bertahan dengan caranya sendiri.
“Iya, Mbok paham, Nduk,” ucap Mbok Lia pelan. Wanita tua itu menundukkan pandangannya sejenak sebelum melanjutkan, “Maafkan Mbok, ya. Sampai sekarang Mbok belum bisa banyak membantu keadaanmu.”
Mendengar itu, Alya segera menggeleng kecil. Senyum tipis terukir di bibirnya, berusaha meyakinkan bahwa ia tidak keberatan. Namun, ada rasa hangat sekaligus sesak yang menyelinap di dadanya.
“Mbok nggak perlu minta maaf,” katanya lembut. “Apa yang Mbok lakukan selama ini sudah lebih dari cukup buatku.”
Ia menatap wanita tua itu dengan penuh rasa terima kasih.
“Bisa makan bareng seperti ini, punya tempat untuk pulang dan berbagi cerita, itu saja sudah sangat berarti.” Alya menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih banyak, Mbok.”
“Kalau begitu, lanjutkan makannya, Nduk,” ujar Mbok Lia sambil tersenyum lembut. “Jangan sampai ada yang tersisa. Kamu perlu tenaga untuk menjalani hari ini.”
Setelah makan selesai, Alya segera membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur. Belum sempat ia menyalakan keran, suara Mbok Lia sudah terdengar dari belakang.
“Sudah, tidak usah repot-repot. Biar Mbok yang urus,” katanya sambil mendekat. “Kamu istirahat saja sebentar.”
“Tidak usah khawatir, Mbok,” kata Alya sambil tersenyum. “Biar aku yang kerjakan. Aku malah senang kalau bisa bantu sedikit.”
Setelah itu, ia melangkah keluar dari rumah kecil tersebut. Angin siang menyentuh wajahnya saat ia berjalan menuju gubuknya, bersiap mengambil karung dan alat-alat yang biasa menemaninya mencari nafkah setiap hari. Meski pikirannya masih dipenuhi banyak hal, langkahnya tetap mantap, seolah ia telah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan seorang diri.
Alya baru saja hendak melangkah meninggalkan halaman ketika suara Mbok Lia memanggilnya dari belakang.
“Eh, Nduk... sebentar dulu!” seru wanita tua itu.
Belum sempat Alya bertanya lebih jauh, Mbok Lia sudah berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Langkahnya yang tergesa membuat Alya mengernyit penasaran.
Tak lama kemudian, Mbok Lia kembali keluar sambil membawa sebuah kantong berisi beberapa pakaian yang terlipat rapi.
“Nah, ini buat kamu, Nduk,” katanya seraya menyodorkan kantong itu. “Mbok punya beberapa baju yang masih layak dipakai. Siapa tahu cocok buatmu.”
Alya berkedip bingung. “Buat aku, Mbok?”
“Iya.” Mbok Lia tersenyum hangat. “Baru saja Mbok ingat. Bukannya pakaianmu kemarin sempat rusak? Daripada disimpan di lemari, lebih baik ada yang memakainya.”
Mata Alya langsung membesar. Ia menerima kantong itu dengan kedua tangan, seolah takut menjatuhkannya.
“Ya ampun, Mbok... terima kasih banyak,” ucapnya dengan suara yang dipenuhi rasa syukur. “Alya benar-benar senang. Sudah lama rasanya nggak punya baju yang masih bagus untuk dipakai.”
"Nanti kamu lihat saja satu per satu. Siapa tahu ada yang pas dan masih nyaman dipakai. Jadi kalau keluar rumah, kamu tidak perlu kedinginan lagi," ujar Mbok Lia lembut sambil mengusap bahu Alya dengan penuh perhatian.
Dengan perasaan yang jauh lebih hangat dibanding sebelumnya, Alya berpamitan lalu melangkah meninggalkan rumah Mbok Lia. Karung lusuh kembali bertengger di pundaknya, menemani langkahnya menyusuri gang-gang sempit menuju jalanan kota.
Seperti biasa, ia akan mencari nafkah dari barang-barang yang dianggap tak berguna oleh orang lain. Namun kali ini, hatinya tidak terasa seberat kemarin. Kebaikan sederhana yang ia terima membuat dadanya dipenuhi rasa syukur yang tulus.
Meski bayangan kejadian semalam masih membekas jelas dalam ingatannya dan meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih, Alya berusaha tetap melangkah maju. Setidaknya hari ini, ia tahu bahwa di tengah kerasnya hidup, masih ada tangan-tangan baik yang bersedia mengulurkan kepedulian.
*****
Di belahan kota yang lain, sebuah sedan mewah meluncur mulus membelah keramaian pagi yang mulai padat. Suara kendaraan dan aktivitas masyarakat memenuhi jalanan, namun suasana di dalam mobil itu tetap hening.
Di kursi belakang duduk seorang pria berwibawa dengan penampilan yang nyaris sempurna. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa cela, sementara dasi yang melingkar di lehernya terpasang presisi. Rambutnya tersisir rapi, menambah kesan tegas pada wajah tampannya.
Namun di balik penampilan yang begitu teratur, sorot matanya terlihat jauh. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung dan lalu lalang kendaraan yang berlalu begitu saja. Pandangannya kosong, seolah pikirannya sedang mengembara ke tempat lain, tenggelam dalam sesuatu yang tidak mampu dijangkau oleh siapa pun di sekitarnya.
Pria itu adalah Rayan Elvano Wirajaya, seorang pengusaha muda berusia dua puluh delapan tahun yang dikenal luas karena kecerdasan dan kharismanya. Di usianya yang masih relatif muda, ia telah memimpin perusahaan keluarga sebagai CEO dan berhasil membawa bisnis tersebut semakin berkembang.
Rayan merupakan putra sulung keluarga Wirajaya, sebuah keluarga terpandang yang memiliki pengaruh besar di Semarang. Nama Wirajaya bukan sekadar nama keluarga, melainkan telah menjadi lambang keberhasilan, kekuatan, dan kemewahan yang dikenal oleh banyak kalangan. Kehidupan mereka selalu identik dengan prestise, kekayaan, dan posisi sosial yang sulit disaingi.
Kini, tampuk kepemimpinan Wirajaya Corp berada di tangan Rayan. Perusahaan besar yang dibangun dan diwariskan oleh ayahnya itu menjadi tanggung jawab yang harus ia emban sejak usia yang masih tergolong muda. Meski demikian, Rayan mampu menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pewaris nama besar keluarga.
Melalui kerja keras dan kemampuannya dalam mengambil keputusan, ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari para pemegang saham, mitra bisnis, hingga para karyawannya. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang tegas, cermat, dan memiliki wawasan yang luas dalam dunia usaha.
Di bawah naungan Wirajaya Corp, berdiri berbagai anak perusahaan yang tersebar di sejumlah wilayah, baik di dalam maupun luar kota. Jaringan bisnis yang luas itu menjadikan perusahaan tersebut sebagai salah satu kelompok usaha terbesar di daerahnya.
Kini usahanya mencakup beragam sektor strategis. Mulai dari pengembangan kawasan hunian premium dan properti eksklusif, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hingga layanan transportasi dan distribusi logistik yang menjangkau berbagai daerah. Tidak hanya itu, Wirajaya Corp juga memiliki investasi yang kuat di sektor industri makanan, serta jaringan ritel modern yang terus berkembang dan melayani ribuan pelanggan setiap hari.
Seperti biasanya, setiap pagi Rayan tiba di kantor pusat Wirajaya Corp yang menempati sebuah gedung tinggi milik keluarga mereka. Bangunan megah yang menjulang di tengah kota itu berdiri kokoh dengan dinding kaca berkilauan, menjadi lambang kejayaan dan pengaruh keluarga Wirajaya selama bertahun-tahun.
Namun, pagi kali ini terasa tidak sama.
Rayan tetap melangkah dengan sikap tenang dan penuh wibawa yang selama ini dikenal oleh para karyawannya. Penampilannya masih serapi biasanya, dan aura kepemimpinannya tetap kuat. Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya. Di balik wajah datar yang berusaha dipertahankan, tersimpan keresahan yang sulit ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
Beberapa staf yang berpapasan menyapanya dengan hormat. Rayan membalas sekadarnya dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang tidak benar-benar mencapai matanya. Ia tidak berhenti untuk berbincang seperti biasanya.
Tanpa membuang waktu, ia berjalan lurus menuju ruang kerja pribadinya di lantai teratas. Sesampainya di sana, ia segera masuk, lalu menutup pintu dengan rapat seolah ingin menjauh dari segala hiruk-pikuk dunia luar. Ruangan yang luas dan mewah itu mendadak terasa sunyi, menyisakan dirinya seorang diri bersama pikiran-pikiran yang sejak tadi memenuhi benaknya.
Pikirannya masih terus dibayangi oleh kejadian pada malam itu sebuah malam yang hingga kini belum mampu ia mengerti sepenuhnya. Malam yang datang tanpa peringatan dan mengacaukan kehidupan yang selama ini ia susun dengan rapi. Semua yang sebelumnya berjalan sesuai rencana seakan berubah sejak peristiwa tersebut terjadi.
Sosok perempuan misterius itu masih memenuhi sudut-sudut pikirannya. Wajah yang hanya muncul samar dalam ingatan tersebut terus berulang, seakan menolak untuk pergi meski ia telah berusaha mengabaikannya.
Di balik jendela kaca besar yang membentang di ruang kerjanya di lantai paling atas, Rayan duduk menghadapi setumpuk dokumen yang menunggu persetujuannya. Tangannya bergerak cekatan membubuhkan tanda tangan dan memeriksa laporan demi laporan. Dari luar, ia tampak fokus seperti biasanya tenang, tegas, dan sepenuhnya mengendalikan keadaan.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Meski matanya menelusuri setiap baris tulisan dengan teliti, pikirannya terus mengembara ke malam yang telah mengubah ketenangannya. Potongan-potongan kenangan yang kabur muncul silih berganti, tetapi tak pernah cukup jelas untuk memberinya jawaban. Semakin keras ia mencoba mengingat, semakin besar pula rasa frustrasi yang mengendap di dalam dirinya.
Tiba-tiba, keheningan di dalam ruangan itu terusik. Tanpa didahului ketukan atau pemberitahuan apa pun, pintu ruang kerja Rayan terbuka begitu saja.
Seorang wanita muda melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Penampilannya begitu rapi dan berkelas. Gaun yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut panjangnya terurai indah di atas bahu. Setiap langkahnya memancarkan pesona yang sulit diabaikan.
Aroma parfum mewah yang lembut segera menyebar ke seluruh ruangan, menggantikan udara dingin yang sebelumnya terasa kaku. Kehadirannya seolah membawa energi baru yang langsung menarik perhatian.
"Rayan..." panggil wanita itu lembut, disertai senyum yang sengaja dibuat menawan. Ia melangkah mendekat tanpa ragu, seolah ruangan itu adalah tempat yang sudah sangat akrab baginya.
Rayan menatap wanita itu beberapa saat sebelum akhirnya meletakkan penanya di atas meja.
"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk, Zahra?" tanyanya dengan nada tenang, tetapi jelas mengandung teguran.
Zahra hanya mengangkat bahu ringan. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, seolah tidak melihat ada masalah dengan tindakannya.
"Memangnya perlu?" balasnya santai. "Selama ini aku selalu masuk seperti itu, dan tidak pernah ada yang mempermasalahkannya."
"Dan ada satu hal lagi," ujar Rayan sambil menatap lurus ke arahnya. Nada suaranya tetap tenang, tetapi ketegasannya tak terbantahkan.
"Aku tidak suka dipanggil dengan sebutan seperti itu."
Zahra menyilangkan tangan di depan dada sambil menggeleng pelan.
"Kadang aku heran padamu, Rayan," katanya dengan senyum tipis. "Di hadapan banyak orang, kamu terlihat ramah dan menyenangkan. Tapi setiap kali hanya ada kita berdua, sikapmu berubah seperti orang yang berbeda."
Rayan menarik napas pelan lalu bangkit dari kursinya. Ia berdiri tegak di belakang meja kerja, menatap Zahra tanpa mengalihkan pandangan.
"Karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman." ujarnya tenang.
Zahra mengernyit. "Kesalahpahaman apa?"
Rayan melangkah beberapa langkah ke depan sebelum berhenti.
"Apa yang terlihat di luar hanyalah bagian dari kesepakatan yang sudah dibuat," katanya tegas.
"Hubungan yang kita tunjukkan kepada publik bukanlah hubungan yang sebenarnya."
Senyum di wajah Zahra perlahan memudar.
"Jadi selama ini itu yang kamu pikirkan?" tanyanya pelan.
"Aku hanya mengatakan kenyataannya." Tatapan Rayan tetap lurus. "Kedekatan kita dibangun karena kepentingan kedua keluarga. Itu membantu menjaga citra dan mempermudah kerja sama bisnis. Tidak lebih dari itu."
Zahra menatap Rayan dengan rahang yang mengeras. Kesabaran yang sejak tadi ia pertahankan perlahan mulai runtuh.
"Kalau memang semuanya hanya kesepakatan, bukan berarti kamu harus memperlakukanku seperti orang asing," balasnya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. "Setidaknya aku masih punya perasaan, Rayan."
Rayan menatap Zahra tanpa ragu. Wajahnya tetap tenang, tetapi nada suaranya terdengar tegas dan tak menyisakan ruang untuk disalahartikan.
"Aku sudah menjelaskan semuanya sejak awal," katanya. "Jangan mencampur urusan yang ada di luar dengan kehidupan pribadiku. Itu dua hal yang berbeda."
Ucapan itu menggantung di udara, membuat suasana ruangan terasa semakin berat.
Zahra terdiam. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, sementara tatapannya tetap tertuju pada pria di hadapannya. Ia berharap menemukan sedikit saja kehangatan atau keraguan di wajah Rayan, tetapi yang dilihatnya hanyalah ketegasan yang dingin.
Yang terlihat di wajah Rayan hanyalah ketegasan yang dingin dan sikap yang tak mudah digoyahkan. Tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan yang bisa dibaca dari sorot matanya. Bagi Zahra, kenyataan itu terasa pahit.
Ia sadar posisinya selama ini tidak lebih dari bagian dari sebuah kesepakatan yang menguntungkan kedua keluarga. Hanya sebuah peran yang harus dijalankan demi menjaga hubungan bisnis dan citra di hadapan publik. Namun jauh di dalam hatinya, ia diam-diam menyimpan harapan. Harapan bahwa suatu hari Rayan akan melihatnya sebagai sesuatu yang lebih berarti.
Sayangnya, harapan itu terus berbenturan dengan kenyataan.
Rayan bukan tipe pria yang membiarkan perasaan mengendalikan langkahnya. Ia terbiasa mengambil keputusan berdasarkan logika, bukan emosi. Terlebih lagi, akhir-akhir ini pikirannya dipenuhi oleh sesuatu yang bahkan tidak mampu ia jelaskan.
Seorang gadis asing.
Seseorang yang tidak ia kenal namanya, tidak tahu siapa dirinya, bahkan wajahnya pun hanya tersisa sebagai bayangan samar di dalam ingatan. Namun entah mengapa, sosok itu terus muncul di benaknya. Semakin ia berusaha melupakannya, semakin sering bayangan itu datang mengusik.
*****
Di kawasan lain yang jauh dari kemewahan gedung-gedung tinggi dan kehidupan para pebisnis, berdiri sebuah rumah tua yang sederhana. Dindingnya tampak kusam dimakan usia, sementara beberapa bagian atapnya menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang belum sempat diperbaiki.
Di dalam rumah itu, suasana yang biasanya tenang berubah menjadi tegang.
Sepasang suami istri paruh baya tengah terlibat adu mulut yang semakin memanas. Nada suara mereka meninggi, memecah kesunyian sore dan terdengar hingga ke luar rumah. Wajah keduanya dipenuhi emosi yang selama ini seolah tertahan dan kini akhirnya meledak.
"Kamu ini sebenarnya memikirkan apa, Pak?" seru sang istri dengan nada tinggi yang dipenuhi kekesalan. "Aris sebentar lagi harus bayar uang sekolah. Kalau tidak segera dilunasi, dia bisa tidak diizinkan ikut ujian!"
Matanya memerah menahan emosi dan kelelahan. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah suaminya yang berdiri tak jauh darinya.
"Aduh, Bu... jangan bilang begitu terus." ucap pria itu dengan suara pelan dan penuh kelelahan.
Ia menatap lembaran kusut yang sedari tadi diremas-remas di tangannya. Kertas itu berisi catatan pengeluaran dan beberapa tagihan yang belum terbayar. Semakin lama dipandangi, semakin berat rasanya beban di dadanya.
"Bapak sudah berusaha semampunya," lanjutnya lirih. "Ke sana kemari cari tambahan kerja, cari pinjaman juga sudah. Tapi memang belum ada yang berhasil."
"Berusaha, berusaha... tapi hasilnya bagaimana, Pak?" ujar sang istri dengan nada yang masih dipenuhi kekecewaan. Ia mengangkat beberapa lembar uang yang ada di tangannya lalu menunjukkannya kepada suaminya.
"Coba lihat ini!" katanya dengan suara meninggi. "Jumlahnya bahkan belum cukup untuk kebutuhan sekolah Aris, apalagi untuk kebutuhan lain. Paling-paling hanya cukup untuk makan kita beberapa hari."
Pria itu mengusap wajahnya yang tampak semakin lelah. Bahunya merosot, seolah beban hidup yang dipikulnya bertambah berat setiap hari.
"Aku sudah memberikan semua yang ada padaku, Bu," katanya pelan. "Coba diatur dulu semampunya. Mungkin masih bisa dipakai untuk kebutuhan yang paling mendesak."
"Diatur bagaimana lagi, Pak?" suara wanita itu melemah, tidak lagi setinggi sebelumnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke bangku kayu tua di sudut ruangan. Wajahnya terlihat letih, seolah seluruh tenaganya terkuras oleh berbagai masalah yang datang bertubi-tubi.
"Kepalaku sudah penuh memikirkan semuanya," lanjutnya sambil memijat pelipis. "Biaya sekolah Aris, kebutuhan sehari-hari, tagihan yang belum lunas. Setiap malam Ibu sampai tidak bisa tidur."