Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Pergi
Langkah Nadia terasa semakin berat seiring ia mendekati kawasan kos-kosan tempat ia tinggal. Badannya terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaganya terkuras habis setelah menghadapi tekanan dan ketegangan yang luar biasa tadi sore. Angin malam yang berhembus terasa dingin menusuk tulang, namun hatinya terasa jauh lebih dingin lagi. Amplop pemberian Nyonya Ardila terasa begitu berat di dalam tasnya, bukan karena isinya, tapi karena makna yang tersirat di baliknya—sebuah tanda bahwa ia harus pergi, harus menghilang dari kehidupan Aga selamanya.
Begitu tiba di kamar kos yang sempit namun rapi itu, Nadia langsung mengunci pintu dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya pada kayu pintu itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya yang masih tertutup sisa riasan. Ia melangkah terhuyung ke arah tempat tidur, lalu duduk terkulai lemah, memegang erat perutnya yang masih rata.
"Mama sudah putuskan, kita harus pergi dari sini, Nak," bisiknya lirih di tengah isak tangisnya. "Kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Tempat ini sudah tidak aman untuk kita. Mereka akan terus mengawasi, terus mencurigai... dan jika suatu saat kebenaran terungkap, Mama takut mereka akan menyakitimu."
Malam itu, Nadia hanya makan sedikit bubur yang ia siapkan dengan susah payah. Ia juga memaksakan dirinya untuk minum vitamin, lalu berbaring, mencoba beristirahat, meski pikirannya terus berputar memikirkan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Namun kelelahan akhirnya membawa ia terlelap, meski tidurnya tidak tenang sama sekali.
Di tengah kegelapan mimpi, ia melihat dirinya berdiri di tengah ruangan yang megah namun dingin. Di hadapannya berdiri Nyonya Ardila, Mario, dan juga Aga—namun tatapan Aga terlihat kosong, dingin, seolah tidak mengenalinya lagi. Nyonya Ardila menunjuk ke arah perutnya dengan tatapan penuh kebencian, sementara Mario melangkah mendekat dengan tangan terulur seolah ingin mengambil sesuatu darinya.
"Anak itu tidak pantas lahir," terdengar suara dingin Nyonya Ardila bergema di seluruh ruangan. "Ini akan membawa aib bagi keluarga kami. Singkirkan dia."
Nadia berusaha berlari, berusaha melindungi perutnya, namun kakinya terasa terpaku di tempat. Ia melihat bayangan sosok kecil yang terpisah dari dirinya, terangkat perlahan menjauh, dan ia berusaha berteriak memanggil, namun suaranya tidak keluar sama sekali. Ia hanya bisa melihat sosok kecil itu semakin menjauh, menghilang ke dalam kegelapan, sementara ia sendiri terjatuh dan terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Itu hanya mimpi.
Tapi, terasa sangat nyata, seolah seperti gambaran di masa depan.
Jantung Nadia berdegup kencang bagaikan ingin melompat keluar. Ia langsung duduk tegak, menarik napas panjang-panjang sambil mengusap dadanya yang terasa sesak. Tangannya segera meraba perutnya, merasakan kehangatan yang masih ada di sana, sebuah tanda bahwa semuanya benar-benar hanya mimpi buruk.
"Tenanglah... Mama di sini, Nak," bisiknya dengan suara gemetar, air matanya kembali menetes. "Itu hanya mimpi. Mama tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Kita akan pergi ke tempat yang aman, di mana tidak ada yang bisa menemukan kita."
Ia tidak bisa tidur lagi sepanjang sisa malam itu. Ia menghabiskan waktunya dengan mengemasi barang-barangnya, menyusun rencana ke mana ia akan pergi setelah meninggalkan kota ini. Pikirannya sudah bulat, ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Lebih baik pergi dengan sukarela selagi ia masih punya kesempatan, daripada dipaksa pergi dengan cara yang menyakitkan.
*
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit saat Nadia sudah berdiri di depan pintu gedung kantor. Penampilannya hari ini terlihat lebih sederhana, riasannya seperti biasa, cukup untuk menutupi pucatnya saja.
Di tangannya, tergenggam sebuah amplop berisi surat pengunduran diri yang sudah ia tulis semalaman dengan hati yang berat namun penuh keteguhan.
Ia melangkah masuk ke bagian keuangan dengan kepala terangkat sedikit, berusaha terlihat tenang meski kakinya terasa berat. Rekan-rekan kerjanya menatapnya dengan perasaan kaget saat dia mengumumkan pengunduran dirinya, Nadia hanya tersenyum tipis dan langsung berjalan menuju ruang kepala bagian keuangan terlebih dahulu, sebelum kemudian melanjutkan ke ruang HRD untuk menyerahkan surat itu secara resmi.
Setelah semua prosedur awal selesai, ia meminta untuk menyerahkan satu salinan surat itu langsung kepada Mario, sebagai perwakilan manajemen. Tidak butuh waktu lama sebelum Mario datang menemuinya di ruang tunggu, wajahnya tampak terkejut sekaligus curiga saat melihat surat pengunduran diri yang tergeletak di meja.
"Kamu mengundurkan diri?" tanya Mario dengan nada tidak percaya, matanya menatap tajam ke wajah Nadia. "Kenapa tiba-tiba mengambil keputusan ini? Apakah kamu menyesal, atau ada alasan lain yang kamu sembunyikan? Bukankah Nyonya Ardila masih memberimu kesempatan untuk bekerja di sini asalkan kamu menjauhi Aga?"
Nadia menatap lurus ke depan, dia tidak menghindari tatapan Mario. Suaranya tenang, tegas, dan tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
"Saya sudah memikirkan ini matang-matang, Pak," jawabnya sopan namun tegas. "Jujur saja, saya merasa sudah tidak nyaman lagi bekerja di sini, dan saya ingin memulai hidup baru di tempat lain. Saya sudah menyelesaikan semua tugas dan laporan sampai hari ini, jadi tidak ada pekerjaan yang terbengkalai. Saya hanya meminta surat keterangan kerja sebagai bukti pengalaman saya, dan saya berjanji tidak akan mengganggu urusan perusahaan atau keluarga Santoso lagi."
Mario mengamati Nadia dengan saksama, mencoba mencari kebohongan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang menyembunyikan keteguhan hati. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan—seolah ini justru hasil yang ia inginkan sejak awal.
"Baiklah. Jika itu keputusanmu, kami tidak akan menghalangi. Surat pengunduran dirimu akan diproses hari ini juga, dan kamu bisa menyelesaikan semua urusan administrasi dalam waktu satu hari kerja. Setelah itu, kamu bebas pergi ke mana pun kamu mau."
Mario melangkah mendekat sedikit, suaranya menjadi lebih rendah dan penuh peringatan terakhir.
"Ingat janjimu, Nadia. Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi ke kota ini. Jangan pernah mencoba menghubungi siapa pun dari keluarga Santoso. Jika kamu melanggarnya, kamu tahu kan apa akibatnya. Semoga kamu bisa menjalani hidupmu dengan tenang di tempat yang baru."
Nadia hanya mengangguk perlahan, menahan rasa perih yang menyayat hatinya. Ia tahu, ini adalah jalan terbaik untuk melindungi dirinya dan anaknya. Meninggalkan segalanya—pekerjaan, rekan kerja yang baik, bahkan kenangan dengan Aga—adalah harga yang harus ia bayar demi masa depan yang aman.
Saat ia berjalan keluar dari ruangan itu—menuju pintu keluar gedung untuk terakhir kalinya, ia menoleh sekilas ke arah lantai paling atas tempat ruang kerja Aga berada. Hatinya berbisik lirih, penuh dengan rasa cinta dan perpisahan yang menyakitkan.
'Selamat tinggal, Aga. Semoga hidupmu bahagia seperti yang diharapkan semua orang. Dan maafkan aku yang harus pergi membawa bagian dari dirimu ini, tanpa sempat memberitahumu kebenarannya. Suatu hari nanti, jika takdir mengizinkan, mungkin kita akan bertemu lagi. Tapi untuk saat ini... kita harus berpisah, demi kebaikan kita semua.'
Dengan langkah yang mantap namun terasa seberat beban dunia, Nadia melangkah keluar dari area perusahaan raksasa itu, membawa rahasia terbesarnya, membawa harapan baru, dan membawa tekad untuk membesarkan anaknya sendirian di tempat yang jauh, di mana dia berharap mereka bisa hidup dengan tenang.
demi hrga dirimu...