"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembala Kembala Cintiiiing!
"Liat cini Eleeeen, ini namanya blek poles," ucap Enzo memperkenalkan sepotong kue cokelat kaya krim pada Eren yang saat ini tengah menatapnya tanpa arah.
Melihat adiknya tidak merespons dengan benar, tangan Enzo pun bergerak aktif meraih telapak tangan mungil Eren agar menyentuh permukaan kue yang lembut dan basah tersebut.
"Kue tokat ini," gumam Eren setelah jemari kecilnya meraba tekstur cokelat pekat di atas piring.
"Bukan, ini blek poleeees," koreksi Enzo kembali dengan nada suara yang ditinggikan seolah hal itu sangat krusial. "Alomanya itu wangiii, cepelti aloma maca depan. Nanti ...,"
"Eren cuman nda bica lihat, bukan nda ada hidung. Cudahlah, cetelees cama kamu," potong Eren ketus.
Ia menarik kembali tangannya, meraba permukaan meja di sekitarnya untuk mencari celah, lalu melangkah pergi meninggalkan kembarannya tersebut. Enzo tadinya berniat untuk beranjak menyusul langkah sang adik, tetapi godaan potongan besar black forest di hadapannya saat ini benar-benar teramat menggugah selera makannya.
"ELEEEEN, LULUS NANTI BELOK KILIIII! DICITU KAMAL CI MUCANG OLANG TUAAAA!" pekik Enzo setengah berteriak memberi petunjuk arah, sembari sepasang matanya menatap penuh binar ke arah kue di piringnya. "Kecempatan nda datang dua kali kata Daddy," gumam anak sulung itu pelan, lalu mulai melahap kue tersebut dengan penuh semangat.
Sementara itu, Eren terus berjalan menjauh dengan hanya mengandalkan sapuan kedua belah tangannya ke udara dan dinding. Ia meraba setiap permukaan tembok dan mencoba menajamkan indra pendengarannya untuk menangkap kebisingan dari arah kiri dan kanan. Telinganya yang teramat tajam mendadak menangkap sayup-sayup suara orang yang tengah mengobrol di ujung lorong bawah. Ia pun berjalan pelan menuju ke arah asal muasal suara tersebut.
Sampai akhirnya, telapak tangan Eren merasakan permukaan sebuah pintu kayu yang sedikit terbuka. Begitu ia mendorongnya, sebuah aroma yang sangat menusuk, tajam, dan sama sekali tidak enak seketika menyeruak keluar, memaksa Eren untuk refleks menutup hidung mungilnya dengan sebelah tangan. Rasa penasaran membimbing kaki kecilnya untuk mencoba melangkah maju ke dalam kegelapan, sementara tangannya meraba-raba udara di sekitar. Namun malang, permukaan lantai tangga yang licin dan lembap itu seketika membuatnya kehilangan keseimbangan dan terpeleset ke bawah.
"Awww!"
Eren meringis pelan saat merasakan rasa sakit yang menjalar di area punggungnya yang menghantam lantai semen. Ia mencoba mendudukkan dirinya perlahan di atas lantai yang dingin. Namun, saat lengannya bertumpu, ia merasakan sebuah cairan kental yang teramat basah membasahi telapak tangannya. Ia lekas menarik tangannya kembali dan mencoba mengarahkannya ke hidung untuk mencium aromanya. Rasa anyir khas karat besi, rasa darah yang ia kenal sebelumnya, kini melekat di indra penciumannya. Bau itu benar-benar tidak dia sukai.
"Bau apa ini, macam bau dalah," gumam Eren dengan dahi yang berkerut dalam.
Tanpa pernah bisa dia ketahui, di sudut ruangan yang temaram itu, sesosok pria dengan tubuh penuh luka yang terikat erat di atas kursi besi tengah menatap ke arah siluet kecilnya dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa.
"Tolong ... tolong ...," ucap pria itu dengan suara yang teramat lirih dan parau.
Eren memiringkan kepalanya, mencoba bergerak mendekati arah datangnya suara. "Ciapa?" tanya Eren dengan nada suara yang mulai dirayapi ketakutan.
"Tolong ...,"
"Cia ...,"
DORR!
Eren seketika terdiam membeku di tempatnya duduk. Detik berikutnya, sesuatu yang terasa hangat dan basah mendadak memercik, mengenai permukaan wajah dan pipi mungilnya. Ia refleks menolehkan kepalanya ke asal arah suara tembakan tadi. Sepasang matanya tidak bisa melihat dengan jelas siapa sosok tinggi yang baru saja melepaskan tembakan maut tersebut hingga membuat suara rintihan minta tolong itu tidak lagi terdengar untuk selamanya.
"Ngapain kamu di sini, Enzo?" tanya seorang anak remaja bertubuh jangkung yang baru saja melangkah menghampiri Eren dari balik kegelapan lorong bawah tanah, lalu dengan kasar menarik pergelangan tangannya untuk menjauh.
"Bukan Enjo, ini Eleeen. Cabal cedikit, Eleeen nda bica lihat," ucap Eren panik dengan suara yang bergetar, sebuah pengakuan yang seketika membuat Kael menghentikan langkah kakinya dan menatap ke bawah ke arah Eren dengan kerutan bingung di dahinya.
"Jangan membual di depanku. Aku tidak akan pernah bisa tertipu oleh trik murahanmu lagi seperti ayahmu itu," ucap Kael dingin, mengira anak di hadapannya ini sedang bermain peran. Ia kembali menarik lengan kecil Eren dengan paksa.
"BENELAAAAAN! LIHAT INI IDUNG ELEEEEN, LIAAAAT. NDA GEDE CEBELAAAAH!" pekik Eren kesal setengah mati sembari menunjuk-nunjuk hidung mungilnya sendiri, sebuah aksi protes yang membuat Kael akhirnya mengembuskan napas kasar.
"Jangan pernah berani menyentuh atau mendekati ruangan interogasi tadi lagi, jika tidak Tuan Leon pasti akan menjatuhkan hukuman berat kepadamu! Nanti ...,"
"Kakak,"
Kael mendadak menolehkan kepalanya ke arah pangkal tangga lorong. Dirinya seketika terkejut bukan main saat mendapati sosok Enzo yang baru saja datang melangkah mendekat dengan kondisi sekitar area mulut yang sudah belepotan noda cokelat pekat dari kue black forest. Kael menganga syok, lalu perlahan menundukkan kepalanya kembali untuk menatap wajah Eren yang berada di sampingnya. Ia memandang kedua bocah kecil itu secara bergantian dengan ekspresi wajah yang linglung.
"Kok... bagaimana bisa kalian ...,"
"Kita ini kembal, kembala kembala cinting," ucap Enzo dengan nada suara yang teramat santai tanpa beban, sebuah kalimat yang seketika membuat Eren memekik keras karena tidak terima disamakan.
"CITU AJA YANG CINTIIIING! CINTING, CINTING CENDILIIII NDA UCAH AJAK AJAAAAK!"
Pekikan nyaring dari Eren di lantai bawah ternyata bergaung cukup keras hingga dapat terdengar jelas oleh telinga Amoera yang saat ini tengah berada di dalam kamar utama lantai atas.
Wanita itu sudah berusaha keras untuk bergerak bangkit dari posisinya demi menyusul sang putra, namun sayang, pergerakan tubuhnya terkunci total akibat cekalan kuat tangan Leon yang menahan kedua belah pergelangan tangannya di atas ranjang. Tatapan mata elang pria itu tampak menahan penuh, mengunci sepasang netra Amoera yang saat ini sengaja membuang pandangan matanya ke arah lain, enggan menatap wajah sang monster dunia bawah.
"Lepaskan aku, Leon. Eren sedang berteriak histeris di bawah, aku harus melihat kondisinya," ucap Amoera dengan nada suara yang dipenuhi rasa khawatir yang amat sangat.
Alih-alih melepaskan cekalannya, Leon justru semakin memajukan tubuh matangnya. Ia meraih lingkar pinggang ramping Amoera dengan satu tangan besarnya, lalu menarik tubuh wanita itu dengan satu hentakan kuat hingga dada bagian depan Amoera menabrak pelan dada bidang miliknya yang kokoh.
Sementara itu, Leon terus menatap lekat-lekat wajah cantik Amoera yang kini terpaksa kembali menatap lurus ke arahnya dari jarak yang teramat dekat. Telapak tangan besar Leon bergerak naik, mengusap permukaan wajah wanita itu dengan gerakan yang teramat lembut namun terasa begitu mencengkeram dan mengintimidasi batinnya.
"Dengan kamu kembali menapakkan kaki dan menginjakkan langkahmu di dalam rumah ini lagi, Amoera ... itu artinya, kamu secara sukarela telah kembali berjalan masuk untuk menjadi tawanan abadi di dalam kuasaku," desis Leon tepat di depan wajahnya, mengunci takdir sang wanita di dalam sangkar emasnya sekali lagi.
"Pria gila,"
BUGH!
"ARGHHH!"
🤣
Kamu dan s' Hitam Aku pantau...
Onty Jum cuma banget...
bagi lh catu...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣