Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam turun perlahan, menelan sisa-sisa cahaya senja hingga hanya menyisakan bayangan hitam yang menari di luar jendela. Pepohonan bergoyang tertiup angin, daunnya berdesir lirih seperti bisikan rahasia yang tak ingin didengar siapa pun. Suasana hening itu membungkus kamar dengan ketenangan yang semu.
Di atas ranjang, Yvaine terlelap, namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Indranya yang telah terasah oleh kehidupan keras dan penuh bahaya tiba-tiba terpicu. Tanpa perlu alasan yang jelas, tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Kelopak matanya terbuka dalam sekejap, napasnya teratur, tetapi pikirannya sepenuhnya waspada.
Lalu ia mendengarnya suara langkah kaki yang ringan, pelan, namun cukup jelas di tengah kesunyian malam. Suara itu datang dari koridor di luar kamar.
Yvaine bisa merasakannya semakin dekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintunya.
Yvaine tidak bergerak. Ia hanya memfokuskan pendengarannya, menebak apa yang akan orang itu lakukan.
Gemerisik halus terdengar. Seseorang mencoba membuka pintu dari luar dengan perlahan, seolah takut menimbulkan suara.
Alis Yvaine berkerut.
'Siapa yang datang ke kamarnya di tengah malam seperti ini? Dan langkahnya terlalu ringan seperti.. anak kecil?'
Pikiran itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
'Tunggu.. anak kecil? Mungkinkah?'
Sebelum ia sempat menyusun dugaan, pintu itu akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Sebuah sosok kecil menyelinap masuk dengan hati-hati, lalu menutup kembali pintu di belakangnya.
Anak itu berjalan berjingkat, seolah takut membangunkan seseorang.
Cahaya bulan yang samar menembus jendela, menerangi sosok kecil itu dengan lembut. Wajahnya perlahan terlihat jelas saat ia mendekati ranjang.
Itu adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun.
Pipinya bulat, kulitnya bersih, dan ekspresinya cukup polos. Ia mengenakan piyama tipis yang jelas tidak cukup untuk melindunginya dari dinginnya malam. Kakinya telanjang, memperlihatkan jari-jari kecil yang tampak kemerahan karena udara dingin.
Yvaine menatapnya dalam diam.
Pada awalnya, ia hanya menebak. Namun saat wajah anak itu benar-benar terlihat jelas, keraguan itu lenyap seketika.
Ia tahu siapa anak ini.
'Tidak salah lagi.'
Wajah itu adalah salinan sempurna dari Tobias, artinya jelas.. bahwa ia adalah putranya.
Kesadaran itu menghantamnya seperti gelombang.
Saat pertama kali mengetahui bahwa ia memiliki seorang anak, perasaannya begitu kacau. Ia, yang bahkan belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang istri dan seorang ibu.
Semuanya terasa tidak nyata.
Namun sekarang, saat anak itu berdiri di depannya dan entah mengapa membuat sesuatu di dalam hatinya bergetar hangat.
Baru kali ini Yvaine merasakan kehangatan ini.
Anak itu terus melangkah mendekat, sedikit terhuyung. Napasnya terdengar pelan saat ia akhirnya sampai di sisi ranjang. Ia mengangkat wajahnya..
Dan mata mereka bertemu.
Sekian detik kemudian anak itu membeku, matanya melebar, jelas tidak menyangka bahwa ibunya masih terjaga. Ia tersentak, tubuh kecilnya mundur refleks.
Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, sebuah tangan meraih pergelangannya.
Gerakan itu tidak kasar, namun cukup untuk menghentikannya.
Anak itu menatap Yvaine dengan bingung. Seperti anak kecil yang tertangkap saat melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar.
“Mom.. Mom..” Suara itu begitu pelan dan rapuh.
Yvaine terdiam. Ia bisa melihat dengan jelas perasaan di mata anak itu, seperi seorang anak yang haus akan kasih sayang namun bercampur dengan ketakutan.
Dan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ingatan yang bukan miliknya sepenuhnya mulai muncul.
Wanita yang dulu menghuni tubuh ini memperlakukan anak ini dengan dingin, ia menggunakannya sebagai alat untuk mengikat Tobias. Dan ketika rencananya gagal, kemarahan itu dilampiaskan kepada anak yang tidak bersalah ini.
Ia mengabaikannya, bahkan menyakitinya..
'Tidak heran jika anak ini mencintaiku.. sekaligus takut padaku.'
Seketika, rasa jijik muncul dalam diri Yvaine, bukan pada anak itu, tetapi pada jiwa asli dari tubuh ini.
Namun ada perasaan yang lebih kuat dari itu, yaitu rasa sakit untuk anak ini.
Tanpa sadar, Yvaine mengulurkan tangannya. Jemarinya yang hangat menyentuh pipi kecil itu, menyeka air mata yang mulai jatuh.
“Anak laki-laki tidak boleh menangis, hm?” suaranya lembut.
Anak itu tertegun.
Tangisnya berhenti seketika, seolah ia lupa bagaimana caranya menangis. Ia hanya bisa menatap Yvaine dengan mata lebar, kebingungan memenuhi wajahnya.
‘Mommy… begitu lembut padaku?’
Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, Yvaine sudah membungkuk dan mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati, menghindari lengannya yang masih terluka.
Anak itu terkejut, tangannya refleks melingkar di leher Yvaine.
“Mom?”
Yvaine tidak menjawab. Ia hanya membaringkan anak itu di ranjang, lalu memegang kaki kecilnya.
Kulit kaki anak itu terasa begitu dingin seperti yang ia duga..
Keningnya berkerut.
“Kenapa keluar malam-malam tanpa pakaian yang cukup? Bagaimana kalau kamu sakit?” tegurnya pelan, namun penuh kekhawatiran.
Anak itu membeku lagi.
Ia menatap Yvaine, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Baru kali ini ia melihat ibunya begitu hangat.. sangat hangat padanya..
Bukan hanya dari tangan yang membungkus kakinya, tapi juga dari kata-kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆