Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL7
SALING MELENGKAPI
Pagi akhirnya datang setelah malam yang nyaris tidak memberi mereka kesempatan untuk benar-benar terlelap. Semalaman Hannah dan Romi saling menguatkan, saling menghapus air mata, lalu tertidur dalam pelukan satu sama lain menjelang dini hari. Luka itu memang belum hilang, tetapi setidaknya mulai malam itu mereka tidak lagi menanggungnya sendirian. Kini mereka tahu, seberat apa pun jalan yang harus dilalui, mereka masih memilih melangkah ke arah yang sama.
Hannah membuka mata lebih dulu. Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah gorden membuatnya refleks menoleh ke arah jam dinding.
Lima lewat lima puluh.
Ia mengembuskan napas pelan sebelum menoleh ke samping. Romi masih memeluk pinggangnya dengan erat. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin, meski gurat lelah masih jelas terlihat.
Hannah tersenyum tipis.
"Mas..."
Tidak ada jawaban. Ia mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya lebih jelas.
"Mas, bangun."
Romi hanya mengerang pelan tanpa membuka mata.
"Hm..."
"Hampir jam enam."
Masih belum ada respons selain gumaman kecil yang bahkan tidak jelas terdengar.
Hannah menahan tawa.
"Katanya hari ini mau berangkat lebih pagi."
"Lima menit lagi."
Suara Romi terdengar serak karena baru bangun tidur.
"Cuma lima menit."
Hannah menggeleng pelan.
"Yang semalam tidurnya jam tiga bukan cuma Mas."
Kini Romi membuka sebelah matanya.
"Iya sih."
"Terus?"
"Lima menit tetap lima menit."
Hannah terkekeh kecil.
"Kalau gitu lepas dulu pelukannya. Aku mau siapin sarapan."
Bukannya melepaskan pelukan, Romi justru semakin merapatkan tubuh istrinya.
"Nggak mau."
"Mas..."
"Sebentar aja."
Hannah menghela napas sambil menggeleng geli.
"Kamu kenapa sih?"
Romi akhirnya membuka kedua matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan wajah perempuan yang sejak tiga tahun terakhir selalu menjadi tempat ia pulang.
Entah kenapa, sejak kemarin rasa takut kehilangan itu terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya. Ia baru menyadari satu hal. Perempuan ini tetap memilih tinggal, bahkan setelah mengetahui kenyataan yang justru paling ia takuti.
"Mau apa sih lihatin aku terus?" tanya Hannah pelan ketika menyadari suaminya sejak tadi hanya diam menatapnya.
Romi tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa."
"Bohong."
"Nikmatin istri sendiri emang salah?"
Hannah tertawa kecil.
"Baru bangun udah mulai ya."
"Memangnya semalam udah selesai?"
Hannah spontan menepuk pelan lengan suaminya.
"Ih..."
Romi ikut tertawa.
Suara tawa itu memang belum benar-benar menghapus beban yang mereka rasakan, tetapi setidaknya mampu membuat pagi itu terasa sedikit lebih hangat.
Beberapa saat kemudian Hannah kembali mencoba melepaskan diri.
"Mas, serius. Aku harus bangun."
Romi akhirnya mengendurkan pelukannya.
"Iya."
Hannah baru saja duduk di tepi ranjang ketika suara Romi kembali menghentikannya.
"Na."
Hannah menoleh.
"Ada apa?"
Romi tidak langsung menjawab. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Tatapannya turun ke arah kedua tangannya sendiri sebelum akhirnya kembali menatap Hannah.
"Soal hasil pemeriksaan kemarin..."
Hannah langsung memahami arah pembicaraan itu.
"Iya?"
"Untuk sementara..."
Romi berhenti sejenak, seperti sedang mengumpulkan keberanian.
"...jangan kasih tahu siapa-siapa dulu."
Hannah terdiam.
"Maksud Mas... Ibu juga jangan?"
Romi mengangguk pelan.
"Tolong."
Hannah memahami alasan di balik permintaan itu. Namun ia juga tahu, cepat atau lambat keluarga mereka pasti akan bertanya.
"Tapi, Mas..."
"Aku belum siap."
Suara Romi terdengar jauh lebih pelan daripada sebelumnya.
"Kalau mereka tahu sekarang..."
Ia menundukkan kepala.
"...aku belum tahu harus jawab apa."
Hannah duduk kembali di samping suaminya.
"Mas."
Romi mengangkat wajah.
"Aku nggak berniat membuka semuanya tanpa seizin Mas."
Pria itu terdiam mendengarkan.
"Tapi menurutku... semakin lama kita menyembunyikan ini, nanti justru akan semakin sulit."
Kalimat itu membuat rahang Romi menegang.
"Jadi menurut kamu lebih baik semua orang tahu kalau aku yang bermasalah?"
"Bukan begitu maksudku."
"Terus?"
Hannah menarik napas pelan.
"Aku cuma berpikir..."
"Apa?"
"...suatu saat mereka pasti akan tahu juga."
Untuk sesaat tidak ada suara di antara mereka. Tatapan Romi perlahan berubah.
Bukan marah.
Lebih tepatnya... terluka.
"Aku belum siap jadi bahan pembicaraan mereka, Na."
Kalimat itu diucapkan begitu lirih. Namun cukup membuat Hannah menyadari satu hal.
Semalam mereka memang sudah saling menguatkan. Tetapi menerima kenyataan… ternyata jauh lebih sulit daripada mengucapkan kata ikhlas.
***
Hannah tidak melanjutkan pembicaraan itu. Ia tahu, memaksa Romi menerima keadaan sekarang hanya akan membuka luka yang masih terlalu baru. Setelah menyiapkan sarapan, ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian kerja. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan di meja makan. Suasananya tidak sehangat beberapa saat yang lalu, tetapi juga tidak lagi setegang semalam. Mereka sama-sama memilih diam sambil menikmati sarapan yang masih mengepulkan uap hangat.
Sesekali Romi mencuri pandang ke arah istrinya. Perasaan bersalah kembali memenuhi dadanya. Ia sadar nada bicaranya tadi terlalu keras. Padahal Hannah tidak mengatakan sesuatu yang salah. Perempuan itu hanya menyampaikan apa yang menurutnya terbaik untuk mereka.
Hannah lebih dulu menghabiskan sarapannya. Ia meletakkan sendok pelan, lalu mengambil segelas air putih sebelum akhirnya membuka suara.
"Mas."
Romi mengangkat kepala. "Hm?"
"Aku mau minta izin."
"Izin apa?"
"Besok aku dinas ke luar kota."
Romi mengernyit. "Dinas?"
Hannah mengangguk. "Iya. Berangkatnya nanti sore sepulang kerja."
Romi langsung menghentikan aktivitas makannya. "Kok mendadak?"
"Semalam baru dikabarin sama kantor. Awalnya yang berangkat orang lain, tapi ada perubahan jadwal."
“Perginya."
"Kurang lebih lima hari."
Romi kembali terdiam. Lima hari. Biasanya waktu selama itu tidak pernah menjadi masalah. Hannah memang beberapa kali mendapat tugas ke luar kota dan ia selalu mengizinkannya tanpa banyak bertanya. Namun kali ini berbeda. Baru kemarin dunia mereka seperti runtuh, lalu sekarang Hannah harus pergi meninggalkannya beberapa hari.
Entah kenapa, ia tidak menyukai bayangan itu.
"Apa nggak bisa diwakilin orang lain?"
Hannah tersenyum kecil.
"Kalau bisa, pasti aku juga milih tetap di Jakarta."
Romi masih belum menjawab.
"Aku ketua timnya, Mas."
Kalimat itu membuat Romi mengembuskan napas panjang. Ia paham tanggung jawab istrinya. Sejak menikah, Hannah tidak pernah mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan kehidupan rumah tangga. Kalau memang ia mengatakan harus berangkat, berarti memang tidak ada pilihan lain.
"Aku cuma..."
Romi menghentikan kalimatnya sendiri.
"Cuma apa?"
"Aku lagi nggak pengin jauh dari kamu."
Hannah tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang perlahan mengusir sesak di dadanya. Ia tahu ucapan itu bukan lahir dari sikap posesif, melainkan dari ketakutan yang belum berhasil Romi sembunyikan.
Hannah mengulurkan tangan, lalu menggenggam jemari suaminya di atas meja.
"Aku cuma pergi kerja."
"Aku tahu."
"Nanti juga pulang."
"Iya."
"Terus kenapa mukanya kayak mau ditinggal setahun?"
Romi terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyumnya kembali muncul meski belum sepenuhnya lepas.
"Aku lagi belajar nggak lebay."
"Dan gagal?"
"Iya."
Hannah ikut tertawa kecil.
Suasana yang sempat canggung perlahan kembali mencair. Romi membalas genggaman tangan istrinya lebih erat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan yang sejak tadi berusaha menghiburnya.
"Aku izinin."
Hannah mengangguk. "Makasih, Mas."
"Tapi..."
Hannah langsung menatapnya lagi.
"Jaga diri."
"Tentu. Aku pasti jaga diri."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon."
"Iya."
"Jangan telat makan."
"Iya."
"Jangan begadang."
"Iya juga."
Hannah terkekeh.
"Mas."
"Hm?"
"Baru lima hari loh ini."
"Iya, tapi rasanya lama."
Hannah hanya tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak hasil pemeriksaan itu keluar, ia melihat sisi lain dari Romi. Bukan pria yang sedang hancur karena harga dirinya terluka, melainkan seorang suami yang tiba-tiba takut kehilangan satu-satunya orang yang tetap memilih bertahan di sisinya.
Dan entah kenapa, melihat ketakutan Romi justru membuat Hannah semakin yakin. Seberat apa pun jalan yang harus mereka lalui nanti, mereka masih memiliki satu alasan untuk tetap bertahan.
Mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐