NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian

Sejak pagi itu, rasa curiga dan gelisah tak pernah lepas dari pikiran Annisa. Setiap kali rasa mual datang, atau tubuhnya terasa lemas tanpa alasan jelas, hatinya semakin yakin akan satu kemungkinan yang paling ia takutkan. Ia ingin memastikannya sendiri, tidak ingin menduga‑duga terus menerus.

Maka, saat suasana terasa tenang dan Chensi sedang santai membaca koran di ruang tamu, Annisa memberanikan diri mendekat dengan hati‑hati.

“Tuan Chensi, bolehkah saya meminta izin sebentar?” tanyanya dengan nada sopan namun sedikit gugup.

Chensi meletakkan koran, menatapnya dengan pandangan penuh perhatian. “Ada apa? Kau ingin ke mana?”

“Saya hanya ingin keluar sebentar ke apotek yang ada di ujung jalan. Ingin membeli obat masuk angin dan vitamin, karena akhir‑akhir ini badan saya sering terasa lemas,” jawab Annisa berusaha terdengar wajar.

Namun begitu mendengar kata “keluar”, raut wajah Chensi langsung berubah. Ia mengerutkan dahi, lalu menjawab dengan nada tegas: “Tidak boleh.”

Annisa tertegun, tidak menyangka penolakan itu datang begitu cepat. “Tuan? Saya hanya sebentar saja, tidak akan lama. Apakah Tuan khawatir saya akan tersesat?”

“Bukan itu,” jawab Chensi sambil berdiri dan melangkah mendekat. “Aku tidak mengizinkanmu pergi sendirian. Jika kau butuh sesuatu, biarkan saja aku atau Li Wei yang membelikannya.”

“Tapi saya ingin memilih sendiri obat yang cocok untuk saya. Lagipula… mana mungkin saya bisa kabur dari sini?” kata Annisa berusaha meyakinkan, suaranya sedikit meninggi karena bingung. “Semua dokumen saya—paspor, izin tinggal, dan surat‑surat penting lainnya—semua disimpan oleh Tuan. Tanpa itu, saya tidak bisa ke mana pun, apalagi pulang ke tanah air. Jadi apa yang harus saya takutkan?”

Chensi terdiam sejenak, namun ketegasannya tidak luntur. “Aku tahu itu. Tapi tetap saja, aku tidak mau kau berjalan sendirian di luar sana. Banyak orang yang tidak baik, dan aku tidak ingin ada hal buruk menimpamu. Jika kau ingin pergi, maka aku yang akan menemanimu.”

Mendengar jawaban itu, Annisa semakin heran. Sikap lelaki ini sungguh sulit dimengerti—ia menguasai segalanya, tapi juga terlalu waspada, seolah takut gadis itu menghilang begitu saja meski tanpa sarana apa pun. Namun ia tidak bisa menolak lagi. Jika memaksa, justru akan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar.

“Baiklah, Tuan. Kalau begitu, boleh saja Tuan ikut. Tapi nanti saat sampai di depan apotek, bisakah Tuan menunggu saja di dalam mobil? Saya ingin memilih sendiri barang yang saya butuhkan, tidak butuh waktu lama,” pinta Annisa dengan nada memohon.

Chensi mengangguk singkat. “Boleh. Tapi ingat, jangan lama‑lama.”

Annisa menghela nafas lega. Sungguh hal yang tidak pernah ia duga.

Perjalanan ke apotek itu berlangsung hening. Di dalam mobil mewah itu, Annisa duduk di kursi penumpang sambil menunduk, pikirannya berkecamuk. Ia harus bertindak cepat dan hati‑hati agar Chensi tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibelinya.

Sesampainya di depan apotek, Chensi benar‑benar menepati janjinya—ia tetap duduk di dalam mobil, hanya menatap ke arah pintu apotek dengan pandangan waspada.

Annisa masuk dengan langkah tergesa namun tetap tenang. Dengan suara pelan, ia meminta pada apoteker: “Saya ingin membeli alat tes kehamilan, tolong.”

Setelah membayarnya dan menyembunyikan barang itu rapat‑rapat di dalam saku baju, ia juga membeli beberapa botol vitamin dan obat ringan sebagai penutup. Saat keluar, ia menarik napas panjang, merasa lega namun juga semakin gelisah.

Saat kembali ke dalam mobil, Chensi menatapnya sekilas. “Sudah selesai?”

“Sudah, Tuan. Tidak banyak yang saya beli,” jawab Annisa sambil menyembunyikan kantong plastik itu di pangkuannya.

Sepanjang perjalanan pulang, Annisa bisa merasakan tatapan Chensi yang sesekali melirik ke arahnya. Ia berusaha terlihat tenang, meski jantungnya berdebar kencang.

Begitu kembali ke kediaman, kehadiran mereka berdua yang terlihat semakin dekat dan akrab tak luput dari pandangan para pelayan lain. Setiap kali Chensi membukakan pintu mobil untuk Annisa, atau berjalan berdampingan dengan jarak yang sangat dekat, tatapan iri dan dengki kembali terlihat di mata mereka. Namun, setelah melihat apa yang terjadi pada Mei dan hukuman yang diberikan Chensi, tidak ada satu pun yang berani mengucapkan kata‑kata sinis atau menuduh lagi. Mereka hanya memandang dari jauh, membisikkan gosip di belakang punggung, namun tetap menjaga jarak dan bersikap sopan di depan Annisa.

Malam itu, saat suasana sudah sepi dan semua orang sudah beristirahat, Annisa duduk sendirian di kamarnya. Ia mengeluarkan alat tes itu dari balik lemari, tangannya gemetar hebat.

“Apakah benar? Apakah di dalam rahim ini sudah ada kehidupan yang tumbuh?” pikirnya sambil menahan air mata. "Aku mohon jangan terjadi ya Allah.... Sungguh aku tidak siap."

Dengan hati yang berdebar kencang, ia mulai melakukan tes itu. Dan saat hasilnya terlihat jelas—dua garis merah yang menandakan positif—tubuhnya terasa lemas seketika. Ia terjatuh berlutut di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan air matanya mengalir deras tanpa henti.

Kini ia tahu pasti: ia sedang mengandung anak dari Chensi.

Sejak mengetahui kenyataan itu, Annisa hidup dalam ketakutan dan keraguan yang terus menyelimuti hatinya. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan tanda‑tanda kehamilan—memakai pakaian yang agak longgar, menahan rasa mual sebaik mungkin, dan berusaha tetap menjalani tugasnya seperti biasa. Namun, perubahan pada tubuh dan sikapnya tidak bisa sepenuhnya tersembunyi.

Ia sering melamun, matanya terlihat sayu, dan selera makannya berkurang drastis. Bahkan makanan yang dulunya ia sukai kini terasa hambar atau justru membuatnya ingin muntah. Perubahan itu tidak luput dari pengamatan tajam Chensi.

Malam itu, saat langit di luar sudah mulai turun butiran salju tipis menandakan musim dingin tiba, Chensi mendatangi Annisa yang sedang duduk menyendiri di teras belakang.

“Kau terlihat semakin murung belakangan ini,” ucapnya langsung sambil berdiri di samping gadis itu. “Tidak banyak bicara, sering melamun, dan makan pun sedikit sekali. Apakah kau tidak betah tinggal di sini? Apakah ada hal yang membuatmu tidak nyaman?”

Annisa terkejut, segera menunduk dan menjawab dengan nada hati‑hati: “Tidak, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lelah saja, mungkin karena cuaca yang mulai dingin.”

Chensi mengerutkan dahi, tidak sepenuhnya percaya namun tidak memaksanya bicara. “Kalau begitu, malam ini bersiaplah. Kita akan keluar sebentar. Aku ingin mengajakmu berjalan‑jalan dan melihat suasana kota yang mulai bersalju. Mungkin itu bisa menyegarkan pikiranmu.”

Annisa hendak menolak, namun melihat tatapan tegas namun lembut di mata Chensi, ia hanya bisa mengangguk pelan. “Baiklah, Tuan.”

Beberapa saat kemudian, mereka berangkat. Di dalam mobil yang sudah dipanaskan, Chensi menyerahkan sebuah kantong besar berisi pakaian tebal.

“Pakai ini. Udara di luar sangat dingin, dan kau terlihat tidak memiliki pakaian yang cukup hangat. Jangan sampai sakit,” perintahnya.

Annisa membuka kantong itu—terdapat mantel tebal berbahan lembut, syal lebar, sarung tangan, dan sepasang kaus kaki wol yang hangat. Semuanya berwarna lembut dan terlihat sangat mahal.

“Tuan… ini terlalu banyak dan terlalu bagus untuk saya,” tolaknya sungkan.

“Pakai saja. Jangan membuatku mengulangi perintah,” jawab Chensi singkat namun tanpa nada marah.

Mereka tiba di sebuah toko pakaian eksklusif yang sudah menjadi langganan Chensi. Begitu masuk, para pelayan dan pemilik toko segera menyambut dengan sangat hormat, menunduk dalam.

“Selamat malam, Tuan Chensi! Senang sekali Tuan berkunjung kembali,” sapa pemilik toko dengan nada penuh segan.

Namun pandangan mereka segera beralih ke Annisa yang berdiri di samping lelaki itu. Rasa heran terlihat jelas di mata mereka. Selama ini, mereka hanya mengenal Ailin sebagai wanita yang selalu mendampingi Chensi ke mana pun. Kini, wanita lain dengan penampilan yang tertutup dan berbeda adat berdiri di sisinya, membuat mereka bertanya‑tanya dalam hati.

Chensi tidak memedulikan pandangan itu. Ia langsung meminta beberapa model sepatu dan pakaian tambahan yang cocok untuk cuaca dingin. Saat sepatu boot yang hangat diletakkan di depan Annisa, gadis itu hendak membungkuk untuk memakainya sendiri, namun Chensi lebih dulu berlutut di hadapannya.

Annisa terkejut hingga mundur selangkah. “Tuan! Jangan lakukan itu! Saya bisa melakukannya sendiri!”

“Diamlah. Biarkan saja,” potong Chensi lembut. Ia mengambil kaus kaki wol, membentangkannya dengan hati‑hati, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut memasangkannya pada kaki Annisa. Setelah itu, ia menyodorkan kaki itu ke dalam sepatu boot yang pas, mengikat talinya dengan rapi dan memastikan tidak ada bagian yang terasa sempit atau menyakitkan.

Selama proses itu, suasana di dalam toko terasa hening. Para pelayan dan pemilik toko saling melirik dengan mata terbelalak tak percaya. Mereka sudah bertahun‑tahun mengenal Chensi—lelaki yang dingin, angkuh, dan tidak pernah mau merendahkan dirinya sedikit pun untuk siapa pun. Namun malam ini, ia berlutut dengan sukarela, merawat kaki seorang wanita asing seolah itu adalah hal yang paling wajar dilakukan.

Annisa hanya bisa menunduk dalam, wajahnya memerah padam karena rasa malu dan bingung yang meluap‑luap. Jantungnya berdebar kencang, tidak mengerti mengapa lelaki ini bisa bersikap seperhatian ini padanya, padahal awalnya ia hanyalah seorang pelayan biasa.

Setelah selesai, Chensi berdiri kembali, menatapnya dengan senyum tipis. “Bagaimana? Nyaman?”

“Ya… sangat nyaman. Terima kasih banyak, Tuan,” jawab Annisa lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Saat mereka keluar dari toko, salju tipis mulai turun lebih deras, menutupi jalanan dan atap‑atap bangunan dengan warna putih bersih. Chensi melingkarkan syal tambahan di leher Annisa, menariknya rapat agar angin dingin tidak masuk.

“Sekarang kita berjalan sebentar saja. Lihatlah, suasana seperti ini jarang terlihat,” ajaknya sambil berjalan berdampingan, menjaga jarak namun tetap dekat agar gadis itu tidak kedinginan.

Di dalam hati Annisa, perasaan semakin rumit. Di satu sisi, ia takut membuka rahasia kehamilannya karena khawatir Chensi akan marah atau menganggapnya beban. Namun di sisi lain, melihat perhatian yang tulus ini, ia mulai ragu—apakah kabar ini justru akan diterima dengan baik, atau justru mengubah segalanya menjadi lebih buruk?

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Annisa pengennya di sebelah Chensi terus ya, mungkin calon bayinya pengen berdekatan terus dengan ayahnya 🥰🥰
Naufal Affiq
semoga di segerakan buat mu chensi
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!