Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Di Hadapan Musuh
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika mereka sudah bersiap meninggalkan pondok tua. Derek memeriksa perlengkapan mereka dengan teliti—makanan, air, senjata, dan dokumen penting yang dibawa Neil. Viona berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian tebal dan selendang yang menutupi sebagian wajahnya. Neil dan Sera juga sudah siap, dengan wajah yang penuh tekad.
"Kita harus mencapai perbatasan sebelum matahari tenggelam," kata Derek sambil menaiki kudanya. "Jika kita terlambat, pasukan ayah Viona mungkin sudah mulai bergerak menyerang."
"Berapa lama perjalanan ke perbatasan?" tanya Viona.
"Jika kita berjalan cepat, sekitar delapan jam." Derek menatap langit yang masih gelap. "Kita harus memanfaatkan waktu sebisa mungkin."
Mereka memulai perjalanan. Empat orang dengan empat kuda melaju menyusuri jalan setapak yang berliku di antara pepohonan. Suara langkah kaki kuda bergema di tanah basah, dan sesekali burung-burung terbang dari dahan, terkejut oleh kedatangan mereka.
Neil berkuda di samping Derek. "Derek, aku ingin bertanya sesuatu. Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini selesai? Jika kau kembali ke takhta, apa yang akan terjadi dengan Viona?"
Derek menatap Viona yang berkuda di depannya. "Viona akan tetap bersamaku. Sebagai istriku. Sebagai ratuku."
Neil tersenyum. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa kakakku akan menikah dengan putri yang seharusnya menjadi tunanganku."
"Takdir memang memiliki cara yang aneh," jawab Derek. "Tapi aku tidak akan menukar takdir ini dengan apa pun."
Perjalanan berlangsung dengan lancar selama beberapa jam. Namun, saat matahari mulai naik dan mereka memasuki area dataran yang lebih terbuka, Derek tiba-tiba menghentikan kudanya. Matanya yang tajam menangkap sesuatu di kejauhan.
" Ada yang mengikuti kita," bisik Derek.
Neil dan Viona langsung waspada. Sera menunduk, mencoba terlihat tidak mencolok.
"Apa itu pasukan Dewan Raja?" tanya Neil.
"Mungkin. Atau mungkin pasukan bayaran yang mereka kirim." Derek menatap sekeliling. "Kita harus bersembunyi. Di sana, ada area hutan kecil yang bisa kita gunakan untuk berlindung."
Mereka segera mengarahkan kuda-kuda mereka ke area hutan di sisi kiri jalan. Namun, sebelum mereka mencapai perlindungan, suara derap kaki kuda yang lebih keras terdengar dari belakang. Beberapa pria bersenjata dengan jubah hitam dan lambang singa emas di dada muncul di balik bukit.
"Berhenti!" teriak salah satu dari mereka. "Kami tahu siapa kalian. Derek Minos, Putra Mahkota Kerajaan Timur. Dan wanita itu—Putri Fiona Isabella—yang dikabarkan telah mati."
Derek mengepalkan tinjunya. Mereka sudah ditemukan. Tidak ada lagi waktu untuk bersembunyi.
"Neil, bawa Viona dan Sera ke hutan," bisik Derek. "Aku akan menghadapi mereka."
"Tidak, Derek!" Viona meraih tangan Derek. "Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Viona, ini bukan saatnya untuk bersikap keras kepala. Aku bisa menanganinya." Derek menatap mata Viona. "Percayalah padaku."
Neil menarik kudanya di samping Viona. "Viona, Derek benar. Aku akan menjagamu. Tapi kau harus pergi sekarang."
Viona menggigit bibirnya. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia mengangguk. "Baik. Tapi janji padaku, kau akan kembali."
"Aku berjanji." Derek tersenyum. "Aku punya istri yang menungguku, dan takhta yang harus aku duduki. Aku tidak akan mati di sini."
Neil memacu kudanya, membawa Viona dan Sera ke dalam hutan. Derek berbalik, menatap para penyerbu dengan tatapan yang dingin.
"Kau tahu siapa aku?" Derek menatap pemimpin pasukan itu. "Jika kau tahu, kau juga tahu bahwa aku tidak bisa dibunuh dengan mudah."
Pemimpin pasukan itu tertawa. "Kau hanya seorang pria, Derek Minos. Dan kami memiliki dua puluh orang di sini. Kau tidak akan bisa melawan semuanya."
Derek perlahan menarik pedangnya dari sarung. "Mungkin aku tidak bisa membunuh kalian semua. Tapi aku bisa membunuh cukup banyak untuk membuat kalian menyesal."
Suasana menjadi tegang. Angin berhembus di antara mereka, dan dedaunan bergoyang. Derek menatap mata pemimpin pasukan itu, dan untuk sesaat, ada keraguan di mata pria itu.
Namun, keraguan itu segera menghilang. Pemimpin pasukan itu mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk menyerang.
"Serang!"
Derek memacu kudanya ke depan, menghadang serangan pertama dengan pedangnya. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Lima orang mengepungnya, dan ia harus berputar dengan cepat untuk menghindari tebasan pedang mereka.
Saat ia hampir terkepung, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah hutan.
"Berhenti!"
Semua orang menoleh. Dari dalam hutan, Neil dan Viona keluar—bukan untuk lari, tetapi untuk membantu. Neil membawa busur yang ia pinjam dari Sera, dan Viona memegang pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di sabuknya.
"Derek tidak sendirian!" teriak Neil.
Pemimpin pasukan itu tertawa. "Kalian berdua? Ini tidak akan—"
Neil tidak menunggu. Ia melepaskan anak panah, dan anak panah itu menancap tepat di kaki pemimpin pasukan itu. Pria itu menjerit dan jatuh dari kudanya.
"Serang sekarang!" teriak Derek.
Dengan bantuan Neil yang terus melepaskan panah untuk mengalihkan perhatian, Derek menyerang balik. Ia berhasil melukai dua orang dan menjatuhkan tiga lainnya. Viona yang berlari ke sampingnya, menggunakan pisau kecilnya untuk menusuk kaki kuda salah satu penyerbu, membuat kuda itu mengamuk dan menjatuhkan penunggangnya.
Pertempuran itu berlangsung sengit, tetapi akhirnya, pasukan Dewan Raja itu terpaksa mundur. Empat orang tewas, dan sisanya melarikan diri dengan luka-luka.
Derek turun dari kudanya, berlari ke arah Viona. "Viona! Kau baik-baik saja?"
" Aku baik-baik saja," jawab Viona, napasnya tersengal. "Tapi kau... kau terluka?"
Derek menunduk. Ada goresan di lengannya, tetapi tidak serius. "Aku baik-baik saja. Kau benar-benar bodoh, Viona. Aku menyuruhmu pergi."
"Dan aku memilih untuk tidak pergi." Viona tersenyum. "Karena aku tidak bisa membiarkan suamiku bertarung sendirian."
Derek menghela napas, tetapi ia tersenyum. "Kau wanita yang paling keras kepala yang pernah aku temui."
"Aku tahu." Viona menatap Derek. "Tapi kau menyukainya."
Mereka berpelukan di tengah medan pertempuran, dengan Neil dan Sera yang berdiri di samping, tersenyum. Untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa mereka bisa mengatasi apa pun—selama mereka bersama.
Mereka segera mengumpulkan kembali kuda-kuda mereka dan melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum mereka pergi, Derek menatap ke arah medan pertempuran, dan berdoa dalam hati.
Semoga ini menjadi pertempuran terakhir. Dan semoga keadilan akhirnya berpihak pada kami.
Mereka melaju ke perbatasan, membawa harapan, cinta, dan tekad untuk mengubah nasib dua kerajaan.