Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serbuan 19
Arimbi menyeringai ketika pagi hari dirinya melihat media sosial. Banyak sekali akun berita yang memberitakan tentang Amar dan Farrah.
"Hanya sedikit informasi, mereka bener-bener kerja cepat kalau kasus seperti ini,"ucap Arimbi dengan senyum penuh kepuasan.
Berita yang dilihatnya adalah wawancara Amar dan Farrah. Sebenarnya tidak bisa dibilang wawancara karena mereka berdua hanya diam. Lebih tepatnya ditanya-tanya.
Semalam para wartawan berhasil menemui Amar dan Farrah. Tentunya dengan bantuan Pak RT yang mereka temui. Berbagai pertanyaan dilontarkan akan tetapi tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Amar ataupun Farrah.
Wawancara dadakan itu juga tampak dramatis karena Farrah hanya menangis sepanjang ditanya.
"Lah kok nangis sih Mbak. Pas jadi lakor mah nggak nangis. Dan pastinya happy. Tapi sekarang malah nangis kek korban."
Celetukan wartawati yang terdengar dari video yang beredar mendapat dukungan keras dari para netizen. Ungkapan yang dilandasi rasa kesal tersebut tentu benar adanya.
Disaat menjadi perebut suami orang, tak pernah sekalipun Farrah menyesal. Dia malah menikmati hidupnya dengan tenang dan nyaman. Namun ketika semua terungkap ke publik, dia menangis pilu seolah korban atas kejadian ini.
Terang saja hal tersebut membuat semua orang geram. Terlebih para wanita.
Sedangkan Amar, pria yang tampak alim wajahnya tersebut hanya diam saja. Dia benar-benar diam seribu bahasa dengan kepala yang menunduk.
"Anda ini Lho Mar, Amar. Udah punya bini cantik, pinter, pekerja keras. Mana usaha ngerintis bareng. Berjuang bareng. Elaaah kok malah milih gundik yang model begini. Apa nggak rugi."
Sungguh puas sekali Arimbi melihat video-video tentang Amar dan Farrah semalam yang sudah mendapat banyak respon. Baik komentar, like dan juga dibagikan. Seperti perkataan Arimbi, mereka menjadi viral.
"Makanya, kemarin suruh cerain baik-baik malah nggak gerak-gerak. Eh ditambah nuduh-nuduh juga. Ya udah kan kejadian kayak gini. Haaah, itulah nasib orang yang tukang bohong dan mau untungnya sendiri. Sekarang nikmati aja hujatan seluruh Indonesia raya. Farrah Farrah, apa dia nggak belajar dari kasus yang udah-udah kalau yang namanya gundik bakalan diungkit sama selamanya. Ya bukan urusanku sih. Oke sekarang mari kita ketemu dengan para klien tercintaku."
Arimbi sudah rapi dan siap. Tugas yang diberikan kepada Farhan kemarin adalah untuk memberikan undangan kepada para klien. Tentunya tidak semua. Arimbi memilih yang benar-benar royal dengan perusahaannya.
Dan hari ini, sebelum mendatangi pengadilan Agama untuk mengajukan gugatan perceraian, Arimbi lebih dulu akan menemui klien untuk membahas pekerjaan.
"Rimbi, kamu baik-baik aja nak?"
Wajah Aliya nampak muram. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan putrinya terkait kabar yang banyak beredar.
"Lebih dari baik, Buk. Bapak dan Ibu nggak perlu khawatir. Aku beneran baik-baik aja. Aku malah lebih baik dari sebelumnya. Aku pamit dulu ya, banyak hal yang harus kulakukan sekarang,"jawab Arimbi. Ia berpamitan dengan mencium tangan kedua orangtuanya secara bergantian.
Aliya dan juga Arga mengantarkan putri mereka sampai ke halaman. Dan saat itu mereka baru tahu bahwa di depan gerbang sudah banyak wartawan yang menunggu.
Arimbi tidak ingin banyak bicara, namun dia juga tidak bisa bersikap tak acuh kepada mereka.
"Begini, sebelum nih kalian nanya-nanya ya. Aku mau ucapin makasih banget buat dukungan kalian semua. Tapi maaf banget, aku harus ketemu sama klien. Gimanapun aku nggak bisa kan diem terus mengurung diri. Aku harus gerak juga. Dan aku minta doanya aja, biar aku selalu sehat dan kuat. Sekali lagi maaf ya, aku harus buru-buru pergi."
Para wartawan mengerti, mereka menyingkir dari depan pintu gerbang untuk memberi Arimbi jalan.
Sebelum benar-benar pergi, Arimbi kembali meninggalkan pesan kepada para wartawan itu.
"Please jangan tanya-tanya ke bapak dan ibu aku ya. Mereka juga sangat sedih dengan apa yang terjadi pada ku. Kalau mau tanya-tanya, coba ke keluarga dia. Siapa tahu kalian dapat cerita seru kan. Bye, makasih ya. Assalamualaikum."
"Waalikumsalam Mbak Arimbi. Sehat-sehat Mbak!"
Seolah mendapat sebuah pencerahan, mereka pun bergegas pergi. Tujuannya adalah kediaman ibunya Amar. Ucapan Arimbi tadi seolah sinyal bahwa keluarga Amar mengetahui tentang perselingkuhan yang dilakukan oleh Amar.
Di tempat yang saat ini dituju oleh para wartawan itu, Yani tengah sangat kesal dengan tangis Afira. Semenjak datang tadi malam ke rumah Yani, Afira menjadi rewel. Sudah segal cara dilakukan tapi bayi berusia 18 bulan itu tetap saja menangis.
"Farrah, kamu ngapain sih. Dari semalem diemin bayi aja nggak bisa. Dan kamu juga Amar, kamu ngapain sih bahwa istri dan anak kamu ke rumah Mama. Kalian kan punya rumah sendiri. Kenapa juga kalian nggak tingga di sana. Bikin pusing Mama aja tahu nggak."
"Ma, di sana lagi ribet. Jadi aku bawa Farrah sama Afira ke sini karena udah paling aman di sini. Kasian Farrah sama Afira kalau didatangi wartawan lagi."
Yani merasa sangat kesal. Dia merasa bahwa ketenangannya terganggu dengan kedatangan cucu dan menantunya.
Sedangkan Farrah, dia hanya bisa terdiam. Mulutnya tertutup rapat, namun air matanya mengalir tanpa permisi.
Dia merasa sangat lelah karena sudah berusaha sekuat tenaga menenangkan Afira. Akan tetapi putri kecilnya tersebut benar-benar tidak kunjung tenang.
"Mas, kita bawa ke dokter ya. Aku takut Afira kenapa-napa. Badannya nggak panas, tapi dia udah nangis terus dari semalem. Diem bentar, terus nangi lagi,"pinta Farrah kepada suaminya.
Amar terdiam sejenak. Keluar di saat seperti ini sungguh tidak nyaman sama sekali. Akan tetapi ucapan Farrah benar. Tampaknya kondisi Afira sangat tidak baik.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita ke dokter,"ucap Amar.
Yani yang mendengar hal tersebut nampak lega. Setidaknya dia tidak harus mendengar suara tangis bayi lagi.
Mesk sangat menginginkan cucu dari Amar, tapi Yani ini termasuk aneh. Dia enggan sekali jika mendengar tangis bayi. Dia tidak suka karena merasa bising. Maka dari itu, Yani tak pernah sekalipun menggendong cucu-cucunya. Termasuk anak dari Amara juga.
Maka dari itu, Yani senang saat Afira akan dibawa pergi ke dokter. Namun agaknya ketenangan Yani tidak selamanya terjadi. Setelah Amar dan Farrah meninggalkan rumah, tak lama kemudian segerombolan orang datang mengaku bahwa mereka adalah wartawan.
Beberapa kamera mulai dinyalakan. Entah dalam bentuk foto maupun video. Dan pertanyaan pun mulai diajukan.
Rumah Yani yang memang tanpa pagar tersebut membuat para wartawan sangat mudah untuk berada tepat di depan pintu rumah.
"Ibu, apa ibu tahu tentang pernikahan kedua Amar? Kalau dilihat dari bukti yang diunggah oleh Mbak Arimbi, Ibu ada saat Amar menikah lagi. Kenapa Ibu malah mendukung perselingkuhan?"
Jeeeeng
Wajah Yani seketika pucat. Dia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam terpaku berdiri di tempatnya.
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik
ngapain kamu datang
asal kamu tau bentar lagi juga amar jadi gembel🤣🤣