NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 #Kabar Perjodohan

​Anya melangkah tergesa-gesa membelah pelataran parkir klab malam Heaven. Napasnya masih satu-dua setelah aksi nekatnya di ruang VIP tadi. Dari kejauhan, lampu sorot sedan sport merah metalik miliknya berkelip dua kali, tanda bahwa Alena dan Bella sudah bersiap di dalam. Begitu Anya membuka pintu, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi penumpang depan, membiarkan kap atas mobil yang terbuka otomatis perlahan bergerak menutup, mengunci mereka dari kebisingan luar.

​Bella yang sudah duduk di balik kemudi segera menginjak pedal gas, membawa mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Sementara itu, Alena langsung mencondongkan tubuhnya kedepan dari bangku belakang dengan wajah super cemas.

​"Kamu nggak ketahuan kan, Nya? Aman?" tanya Alena setengah berbisik, seolah-olah pengawal Tito Sanjaya masih mengintai di bagasi mobil.

​Anya menyandarkan kepalanya ke bantal kursi, memejamkan mata sembari memegangi dadanya yang masih bergemuruh. "Nggak, Al, Bell. Aman. Aku berhasil lolos."

​"Tapi kenapa kamu lemes banget gitu, Nya? Muka kamu kayak habis lihat hantu, sumpah," sahut Bella sambil melirik sekilas dari kaca spion tengah. "Minum dulu. Biar otakmu agak lurus, Ambilin Al,"

​Alena langsung mengulurkan sebotol air mineral dari kursi belakang. Anya menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, membuka tutupnya, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan, ingatan tentang sentuhan bibir pria asing tadi mendadak membuat wajahnya kembali memanas.

​"Guys... kalian nggak akan percaya apa yang baru saja aku lakuin di atas sana," gumam Anya, suaranya pelan namun sarat akan keterkejutan.

​"Apaan? Jangan bikin penasaran deh!" tuntut Alena dari belakang.

​Anya menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Bella dan Alena bergantian. "Aku... aku mencium orang asing di dalam ruang VIP."

​"WHAT?!"

​Teriakan kompak Alena dan Bella menggema di dalam kabin mobil. Bella bahkan sampai menginjak rem sedikit terlalu dalam, membuat ban mobil berdecit pelan.

​"Gila ya kamu, Anya?! Demi apa?!" Bella melotot, memastikan sahabatnya tidak sedang berhalusinasi akibat stres skripsi.

​"Habisnya aku terpojok!" bela Anya cepat, wajahnya memerah. "Pengawal Papa sudah di depan pintu. Pria di dalam ruangan itu malah mau mengusirku dan memanggil security. Ya sudah, karena panik, aku lompat ke pangkuannya lalu kubungkam saja mulutnya pakai ciuman! Biar pengawal Papa mengira kami pasangan yang lagi asyik."

​Alena melongo, lalu perlahan tertawa tidak percaya. "Terus, gimana kelanjutannya? Dia marah? Atau... malah keenakan?"

​"Dia menuduhku menjebaknya demi uang! Sialan banget kan?" Anya mendengus kesal, mengingat wajah angkuh pria yang jujur saja tidak bisa dikatakan jelek. "Tapi langsung aku skakmat. Aku bilang saja, harusnya dia bersyukur dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku, lalu aku kabur. Urusan selesai."

​"Gila, Zevanya. Kamu benar-benar nekat," komentar Bella sambil menggeleng-gelengkan kepala, kembali memacu mobil menuju apartemen Alena.

....

​Begitu tiba di apartemen Alena, atmosfer santai langsung berubah menjadi mode siaga satu. Mereka bertiga segera berlari ke kamar, menanggalkan gaun-gaun malam mereka, dan menggantinya dengan piyama yang longgar. Riasan wajah tebal Anya dihapus kilat, menyisakan wajah polosnya yang tampak lelah.

​Anya langsung membuka laptopnya di atas ranjang, menyebar beberapa buku literatur Manajemen Bisnis, sementara Alena dan Bella duduk di karpet dengan laptop masing-masing, berpura-pura sibuk.

​"Ingat ya, kalau Papaku telfon, kita lagi pusing bedah jurnal dari jam delapan malam tadi," instruksi Anya, yang langsung diangguki mantap oleh kedua sahabatnya.

​Benar saja. Panjang umur Tito Sanjaya. Baru saja Anya memosisikan kacamata bacanya, ponsel di atas kasur bergetar hebat menampilkan panggilan video dari sang papa. Anya menarik napas, memasang wajah selelah mungkin, lalu menggeser layar.

​"Halo, Papa Sayang? Ada apa telfon malam-malam begini?" tanya Anya dengan nada suara yang dibuat sedikit serak, seolah-olah dia sudah membaca ratusan halaman buku.

​Di layar ponsel, wajah tegas Tito Sanjaya muncul dengan kening berkerut dalam. 📞 "Anya, Papa baru saja dapat laporan dari pengawal. Mereka bilang mereka melihat mobil sedan merahmu terparkir di klab Heaven malam ini. Kamu bohongi Papa ya?"

​Anya memasang ekspresi bingung yang sangat natural, lalu tertawa kecil. "Lho, Papa ada-ada aja deh. Yang punya mobil sedan merah di Jakarta ini kan banyak, Pa, bukan cuma Anya. Lagian, Anya itu di sini aja kok sejak tadi nggak kemana-mana nih... di apartemen Alena, lagi pusing tujuh keliling mikirin revisi skripsi." Anya memutar kamera ponselnya, memperlihatkan tumpukan buku tebal, laptop yang menyala, serta Alena dan Bella yang sedang mengetik dengan wajah serius.

​"Lagian, kita bertiga ini kan anak-anak rumahan, Pa. Masa ke klab malam-malam? Kurang kerjaan banget. Ya kan, Al, Bell?" lanjut Anya mencari dukungan.

​Alena langsung mendekatkan wajahnya ke kamera sambil tersenyum manis. "Iya, Om Tito, itu tidak mungkin. Ini Anya dari tadi melototin laptop terus sampai matanya merah. Kami lagi semua lagi pusing mikirin bab revisi om,"

​"Betul, Om," timpal Bella dari arah belakang. "Apalagi Anya kan anak kesayangan Om yang patuh, mana berani dia bohong soal tugas kuliah."

​Melihat kekompakan dan kesaksian dengan tingkat kepercayaan seratus persen dari sahabat-sahabat putrinya, gumpalan kecurigaan di wajah Tito perlahan mencair. Dia menghela napas lega. 📞 "Ya sudah kalau begitu. Papa cuma khawatir kamu keluyuran di tengah tugas akhirmu. Jangan tidur terlalu larut, ya."

​"Iya, Papa Sayang. Kalau gitu Anya tutup ya telofonnya, mau lanjut..."

📞 ​"Tunggu sebentar, Anya. Ada hal penting lagi yang harus Papa sampaikan," potong Tito cepat, membuat gerakan tangan Anya yang hendak mematikan sambungan langsung terhenti.

​"Apa lagi, Pa?"

​Di seberang sana, wajah Tito berubah menjadi sangat serius dan formal. 📞 "Minggu depan, kamu harus bertunangan."

​Bagai disambar petir di malam hari, Anya spontan menegakkan punggungnya. "Apa?! Nggak salah dengar, Pa? Anya ini masih kuliah, belum lulus, kok tiba-tiba main tunangan aja sih?!"

​Tito menghela napas, suaranya terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. 📞 "Papa sudah mengatakan rencana ini sejak dua bulan lalu, Anya, tapi kamu selalu menghindar dan tidak mau dengar setiap kali Papa bahas. Pokoknya, Papa tidak mau tahu. Kosongkan jadwal apa pun untuk minggu depan. Keluarga mereka sudah setuju."

​"Tapi, Pa..."

📞 ​"Tidak ada tapi-tapi, Zevanya Anneliza. Calon suamimu ini adalah putra tunggal Tomi Fernandez. Namanya Calvin Fernandez. Dia pria yang cerdas, mapan, dan sangat cocok untuk membimbingmu dalam mengelola bisnis keluarga kita nanti. Keputusan Papa sudah bulat."

​"Papa, Anya nggak mau dijodohin..."

📞 ​"Selamat malam, Anya. Cepat tidur jangan begadang."

​PIP..

​Sambungan telepon diputus sepihak dari seberang sana. Anya menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan campur aduk antara syok, marah, dan tidak percaya.

​"Gila! Ini sudah abad ke-21 tapi masih aja ada orang tua yang main jodoh-jodohan kayak zaman Siti Nurbaya!" teriak Anya frustrasi, melempar ponselnya ke atas tumpukan bantal.

​Alena dan Bella hanya bisa terdiam, saling berpandangan, lalu menatap Anya yang kini mulai turun dari ranjang dan mondar-mandir di dalam kamar seperti cacing kepanasan. Piyamanya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang menghentak kesal.

​"Minggu depan? Yang benar saja!" rutuk Anya, menjambak rambut cokelatnya sendiri dengan gemas. "Kalau aku sampai bertunangan, itu artinya kebebasanku bakal direnggut total! Aku harus mengontrol diri lagi, menjaga image di depan keluarga besar, dan nggak akan bisa bersenang-senang lagi!"

​"Tapi, Nya... kamu tahu nggak sosok Calvin Fernandez itu kayak gimana?" tanya Bella hati-hati, mencoba meredakan kepanikan sahabatnya.

​Anya berhenti melangkah, lalu mendengus frustrasi. "Mana aku tahu! Setiap kali Papa mulai menyebut nama keluarga Fernandez atau memperlihatkan fotonya, aku selalu mencari alasan untuk kabur atau menyumbat telingaku pakai earphone. Aku sama sekali belum pernah lihat mukanya!"

​Anya menjatuhkan dirinya kembali ke kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bagaimana kalau dia pria tua yang botak? Atau om-om menyebalkan yang kaku seperti kanebo kering? Oh Tuhan... skripsiku belum selesai, sekarang hidupku malah mau dihancurkan lewat perjodohan ini!"

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!