Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 | Racun dalam Balutan Sutra
Suasana di koridor apartemen berubah menjadi medan perang dingin seketika. Kata-kata "Member baru" yang diucapkan Robert baru saja menggantung di udara, menciptakan keheningan yang tajam.
Elara masih memegang pisau dapur, napasnya memburu. Di depannya, Dante tidak menunjukkan tanda-tanda gentar meski atmosfer di sekitarnya terasa seperti akan meledak.
"Jalang?" suara Dante memecah keheningan. Nadanya tidak tinggi, namun mengandung ancaman yang membuat anak buahnya menunduk ketakutan.
Wanita itu Melisa dengan gaun malam sutra yang memeluk tubuhnya dengan sempurna melangkah keluar dari lift dengan angkuh. Ia tidak memedulikan ketegangan di sana. Tatapannya tertuju pada Elara, menilai gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang penuh racun.
"Aku bertanya padamu, Dante. Siapa. Dia?" suara Melisa bergetar karena emosi yang tertahan. Ia beralih menatap Elara dengan mata menyipit. "Aku sudah mendengar kabar bahwa kau mulai memelihara anjing liar, tapi aku tidak menyangka kau akan membawanya ke dalam lingkaran inti kita."
Dante melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Elara dan Melisa. Ia terlihat seperti dinding pelindung bagi Elara atau mungkin, dia sedang memamerkan tawanan barunya.
"Dia bukan anjing liar, Melisa. Dia adalah letnan baru," sahut Dante datar. "Dan jika kau berani menggunakan kata-kata kasar itu lagi di depanku, aku tidak akan peduli pada statusmu sebagai tunangan politikku."
Melisa tertawa getir, suara yang terdengar seperti pecahan kaca.
" Tunangan? Kau menyebutnya tunangan setelah apa yang kau lakukan? Kau mempertaruhkan martabat keluarga Moretti hanya untuk seorang gadis yang bahkan tidak punya nama di dunia bawah?"
"Namanya Elara," potong Dante dengan penekanan pada setiap suku kata.
Elara merasakan kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa seperti pion yang sedang diperebutkan di atas meja judi oleh dua monster. "Aku tidak pernah setuju untuk bergabung," ucap Elara tegas, mencoba menembus pertahanan Dante.
Melisa menoleh ke arah Elara, seringainya melebar.
"Dengar itu, Dante? Bahkan dia pun tidak menginginkanmu."
Dante tidak berbalik menatap Elara. Ia justru mencengkeram lengan Melisa, menarik wanita itu mendekat ke arah lift dengan gerakan yang sangat kasar. " Kembalilah ke kediaman pusat. Aku tidak ingin melihatmu di gedung ini lagi. Dan jika aku mendengar kau merencanakan sesuatu untuk melenyapkan Elara, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak pernah melihat cahaya matahari lagi."
"Kau gila, Dante ! Dia akan menghancurkanmu dari dalam!" teriak Melisa saat anak buah Dante menyeretnya paksa menuju lift.
Sebelum pintu lift tertutup, Melisa sempat menatap Elara. Pandangan itu bukan lagi pandangan meremehkan, melainkan pandangan seseorang yang sudah menandai mangsanya.
Setelah pintu lift tertutup, koridor itu kembali sunyi. Hanya menyisakan Dante, Elara, dan anak buah Dante yang masih membeku.
Dante berbalik menatap Elara. "Kau dengar itu, Letnan ? Dia pikir kau bisa menghancurkanku." Dante mendekat, matanya berkilat dengan kegilaan yang murni. " Tunjukkan padaku, Elara. Tunjukkan padanya bahwa dia benar tentang satu hal bahwa kau memang memiliki kekuatan untuk menghancurkan, tapi biarkan aku yang menentukan kapan kau harus melakukannya."
Elara menatap Dante dengan horor. Ia sadar, Dante baru saja melemparkan target ke Punggungnya. Melisa tidak akan tinggal diam, dan kini, Elara terjepit di antara tunangan yang dendam dan pemimpin mafia yang obsesif.
"Kau baru saja membuatku jadi target pembunuhan, Dante," bisik Elara dengan suara dingin.
Dante tersenyum kecil, meraih tangan Elara yang masih memegang pisau, dan mengarahkannya kembali ke dadanya sendiri.
" Di duniaku, Elara, menjadi target pembunuhan adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa kau benar-benar hidup."
Dante kemudian memberi isyarat pada anak buahnya untuk membubarkan diri, membiarkan mereka berdua berdiri sendirian di tengah koridor yang suram. Elara tahu, setelah malam ini, ia tidak bisa lagi memutar waktu. Ia telah menjadi bagian dari permainan ini, dan Pion-pion di papan catur sedang bergerak menuju langkah yang tak terelakkan.
●●●●