"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Operasi Penyelamatan Got
Bismillah
🤗🤗🤗
"Pegangan yang kencang, Rafka! Kita akan menembus kecepatan cahaya!"
"Tante Kei, Rafka takut! Sepedanya oleng!"
"Tenang! Kapten Keisha tidak pernah gagal—eh, eh, Rafka! Remnya blong! Remnya bloooong!"
Gubraaaak!
Plung!
Satu sepeda jengki berwarna merah muda sukses mendarat dengan posisi roda berputar di udara. Di bawahnya, dua manusia telentang pasrah di dalam saluran air sedalam setengah meter yang untungnya sedang kering, hanya menyisakan sedikit lumpur hitam di dasarnya.
"Rafka? Kamu masih hidup, Nak?" Keisha meringis, memegangi pinggangnya yang terasa encok. Rambutnya yang semula dikuncir kuda sekarang sudah ketempelan daun kering.
Dari balik tumpukan stang sepeda, bocah berusia lima tahun itu bangkit dengan pipi yang coreng-moreng hitam. Bukannya menangis, Rafka malah menunjuk wajah Keisha lalu tertawa cekikikan. "Tante Kei kayak monster rawa! Hahaha!"
"Heh, bocil! Kamu juga mirip lele got, ya!" Keisha ikut tertawa, melupakan rasa perih di lututnya yang mulai berdarah. "Ayo bangun, sebelum negara api menyerang."
Baru saja Keisha hendak menarik lengan keponakannya, sebuah bayangan besar tiba-tiba merayap di atas mereka, menghalangi cahaya matahari sore. Aroma parfum maskulin yang sangat akrab—campuran wangi sabun dan minyak rambut khas militer—menyengat indra penciuman Keisha.
Keisha mendongak. Jantungnya mendadak copot.
Di atas bibir got, berdiri seorang pria tegap dengan seragam dinas lapangan (PDL) TNI AD lengkap dengan baret hijaunya. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, rahangnya mengetat, dan matanya yang tajam menatap lurus ke arah mereka berdua.
"Kak Satria?" cicit Keisha.
"Papa!" Rafka bersorak, langsung merentangkan kedua tangan yang penuh lumpur.
Mayor Satria Pramudya tidak membuang waktu. Pria berusia 33 tahun itu langsung melompat turun ke dalam got tanpa memedulikan sepatu larasnya yang mengilap akan kotor. Dengan satu gerakan tangkas, dia menyambar Rafka ke dalam pitingan lengannya, lalu sebelah tangan lainnya mencengkeram lengan Keisha, menarik gadis itu berdiri dalam sekali sentak.
"Naik," perintah Satria pendek. Suaranya berat, dingin, dan tidak menerima bantahan.
Begitu mereka bertiga sudah berada di atas trotoar, Satria langsung memeriksa tubuh anaknya dengan saksama. "Ada yang sakit, Rafka?"
"Lutut Rafka perih, Pa. Tadi Tante Kei bawanya ngebut banget kayak pembalap!" adu Rafka sambil menunjuk Keisha.
"Heh! Enak aja!" Keisha langsung protes sambil membersihkan sisa tanah di bajunya. "Kan kamu yang tadi minta nambah kecepatan! Katanya mau terbang kayak Iron Man! Tante cuma menuruti permintaan konsumen, ya!"
"Tapi kan Rafka enggak menyuruh Tante Kei menabrak tiang listrik sampai kita nyusruk!" balas bocah itu tak kalah sengit, berkacak pinggang meniru gaya neneknya kalau lagi marah.
"Itu karena rem sepedanya mendadak mogok kerja! Salahin sepedanya, jangan pilotnya!" Keisha membela diri, wajahnya yang coreng-moreng mendongak menantang keponakannya sendiri.
"Cukup."
Satu kata dari Satria langsung membungkam perdebatan antar-generasi itu. Satria menatap Keisha dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya sedingin es, membuat Keisha yang biasanya barbar mendadak salah tingkah.
"Kamu terluka," ucap Satria datar, matanya tertuju pada darah segar yang mengalir di sela lumpur di lutut Keisha.
"Ah, ini? Cuma lecet dikit, Kak. Biasa, ujian fisik mahasiswa tingkat akhir," gurau Keisha absurd, mencoba mencairkan suasana.
Satria tidak merespons candaan itu. Dia berbalik, menggendong Rafka dengan satu tangan, sementara tangan satunya tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Keisha. Genggamannya kuat, namun anehnya, terasa hangat di kulit Keisha yang dingin karena angin sore.
"Kak, lepasin, ih! Tangan aku kotor penuh daki got!"
"Diam, Keisha. Kita pulang," ujar Satria tanpa menoleh, menarik Keisha berjalan menyusuri kompleks perumahan menuju rumah orang tua Keisha.
***
"Astaga, Keishaaa! Kamu apakan cucu Ibu?!"
Pekikan melengking Ibu Dania langsung menyambut mereka begitu pintu pagar rumah terbuka. Ayah Farrel yang sedang membaca koran di teras sampai meletakkan kacamata bacanya, lalu menepuk jidatnya sendiri begitu melihat pemandangan di depannya.
"Lagian, Bu ... anak bungsu kamu ini memang enggak bisa dipasrahkan urusan ngurus keponakannya," keluh Ayah Farrel sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayah, Ibu, jangan potong nama Keisha dong. Tadi itu murni kecelakaan kerja!" Keisha langsung protes begitu Satria melepaskan genggaman tangannya.
"Kecelakaan kerja apa kalau sampai nyemplung got, Kei? Kamu ini sudah umur dua puluh satu tahun, kuliah sudah tingkat empat, tapi kelakuan masih kayak bocah SMP!" omel Ibu Dania sambil merebut Rafka dari gendongan Satria. "Aduh, Rafka sayang, cup cup ... kita mandi ya, Nak. Kakinya nanti diobatin."
"Tante Kei yang salah, Eyang!" Rafka menjulurkan lidahnya ke arah Keisha dari balik pundak Ibu Dania.
"Awas kamu ya, bocil! Nanti malam enggak ada jatah main PS!" ancam Keisha sambil mengepalkan tinjunya di udara.
Ibu Dania membawa Rafka masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ayah Farrel, Satria, dan Keisha di teras.
"Satria, kamu kok bisa bareng mereka? Bukannya kamu masih ada dinas di Bogor?" tanya Ayah Farrel, mempersilakan menantunya itu untuk duduk.
"Kebetulan tugas lapangan saya selesai lebih cepat, Ayah. Tadi sedang jalan arah ke sini, lalu melihat sepeda merah muda terbang ke got," jawab Satria. Nadanya tetap formal, kaku seperti biasa.
Keisha yang sedang membersihkan sikunya menggunakan tisu di sudut teras langsung mendengus. Sepeda terbang katanya? Sialan.
"Ya sudah, Satria, kamu duduk dulu. Ayah ambilkan minum. Kamu, Keisha! Cepat bersihkan badan kamu, bau gotnya sampai ke sini!" perintah Ayah Farrel sebelum melangkah masuk ke dalam.
Kini tinggal Keisha dan Satria di teras. Suasana mendadak menjadi canggung. Keisha sibuk menggosok lututnya yang berdarah dengan tisu, sementara Satria hanya berdiri tegak, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Satria enggak pulang ke rumah Kakak?" tanya Keisha, memecah keheningan. "Udah lima tahun menduda harusnya Kakak belajar mandiri, jangan mandiin Rafka di sini terus."
Satria melangkah mendekat. Bukannya menjawab, dia malah berjongkok di depan kursi tempat Keisha duduk. Keisha tersentak mundur, punggungnya menempel erat pada sandaran kursi.
"Kak, mau ngapain?"
Satria mengeluarkan sebotol kecil antiseptik dan sekotak plester dari kantong celana PDL-nya—entah sejak kapan pria itu menyiapkannya. Tanpa permisi, tangan besar Satria memegang pergelangan kaki Keisha, menahannya agar tidak bergerak.
"Sakit, Kak! Pelan-pelan!" pekik Keisha saat cairan antiseptik itu menyentuh lukanya.
"Tahan. Kalau berani bawa sepeda seperti kesetanan, harus berani tanggung risiko," ucap Satria dingin. Tangan pria itu bergerak sangat telaten, membersihkan luka Keisha dengan sapuan lembut yang kontras dengan wajah kakunya.
Keisha menatap puncak kepala Satria. Rambut hitamnya yang dipotong cepak khas tentara terlihat rapi. Sudah lima tahun sejak Kak Vania meninggal karena eklamsia saat melahirkan Rafka. Selama lima tahun itu pula, Satria berubah menjadi sosok yang sangat dingin dan menutup diri, hanya fokus pada kerjaan dan anak. Keisha sudah mengenal pria ini sejak dirinya masih berusia 12 tahun, dan Satria selalu memperlakukannya seperti adik kecil yang merepotkan.
"Udah, Kak, perih banget!" keluh Keisha sambil menarik kakinya setelah plester terpasang.
Satria bangkit berdiri, menyimpan kembali botol antiseptik ke saku celananya. "Lain kali kalau jalan, matanya dipakai. Bukan mulutnya yang dipakai teriak-teriak."
"Iya, iya, siap Pak Mayor! Bawel banget," gerutu Keisha pelan sambil memutar bola matanya. "Lagian tumben banget siang-siang gini udah nongol di rumah Ibu? Enggak ada latihan nembak atau upacara apa gitu?"
"Tugas saya di Bogor hari ini sudah selesai," jawab Satria pendek, matanya beralih menatap lurus ke arah pintu rumah yang terbuka. "Saya mau melihat Rafka."
"Alasan. Bilang aja kangen masakan Ibu," celetuk Keisha asal.
Satria kembali menoleh, menatap Keisha dengan sorot mata yang sulit dibaca. Datar, kaku, tapi ada sesuatu yang membuat Keisha menahan napas sejenak. "Kamu sendiri? Tidak ada jadwal kuliah?"
"Enggak ada, ini kan jam bebasnya mahasiswa tingkat empat buat merenungi nasib skripsi," jawab Keisha santai, menepuk-nepuk celananya yang masih sedikit basah. "Ya udah, aku masuk dulu. Mau mandi, gerah."
Satria tidak menjawab, hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal. Keisha berbalik dan melangkah pincang memasuki rumah, meninggalkan kakak iparnya yang masih berdiri tegak di teras, menatap punggungnya dengan saksama tanpa suara.
Bersambung...
Assalamu'alaikum Kakak semuanya. Hari ini saya mau uji nyali dengan karya terbaru setelah karya sebelumnya zonk. Saya sangat berharap kakak semuanya bisa kerja sama dan mendukung dengan karya terbaru ini. Kalau masih zonk juga, ya wassalam gagal lagi 😂😂. Buat yang sukanya tabung bab, sebaiknya bacanya setelah karya sudah tamat ya. Makasih banyak sebelumnya.
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹