Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"tidak apa-apa Bu, tinggal sedikit lagi, aku akan menyelesaikannya setelah itu bersiap-siap," jawab Lilian tak ingin merepotkan siapapun di rumah itu, dia selalu memberikan semua tugas yang ada kepada dirinya sendiri.
"Tidak perlu, naiklah ke atas sekarang juga, jangan membantah," ucap Sinta lagi.
"Baiklah Bu," jawab Lilian patuh.
Ia pun meninggalkan ruang makan tersebut karena perintah ibu mertuanya.
"Ibu, kenapa sih ibu tiba-tiba menyuruh Lilian pergi? Bukankah pekerjaannya sebentar lagi akan selesai dan dia bisa langsung mempersiapkan dirinya," oceh Raya yang saat itu melepaskan ponselnya dan berdiri lalu menghampiri sang ibu.
"Diam, kakakmu sebentar lagi akan tiba, dia pasti tidak senang jika melihat Lilian berpenampilan compang-camping, ibu tidak mau kalau kakakmu tahu kita memperlakukan Lilian seperti pembantu," ucap Sinta yang ternyata ada udang di balik batu.
"Ibu benar juga, secara kakak selalu saja menunjukkan kasih sayangnya kepada wanita itu, bahkan di saat mereka tak kunjung punya anak, kakak masih saja mempertahankan kehadirannya di rumah ini," ucap Raya dengan mimik wajah datar.
"Karena itu segera selesai pekerjaan Lilian, ibu akan membantumu," ungkap sang ibu yang kemudian buru-buru menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada.
"Baiklah," jawab Raya dengan penuh keterpaksaan.
Satu jam kemudian.
Lilian berdiri di depan cermin dengan pakaian terbaiknya, dia terlihat cantik dan elegan dengan apapun yang dia kenakan, sosok Lilian ini selalu terlihat seperti wanita berkarisma dan mewah meskipun asal-usulnya tidak pernah diketahui oleh keluarga Alen, mereka hanya tahu kalau Lilian hidup sebatang kara dan tidak punya orang tua apalagi saudara karena jika ditanya tentang keluarga Lilian selalu tidak bisa memberikan keterangan yang jelas.
"Kenapa jantungku berdegup kencang? Padahal ini bukan pertama kalinya menunggu kepulangan mas Alen dari dinas, apakah ini perasaan rindu?" tanya Lilian pada dirinya sendiri sambil mengenakan anting-anting ke telinganya.
Jantungnya berdegup tak karuan seolah-olah ada sesuatu yang mendebarkan.
"Lilian! Apa yang kau lakukan di atas begitu lama! Cepat turun!" teriak Raya yang saat itu sudah selesai dengan segala sesuatu di lantai bawah bersama ibunya.
Mendengar itu Lilian mempercepat persiapan dirinya dan segera keluar dari kamar.
"Iya, aku sudah siap," katanya sambil bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah.
Cuaca sedikit tidak bagus malam itu, angin berhembus perlahan, kilat-kilat kecil mulai memberi tanda kalau malam itu hujan akan segera turun.
"Cuacanya tidak bagus, kapan mas Alen akan tiba, ibu apa dia menghubungimu?" tanya Lilian sambil menatap ibu mertuanya berharap ada kabar dari sang suami.
"Dia sebentar lagi akan sampai," jawab Sinta dengan tatapan dingin.
Gerimis mulai terdengar kasar di genteng rumah kediaman keluarga Bayron yang menambah rasa gelisah di hati Lilian.
Tit ...
Tit ...
Tit ...
Terdengar pula suara klakson mobil yang pada saat itu tiba di halaman depan rumah tersebut.
"Bu, kakak sudah tiba," ucap Raya sambil mengintip di balik gorden.
"Benarkah?" ucap sang ibu yang sudah lama menanti.
Lilian yang mendengar ucapan itu semakin berdebar ditambah angin malam itu yang semakin kencang, ia tak sabar ingin menyambut sang suami ke dalam rumah agar segera merasa nyaman dan aman.
Seseorang turun dari mobil dan melangkah menuju teras depan rumah.
"Aku dan ibu akan membuka pintu dan menyambut kak Alen, kau di sini saja, pastikan semua hidangan sudah tersusun dengan benar," ucap Raya menahan langkah kaki Lilian yang hendak menuju pintu rumah.
"Tapi Raya, aku juga ingin menyambut mas Alen," ucap Lilian merasa tidak adil kalau dirinya tidak ikut berdiri di depan pintu untuk menyambut suaminya.
"Sudahlah Lilian, jangan terlalu banyak membantah toh dia juga akan langsung ke ruang makan setelah itu," ucap Sinta yang kemudian berlalu pergi bersama putrinya.
"Huh, baiklah," jawab Lilian mengalah.
Ia pun memilih untuk kembali merapikan meja makan dan memeriksa satu-persatu menu makanan kesukaan suaminya yang dia siapkan sejak tadi pagi.
Sementara itu ...
"Kak akhirnya kau kembali, aku dan ibu sangat merindukanmu," ucap Raya. Setelah membuka pintu dia langsung memeluk sang kakak yang ada di hadapannya.
"Astaga, kau ini masih saja manja, aku juga sangat merindukan kalian," ucap Alen sambil membalas pelukan Raya sang adik.
"Juga akhirnya kau tiba, aku sangat khawatir karena cuaca mulai memburuk," ucap sang ibu sambil menampilkan senyum hangatnya.
"Permisi,"
Tiba-tiba terdengar suara lirih seorang wanita yang saat itu muncul dari belakang Alen. Wajahnya tampak lembut, rambut digerai panjang, memakai dress putih, tangan kanannya memegang gagang koper sementara tangan kirinya memegang perutnya yang tampak besar.
Raya dan Sinta menatap perempuan tersebut dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"D-dia Tasya?" tanya Bu Sinta sambil menunjuk wanita tersebut.
"Permisi Bu Sinta," ucap wanita itu dengan suara lembut.
"Kak, siapa dia? Bu, kok sepertinya ibu sudah tahu dia?" tanya Raya kebingungan.
Siapa yang tidak bingung melihat seorang kakak laki-laki yang sudah punya istri kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil.
Sementara itu, Lilian yang tadinya memutuskan untuk ikut ke pintu depan menyambut kedatangan Alen sambil membawa segelas air putih hangat juga tampak sangat kaget dengan kehadiran sosok wanita hamil berdiri di samping suaminya.
Prang ...
Gelas yang dia bawa seketika jatuh berserakan di lantai, membuat semua mata tertuju ke arahnya.
"Mas! Siapa dia? Siapa wanita itu?" tanya Lilian penuh rasa gelisah dan kekhawatiran.
Ia mengabaikan pecahan gelas yang ada di lantai dan segera menghampiri mereka semua.
"Hallo, aku Tasya, kau pasti istrinya mas Alen ya," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Lilian.
Lilian semakin dibuat bingung dengan situasi tersebut, hatinya terasa panas karena cemburu, ditambah lagi wanita itu berdiri sangat dekat di samping Alen.
"Lilian, perkenalkan, ini Tasya, dia istrinya Tian," ucap Alen kepada Lilian.
Suasana seketika hening, di benak masing-masing kecuali Sinta mulai berpikir keras.
Tian adalah asisten pribadi sekaligus sekretaris Alen di perusahaannya, tapi kenapa Alen membawa istri asistennya itu pulang ke rumah mereka? Ditambah wanita tersebut tampak sedang mengandung.
"Is-istrinya Tian?" tanya Lilian tanpa menerima uluran tangan Tasya.
"Iya, dia istrinya Tian," ungkap Alen lagi.
"Lalu kenapa dia pulang ke rumah kita bersamamu mas? Di mana Tian?" tanya Lilian lagi.
"Iya kak, kenapa dia ke rumah kita?" Raya yang penasaran pun juga ikut bertanya.
"Tian sudah meninggal," lirih Alen yang wajahnya mulai menampilkan sebuah kesedihan.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍