NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERUNGKAP

Mama Billy makin mendekat, napas hangatnya menyentuh telinga Joe, lalu berbisik pelan dengan suara lembut namun penuh makna tersembunyi:

"Kapan kita bisa bersama lagi, Joe? Atau lebih tepatnya... haruskah Tante memanggilmu putra Kevin?"

Joe menahan napas seketika, matanya melebar tak percaya — nama ayahnya, nama yang selama ini dirahasiakan, tiba-tiba disebut begitu saja. Namun dengan cepat ia menguasai diri, menyembunyikan keterkejutannya di balik wajah bingung yang dibuat-buat. Ia menatap Mama Billy dengan tatapan polos, lalu menggeleng pelan seakan benar-benar tidak mengenal nama itu sama sekali.

"Kevin?" tanyanya dengan nada bingung yang terdengar sangat tulus. "Siapa orang yang Tante maksud itu? Aku sama sekali tidak kenal nama itu. Kenapa Tante menyebutku putranya?"

Mama Billy tersenyum miring — senyum yang seakan tahu persis apa yang sedang dipikirkan di dalam kepala pemuda di hadapannya. Ia tidak terkejut mendengar penyangkalan itu, justru matanya berbinar makin tajam.

"Kau tidak perlu berpura-pura tidak tahu, Nak," ucapnya pelan, jarinya perlahan menyentuh pipi Joe dengan lembut namun menahan pergerakannya. "Wajahmu... sorot matamu... persis seperti dia dulu berdiri di hadapanku bertahun-tahun yang lalu. Setiap kali aku menatapmu, seakan Kevin sendiri yang kembali."

Joe tetap menggeleng, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu gila di dalam dada. Ia menunduk sejenak, lalu mendongak kembali dengan wajah yang tetap tenang.

"Aku sungguh tidak mengerti apa yang Tante bicarakan," jawabnya dengan suara yang ia jaga tetap stabil. "Aku dibesarkan oleh kakek ku di tempat yang jauh dari kota. Nama Kevin tidak pernah disebut kepadaku. Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan aku?"

Mama Billy tertawa kecil, suara tawanya halus namun penuh dengan ketidaksukaan yang tersembunyi. Ia menarik tangannya perlahan dari wajah Joe, lalu berdiri tegak sambil menatapnya dari atas ke bawah.

"Kalian hanya lah bocah kecil yang sedang mencoba bermain permainan balas dendam pada kami," ucapnya dengan nada yang berubah dingin dan tajam.

Belum sempat Joe menyusun kalimat balasan, pintu ruangan itu terbuka perlahan. Dua orang melangkah masuk — Jefri dan Dodi. Wajah mereka datar, tenang, seakan baru saja berjalan santai di halaman rumah, bukan menghadapi pemuda yang sedang menyelidiki masa lalu mereka. Jefri berdiri tegak menatap lurus ke arah Joe, lalu berbicara dengan nada rendah namun berat.

"Kalian masih terlalu muda, naif, dan bodoh untuk bermain-main di dunia yang kami jalani," ucap Jefri perlahan. "Kami membangun semuanya ini bertahun-tahun lamanya. Menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan kami — tanpa ragu, tanpa penyesalan. Termasuk siapa pun yang mencoba mengungkit masa lalu yang seharusnya sudah terkubur."

Pikiran Joe langsung melesat ke arah Arthur. Jika mereka berani menyingkirkan siapa pun... berarti Arthur juga dalam bahaya besar! Dadanya terasa sesak hanya dengan membayangkan apa yang mungkin sedang terjadi pada sahabatnya itu.

Dodi seakan bisa membaca kekhawatiran yang melintas jelas di wajah Joe. Ia menyeringai lebar, menampakkan senyum yang penuh kebencian dan kepuasan, lalu melanjutkan dengan nada mengejek yang terdengar sangat menyakitkan.

"Sayangnya temanmu yang bernama Arthur sudah duluan tiba di sini dan sedang menikmati acara penyiksaannya," ucap Dodi pelan namun jelas, seakan sengaja menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kami tahu bahwa dia adalah anak Steven. Setelah kami puas bermain dengan kalian berdua, kami akan mencari Steven. Dia dulu bekerja pada ayahmu juga, Joe. Tapi dia memilih berhenti dan bersembunyi."

Kemarahan Joe meledak seketika. Ia tidak lagi berpura-pura bingung atau tidak tahu apa-apa. Wajahnya berubah keras, urat-urat di lehernya menonjol, dan matanya menatap tajam ke arah ketiga orang di hadapannya seakan ingin melahap mereka hidup-hidup.

"Kalian pengecut!" suaranya bergetar hebat karena menahan amarah yang meluap tanpa batas. "Kalian mengkhianati ayah dan ibuku, lalu menutupinya dengan kebohongan! Aku tidak akan membiarkan kalian terus bersembunyi di balik kekuasaan ini! Aku akan membongkar semua kebenaran — sampai ke akar-akarnya — dan kalian akan bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan dulu!"

Jefri, Dodi, dan Mama Billy hanya saling memandang sejenak, lalu tertawa bersama — tawa yang panjang, keras, dan penuh penghinaan, seakan ancaman yang baru saja diucapkan hanyalah omongan anak kecil yang tidak berarti sama sekali. Bagi mereka, Joe hanyalah serangga kecil yang mudah diinjak-injak.

Jefri menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sinis yang mengerikan.

"Kau tahu, ayahmu — Kevin — dulu adalah pemimpin kami. Orang yang kami percaya sepenuhnya," ucapnya pelan namun jelas, setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris hati Joe. "Tapi dia berubah. Dia ingin berhenti dari semua ini. Dia ingin membagikan kekayaan yang kami kumpulkan bersama dengan susah payah kepada orang luar — orang yang tidak tahu apa-apa tentang perjuangan kami. Dan kami... kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Demi kebaikan kami semua, dia harus disingkirkan. Itulah satu-satunya alasan."

Jefri lalu mengangkat tangan dan bertepuk pelan dua kali. Pintu terbuka lebar seketika, dan sepuluh orang berbadan besar berjalan masuk berbaris dengan langkah berat, memenuhi ruangan yang luas itu. Mereka berdiri melingkari Joe tanpa berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan tatapan dingin dan kejam.

"Berikan pelajaran padanya," perintah Jefri dengan suara datar seakan memesan minuman biasa. "Cukup sampai dia tidak bisa berdiri sendiri lagi."

Mama Billy menyela dengan nada lembut namun jauh lebih mengerikan daripada suara siapa pun di ruangan itu:

"Tapi jangan sampai mati dulu. Biarkan dia sadar sepenuhnya saat merasakan setiap rasa sakit. Agar dia ingat betapa mahalnya harga untuk mengungkit nama Kevin."

Sepuluh orang itu langsung bergerak bersamaan tanpa peringatan. Joe berusaha melawan sekuat tenaga — ia menendang, memukul, menghindar sebisa mungkin — namun jumlah mereka terlalu banyak dan tubuhnya belum cukup terlatih untuk melawan sepuluh orang sekaligus. Satu pukulan keras mendarat kuat di pipinya hingga kepalanya terhempas ke samping dan darah segar langsung mengalir. Tangan dan kakinya segera ditahan kuat oleh beberapa pasang tangan yang kasar. Pukulan demi pukulan menghantam perut, punggung, rusuk, dan wajahnya tanpa ampun. Napasnya terengah-engah, keringat bercampur darah menetes di lantai yang dingin. Perlahan namun pasti kekuatannya habis sepenuhnya. Lututnya lemas, dan tubuhnya yang tegap akhirnya terjatuh berlutut lalu terbaring lemah di lantai yang dingin dan keras.

Mereka terus memukulnya cukup lama, hingga Joe tidak lagi mampu mengerang atau bergerak sedikit pun. Hingga akhirnya Jefri mengangkat tangan dan berseru dengan suara tegas:

"Cukup! Kalian semua, keluar dari ruangan ini sekarang!"

Tanpa menoleh sedikit pun, para bodyguard itu berjalan berbaris keluar dengan langkah berat, meninggalkan ruangan yang kini hanya berisi Joe yang terbaring lemah, Jefri, Dodi, dan Mama Billy.

Ketiga orang itu menonton sejenak dengan wajah puas dan dingin, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh sekalipun. Pintu ditutup rapat dengan bunyi keras. Kunci diputar dari luar. Joe terbaring sendirian di tengah ruangan yang sepi, gelap, dan dingin. Tubuhnya terasa nyeri di setiap bagian, namun jauh lebih berat adalah hatinya. Dia tahu ini baru permulaan. Dalam hatinya ia bertanya dengan cemas: apakah di sinilah perjuangannya membalas dendam berakhir? Apakah hidupnya akan berakhir begitu saja di tempat yang asing ini? Joe merasa seakan tidak ada jalan keluar baginya, tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya. Dan kekhawatiran akan keadaan Arthur — sahabat yang selalu mendampinginya — yang telah mereka tahan dan siksa lebih dulu, semakin membebani seluruh pikirannya hingga dadanya terasa hampir pecah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!