Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bukan ingin Kenzo membentak wanita yang telah melahirkan anak-anaknya. Apalagi membesarkan mereka seorang diri dan itu tidak mudah bagi Tara. Namun, kekesalan dan amarah yang sejak tadi menguasai dirinya tak bisa membuat Kenzo menahan diri lagi.
"Apa yang Anda katakan, Tuan Kenzo?" tanya Tara tak percaya sama ucapan Kenzo barusan.
"Liat dan baca! Kamu bisa baca kan?" tanya Kenzo kemudian, jujur saja Kenzo tak bisa menahan diri untuk tak marah, pemarah adlah sifatnya sejak dulu bahkan sejak saat Kenzo kecil, dia selalu dikenal pria yang kejam dan dingin.
Tara membeku, lembar hasil tes DNA yang baru saja dilempar Kenzo tepat mengenai dadanya sebelum jatuh ke lantai koridor apartemen. Dengan jemari gemetar, ia memungutnya. Matanya menyapu setiap baris tulisan, lalu berhenti pada kalimat yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.
Probability of paternity, sempurna. Napas Tara tercekat, wajahnya memucat. Dia menggeleng pelan, berusaha menyangkal apa yang baru saja dibacanya.
"Tidak ... ini tidak mungkin," bisiknya lirih.
Di hadapannya, Kenzo Roman De Luca berdiri dengan tatapan dingin. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, namun sorot matanya menyimpan amarah yang sulit disembunyikan.
"Saya melakukan dua tempat tes yang berbeda, laboratorium yang berbeda," ucap Kenzo datar, "tetapi hasilnya justru tetap sama."
Tara menggenggam kertas itu semakin erat.
"Jadi, selama lima tahun kau sengaja menyembunyikan mereka dariku?" tanya Kenzo yang mengharap jawaban jujur dari Tara.
Tara membuka mulut, ingin menjelaskan, tetapi tak satu kata pun keluar.
"Bukan begitu, Tuan Kenzo..."
"Lalu bagaimana?" potong Kenzo tajam. "Kau mau bilang dua anak itu bukan anakku? Bukti ilmiahnya sudah ada."
Suasana koridor lantai apartemen begitu sunyi. Hanya suara hembusan angin dari balkon ujung lorong yang terdengar samar.
Tara menundukkan kepala. Selama lima tahun ia membesarkan kedua anaknya seorang diri, yang bahkan dia sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang dia lahirkan itu.
Baru saja Tara hendak berbicara lagi, suara pintu apartemen terbuka memecah keheningan.
"Mommy..." Mateo muncul lebih dulu dengan kaus bergambar dinosaurus favoritnya. Di belakangnya menyusul Alisya yang masih memeluk boneka kelinci. Begitu melihat pria tinggi yang berdiri di depan ibunya, wajah Mateo langsung berubah masam.
"Dia lagi?" gumamnya pelan. Anak itu segera berjalan menghampiri Tara, lalu berdiri di depan sang ibu seolah menjadi tameng kecil.
"Kamu ngapain datang lagi?" tanya Mateo dengan nada ketus.
Kenzo menatap bocah itu tanpa berkedip. Ada perasaan aneh yang menghangat di dadanya. Wajah Mateo benar-benar menyerupai dirinya saat kecil. Namun, Mateo justru menatapnya tajam dan dingin.
"Aku nggak suka kamu bentak Mommy."
Alisya ikut berdiri di samping kakaknya. Gadis kecil itu memandang Kenzo dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
"Kenapa Om ini syanat milip syama Kak Teo?" tanya Alisya saat sadar wajah Kenzo begitu mirip dengan Mateo.
Tara buru-buru ingin menjawab pertanyaan sang anak, tetapi Mateo sudah mendengus pelan, lalu menatap Kenzo dengan kesal.
"Kan aku udah pernah bilang..." katanya polos. "Kalau kamu mau kerja sama, nikahin aja Mommy. Biar Mommy nggak capek sendiri."
Ucapan itu membuat Tara menutup wajahnya sesaat.
Sementara Kenzo terpaku. Beberapa hari lalu, bocah itu memang pernah mengucapkan hal yang sama kepadanya. Saat itu Kenzo menganggapnya hanya celotehan anak kecil.
Namun, sekarang anak yang memintanya menikahi Tara ternyata adalah putra kandungnya sendiri.
Mateo sama sekali tidak tahu bahwa pria yang sedang dipandang sinis itu bukan orang asing. Melainkan ayah biologisnya, tatapan Kenzo perlahan melunak. Sejak datang ke apartemen itu, ini pertama kali amarahnya tergeser oleh sesuatu yang jauh lebih kuat, ikatan batin antara anak dan orang tua.
Lima tahun telah hilang begitu saja dan kedua anaknya bahkan tidak mengenal siapa ayah mereka yang sebenarnya. Namun, takdir selalu punya cara untuk mempermainkan mereka semua.
"Jongkok!" titah Mateo tegas, tatapannya penuh intimidasi yang tak terbantahkan. Kenzo yang mendengar itu keningnya berkerut namun langsung berjongkok di depan Mateo yang menyamakan tinggi mereka.
Plak!
Satu tamparan itu melayang di pipi Kenzo dengan sangat keras, hingga membuat Tara terkejut.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅