Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Hadiah Ulang Tahun untuk Kayla
Suasana kafe yang ramai dengan muda-mudi tengah berpacaran. Beberapa diantaranya sendirian, entah karena mengerjakan sesuatu atau sedang menunggu seseorang.
Azka dan Sesilia terlihat sibuk berbincang. Mereka membicarakan tentang materi yang akan dirapatkan pada pertemuan minggu depan.
Merasa cukup dengan basa-basi tersebut, Azka mulai bertanya tentang hal pribadi kepada Sesilia. “Sebentar lagi ada yang ulang tahun nih?” celetuk Azka mengawali topik di luar pekerjaan.
“Hehe, iya, sebentar lagi,” jawab Sesilia terlihat lesu.
Azka melihat ada sesuatu yang janggal atas sikap Sesilia. Seharusnya ia bahagia karena hari ulang tahunnya tidak lama lagi.
“Kenapa? Sepertinya kamu tidak senang?”
“Senang-senang aja sih. Tapi..” jawab Sesilia namun tidak melanjutkan kalimatnya.
Melihat wajah sedih Sesilia, Azka merespons serius, “Tapi apa? Coba cerita, siapa tahu saya bisa bantu kamu.”
“Sudahlah pak, tidak perlu dibahas,” kata Sesilia enggan membahas.
“Kayla.. Memang aku atasanmu, tapi itu urusan profesional pekerjaan. Sekarang, kita bukan di kantor, bukan juga pada jam kerja. Jadi kamu bisa anggap aku sebagai temanmu. Kamu boleh cerita apapun ke aku,” ungkap Azka memanggil Sesilia pakai nama itu lagi.
Kayla terkejut setelah mendengar ucapan Azka. Apalagi sekarang Azka mengganti bahasanya menjadi lebih intim dengan menyebut aku-kamu. Mereka diam sejenak, mencerna situasi yang saat ini tengah terjadi.
Dalam hatinya, Azka juga tidak tenang karena terlanjur memberikan perhatian lebih. Ia takut kalau Kayla menanggapinya dengan respon lain.
“Baiklah Pak. Aku sebenarnya belum pernah ulang tahun jauh dari ibu,” ucapnya mengawali cerita.
Azka menyimak sambil mengambil tisu dari meja karena melihat ia mulai menitikan air mata. Kayla menerima tisu yang diberikan, melanjutkan kalimatnya.
“Aku sudah mengambil semua jatah cutiku. Jadi aku tidak mungkin libur lagi,” ujarnya yang sekarang juga konsisten menggunakan panggilan aku-kamu.
“Belum lagi kondisi ibu yang masih belum sehat sepenuhnya. Melihat kesehatan ibu sekarang, aku takut ibu kenapa-kenapa,” lanjutnya.
Mulai bisa memahami kesedihan yang dirasakan, Azka menanggapi lewat ucapan bijak. “Kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus optimis. Jangan berprasangka buruk,” ucap Azka.
Ia kemudian menyinggung tentang jatah cuti Kayla yang sudah tidak ada.
“Mengenai jatah liburmu, biar nanti aku yang atur. Begini-begini kan aku pimpinan di kantor, lho,” candanya agar bisa mencairkan suasana.
Kayla langsung menolak, “Jangan Pak, saya tidak mau.”
“Lho, kenapa?”
“Aku tidak mau merepotkan Pak Azka lagi. Aku bukannya tidak tahu tentang apa yang terjadi di lingkungan kantor. Tentang gosip kalau aku adalah anak emas Pak Azka,” jelasnya.
“Kamu sudah banyak membantuku. Jadi, aku rasa sudah cukup, aku tidak mau lagi.”
Azka kemudian memberi penjelasan logis mengenai apa yang akan dilakukan olehnya. “Pertama, hak libur pegawai memang sudah diatur dalam peraturan kantor. Tapi kamu juga harus tahu kalau perusahaan memiliki nilai dan empati untuk mempertimbangkan sesuatu. Salah satunya situasi seperti ini,” ungkap Azka serius.
“Kedua, kamu berhak mendapatkan kompensasi sesuai kinerja. Aku bisa berikan kamu hak berupa jatah libur tambahan, selama kamu menunaikan kewajibanmu di kantor dengan baik. Jadi aku minta kamu tidak perlu khawatir soal itu. Tapi aku juga berharap kamu dapat menjalankan tugasmu, terutama soal jangka waktu kesepakatan kerja yang pernah kamu janjikan pada Pak Dito dan Pak Wawan,” sambung Azka.
Masih sedikit ragu atas penjelasannya, Kayla memastikan, “Apa benar tidak apa-apa pak?”
“Kamu percaya sama aku,” ucap Azka pelan tapi meyakinkan.
Hanya diam, Kayla menunjukkan gestur menyetujui usulan Azka. Ia tersenyum, mengangguk pelan sambil mengangkat alisnya, lalu menutupnya dengan senyuman kecil.
Tak ingin membahas soal jatah libur lagi, Azka mempertajam obrolan, “Sekarang aku mau tanya, kamu ingin dibelikan hadiah apa untuk ulang tahunmu?”
Kayla jadi semakin terkejut dengan pertanyaan Azka.
***
“Jadi akhir bulan ya, saya berencana akan melaporkan secara langsung ke sana,” kata Azka di telepon.
Ia sedang menghubungi tim manajemen pengawasan kantor pusat ibukota. Ia membahas terkait laporan yang harus diserahkan.
“Tidak perlu Pak, cukup email saja tidak apa-apa. Nanti paling dibuat tembusan saja ke direksi terkait,” jawab pria yang dihubungi oleh Azka.
Tapi ternyata ia tetap bersikukuh untuk menyerahkan laporan tersebut secara langsung. “Saya juga kebetulan ingin mengunjungi orang tua, sudah lama tidak bertemu. Jadi sekalian mampir,” dalihnya.
“Oh begitu, baik Pak, silakan saja,” respon pria itu.
Azka kemudian mengakhiri panggilan. Ia yang sedang berada di dalam ruangan kerja langsung membuka aplikasi whatsapp di handphone.
Ia menghubungi Sesilia Kaylani yang di dalam daftar kontaknya diberi nama ‘Kayla’.
“Bisa ke ruangan saya sebentar?”
Tak berapa lama, ia menutup telepon. Meletakkan handphone diatas meja. Menyatukan telapak tangan, menggerak-gerakan kedua jempol.
Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang penting.
Ketika Kayla datang, ia langsung mempersilakannya masuk. Tanpa basa-basi, ia memberitahu terkait rencana yang telah dibuat olehnya.
“Hari senin, kita berdua berangkat ke ibukota ya. Kebetulan saya harus berangkat untuk menghadiri pertemuan dengan direksi di sana. Saya sudah jadwalkan kita akan dinas selama lima hari, dari tanggal 30 juni sampai 4 juli,” jelas Azka.
“Tapi Pak,” Kayla ingin bicara tapi langsung dipotong Azka.
“Sudahlah Kayla, kamu tenang saja. Aku sudah atur semuanya. Kamu tidak perlu takut karena kamu bukan cuti, tapi ikut perjalanan dinas bersamaku,” ungkap Azka lembut tanpa bahasa formal meski sedang berada di kantor.
“Nanti begitu sampai di ibukota, kamu pulang saja ke rumah, temui ibu kamu, rayakan ulang tahunmu seperti biasa. Tanggal 4 juli, kita pulang lagi ke sini,” sambungnya.
Kayla masih bingung, “Lalu pak Azka bagaimana?”
Kembali menjawab dengan suara pelan, Azka meyakinkan Kayla kalau semua akan baik-baik saja.
“Kamu tidak perlu khawatirkan aku, oke?”
Bukannya menjawab, Kayla justru menangis. Ia merasa sangat terharu atas apa yang telah dilakukan Azka untuknya.
Melihat Kayla sedih, Azka langsung berdiri, menyeberang berputar di sisi meja kerja. Ia memberikan tisu lalu memeluknya.
Kayla juga merespon dengan menangis lebih keras karena merasa mendapat sandaran hati. “Makasih ya, Pak Azka,” sesenggukan.
Memanfaatkan kesempatan, Azka menepuk pundak Kayla sambil memeluknya lebih erat.
Azka berani melakukan itu karena mengetahui tidak ada yang berani masuk ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, meskipun itu Noval karena hubungannya sedang tidak baik.
***
Setelah jam makan siang, Noval datang ke ruangan Azka. Ia mempertanyakan tentang rencana Azka yang ingin pergi ke kantor pusat di ibukota.
“Kamu serius Pak? Mau pergi lima hari? Padahal kita ada rapat penting tanggal 1 juli dan 3 juli,” keluhnya.
Azka merespon santai, “Tunda saja, saya pulang tanggal 4 juli. Kita bisa rapat tanggal 5 juli. Kita satukan saja semuanya, dibuat simpel, jangan terlalu banyak diskusi tidak jelas.”
“Tanggal 5 juli hari sabtu, 6 juli hari minggu. Sedangkan tanggal 7 juli kita sudah harus rapat besar bersama seluruh divisi dan sub divisi,” jelas Noval mulai kesal.
Berpikir sejenak, Azka kemudian memberikan solusi, “Kalau begitu, kita tetap rapat internal sesuai jadwal. Saya tetap akan ikut via zoom. Teknologi sudah canggih, cobalah mulai manfaatkan.”
Belum sempat Noval memberi jawaban, Azka mengusirnya secara halus. “Kalau tidak ada urusan lagi, silakan keluar dulu. Saya mau ada zoom meeting bersama direksi kantor pusat,” ucapnya.
Noval tak menduga kalau Azka akan bertindak sejauh ini. Ia merasa Azka sedang menghindarinya.
Wajah Noval menegang. Rahangnya tampak keras dengan sorot mata menyimpan bara tapi masih ia coba padamkan. Ada sesuatu bergolak dalam dirinya, kemarahan tertahan, kekecewaan yang hanya bisa dipendam. Tapi ia tahu, meledak sekarang bukanlah pilihan bijak.
Ia menghela nafas panjang, tanpa berkata sepatah katapun, berbalik menuju pintu.
Tangannya menyambar gagang pintu dengan kasar hingga mengakibatkan suara bantingan terdengar lebih nyaring dari seharusnya. Pintu terbuka lebar disertai hentakan, menciptakan denting kecil menggema di ruangan yang tiba-tiba terasa sunyi.
Langkahnya cepat, hampir seperti lari kecil, meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikitpun. Hanya suara sepatu tergesa tertinggal, mengisi koridor penuh irama kemarahan tak terucap.