NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Sebutir Benih Harapan

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, keluarga Han makan hingga perut mereka benar-benar terasa hangat.

Kuah kelinci yang dimasak Nyonya Han sebenarnya sangat sederhana. Hanya diberi sedikit garam, beberapa irisan jahe liar, dan daun bawang yang tumbuh di belakang rumah. Namun aroma gurihnya memenuhi seluruh ruangan kecil itu.

Tuan Han mengangkat mangkuknya perlahan, menghirup uap yang mengepul sebelum menyeruput sedikit kuah.

Matanya yang mulai dipenuhi keriput perlahan memerah.

"Sudah hampir setengah tahun..." gumamnya lirih. "Aku tidak mencium aroma daging di rumah ini."

Nyonya Han menghentikan gerakan sumpitnya. Ia menundukkan kepala, seolah takut air matanya terlihat oleh yang lain.

Han Zheng hanya tersenyum tipis.

Ia sengaja menyisakan tiga ekor kelinci lainnya. Satu akan dijual ke pasar tiga hari lagi, satu lagi akan diasinkan agar tahan lebih lama, sedangkan yang terakhir akan disimpan jika sewaktu-waktu keluarga mereka benar-benar kehabisan makanan.

Tidak ada yang berani hidup boros.

Kemiskinan telah mengajari mereka bahwa hari ini kenyang bukan berarti besok masih bisa makan.

Lian Yue memandangi keluarga kecil itu tanpa berkata apa-apa. Mereka tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyalahkan keadaan, yang mereka lakukan hanyalah terus bekerja.

Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat.

.

.

Keesokan paginya, matahari baru saja muncul ketika Lian Yue sudah berada di halaman. Ia mengangkat tutup tempayan berisi air.

Airnya mulai keruh. "Kalau terus seperti ini, mereka bisa sakit."

Di dunia asalnya, penyakit lebih mengerikan daripada monster. Seseorang yang jatuh sakit hampir dipastikan tidak akan bertahan lama.

Karena itu, ia terbiasa menjaga kebersihan air minum. Ia mengambil beberapa batu kecil, pasir halus, dan arang dari sisa kayu bakar. Dengan bambu bekas yang dipotong memanjang, ia mulai menyusun lapisan penyaring sederhana.

Nyonya Han yang baru keluar rumah menghentikan angkahnya. "Nak... sedang apa?"

"Menyaring air."

"Air sumur kita memang keruh kalau musim kemarau. Tapi selama ini tetap diminum."

Lian Yue tersenyum kecil. "Kalau disaring dulu, rasanya akan lebih baik."

Nyonya Han tidak begitu mengerti, tetapi ia memilih memperhatikan. Tak lama kemudian, air perlahan menetes dari ujung bambu.

Warnanya jauh lebih jernih, Nyonya Han membelalakkan mata. "Benar-benar berbeda..."

Lian Yue mencicipinya sedikit. Masih belum sesempurna yang ia inginkan, tetapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Ia mengangguk puas. "Mulai hari ini, gunakan air yang ini untuk memasak."

Nyonya Han mengangguk berkali-kali. Meski tidak memahami caranya, ia tahu menantunya melakukan sesuatu yang baik.

.

.

Menjelang siang, Han Zheng bersiap pergi menjual tiga ekor kelinci ke desa tetangga. Lian Yue menghentikannya. "Tunggu sebentar."

Han Zheng menoleh. "Ada apa?"

Lian Yue mengambil pisau kecil, lalu mulai membersihkan bulu salah satu kelinci yang telah dikuliti.

Han Zheng tampak bingung. "Bukankah kulitnya akan dibuang?"

"Dibuang?"

Lian Yue menggeleng. "Sayang sekali."

Ia membersihkan sisa daging yang menempel, lalu menaburkan garam tipis-tipis sebelum menggantung kulit itu di tempat teduh.

"Kalau dirawat dengan benar, kulit ini bisa dijadikan pelapis pakaian saat musim dingin."

"Atau dijual."

Han Zheng terdiam. Selama ini, ia selalu membuang kulit hasil buruan. Baginya, yang penting hanyalah daging.

Melihat ekspresinya, Lian Yue tersenyum tipis. "Di dunia ini...tidak ada yang benar-benar menjadi sampah."

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi Han Zheng mengingatnya baik-baik.

.

.

Siang hari terasa semakin panas. Lian Yue berjalan mengelilingi ladang keluarga Han. Tanahnya keras dan retak di sana-sini. Beberapa batang jagung bahkan baru tumbuh setinggi lutut meski musim tanam sudah berlangsung cukup lama.

Ia berjongkok, menggenggam segenggam tanah.

Kering. Hampir tidak menyimpan kelembapan. Saat itulah suara kecil terdengar dari balik rerumputan.

["Kasihan..."]

Lian Yue menoleh. Seekor belalang hijau sedang bertengger di ujung daun.

["Tanah ini lapar."]

Ia terdiam. "Lapar?"

Belalang itu menggerakkan sungutnya. ["Sudah lama tidak diberi makan."]

Lian Yue mengernyit. "Tidak diberi makan?"

]"Daun kering, rumput dan kotoran hewan. Kalau semuanya kembali ke tanah, tanah akan senang."]

Belalang itu melompat pergi begitu saja. Namun kata-katanya membuat Lian Yue berpikir cukup lama. Di dunia asalnya, ia memang pernah membuat kompos sederhana dari sisa tanaman.

Tetapi di desa ini... Jerami biasanya dibakar. Daun kering dibuang dan kotoran ternak hanya dibiarkan mengering. Tak seorang pun berpikir untuk mengembalikannya ke tanah.

Ia menatap hamparan ladang di depannya. "Mungkin...bukan tanahnya yang buruk. Tapi hanya caranya yang salah."

.

.

Menjelang sore, Han Zheng kembali dari desa tetangga. Di tangannya ada sebuah kantong kain kecil, lalu setibanya di rumah, dia segera mengumpulkan semua orang.

"Hasil penjualan." Ia menuangkan isinya ke atas meja.

Beberapa keping uang tembaga bergemerincing pelan. Jumlahnya memang tidak banyak. Namun bagi keluarga Han, itu cukup untuk membeli garam dan sedikit gandum.

Nyonya Han tersenyum bahagia. "Besok kita bisa membeli benih sayuran."

Lian Yue yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, "Apakah di desa ini ada yang menjual pupuk?"

Ketiga anggota keluarga Han saling berpandangan. "Pupuk?"

Han Zheng tampak heran. "Apa itu?"

Lian Yue baru menyadari bahwa istilah itu mungkin asing bagi mereka.

Ia segera menjelaskan, "Makanan untuk tanah."

Ketiganya semakin bingung. Tuan Han bahkan tertawa pelan. "Selama hidupku, baru kali ini aku mendengar tanah juga perlu makan."

Lian Yue ikut tersenyum. Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Kalau ia menjelaskan terlalu banyak sekaligus, mereka justru akan semakin sulit memahami.

"Kalau begitu...aku akan mencoba membuatnya sendiri." Bisik Lian Yue dalam hatinya.

.

.

Malam kembali tiba. Setelah semua orang tertidur, Lian Yue keluar membawa keranjang bambu. Ia mulai mengumpulkan daun-daun kering, rumput liar, abu dapur, dan sisa sayuran.

Dari atas pohon, beberapa burung pipit memperhatikannya.

["Manusia aneh itu bekerja lagi."]

["Bukankah matahari sudah tidur?"]

["Kenapa dia belum?"]

Seekor burung tua mengepakkan sayapnya pelan. ["Mungkin...karena dia ingin keluarganya tidak lagi kelaparan."]

Burung-burung kecil itu mendadak terdiam. Mereka memandang Lian Yue yang masih sibuk mengumpulkan dedaunan di bawah cahaya bulan. Tak ada yang tahu apa yang sedang dilakukan manusia itu.

Namun untuk pertama kalinya, mereka merasa... Musim depan mungkin akan berbeda.

Sementara Lian Yue memandangi tumpukan daun di hadapannya. Besok, ia akan memulai percobaan kecil.

Jika berhasil... Mungkin tanah tandus keluarga Han akhirnya akan memiliki kesempatan untuk hidup kembali.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!