Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Pintu Seberang
Sekar mulai memasukkan pakaian ke koper pukul sebelas malam.
Anton dan Yuni sedang menginap di rumah orang tua Yuni. Pak Slamet bekerja shift malam. Sekar memilih waktu ketika rumah paling sepi, tetapi roda koper tetap membangunkan Bu Warni.
"Kamu mau ke mana malam-malam?"
Sekar menutup ritsleting. "Pindah."
Bu Warni berdiri di pintu kamar dengan wajah pucat. "Sekarang? Mamah pikir kamu cuma marah."
"Kamar ini mau dipakai anak Mbak Yuni. Aku permudah."
"Itu kan nanti. Kamu jangan bawa-bawa omongan orang hamil."
Sekar menatap ibunya. "Mamah diam waktu dia bilang aku bisa tidur di ruang tengah."
Bu Warni tidak menjawab.
Koper pertama berisi pakaian dan dokumen. Tas besar kedua berisi alat jahit, laptop, mukena, serta buku pola. Barang-barang lain sudah ia kirim siang tadi ke penitipan sanggar agar alamat barunya tidak diketahui keluarga.
"Kamu tinggal di mana?"
"Kos bareng teman. Satu bulan Rp4,5 juta, belum listrik."
Ia sengaja menaikkan harga dan menyebut tinggal bersama teman. Jika keluarga mengira tempatnya sempit serta mahal, mereka tidak akan tertarik datang.
"Mahal sekali! Terus uang bulanan buat rumah?"
"Mulai sekarang aku nggak setor."
"Sekar!"
"Gajiku buat sewa dan hidupku. Cicilan rumah itu tanggung jawab Mas Anton."
Bu Warni memegang gagang koper. "Mamah tidak melarang kamu pindah. Tapi kamu tetap harus kasih uang jaminan hari tua orang tua."
Sekar melepaskan tangan ibunya perlahan. "Mamah dan Bapak baru lima puluhan, masih bisa cari nafkah. Nanti kalau sudah tua dan memang butuh, sesuai kewajibanku aku bantu. Tapi bukan lima juta tiap bulan untuk rumah atas nama Mas Anton."
"Kamu tega sekali."
"Aku sudah kasih seratus juta dan cicilan bertahun-tahun. Kalau itu masih dibilang tega, aku nggak tahu lagi apa arti anak baik menurut Mamah."
Bu Warni mulai menangis. Dulu suara tangis itu selalu membuat Sekar menyerah. Malam ini ia hanya mengambil koper.
"Kunci rumah taruh di meja," kata ibunya.
Sekar meletakkan kunci lama di samping vas plastik. "Baik."
Ia menarik koper melewati ambang pintu tanpa menoleh.
***
Tarif kendaraan menuju Jakarta Rp83.000.
Sekar memperhatikan angka itu di aplikasi, lalu menekan pesan. Dua koper tidak mungkin dibawa dengan ojek motor. Mobil datang delapan menit kemudian.
Selama perjalanan, grup keluarga terus menyala. Bu Warni sudah menulis bahwa Sekar pergi tengah malam. Anton menelepon tiga kali. Sekar mematikan suara ponsel dan mengirim lokasi hanya kepada Nindy serta Bu Laksmi.
The Cempaka Residence menyambutnya dengan lobi sunyi. Satpam mencocokkan identitas dan kontrak sebelum membantu membawa koper ke lift.
Ketika pintu unit terbuka, Sekar menyalakan semua lampu.
Ruangan itu langsung terasa hidup.
Ia menaruh sandal di rak, menggantung dua blus di lemari, menyusun sikat gigi, lalu meletakkan mukena di sudut kamar. Tidak banyak, tetapi setiap benda berada di tempat yang dipilihnya sendiri.
Sekar berdiri di depan cermin kamar mandi.
"Kamu hebat, Sekar."
Suaranya pecah. Ia tertawa sambil mengusap air mata.
Pukul satu lewat, ia masih belum mengantuk. Ia membuka kotak mi instan, memasak satu porsi, lalu makan di lantai karena meja belum datang. Tidak ada yang mengambil telur dari mangkuknya. Tidak ada yang mengeluh ia pulang terlambat.
Setelah makan, Sekar memotret sudut ruang tamu yang masih kosong dan mengirimkannya kepada Nindy serta Bu Laksmi.
Sudah masuk. Aman.
Nindy membalas dengan belasan emoji dan janji membawa peralatan rumah pada akhir pekan. Bu Laksmi hanya menulis `Alhamdulillah. Kunci pintu, istirahat.`
Sekar memeriksa kunci dua kali, memasang kait tambahan, dan menyimpan nomor lobi di kontak favorit. Ia kemudian membuka grup keluarga. Anton menuntut alamat. Yuni menulis bahwa Bu Warni hampir pingsan karena anak perempuannya kabur. Pak Slamet hanya mengirim `pulang besok, kita bicarakan`.
Sekar membalas satu kali.
Aku aman. Aku tidak kabur. Aku pindah atas keputusan sendiri. Jangan cari alamatku.
Setelah itu ia keluar dari grup keluarga.
Layar menjadi sunyi. Tangannya gemetar beberapa detik, lalu perlahan tenang. Keluar dari rumah ternyata hanya membutuhkan dua koper. Keluar dari peran sebagai anak yang selalu mengalah membutuhkan satu tombol.
Di luar unit, lift berbunyi.
Sekar yang sedang membungkuk menata sepatu tidak mendengarnya.
***
Narendra keluar dari lift dengan langkah berat.
Makan malam bisnis berakhir lewat tengah malam. Ia hanya minum sedikit, tetapi tubuhnya terasa tidak enak dan tenggorokannya mulai gatal. Daripada menempuh perjalanan ke Pondok Indah, ia meminta sopir mengantar ke unit kosong Bagas di lantai dua puluh dua.
"Besok pukul tujuh jemput saya," katanya.
"Baik, Pak."
Pintu lift tertutup. Narendra berjalan menuju unit kanan, lalu melihat cahaya dari pintu seberang yang terbuka sedikit.
Seorang perempuan berbaju biru muda sedang membungkuk menata barang. Rambutnya diikat rendah. Tubuhnya ramping dan terlalu dikenalnya.
Sekar.
Narendra berhenti.
Perempuan itu bergerak masuk sebelum sempat melihatnya. Pintu menutup perlahan.
Narendra menatap nomor unit.
Mustahil.
Tempat ini milik Bagas. Eyang memegang akses, tetapi setahunya tidak ada penyewa. Sekar juga tinggal di Bekasi. Tidak ada alasan ia berada di lantai dua puluh dua pada pukul satu dini hari.
"Sudah mulai berhalusinasi," gumamnya.
Ia membuka unit kanan dan masuk tanpa menyalakan lampu. Jas dilempar ke kursi. Tubuhnya jatuh ke sofa, sementara bayangan punggung berbaju biru tadi kembali muncul.
Unit Bagas jarang dihuni. Tidak ada makanan di kulkas selain air mineral dan dua kaleng minuman. Narendra menelan obat penurun panas yang tersisa di kotak P3K, lalu memeriksa ponsel. Fikri sudah mengirim laporan hari esok dan bertanya apakah rapat pukul delapan tetap berjalan.
Tunda satu jam. Aku kurang sehat.
Fikri langsung menawarkan dokter, tetapi Narendra menolak. Tenggorokannya hanya perih karena kelelahan dan pendingin udara, bukan sesuatu yang memerlukan kepanikan.
Ia berjalan ke jendela. Dari celah tirai, lampu unit seberang masih terlihat. Bayangan seseorang melintas membawa mangkuk. Narendra hampir mengetuk untuk memastikan, lalu menahan diri. Jika itu benar Sekar, mendatangi perempuan yang baru pindah pada pukul satu pagi hanya akan membuatnya terlihat seperti tetangga aneh.
Ia kembali ke sofa dan menarik selimut tipis sampai dada.
Jatuh cinta pada pandangan pertama cuma nafsu, pikirnya.
Ia bahkan belum benar-benar mengenal Sekar. Mungkin reaksi tubuh yang datang selama ini hanya karena terlalu lama menekan diri. Mungkin otaknya sedang mencari satu wajah untuk dijadikan alasan.
Namun saat mata terpejam, Sekar kembali hadir.
Dalam mimpi, perempuan itu berdiri sangat dekat. Tidak memakai kebaya, hanya blus biru muda. Narendra mengangkat tangan, menyentuh pipinya, lalu menunduk dan mencium bibirnya.
Sekar tidak menjauh.
Jemarinya justru meremas bagian depan kemeja Narendra. Sentuhan kecil itu membuat dada Narendra panas, sementara bibir Sekar terasa lembut dan nyata. Ia mencium lebih dalam, seolah ingin memastikan perempuan itu tidak akan menghilang lagi di balik kaca kafe atau kerumunan pameran.
Untuk pertama kalinya, mimpinya bukan hanya tentang tubuh.
Ada rasa takut kehilangan seseorang yang bahkan belum menjadi miliknya.
Narendra terbangun menjelang subuh dengan hidung tersumbat, tenggorokan perih, dan tubuh panas dingin. Pendingin udara menyala terlalu rendah semalaman. Ia bersin dua kali, lalu duduk dengan kepala berat.
Termometer di kotak obat menunjukkan 37,8 derajat. Belum tinggi, tetapi cukup membuat persendiannya pegal. Ia mematikan pendingin udara, minum segelas air, lalu membungkus tubuh dengan selimut sambil menunggu waktu Subuh.
Di unit seberang, Sekar juga belum tidur. Ia berbaring sambil memandangi langit-langit baru, terlalu bahagia dan terlalu takut kehidupan ini akan direbut kembali jika ia memejamkan mata.
Pukul 05.41, ponsel Narendra berdering.
Eyang.
"Assalamu'alaikum, Le. Sudah bangun?"
"Wa'alaikumussalam." Suara Narendra serak dan sengau. "Ada apa pagi-pagi?"
"Kamu di unit Bagas, kan? Sopirmu cerita sama petugas rumah."
Narendra memijat pelipis. Informasi bergerak terlalu cepat di keluarga Adiwangsa.
"Iya."
"Bagus. Eyang sewakan unit seberang."
Tangannya berhenti.
"Kepada siapa?"
Eyang tertawa kecil. "Anak yang bikin kebaya. Namanya Sekar."
Narendra menoleh ke arah pintu.
Jadi ia tidak berhalusinasi.
Sekar benar-benar tidur hanya beberapa meter darinya.
"Kenapa Eyang menyewakan unit Bagas tanpa bilang?"
"Bagas sudah setuju. Kamu yang tidak perlu ikut campur."
"Berapa sewanya?"
"Cukup."
Jawaban itu memastikan Eyang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Eyang tahu aku kenal dia?"
"Eyang tua, bukan buta." Nada perempuan tua itu penuh kemenangan. "Kamu tidak pernah mau mengambil kebaya Eyang. Sekali dengar nama sanggar, langsung bersedia. Bu Darsih juga lihat kamu muter-muter di pameran."
Narendra menutup mata. Seluruh keluarga lanjut usia rupanya lebih cepat membaca perasaannya daripada dirinya sendiri.
"Jangan ganggu dia," katanya.
"Siapa yang ganggu? Eyang membantu dua orang keras kepala."
Narendra bersin lagi. Eyang langsung tertawa.
"Suaramu kenapa?"
"Masuk angin."
"Kalau begitu pas. Minta dibuatkan wedang jahe sama tetangga."
"Eyang."
"Jaga dia baik-baik, Le. Dia baru keluar dari rumah yang tidak memperlakukannya dengan benar. Jangan bikin dia menyesal pindah."
Nada main-main Eyang menghilang pada kalimat terakhir.
Narendra menggenggam ponsel dan menatap pintu seberang.
Di balik pintu itu tinggal satu-satunya perempuan yang pernah membuat tubuhnya bereaksi.
Dan mulai pagi ini, hanya tiga langkah yang memisahkan mereka.
Tiga langkah yang mendadak terasa lebih berbahaya daripada jarak mana pun.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰