NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Benteng yang Retak

Vivi mempertimbangkan untuk bersembunyi di balik dinding.

Terlambat.

Sebastian sudah menatap lurus ke arahnya dari ruang keluarga.

“Turun,” katanya.

Hanya satu kata, tetapi suara itu mencapai lantai dua dengan jelas.

Vivi berjalan menuruni tangga sambil berusaha terlihat seperti orang yang kebetulan lewat, bukan istri yang baru saja tertangkap mengintip suaminya. Sebastian mengikuti setiap langkahnya dengan mata yang terlalu fokus.

Ponselnya sudah diletakkan terbalik di meja.

“Kamu pulang cepat,” ujar Vivi.

“Pekerjaan selesai.”

Dari lorong makan, Pak Yanto yang sedang mengatur piring berhenti sesaat. Wajahnya tetap profesional, tetapi alisnya naik sangat tipis.

Vivi hampir tersenyum. Tiga puluh menit lalu, sekretaris Sebastian pasti tidak akan setuju bahwa pekerjaannya selesai.

“Aku dengar rapatmu dibatalkan.”

“Ditunda.”

“Karena apa?”

Sebastian memandangnya selama dua detik. “Ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Makan malam sudah siap,” potongnya, lalu berdiri terlalu cepat.

Laptop yang belum disimpan hampir tersenggol lutut. Sebastian menangkapnya sebelum jatuh, menutup layar dengan gerakan kaku, lalu berjalan menuju ruang makan.

Pria yang biasanya dapat membuat satu meja direksi berkeringat kini bahkan tidak berhasil menjawab pertanyaan sederhana.

Vivi menyentuh ponsel di saku piyama.

Mungkin Joce benar.

Mungkin diamnya bukan penolakan.

***

Meja makan panjang itu biasanya membuat dua orang di ujung berbeda terasa seperti tinggal di negara terpisah. Malam ini, Sebastian duduk di kursi sebelah kanan Vivi, bukan di seberangnya.

Pak Yanto menyajikan sup jagung, ikan kukus jahe, dan tumis sayuran. Sebelum Vivi mengambil sendok saji, Sebastian sudah memindahkan sepotong ikan ke piringnya.

“Makan.”

Vivi menatap ikan itu. “Kamu mengambilkannya untukku?”

“Tanganmu jauh.”

Jarak mangkuk saji dari tangannya tak sampai dua puluh sentimeter.

“Terima kasih,” katanya.

Sebastian mengangguk, lalu salah mengambil garpu untuk sup.

Pak Yanto segera menunduk dan pura-pura sibuk menuang air.

Vivi menggigit bibir agar tidak tertawa. Dalam kehidupan pertama, makan malam mereka pada tahap ini hanya berisi bunyi sendok dan pertanyaan formal tentang kondisi PT Winata. Sebastian tak pernah salah mengambil alat makan. Ia juga tak pernah duduk sedekat ini.

Hari ini pertahanannya retak di mana-mana.

“Siang tadi kamu makan apa?” Sebastian bertanya.

“Tiramisu.”

“Hanya itu?”

“Ada lemon tea.”

Sebastian menatap piringnya yang masih hampir penuh. “Itu bukan makan siang.”

“Aku tidak terlalu lapar.”

Ia mengambil mangkuk nasi dan menambahkan setengah porsi ke piring Vivi. Setelah berpikir sebentar, ia juga memindahkan sayuran dan ikan tanpa duri.

“Habiskan.”

“Sebanyak ini?”

“Kamu sakit semalam.”

“Sudah sembuh.”

“Tubuhmu tetap perlu makan.”

Vivi hendak protes, tetapi Sebastian sudah mengambil tulang kecil yang tersisa dari potongan ikan dengan ujung sumpit. Gerakannya teliti, seperti tak percaya siapa pun mampu menyiapkan makanan cukup aman untuknya.

Perhatian semacam ini lebih sulit dihadapi daripada kalimat manis. Ia bisa menolak pujian, tetapi bagaimana cara menolak ikan yang sudah dibersihkan satu per satu?

Vivi akhirnya menyuap nasi. “Aku makan. Jangan tambahkan lagi.”

Sebastian meletakkan mangkuk saji. “Baik.”

Kepatuhannya yang cepat terasa hampir sama anehnya dengan garpu sup tadi.

“Sebas.”

Garpu di tangan pria itu berhenti. “Apa?”

Vivi ingin bertanya apakah ia menyukai pakaian renang biru. Kalimatnya sudah sampai di ujung lidah, tetapi keberanian yang tadi dipinjamkan Jocelyn menghilang.

“Soal Celine,” ia mengganti topik. “Aku membaca pernyataan Wijaya Group.”

Wajah Sebastian kembali dingin. “Dia sudah pergi.”

“Ke mana?”

“Ke luar negeri.”

“Kamu memastikan?”

“Aku menerima konfirmasi imigrasi.”

Vivi meletakkan sendok. “Cepat sekali.”

“Kamu bilang jangan biarkan dia mengganggu kita lagi.”

Kata kita kembali diucapkannya tanpa ragu. Dada Vivi menghangat, meski ada sesuatu dalam ketepatan “konfirmasi imigrasi” itu yang membuatnya merinding.

“Kamu tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, kan?”

Sebastian mengangkat gelas. “Definisikan berlebihan.”

“Sebas.”

“Dia mendapat jalan keluar.”

Itu bukan jawaban. Lagi.

Namun, sebelum Vivi bisa mengejar, Sebastian menaruh sepotong sayuran di piringnya.

“Makan selagi hangat.”

Pak Yanto keluar dari ruang makan setelah memastikan semua hidangan lengkap. Begitu pintu ayun tertutup, kesunyian terasa lebih pribadi.

Sebastian beberapa kali membuka mulut, lalu meminum air. Jarinya mengetuk meja satu kali, berhenti, kemudian meraih ponsel.

Layar menyala di bawah meja.

Vivi tidak bisa melihat isinya, hanya cahaya putih di sisi wajahnya. Ibu jari pria itu bergerak cepat, berhenti, menghapus, lalu mengetik lagi.

“Kamu sedang membalas pesan siapa?” tanyanya.

Sebastian langsung mengunci layar. “Tidak ada.”

“Kalau tidak ada, kenapa diketik?”

“Makan ikanmu.”

Telinganya kembali merah.

Vivi menunduk agar senyum kecilnya tidak terlihat. Pria ini sedang menahan sesuatu. Ia tidak tahu apa, tetapi untuk pertama kalinya, kebisuan Sebastian tampak lebih seperti ketidakmampuan daripada ketidakpedulian.

***

Sebastian telah menyusun sebelas balasan sejak siang.

Yang putih.

Terlalu pendek.

Yang hijau hanya boleh dipakai saat kita berdua.

Terlalu jelas.

Jangan kirim foto seperti ini ketika aku sedang bekerja.

Terdengar seperti larangan. Vivi mungkin tidak akan mengirim lagi.

Ia menghapus semuanya.

Foto ketiga sudah dibuka dua puluh tujuh kali. Pesan suaranya diputar sampai Sebastian hafal tarikan napas kecil sebelum Vivi memanggil namanya.

Ketiga foto sudah dipindahkan ke folder terenkripsi yang hanya bisa dibuka dengan sidik jarinya. Sinkronisasi awan dimatikan. Pratinjau pesan di layar kunci juga dihapus agar sekretaris yang membawa ponselnya tidak mungkin melihat satu sentimeter pun kulit Vivi.

Sebastian bahkan memeriksa detail file untuk memastikan foto itu tidak menyimpan lokasi butik. Kalau ada salinan di perangkat lain, ia ingin tahu.

Satu-satunya hal yang menahannya dari menelepon pengelola mall dan meminta rekaman semua orang yang berada di dekat Vivi adalah kesadaran bahwa istrinya akan menyebut itu berlebihan.

Ia belum yakin definisi berlebihan mereka sama.

Apakah balasan dua kata akan membuatnya tampak terlalu ingin? Apakah menunggu lebih lama akan membuat Vivi mengira ia tidak suka?

Sebastian mampu membaca laporan akuisisi dua ratus halaman dalam satu jam. Tiga foto istrinya menghancurkan seluruh kemampuan mengambil keputusan.

Ia melirik Vivi di sebelahnya.

Perempuan itu sedang makan ikan dengan kepala menunduk. Satu helai rambut jatuh ke pipinya. Sebastian ingin menyelipkannya ke belakang telinga, tetapi Pak Yanto baru saja keluar. Tidak ada lagi alasan untuk menyentuh tanpa terlihat jelas.

Maka ia membuka aplikasi bank.

Uang tidak membutuhkan kalimat yang tepat.

Satu miliar rupiah cukup untuk membeli seluruh isi butik, mungkin juga toko di sebelahnya. Sebastian memasukkan jumlah itu ke rekening Vivi, lalu membuka kolom catatan.

Beli semua.

Ia menatap dua kata tersebut.

Masih terlalu jujur.

Di aplikasi WA, satu draf lain menunggu.

Kalau mau ke pantai, aku ikut.

Dua pesan. Satu konfirmasi.

Sebastian belum pernah merasa sebuah tombol hijau begitu berbahaya.

Vivi mengangkat wajah. “Kenapa kamu menatap ponsel seperti mau berkelahi dengannya?”

“Aku tidak berkelahi.”

“Lalu?”

Sebastian kembali melihat layar transfer.

Ibu jarinya menggantung tepat di atas tombol konfirmasi, tidak bergerak turun.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!